bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Bad Buddy Series, Seru & Nggak Cringe

Walau udah tamat, para penggemar tampaknya masih belum rela melepas serial Bad Buddy. Dibuktikan dengan antusiasme fans yang masih membuncah, topik dan para aktor-aktris yang masih diperbincangkan, juga serialnya yang masih terus-terusan ditonton oleh fans baru maupun fans lama.

Dengan trope enemy to lovers, tentu banyak orang yang menelan cerita ini secara cuma-cuma. Menariknya, Bad Buddy enggak hanya menceritakan tokoh utama yang awalnya bermusuhan, tapi juga kedua orang tua mereka.

Justru, dua protagonis kita jadi musuh bebuyutan karena didoktrin oleh orang tua masing-masing. Makanya, ketika akhirnya mereka saling jatuh cinta, tetap terhalang restu orang tua. Mirip Romeo dan Juliet, ya?

Bad Buddy adalah serial romantis, komedi dan drama yang dibintangi oleh Nanon Korapat Kirdpan dan Ohm Pawat Chittsawangdee. Cerita ini diangkat dari novel Behind The Scenes karya Afterday.

Mengisahkan dua anak lelaki yang saling bertetangga, tapi 'dipaksa' untuk kompetitif dan bermusuhan oleh orang tuanya. Ingin tahu sinopsis serta ulasan Bacaterus untuk Bad Buddy? Langsung aja simak sampai selesai, ya~

Sinopsis

bad buddy geng

Pat adalah seorang remaja lelaki yang impulsif, sementara Pran adalah anak yang perfeksionis. Mereka sangat bertolak belakang bukan hanya dari watak, tapi mereka memang dibentuk untuk menjadi musuh oleh generasi sebelumnya.

Sepengetahuan Pat dan Pran, orang tua mereka jadi seperti Tom & Jerry karena lawan bisnis. Sejak kecil, Pat dan Pran dipaksa untuk saling mengungguli satu sama lain, baik dalam hal akademis hingga non-akademis. Itulah sebabnya Pran enggak akur dengan Pat. Pa, adiknya Pat, ikut terbawa-bawa juga. Walau sebenarnya, Pran dan Pa enggak ada dendam satu sama lain.

Suatu ketika, ketika Pat dan Pran berusia 12 tahun, Pa jatuh ke kolam saat sedang bermain sepeda. Melihat kejadian itu, Pran langsung menyelamatkan Pa. Insiden itu membuat kebencian yang enggak beralasan milik Pat dan Pran mulai menghilang. Jika dilihat oleh orang luar, mereka berdua masih seperti musuh. Akan tetapi, mereka enggak lagi benar-benar membenci satu sama lain.

Pada saat kelas 9 SMP, Pat dan Pran berada di dalam band sekolah, yang membuat mereka semakin dekat. Namun, Mama Pran enggak suka anaknya bermain musik. Mengetahui Pran aktif di band dan lagi dekat dengan Pat, mamanya langsung memindahkan Pran ke sekolah lain.

kiss

Cerita dipercepat ke empat tahun kemudian, di mana Pat dan Pran akhirnya satu sekolah lagi di universitas yang sama. Namun, mereka memilih jurusan yang lucunya, bermusuhan juga seperti mereka. Yaitu jurusan Arsitektur untuk Pran dan jurusan Teknik untuk Pat. Supaya lebih greget, mereka berdua merupakan ketua kelas dari tiap jurusan, jadi kalau ada masalah apa-apa, mereka yang turun tangan.

Lagi-lagi, Pat dan Pran harus bermain sebagai musuh. Didukung oleh jurusan mereka yang memang enggak akur dan geng mereka yang kebetulan ada masalah juga. Jadinya, di awal-awal cerita penonton akan melihat banyak scene adu jotos antara geng Pat dan geng Pran.

Karena jauh di dalam lubuk hati, Pat dan Pran enggan bermusuhan lagi, mereka pun membuat perjanjian untuk saling bertukar informasi jika geng mereka mau menyerang. Jadi mereka bisa menghindari pertarungan yang enggak penting.

Mereka bukan teman, tapi juga bukan musuh. Namun, yang pasti, mereka memiliki perasaan untuk masing-masing, bahkan sejak kecil. Bisakah mereka bersatu, padahal kedua orang tua mereka saling membenci? Lalu, bagaimana dengan teman-teman mereka yang enggak akur?

Pacaran Sehat ala PatPran

pat pran

Ketika baru awal-awal dekat tapi belum ada status yang jelas, Pat sering kode lovestagram di akunnya. Orang-orang jadi berspekulasi, siapakah gerangan pasangan Pat. Kemudian Pran marah karena Pat memosting itu tanpa concent-nya. Kemudian Pat balik marah karena ingin hubungan mereka go public.

Tapi, pertengkaran mereka enggak berlangsung lama. Pat dan Pran tak membiarkan kesalahpahaman ini menciptakan problem di hubungan mereka. Akhirnya mereka pun membicarakan hal tersebut dan menemukan jalan keluarnya.

Terus, biasanya di film atau drama BL selalu ada 'posisi' yang saklek. Di sini, karakter Pat dan Pran mematahkan stigma tersebut dengan scene di rumah sakit. Ketika Pat masih terbaring di ranjang RS, Pran datang mengunjungi dan menemani pacarnya.

Lalu, Pat mengatakan "Terimakasih istriku.", kepada Pran yang jelas-jelas lelaki. Pran balas memanggil Pat dengan sebutan 'istri', dan itu terdengar menggelikan buat mereka berdua. Akhirnya mereka memutuskan untuk memanggil satu sama lain 'pacar' aja, tanpa embel-embel mana yang 'suami' mana yang 'istri'.

Walaupun masih terselip adegan di mana Pat mengharapkan kekasihnya pintar memasak dan bersih-bersih, yang mana itu biasanya jadi 'tugas perempuan', tapi itu hanya sesekali aja muncul, sehingga masih forgivable.

Baik karakter Pat dan Pran enggak ada yang terlalu kemayu ataupun terlalu macho juga, jadinya penonton enggak terpatok dengan konsep yang biasanya. Ini merupakan cetusan yang baru di dunia BL Thailand, jadi cukup memorable buat saya.

Kemudian ketika Pran akan bekerja di Singapura selama 2 tahun, Pat sama sekali enggak memasalahkan hal tersebut. Mereka berdua enggak menahan satu sama lain dalam karier.

Mereka juga saling mendukung dan tetap setia ketika menjalani long distance relationship. Mungkin karena enggak adanya tokoh orang ketiga juga yang membuat pasangan ini tampak sehat dan bahagia dalam menjalankan hubungan mereka.

Minus Orang ke-3

ink pa

Sering kali dalam cerita BL, tokoh perempuan dijadikan 'pengganggu' hubungan protagonis utamanya. Terkadang ada pula tokoh laki-laki yang menjadi orang ketiga. Tapi, di Bad Buddy enggak ada tokoh seperti itu. Mungkin Ink sebagai orang yang pernah disukai Pat bisa dikategorikan 'pengganggu hubungan', tapi dia sama sekali enggak 'mengganggu'. Justru, Ink membuat Pat sadar siapa yang dia sukai sebenarnya.

Hubungan Ink dengan adik Pat, yaitu Pa, juga membawa angin baru. Pada cerita BL biasanya hanya terfokus pada hubungan antar lelaki. Kalau ada perempuannya, sering dijadikan 'musuh' penonton atau hanya teman aja.

Tapi, di Bad Buddy, Ink dan Pa dikisahkan menjalin hubungan yang langgeng dan baik-baik aja sama seperti Pat dan Pran. Penambahan bumbu GL (girls love) di sini cukup menyegarkan.

Oh, ya, tokoh Wai juga mungkin bisa dikatakan 'orang ketiga' karena Pat sempat sedikit cemburu padanya. Padahal, Wai dan Pran hanya berteman dekat aja. Well, memang mereka enggak tanggung-tanggung dalam urusan skinship.. Jadi wajar kalau orang salah paham.

Membicarakan Wai, tadinya saya pikir dia akan berakhir dengan Korn, teman dekat Pat. Karena tadinya mereka bermusuhan, kan, terus lambat laun jadi sangat dekat. Tapi, rupanya mereka berakhir dengan pacar masing-masing yang merupakan perempuan.

Jadi, series Bad Buddy ini merepresentasikan tiga wujud cinta. Unik, loh, karena biasanya kalau protagonisnya BL, semua tokoh laki-laki lainnya dijadikan pasangan juga. Kalau serial ini, enggak mainstream pokoknya.

Ending yang Dikemas Baik

bad buddy ending_

Saya cukup tergocek emosinya di episode-episode terakhir. Karena, penonton udah diberi hint kalau ending serial ini bakal sedih.

Belum lagi Tweet dan posting-an para pemain bahkan sampai sutradara serial Bad Buddy di media sosial mereka seakan-akan mempersiapkan penonton kalau-kalau akhirnya PatPran enggak bahagia. Tapi, di episode 12 yaitu yang terakhir, benar-benar terjadi plot twist yang membuat penonton mau marah tapi enggak jadi.

Di akhir cerita, memang enggak diperlihatkan kalau kedua orang tua PatPran jadi bestie ataupun memberikan restu pada anak-anaknya. Akan tetapi, they're getting there. Mama Pran dan Papa Pat mulai saling melunak.

Mereka juga enggak melarang PatPran berpacaran, malah mereka terlihat senang dengan hubungan anak-anaknya. Ini sangat sensibel dibandingkan kalau Mama Pran dan Papa Pat tiba-tiba jadi akur.

Karena, bagaimana pun juga mereka telah saling membenci lebih dari 20 tahun, kayaknya enggak mungkin kalau semuanya langsung baik-baik aja, kan? Mereka juga butuh proses untuk bisa civil dan itu enggak apa-apa.

Saya juga memerhatikan detail emoticon senyum "):)" milik Pran, di awal hingga tengah serial emot-nya masih ada sedihnya, tapi saat ending, emot-nya jadi senyum ":)" aja! Overall, ini adalah lakorn BL yang bagus, realistis, menyenangkan, enggak cringe sama sekali, memperlihatkan hubungan yang sehat.

Saya suka sekali chemistry antara PatPran dan para pemerannya dalam dunia nyata, yaitu Nanon dan Ohm. Mungkin karena sejatinya mereka memang teman di balik layar, jadi karakter Pat dan Pran pun bisa divisualisasikan dengan sangat baik.

Sejauh ini saya enggak ada komplain apa pun untuk series-nya. Saya berharap serial ini enggak diperpanjang hanya karena aji mumpung series-nya viral. Karena ending ceritanya udah memuaskan. Kalau ceritanya dipanjangin lagi takutnya malah zonk. Sekian!

Bad Buddy
Rating: 
4.2/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram