Bacaterus / Film Romantis / Fakta Unik & Menarik dari Film “Doctor Zhivago” (1965)

Fakta Unik & Menarik dari Film “Doctor Zhivago” (1965)

Ditulis oleh - Diperbaharui 25 Desember 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Perfilman Hollywood sering menjadikan novel best-seller sebagai materi utama cerita film. Studio MGM di masa jayanya, karena kesuksesan bertahun-tahun berkat Gone with the Wind, mengadaptasi sebuah novel romantis nan puitis adalah menjadi sebuah keharusan demi memanjangkan masa kesuksesan mereka dengan formula yang serupa.

Novel Doctor Zhivago karya Boris Pasternak yang sejak diterbitkan di tahun 1957 sudah menjadi best-seller dan banyak diperebutkan oleh studio-studio film besar untuk diadaptasi ke layar lebar. Apalagi novel ini cukup kontroversial dan Nobel Prize for Literature untuk Pasternak di tahun 1958 semakin menguatkan persaingan di antara mereka yang pada akhirnya dimenangkan oleh studio MGM.

Kami akan paparkan beberapa fakta unik dan menarik seputar film Doctor Zhivago yang juga menuai beberapa kontroversi namun tetap bisa memanen kesuksesan dan menjadi salah satu film terbaik yang pernah diproduksi oleh Hollywood.

Berdasarkan Novel Kontroversial

Berdasarkan Novel Kontroversial

Doctor Zhivago adalah sebuah novel romantis nan puitis yang ditulis oleh Boris Pasternak dengan sepenuh hati. Hal ini karena cerita tentang pergulatan hidup Dr. Yuri Zhivago dan cintanya mulai ditulis sekitar tahun 1910-an hingga 1920-an dan diselesaikan di tahun 1950an. Karena berisi tema anti-Soviet, novel ini dilarang untuk diterbitkan di Uni Soviet kala itu.

Atas dorongan dari Giangiacomo Feltrinelli, seorang penulis berpengaruh asal Italia, manuskrip Doctor Zhivago diselundupkan ke Milan dan diterbitkan di Italia pada tahun 1957. Di tahun berikutnya, Boris Pasternak diberikan penghargaan Nobel Prize for Literature yang membuat Partai Komunis Uni Soviet malu dan marah karenanya.

Ada cerita menarik dibalik penghargaan Nobel untuk Boris Pasternak. Central Intelligence Agency (CIA) disinyalir berperan besar atas penghargaan itu sebagai propaganda perang dingin antara Amerika dan Soviet, atau dalam kata lain, antara ideologi Liberal melawan Komunis. Hal ini diakui oleh penulis terkenal Ivan Tolstoi yang mengetahui jika Amerika menginginkan novel itu meraih Nobel dalam bahasa Rusia.

Boris Pasternak diundang ke Swedia untuk menerima Nobel, tetapi KGB (CIA-nya Uni Soviet) mengurung rumah Pasternak di Peredelkino. Tidak hanya mengancam akan menahan Pasternak, tetapi mereka juga mengancam akan mengembalikan istrinya ke Gulag, kamp konsentrasi milik pemerintah Uni Soviet yang terkenal dengan kesadisannya.

Meski sudah menolak menerima penghargaan itu, Pasternak tetap saja dicela oleh media di Uni Soviet, terutama yang datang dari kelompok penulis Uni Soviet. Pasternak diancam lagi akan diusir dari Uni Soviet yang membuatnya harus menulis surat kepada Nikita Khrushchev, Perdana Menteri Uni Soviet kala itu, bahwa dia mencintai tanah airnya dan tidak ingin pergi meninggalkan negri ini.

Dengan perantaraan diplomasi dari Perdana Menteri India, Jawaharlal Nehru, Pasternak tidak jadi diusir dari negaranya dan tetap disana hingga akhir hayatnya. Bahkan di kemudian hari, ketika Khrushchev sudah tidak berkuasa lagi, dia menyesal pernah melarang penerbitan novel Doctor Zhivago di Uni Soviet setelah membacanya. Novel ini diterbitkan di Uni Soviet pada masa pemerintahan Mikhail Gorbachev pada 1988.

Proses Casting yang Rumit

Proses Casting yang Rumit

David Lean dikenal sebagai seorang sutradara yang sangat ketat dalam memilih pemeran untuk filmnya. Untuk memerankan sosok Zhivago, Lean awalnya ingin Peter O’Toole yang pernah bekerjasama dengannya dalam Lawrence of Arabia (1962) sebagai tokoh utamanya, tetapi dia menolaknya. Beberapa aktor sempat dipertimbangkan dan ditawarkan peran ini, antara lain Max von Sydow dan Paul Newman.

Bahkan Michael Caine pun pernah ditawarkan, tetapi dia menolaknya juga dan merekomendasikan Omar Sharif untuk peran itu. Walhasil, Omar Sharif-lah yang terpilih memerankan Doctor Zhivago. Untuk perannya ini, setiap kali akan syuting, Sharif harus melakukan beberapa perubahan di wajahnya agar penampilan aslinya sebagai orang Mesir tidak terlihat.

Sedangkan untuk pemeran Lara, Sophia Loren dijadikan pilihan utama. Tetapi seiring mendekati proses produksi, Lean melakukan beberapa pendekatan lagi terhadap aktris lain, seperti Jane Fonda dan Sarah Miles. Pada akhirnya Julie Christie yang terpilih atas rekomendasi dari sutradara John Ford. Kabarnya, Christie sempat tertekan dengan metode akting Lean yang keras, tetapi kemudian dia bisa memahaminya.

Dilihat dari deretan aktor dan aktris yang berakting di film ini, tidak ada satupun yang dari Uni Soviet. Bahkan tidak juga yang berdarah atau keturunan Rusia. Mayoritas bintang film ini berasal dari Inggris dan beberapa diantaranya dari Amerika. Omar Sharif sebagai tokoh utamanya justru adalah aktor berkebangsaan Mesir.

Lokasi Syuting Bukan di Uni Soviet

Lokasi Syuting Bukan di Uni Soviet

Berhubung novel Doctor Zhivago masih dilarang di Uni Soviet pada masa itu, tentu saja syuting untuk adaptasi filmnya pun tidak akan diizinkan oleh pemerintah. Oleh karena itu, Lean memilih Spanyol kembali setelah sebelumnya melakukan syuting disana untuk film Lawrence of Arabia. Sedikit prediksi yang salah untuk syuting bersalju, Spanyol saat itu sedang berada pada musim dingin yang hangat dalam 50 tahun.

Walhasil, tim produksi terpaksa harus menggunakan salju palsu yang dibuat dari debu. Dan ketika syuting pasukan yang melintas di atas danau es, saat itu temperatur sedang berada pada suhu 30 derajat celcius. Semua pasukan menggunakan mantel bulu yang tebal dan danau ditutupi oleh es palsu dari bahan plastik. Seluruh pemeran pasukan merasakan panas yang luar biasa karenanya.

Selain di Spanyol dan perbatasan Portugal, untuk beberapa adegan khusus, mereka harus terbang ke Finlandia yang masih memiliki beberapa lokasi dengan salju, dan Kanada untuk syuting adegan di dalam kereta. Seluruh proses syuting menghabiskan waktu selama 10 bulan yang cukup melelahkan bagi seluruh tim produksi dan para artisnya, terutama bagi Omar Sharif yang memiliki adegan paling banyak.

Komposisi Musik yang Memorable

Komposisi Musik yang Memorable

Kekuatan sebuah film romantis tentu saja harus didukung oleh komposisi musik yang menyentuh hati. David Lean yang pernah bekerja sama dengan Maurice Jarre dalam film Lawrence of Arabia, meminta kesediaannya kembali untuk menggubah musik untuk film barunya ini. Lean tentu saja menginginkan musik khas Rusia untuk mengiringi keindahan film ini.

Setelah menolak semua komposisi yang dibuat oleh Jarre, Lean meminta Jarre untuk tinggal di kabin milik Lean di pegunungan bersama kekasihnya selama seminggu. Sepulang dari liburan itu, Jarre membawa komposisi “Lara’s Song” yang langsung diterima oleh Lean sebagai theme song bagi film Doctor Zhivago. Lagu ini kemudian menjadi terkenal di seluruh dunia berkat keindahan notasi dan aransemennya.

Rekor Box-Office yang Fantastis

Rekor Box-Office yang Fantastis

Doctor Zhivago dirilis pada 22 Desember 1965 di Amerika Serikat dan langsung mencetak rekor box-office sebesar $111 juta. Pada 2018, penghasilan tiket ini kemudian dihitung ulang disesuaikan dengan nilai inflasi menjadi $1,1 miliar dan menjadikan film ini berada di peringkat kedelapan dalam daftar film terlaris sepanjang masa di Amerika Utara (domestic).

Tidak hanya di Amerika saja, di beberapa negara di Eropa, film ini juga mencetak rekor box-office, seperti di Italia, Jerman, Belanda, Swiss, dan Inggris dimana film ini berada di peringkat pertama tangga box-office di negara-negara Eropa tersebut. Juga ketika dirilis di Australia, film ini meraih pencapaian yang serupa. Selain itu, Doctor Zhivago juga ditayangkan di Cannes Film Festival.

Sementara di Rusia sendiri, film ini baru bisa dirilis dan ditayangkan di tahun 1994 ketika Uni Soviet sudah pecah menjadi beberapa negara yang berdiri sendiri.

Banjir Penghargaan

Banjir Penghargaan

Setelah kesuksesan dalam peredarannya di bioskop-bioskop di seluruh dunia, kecuali Uni Soviet dan negara-negara komunis tentunya, jalan menuju Oscar terbuka lebar. Apalagi film ini dipenuhi oleh nama-nama besar Hollywood yang membuka lebar pintu penghargaan dari ajang festival film bergengsi lainnya. Di Academy Awards, Doctor Zhivago dinominasikan di 10 kategori.

Bersaing ketat dengan The Sound of Music dalam perebutan Oscar di tahun itu, film ini seperti berbagi kemenangan dengan pesaingnya tersebut. Doctor Zhivago menang di beberapa kategori, yaitu Best Art Direction, Best Cinematography, Best Adapted Screenplay, Best Costume Design, dan Best Original Score. Doctor Zhivago kalah dari The Sound of Music di kategori Best Picture dan Best Director.

Sementara itu, Julie Christie terpilih sebagai Best Actress pada penyelenggaraan Oscar malam itu, tetapi bukan dari film ini, melainkan dari film Darling (1965). Sedangkan di Golden Globe, David Lean berhasil menang sebagai Best Director dan Omar Sharif menang di kategori Best Actor in a Motion Picture Drama.

Doctor Zhivago memang memiliki durasi yang cukup panjang, 3 jam 17 menit, karena memang kisah yang dipaparkan pun penuh liku dan rintangan serta memakan waktu bertahun-tahun lamanya untuk mengejar dan mempertahankan sebuah cinta yang sebenarnya terlarang bagi mereka. Turun-naik hubungan romantis antara Zhivago dan Lara cukup menghangatkan film yang dipenuhi salju dingin ini.

Bagi penikmat film romantis, tentunya kalian tidak akan ragu untuk menonton film klasik ini, dan bagi penonton umum, mungkin kalian akan beberapa kali memencet tombol pause hanya untuk sekadar cuci muka atau mengambil air minum supaya tidak mengantuk. Tetapi pada intinya, film ini memiliki kualitas yang tinggi dan cerita yang mengikat. Sangat direkomendasikan untuk ditonton.

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *