Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis & Review Film A Beautiful Day in The Neighborhood

Sinopsis & Review Film A Beautiful Day in The Neighborhood

Ditulis oleh - Diperbaharui 3 September 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Berdasarkan kisah nyata persahabatan antara bintang TV terkenal Fred Rogers dan jurnalis Lloyd Vogel. A Beautiful Day in the Neighborhood adalah sebuah film drama biografi yang unik dan Fred Rogers adalah tokoh terkenal yang sosoknya menarik untuk diangkat ke layar lebar. Mungkin di negara kita, posisi tokoh ini seperti Kak Seto yang berperan besar dalam pendidikan anak lewat acara TV.

Meski salah satu karakter utamanya tidak menggunakan nama asli, tetapi itu sama sekali tidak mengganggu film yang menjadi salah satu film terbaik di tahun 2019 ini. Ada beberapa adegan yang unik dan menggugah hati dari film yang mengambil judulnya dari lagu tema acara yang dipandu Fred Rogers, yaitu MisteRoger’s Neighborhood yang tayang selama 31 season dari tahun 1968 sampai 2001.

Apa saja hal menarik dalam film yang sudah tayang di Netflix ini? Mari kita simak bersama ulasan kami tentang film produksi bersama USA dan China dibawah ini.

Sinopsis

A Beautiful Day in The Neighborhood

  • Tahun: 2019
  • Genre: Biography / Drama
  • Produksi: Big Beach Films, Tencent Pictures, TriStar Pictures
  • Sutradara: Marielle Heller
  • Pemeran: Tom Hanks, Matthew Rhys, Susan Keleichi Watson, Chris Cooper

Film dibuka seolah-olah adalah sebuah episode dari acara MisteRoger’s Neighborhood, dimana Fred memperkenalkan teman barunya, yaitu Lloyd. Lalu, kita diperkenalkan dengan Lloyd yang bekerja sebagai jurnalis bagi majalah Esquire di tahun 1998. Artikel yang ditulisnya cenderung penuh kesinisan, dan dia dikenal dengan ciri khas tersebut.

Dalam sebuah acara pernikahan adiknya, Lloyd bertemu dengan ayahnya, Jerry Vogel, yang selama ini bermasalah dengan dirinya karena ayahnya itu pergi meninggalkan keluarganya demi bersama wanita lain. Tentu saja hal ini mengganggu sisi psikologis Lloyd yang sedang berusaha menjadi ayah bagi anaknya yang masih bayi.

Pertengkaran mulut yang berakhir dengan baku hantam itu meninggalkan luka di wajah Lloyd yang menyebabkan banyak orang bertanya kepadanya, dan kecelakaan saat olahraga selalu menjadi alasannya. Lloyd mendapat tugas dari editornya untuk mewawancarai Fred Rogers untuk artikel bertema pahlawan dan membuatnya harus terbang ke Pittsburgh untuk bertemu Fred di studionya.

Wawancara yang tidak berlangsung lama itu malah menjadi ajang curhat Lloyd kepada Fred yang lebih banyak bertanya daripada ditanya. Untuk melengkapi bahan artikelnya, Lloyd banyak menonton acara-acara TV Fred dan juga beberapa interview-nya di berbagai talk show, salah satunya The Oprah Winfrey Show. Lloyd mulai meresapi kemungkinan masalah yang dihadapi Fred terkait hidupnya.

Fred menghubungi Lloyd ketika dia akan melakukan syuting di New York. Istri Lloyd yang sudah menjadi fans Mister Roger sejak kecil sangat terkesan ketika dia yang menerima telpon dari Fred. Lloyd memanfaatkan waktu ini untuk mewawancarai Fred secara lebih mendalam, terutama ketenaran dan image “orang suci” yang bisa jadi mempengaruhi perkembangan anak-anaknya.

Wawancara ini membuat Lloyd frustasi karena Fred menyentuh masa lalu Lloyd dengan menjulukinya “Old Rabbit” yang merupakan teman masa kecil Lloyd. Sesampai di rumah, dia mendapati ayahnya ada di rumah yang datang bersama kekasihnya. Mencoba menahan emosi, Lloyd tak ayal beradu debat dengan Jerry yang kemudian mengalami serangan jantung dan dilarikan ke rumah sakit.

Tidak mau menunggui ayahnya, Lloyd memilih terbang ke Pittsburgh untuk menemui Fred dan meninggalkan istri serta anaknya. Sesampai di studio, Lloyd langsung diminta untuk ikut syuting dan pingsan karena kelelahan. Dalam mimpinya, Lloyd menjadi Old Rabbit yang hadir di segmen Neighborhood of Make-Believe yang membuat badannya seukuran dengan boneka-boneka milik Fred.

Dalam mimpi lainnya, Lloyd bertemu dengan ibunya yang bilang kepadanya untuk melepaskan amarahnya juga dendam masa lalunya. Setelah sadar, Fred mengajak Lloyd dan menggunakan metode andalannya untuk menggugah hati agar bisa memaafkan dendam masa lalunya. Sesampai di New York, Lloyd meminta maaf kepada istrinya, juga kepada ayahnya yang ternyata menderita kanker.

Fred datang mengunjungi Lloyd dan keluarganya dan senang dengan kerukunan mereka. Dia juga memuji artikel Lloyd yang sudah dirilis dan menjadi cover story Esquire dengan judul “Can You Say…Hero?”. Dan film pun ditutup dengan cara opening-nya seperti berakhirnya acara TV yang dipandu Fred. Setelah semua kru pulang, Fred bermain piano sendirian sebagai tanda berakhirnya “another beautiful day.”

We Could All Use a Little Kindness

We Could All Use a Little Kindness

Fred Rogers disebut “Living Saint” oleh Lloyd. Julukan ini dia berikan karena sepertinya kehidupan Fred penuh dengan kebaikan, layaknya “orang suci”, dan dia berusaha mencari sisi kekurangan dalam diri Fred untuk bahan artikelnya yang biasanya penuh dengan kesinisan. Tetapi tidak bisa untuk kali ini. Meski ada kekurangan, kehidupan Fred terlalu baik untuk dicari kelemahannya.

Lloyd sendiri menyebut dirinya “broken”, dan Fred berusaha untuk memperbaikinya dengan pendekatan yang bersifat kebapakan, karena memang Lloyd kehilangan sosok ayah dalam hidupnya, padahal ayahnya masih hidup tetapi selalu bermasalah dengannya. Pada akhirnya, dengan sedikit kebaikan dalam diri Lloyd muncul dan dia bisa bersahabat dengan masa lalunya dan memaafkan rasa dendamnya.

Sebenarnya Ini Adalah Biografi Lloyd, Bukan Fred

Sebenarnya Ini Adalah Biografi Lloyd, Bukan Fred

Karakter Lloyd Vogel adalah sosok fiktif yang berdasarkan kehidupan Tom Junod, seorang jurnalis Esquire yang mewawancarai Fred. Sepanjang kita mengikuti kisah film ini, memang fokus cerita lebih kepada Lloyd dengan segala problematika hidupnya, sedangkan Fred hadir untuk memberikan pencerahan agar dia bisa memaafkan masa lalunya.

Tom Junod sendiri mengakui memang karakter Lloyd ini adalah dirinya, tetapi dia menyangkal sebuah adegan perkelahian dirinya dengan ayahnya di pernikahan adiknya. Menurutnya, itu hanyalah adegan fiktif demi mendukung konflik dalam film. Dia menyatakan tidak ada masalah dengan ayahnya dan adiknya tidak pernah menikah.

Tapi biar fiktif sekalipun, tidak berpengaruh kepada alur film dan kharisma Tom Hanks sebagai Fred. Hanya saja, penyelesaian masalah pada diri Lloyd bisa diselesaikan dengan cepat tanpa ada proses yang lebih detail lagi. Meski begitu, kita bisa terima karena semua pondasi penyelesaian masalah sebenarnya sudah dibangun sejak dia bertemu Fred dalam beberapa pertemuan dan perbincangan.

Performa Apik Tom Hanks

Performa Apik Tom Hanks

Jika Tom Hanks memutuskan untuk berperan dalam sebuah film, artinya film itu memiliki kualitas di segala sisi. Karena sejak dirinya berada di jajaran atas Hollywood, Hanks tidak pernah sembarangan dalam memilih peran. Dan dia buktikan untuk kesekian kalinya bahwa memerankan Fred Rogers adalah pilihan terbaiknya, yang mengantarkannya masuk nominasi Oscar di kategori Best Supporting Actor.

Ada fakta unik dengan beberapa karakter yang diperankan Hanks di beberapa film terakhirnya, yaitu dia memerankan tokoh nyata yang ternyata masih memiliki garis darah dengannya. Ketiga karakter itu adalah Walt Disney di Saving Mr. Banks [2013], Ben Bradlee di The Post [2017], dan tentu saja Fred Rogers di A Beautiful Day in the Neighborhood [2019], dimana dia harus belajar berbicara dengan pelan.

Fixing a Broken Heart

Fixing a Broken Heart

A Beautiful Day in the Neighborhood memiliki banyak kelebihan, terutama dalam segi visualisasi, seperti cerita film yang dibuat seolah-ola bagian dari acara TV yang dipandu Fred, perpindahan adegan yang diselingi dengan miniatur kota, dan segmen Neighborhood of Make-Believe yang cukup menarik untuk dilihat. Bagi saya sendiri, ada satu adegan yang sangat menghangatkan hati.

Di dalam kereta ketika menuju rumahnya bersama Lloyd, Fred disapa oleh para fans-nya yang satu gerbong dengannya. Tidak seperti fans lain pada umumnya yang berebut foto atau salaman, tetapi mereka menyanyikan lagu tema acara TV yang dipandu Fred. Karena populer, walhasil seluruh penumpang kereta ikut bernyanyi bersama. Disitulah tergambar kharisma yang dimiliki Fred.

Pada intinya, jika kita ingin menonton sebuah drama yang bisa menghangatkan hati dan tidak terlalu berat dalam berpikir, film yang disutradarai oleh Marielle Heller ini adalah pilihan yang tepat. Simak langkah demi langkah dan kata demi kata yang diucapkan oleh Fred kepada Lloyd, dan anggap diri kita sedang menjadi Lloyd, bisa dipastikan, kita pun akan turut merasakan nasihat yang diberikan Fred.

Jangan sungkan untuk menerima nasihat, dan saksikan film ini di layar Netflix mulai saat ini juga. Temukan hatimu, obati dengan nasihat, dan maafkan kesalahan mereka yang ada di masa lalumu!

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *