Bacaterus / Review Film Barat / Review & Sinopsis Film Get Out (2017), Horor dan Isu Rasisme

Review & Sinopsis Film Get Out (2017), Horor dan Isu Rasisme

Ditulis oleh - Diperbaharui 22 September 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Bertemu dengan orang tua pacar merupakan sebuah fase yang akan dilewati semua orang yang pacaran. Pengalaman yang bikin deg-degan itu nggak luput dari perhatian para produser maupun sutradara film. Terbukti banyak film yang menggunakan cerita tersebut sebagai sajian utama, sebut saja Meet the Parents atau Why Him.

Get Out bercerita tentang pertemuan dengan orang tua pacar. Hanya saja yang terjadi di luar ekspektasi. Mending kalau di luar ekspektasi itu positif, tapi di film ini justru negatif. Nggak ada haha-hihi atau kecanggungan yang bisa dikemas menjadi komedi. Adanya cuma kengerian yang mencekam. Seperti apa review dan sinopsis film Get Out? Mari kita bahas lebih lanjut.

Sinopsis

Sinopsis Get Out

  • Tahun rilis: 2017
  • Genre: Horror
  • Produksi: Blumhouse Productions, QC Entertainment, Monkeypaw Productions
  • Sutradara: Jordan Peele
  • Pemain: Daniel Kaluuya, Allison Williams, Bradley Whitford, Caleb Landry Jones

Chris Washington adalah seorang pria berkulit hitam yang berprofesi sebagai fotografer. Dia mempunyai pacar wanita berkulit putih bernama Rose Armitage. Hubungan mereka sudah berlangsung selama lima bulan lamanya, dan Rose ingin membawa hubungan ke fase yang lebih serius. Oleh karena itu, dia mengajak Chris ke rumah orang tuanya.

Merasa Rose belum pernah bercerita tentang hubungan mereka yang berbeda ras pada orang tuanya, Chris merasa kebingungan. Tapi demi wanita yang dicintainya, dia menjawab iya. Mereka pergi ke rumah keluarga Armitage yang terletak di pinggiran New York. Walau dia mengenal pacarnya, tapi langsung bertemu dengan orang tuanya bukan hal yang mudah.

Sesampainya di rumah keluarga Armitage, Chris berkenalan dengan Jeremy, adik dari Rose, Dean, ayahnya Rose, dan Missy, ibunya Rose yang berprofesi sebagai hipnoterapis. Dia langsung berusaha memecah kebekuan. Sayangnya, usaha itu malah membuat Chris nggak nyaman karena banyak menyinggung warna kulitnya.

Banyak hal ganjil yang dirasakan Chris, terutama tatapan mata keluarga Armitage. Chris juga bertemu dengan pelayan keluarga Armitage yang datang menghampiri, yaitu asisten rumah tangga bernama Georgina dan pengurus lahan bernama Walter. Bertemu dengan sesama orang kulit hitam nggak bikin Chris merasa lega, dia malah merasa makin aneh.

Pada malam hari, Chris kesulitan untuk tidur. Missy yang melihat kejadian itu membujuk Chris agar dihipnoterapi untuk mengobati kecanduannya pada rokok. Di alam bawah sadar, Chris menyatakan penyesalan atas meninggalnya sang ibu dalam peristiwa tabrak lari saat dia masih anak-anak.

Get Out

Pelan-pelan, Chris semakin tenggelam di alam bawah sadar bernama Sunken Place di bawah pengaruh Missy. Chris merasa kejadian pada malam sebelumnya hanyalah mimpi. Dia kembali beraktifitas dan bertemu Walter yang menyatakan dia melihat kejadian antara Missy dan Chris pada malam tersebut.

Banyak tamu datang ke rumah keluarga Armitage. Chris berusaha membaur. Di antara para tamu, Chris banyak berinteraksi dengan Jim Hudson, seorang penjual karya seni yang nggak bisa melihat. Selain itu, ada juga pria kulit hitam lain, Logan yang mempunyai istri jauh lebih tua dan berperilaku aneh.

Terlalu banyak keanehan membuat Chris menghubungi rekannya yang bekerja di bidang keamanan transportasi pemerintahan, Rod Williams. Untuk membuktikan ucapannya, Chris diam-diam mengambil foto Logan. Ketika flash di hp-nya menyala Logan berteriak. Tamu lain mengamankan Logan dan menyatakan bahwa yang baru saja terjadi disebabkan oleh epilepsi.

Ketika Jeremy mengadakan lelang foto karya Chris, Chris menemui Rose dan mengajaknya untuk pergi. Ajakan itu langsung ditolak, tapi Chris sudah yakin. Ketika dia membereskan barang, dia menemukan lebih banyak keanehan. Bahkan Rose juga menjadi aneh. Apa yang sebenarnya terjadi pada Chris? Bisakah dia keluar?

Bermain dengan Tempo

Bermain dengan Tempo

Menonton Get Out, kita akan dibawa melihat sebuah film dengan tempo yang terkesan lambat. Dialog demi dialog mengalir tapi bukan berarti monoton. Hal itulah yang membangun nuansa mengerikan. Hampir sepanjang film, kita akan melihat Chris yang bingung di antara anggota keluarga Armitage.

Penonton akan diajak untuk menebak-nebak apakah dia sedang dalam pengaruh hipnotis atau benar-benar di dunia nyata. Tempo baru meningkat menuju akhir dari film. Pemilihan waktu untuk klimaks tersebut terasa sempurna karena tensinya benar-benar dibangun secara perlahan tapi pasti.

Detil kecil seperti foto dan ucapan memegang peranan penting. Tapi tenang saja, nggak perlu berpikir keras karena dialognya pun nggak terlalu panjang sehingga bisa mudah diingat. Segala keganjilan itu akhirnya mulai terbuka dan Chris benar-benar berada dalam masalah yang besar.

Nuansa Horor yang Berbeda

Nuansa Horor yang Berbeda

Apa yang terbayang ketika disebutkan film horor? Sosok hantu yang tiba-tiba muncul lalu menghilang? Pergerakan benda-benda yang di luar kebiasaan? Atau kemunculan sosok misterius? Di Get Out, hal-hal seperti itu nggak ada sama sekali. Untuk ukuran film horor, film ini memberikan nuansa yang berbeda dari kebanyakan film bergenre sama.

Nuansa horor di film Get Out terbentuk dari interaksi verbal serta gestur para pemainnya. Nggak ada jumpscare sama sekali. Kita akan dibuat nggak nyaman melihat orang-orang di sekitar Chris yang berperilaku aneh. Dari mulai berpura-pura nggak mempunyai masalah dengan ras kulit hitam, sampai dinginnya tatapan walau kata-kata yang keluar terdengar manis.

Penampilan Apik Para Pemainnya

Penampilan Apik Para Pemainnya

Sebuah film nggak akan mempunyai hasil yang bagus kalau bukan kinerja kolektif setiap individu yang mengerjakannya. Sebagai penonton, yang paling bisa dilihat adalah kemampuan akting para pemainnya. Untuk tampil di film horor bukanlah hal yang mudah. Terlebih Get Out menonjolkan unsur horor yang berbeda.

Hampir semua pemain di film Get Out tampil apik. Daniel Kaluuya sebagai Chris Washington tentu yang paling banyak disorot. Dia harus menghilangkan aksen aslinya demi bisa berperan sebagai orang Amerika dan dia berhasil melakukannya dengan baik. Selain Daniel, ada juga Betty Gabriel sebagai Georgina. Dia tampil baik dengan tatapan sangat dingin dan tanpa ekspresi.

Menyinggung Rasisme

Menyinggung Rasisme

Rasisme merupakan sebuah isu yang sudah sejak lama coba diatasi. Sayangnya sampai saat ini rasisme masih sering terjadi. Bahkan kita juga bisa melihat bagaimana aksi massa besar-besaran terjadi secara global. Kita ingin orang-orang berkulit hitam diperlakukan sejajar sebagaimana manusia lainnya.

Get Out menyinggung rasisme secara halus. Percakapan antara Chris dengan kedua orang tua Rose ketika baru saja tiba di rumah keluarga Armitage merupakan buktinya. Bahkan adegan itu terasa sebagai upaya sang sutradara untuk menyisipkan unsur satir. Sebagaimana kita tahu, sampai saat ini rasisme masih menjadi isu yang sensitif.

Bagaimana rasanya setelah membaca ulasan film Get Out? Penasaran dengan nasib Chris Washington? Tenang saja, walau bergenre horor, film ini nggak akan bikin kita susah tidur. Kesan yang tertinggal setelah nonton film ini adalah kita jadi membayangkan seperti apa rasanya menjadi Chris. Ada kesan lain? Tuliskan di kolom komentar saja, teman-teman.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *