Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review Film Annihilation, Sci-Fic yang Estetik

Sinopsis dan Review Film Annihilation, Sci-Fic yang Estetik

Ditulis oleh - Diperbaharui 3 September 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Annihilation adalah sebuah film yang didasarkan pada novel di tahun 2014 dengan judul yang sama karya Jeff VanderMeer. Film ini dirilis secara digital oleh Netflix di sejumlah negara pada tanggal 12 Maret 2018.

Cerita filmnya sendiri secara singkat berfokus pada sekelompok ilmuwan wanita yang meneliti sebuah zona karantina bernama The Shimmer. Di dalam tempat tersebut ditemukan fakta bahwa sejumlah tumbuhan hingga hewan bermutasi karena adanya kehadiran sosok alien.

Film ini kemudian mendapatkan pujian atas visual, akting, dan cerita yang disajikan mampu mengasah pikiran bagi yang menontonnya. Menurut Empire Magazine, film Annihilation setidaknya berhasil membahas rasa depresi, kesedihan, hingga menonjolkan sikap manusia untuk menghancurkan dirinya sendiri.

Sinopsis

Annihilation

  • Tahun rilis: 2018
  • Genre: Science fiction horror
  • Rumah produksi: Skydance Media dan DNA Films
  • Sutradara: Alex Garland
  • Pemeran Utama: Natalie Portman, Jennifer Jason Leigh, Gina Rodriguez, Tessa Thompson, Tuva Novotny, dan Oscar Isaac.

Sebuah meteor mendarat di pantai selatan Amerika, dan menyebabkan makhluk hidup yang tinggal di dalamnya bermutasi secara misterius. Oleh para ilmuwan, tempat tersebut diberi nama “The Shimmer”, dan mereka lalu mengisolasinya, serta meminta kepada kelompok dari Pasukan Khusus Angkatan Darat untuk melakukan investigasi atas keganjilan yang terjadi di dalam The Shimmer.

Namun, pasukan tersebut tidak pernah kembali lagi dari dalam The Shimmer, dan mereka dinyatakan telah menghilang cukup lama. Selang beberapa waktu kemudian, Kane, anggota Pasukan Khusus Angkatan Darat yang dinyatakan menghilang tiba-tiba muncul di hadapan istrinya, yaitu seorang professor biologi bernama Lena.

Kane muncul kembali dalam keadaan sehat, tapi dirinya seperti tidak bisa menjelaskan bagaimana bisa selamat dari The Shimmer. Meski terlihat normal dan baik-baik saja, kondisi kesehatan Kane kemudian memburuk secara drastis. Saat Lena ingin membawanya ke rumah sakit, mereka lalu dicegat oleh pasukan militer dan dibawa ke fasilitas rahasia.

Kane kini tengah berada dalam perawatan yang serius, dan seorang psikolog bernama Dr. Ventress memperlihatkan The Shimmer kepada Lena. Ia lalu meminta Lena untuk bergabung bersama kelompok ekspedisi yang berisikan para ilmuwan untuk meneliti kembali The Shimmer. Lena kemudian pergi bersama fisikawan Josie Radek, ahli geomorfologi Cassie Sheppard, dan paramedis Anya Thorensen.

Di dalam sana, mereka melihat bahwa tumbuhan dan hewan telah bermutasi ke bentuk yang tidak terbayangkan. Mereka lalu menemukan pesan video dari ekspedisi Pasukan Angkatan Darat yang telah dinyatakan menghilang, serta beberapa mayat tentara yang mati secara tidak wajar.

Saat malam hari, seekor beruang yang telah bermutasi menyerang Cassie dan memakannya secara liar. Anggota yang lain lalu berusaha melarikan diri, dan keesokannya mereka sudah berada di sebuah desa yang memiliki tanaman menyerupai bentuk manusia. Semakin masuk ke dalam wilayah The Shimmer, satu per satu anggota ekspedisi mengalami sejenis paranoia hingga ketakutan.

Anya lalu melihat ada yang aneh di dalam tubuhnya, ia lalu bereaksi dengan mengikat semua rekan-rekannya, dan menuduh bahwa Lena telah membunuh Cassie. Beruang yang bermutasi itu kemudian muncul kembali, dan akhirnya malah membunuh Anya. Josie yang telah bebas secara cepat berhasil membunuh beruang mutan tersebut.

Di sisi lain, Dr. Ventress ternyata menderita kanker stadium akhir, dan dirinya pergi langsung menuju sumber The Shimmer yang ada di sebuah mercusuar. Sementara itu, Josie dan Lena sudah menyadari jika radiasi The Shimmer telah masuk ke dalam tubuh masing-masing. Akibat hal tersebut, tubuh Josie bertransformasi menjadi bentuk menyerupai tanaman berwujud dirinya.

Lena yang masih hidup kemudian pergi ke mercusuar untuk menyusul Dr. Ventress yang telah pergi terlebih dulu. Sesampainya di sana, ia menemukan fakta sebenarnya yang menimpa suaminya, Kane, serta misteri yang menyelimuti The Shimmer.

Menawarkan Nuansa Psychedelic

Menawarkan Nuansa Psychedelic

Sutradara film ini, Alex Garland, mengemas The Shimmer sebagai tempat yang indah sekaligus horror dengan segala macam bentuk kemisteriusannya. Lewat penciptaanya tersebut, kita yang menontonnya seakan diajak untuk mengelana di sebuah tempat asing, dan berusaha menerka-nerka terhadap peristiwa ganjil yang ada di dalamnya.

The Shimmer sejatinya adalah sebuah tempat yang tak ubahnya seperti hutan biasa saja. Tempat ini begitu spesial karena menampilkan kilauan warna-warni yang indah bernuansa psychedelic. Visual tersebut lalu dikemas secara cantik lewat dukungan sinematografi yang sangat mumpuni dan berkelas.

Meskipun terlihat seperti itu, nuansa mencekam yang tinggal di dalam The Shimmer tetap diperlihatkan begitu misterius. Hingga akhirnya, kondisi yang tidak menyenangkan tersebut meneror satu persatu ilmuwan yang sedang melakukan ekspedisi.

Selain horror, nuansa psychedelic cukup kentara menyelimuti The Shimmer. Semua karakter yang masuk ke dalam The Shimmer dipastikan akan berhalusinasi, dan melihat berbagai macam bentuk penyimpangan yang menimpa semua ekosistem yang hidup di dalamnya.

Psychedelic sendiri merupakan sebuah bentuk manifestasi dari pikiran manusia hingga akhirnya menjadi sesuatu hal yang teramat sangat nyata. Kondisi tersebut membuat manusia merasakan halusinasi dan hilang kesadaran. Keadaan Psychedelic dapat terjadi karena biasanya terpengaruh oleh efek obat-obatan, seperti narkoba, ganja dan sejenisnya.

Meski tidak sedang menggunakan sejenis obat-obatan, Lena dan yang lainnya harus dihadapkan pada situasi Psychedelic yang tidak bisa mereka lawan. Semua bentuk kehidupan yang ada di The Shimmer perlahan-lahan mulai mengancam semuanya.

Mereka selanjutya melihat bunga bermekaran dengan beraneka warna yang menjalar di seluruh pohon. Namun, bentuknya menyerupai berbagai macam spesies, termasuk manusia. Kijang-kijang yang masih hidup pun kini mempunyai tanduk yang berbunga dan terlihat cantik. Semuanya terlihat indah, namun di satu sisi membuat para ilmuwan nampak kebingungan akan halusinasi yang mereka rasakan.

Film Cerdas yang Dipandang Sebelah Mata

Film Cerdas yang Dipandang Sebelah Mata

Film ini menghadirkan genre science fiction yang rumit dengan menawarkan tema genetika hingga kecenderungan manusia untuk merusak dirinya sendiri. Selain itu, tempat bernama The Shimmer adalah primadona yang menjadi daya tarik terbaik dalam Annihilation.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, The Shimmer tampil indah dan menggoda, sekaligus menjebak semua makhluk hidup yang ada di dalamnya. Sebagai film fiksi sains yang cerdas, semua garis besar cerita Annihilation didukung sangat baik oleh semua aktor dan aktris lewat perannya masing-masing.

Dalam daftar box office, Annihilation tidak mendapatkan hasil yang memuaskan karena meraup 43,1 juta dollar di seluruh dunia dengan anggaran sebesar 55 juta dollar. Saat pertama melakukan tes screening, film ini menerima tanggapan yang buruk. Namun, pihak rumah produksi Skydance mengatakan bahwa, Annihilation adalah film yang terlalu intelektual untuk bisa diterima oleh semua orang.

Respon negatif yang diraih dalam box office ternyata tidak berpengaruh kepada ulasan yang ada di situs aggregator Rotten Tomatoes. Di situs tersebut, film ini memiliki rating yang cukup bagus dengan mendapatkan persetujuan 88% berdasarkan 305 ulasan, dan meraih nilai 7.73/10.

Ulasan dalam Rotten Tomatoes mengatakan bahwa film Annihilation mendukung keajaiban visual science fiction, dan menghadirkan eksplorasi genre yang sangat ambisius, menantang, hingga membuat penonton bertanya-tanya sampai film berakhir. Sementara itu di Metacritic, film ini memiliki nilai 79/100 yang berdasarkan ulasan dari 51 kritikus, dan menunjukan tinjauan yang umumnya disukai oleh penonton.

Annihilation bukanlah sebuah film biasa yang berada dalam genre science fiction. Meski terlihat rumit dan absurd, film ini menghadirkan semua esensinya lewat visualisasi yang sangat cantik dan menawan. Jika The Shimmer mampu memberikan nuansa berwarna-warna terhadap ekosistem yang tinggal di dalamnya, maka Annihilation sejatinya pun bisa menghadirkan warna unik dalam industri perfilman.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *