7 Fakta Menarik Film Sultan Agung, Kisah Sang Raja Mataram

Ditulis oleh Siti Hasanah

Sultan Agung merupakan tokoh besar yang dicatat dalam sejarah Indonesia sebagai salah satu Raja besar Kerajaan Mataram Islam. Sosok inilah yang menginspirasi sutradara Hanung Bramantyo untuk mengangkat kisahnya ke dalam sebuah film.

Film yang diberi judul Sultan Agung: Tahta, Perjuangan dan Cinta ini menghadirkan perjalanan hidup Raja Mataram yang melegenda.

Kisah diawali dengan Raden Mas Rangsang (Marthino Lio/Ario Bayu) yang dititipkan di Padepokan Jejeran untuk belajar ilmu agama dan mempelajari nilai-nilai kehidupan dari Ki Jejer (Deddy Sutomo).

Namun, sebelum selesai belajar, ia dipanggil pulang ke keraton untuk meneruskan tahta Mataram. Jika kamu sudah menonton film Sultan Agung, inilah beberapa fakta dari film Sultan Agung yang menarik untuk disimak.

Baca juga: 10 Sutradara Terbaik Indonesia dengan Karya yang Luar Biasa

1. Berpusat pada Kisah Asrama Sang Sultan

Berpusat pada Kisah Asrama Sang Sultan

Sultan Agung Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Dan Cinta merupakan sebuah film berlatar Kerajaan Mataram Islam dengan Raden Mang Rangsang sebagai pusat kisahnya. Ia adalah Raja ketiga yang diberi gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Ia membawa kejayaan bagi Kesultanan Mataram. Di masa pemerintahannya, Mataram menjadi kerajaan besar yang terkenal dan ditakuti oleh musuh-musuh kerajaannya.

Wilayah kerajaannya juga subur makmur dan luas. Kejayaan Mataram terdengar sampai ke telinga VOC. Mereka tertarik dengan wilayah besar Mataram dan berniat berdagang di wilayahnya.

Perlu kamu ketahui bahwa meskipun film ini memang mengangkat perjalanan hidup Sang Sultan, namun porsi kisah asmara Raja terbesar Mataram itu lebih ditonjolkan.

Film ini banyak mengangkat pergolakan batin Raden Rangsang yang terpaksa meninggalkan gadis yang dicintainya, Lembayung (Putri Marino/Adinia Wirasti).

2. Lembayung adalah Karakter Fiktif

Lembayung Adalah Karakter Fiktif_

Sempat menimbulkan kritik sebab karakter Lembayung diberi porsi yang besar dalam film ini. Padahal ia adalah karakter bikinan yang sengaja dibuat untuk mendramatisasi kisah asrama sang Sultan.

Dalam film ini, Lembayung diceritakan merupakan anak lurah di sekitar padepokan tempat Raden Mas Rangsang menimba ilmu.

Sutradara Hanung Bramantyo punya jawaban atas itu. Film Sultan Agung memang sebuah film berlatar sejarah. Namun, ia tidak ingin film garapannya tampak seperti film dokumenter. Karena alasan itulah karakter Lembayung lebih menonjol dan dimunculkan sejak menit-menit awal film.

Di bagian awal itu, Raden Mas Rangsang yang ditempat di Padepokan Ki Jejer sering berinteraksi dengan Lembayung. Lembayung berasal dari kasta rendah, sedangkan Raden Mas Rangsang sudah jelas berasal dari kasta mana. Ia dinilai tidak layak mendampingi seorang calon Raja.

3. Visual Film yang Dinilai Terlalu Sederhana

Visual Film yang Dinilai Terlalu Sederhana

Seperti yang kita ketahui bahwa Kerajaan Mataram adalah sebuah kerajaan yang besar. Berdasarkan catatan sejarah, wilayah tersebut dianugerahi bentang alam yang subur dan rakyatnya makmur. Wilayah kerajaannya juga luas dan keratonnya indah.

Sayangnya, penggambaran di sejarah tidak divisualisasikan dengan baik dalam film ini dan inilah yang banyak menuai kritikan. Para kritikus film menganggap bahwa gambaran kerajaan yang konon megah itu tak ubahnya sebuah panggung pagelaran biasa dengan properti sederhana.

Visualisasi yang kurang artistik ini seakan menghancurkan imajinasi di benak para penonton yang kadung menganggap bahwa bahwa Mataram adalah kerajaan yang termegah dan terkaya di pulau jawa.

Nyatanya bentuk istana yang ditampilkan tidak mencerminkan demikian. Kursi raja, properti dan tata letak ruangan Sultan sangat sederhana dan apa adanya.

4. Riset Sejarah dari Dua Sudut Pandang

Riset Sejarah dari Dua Sudut Pandang

Dari catatan produksi film Sultan Agung: Tahta, Perjuangan dan Cinta, sutradara Hanung Bramantyo banyak menggali informasi mengenai catatan sejarah tentang Raja Mataram tersebut.

Ia mendapatkan dua sumber, yakni sumber yang berasal dari catatan penjajah Eropa yang dibukukan oleh mereka yang pernah menginjakan kaki di tanah Jawa.

Catatan tersebut menjadi sudut pandang lain terhadap Mataram. Pasalnya itu ditulis berdasarkan kesan yang mereka dapatkan dari kerajaan dan hubungan mereka dengan para penguasanya.

Sumber kedua berasal dari catatan yang ditulis berdasarkan sudut pandang Mataram, misalnya Babad Tanah Jawi, Babad Tanah Mataram dan Babad Sultan Agung.

Kabarnya catatan tersebut memuat peristiwa, keterangan kondisi Mataram saat itu dan bagaimana bentuk keraton Sultan.

Hasilnya adalah Hanung berhasil menampilkan suasana perang yang sesuai dengan catatan sejarah. Para pasukan Mataram menyerbu pasukan VOC yang terletak di Batavia dengan senjata api lengkap seperti meriam dan pistol.

Tidak heran jika pasukan Mataram sudah bisa memakai senjata api modern seperti bangsa asing lainnya. Di masa itu, teknologi dalam persenjataan sudah cukup berkembang.

Kerajaan-kerajaan besar di Nusantara banyak yang mempersenjatai pasukannya dengan senjata api canggih untuk berperang, seperti Mataram dengan VOC.

5. Lokasi Syuting Film Sultan Agung Jadi Destinasi Wisata

Lokasi Syuting Film Sultan Agung Jadi Destinasi Wisata

Sebagian besar pengambilan gambar film ini dilakukan di Sleman, tepatnya di Desa Gamplong Kecamatan Moyudan. Lokasi syuting ini digarap oleh desainer top Indonesia, Allan Sebastian dan dikerjakan oleh warga Gamplong selama satu tahun penuh.

Setelah proses produksi rampung dan film dirilis, kru produksi tidak meruntuhkan set ini. Wilayah ini kemudian diberikan kepada Bupati Sleman, Sri Purnomo yang kala itu menjabat.

1 2»
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram