advertisements
advertisements

Science-fiction adalah sebuah genre di dunia literatur dan perfilman yang mengusung konsep masa depan (futuristic), lengkap dengan pameran teknologinya, dibalut dengan kisah fiktif yang mayoritas mampu membuat otak berpikir keras dan jantung berdegup kencang. Sedahsyat itukah efek sebuah novel atau film science-fiction? Jika memang novel atau film sci-fi itu bagus, pasti akan memiliki dampak dan kepuasan tersendiri bagi para pembaca atau penontonnya.

Sejarah literatur sci-fi sendiri sudah terentang sejak zaman dahulu kala, ketika manusia sudah memenuhi bumi. Hampir setiap peradaban melahirkan kisah-kisah sci-fi klasik yang di kemudian hari menginspirasi para penulis sci-fi modern.

advertisements
advertisements

Salah satu yang paling tertua mungkin kisah epic Gilgamesh dari kebudayaan Mesopotamia. Cerita yang kurang lebih hampir serupa dengan kisah banjir besar di zaman Nabi Nuh ini diakui oleh para pakar sci-fi sebagai literatur sci-fi tertua. Kemudian ada Mahabharata dari kebudayaan India, dimana perang Bharatayuda dipercaya memiliki unsur perang nuklir di masanya.

Kebudayaan Yunani Kuno pun tidak ketinggalan melahirkan perjalanan luar angkasa lewat karya-karya sastrawan Aristophanes, kebudayaan Jepang dengan kisah The Tale of the Bamboo Cutter yang menceritakan adanya peradaban di Bulan, dan tentu saja Kisah 1001 Malam dari Arabia dengan karpet terbang milik Aladin.

Perfilman Hollywood sendiri sudah mulai membuat film-film sci-fi sejak era 1930an, meski tampilannya belum bisa dibilang bagus, tetap saja menjadi film klasik. Salah satu yang paling monumental adalah Metropolis yang dirilis di tahun 1927. Film ini dianggap sebagai tonggak dan pemicu film-film sci-fi berikutnya.

Lalu apa saja film-film sci-fi terbaik hingga saat ini? Dari ratusan bahkan ribuan film bergenre serupa, kami pilihkan sepuluh film sci-fi terbaik yang dianggap mewakili tema-tema yang ada di genre ini.

2001: A Space Odyssey [1968]

film sci-fi terbaik 2001 A Space Odyssey

Film karya sutradara Stanley Kubrick ini adalah tonggak bagi perfilman sci-fi modern dengan beberapa hukum fisika yang akurat di Hollywood dan dunia yang pertama kali menggunakan pemakaian special-effects. Film ini mengangkat tema eksistensi dan evolusi manusia, teknologi, artificial intelligence dan kehidupan makhluk luar angkasa.

Keakuratan teknologi masa depan dan hukum-hukum fisika yang digunakan di film ini diakui oleh para ilmuwan. Mungkin film ini susah untuk dimengerti dan dipahami, terutama dengan minimnya dialog, tetapi semua itu justru menambah keunikan film yang saat ini sudah terdaftar di National Film Registry sebagai film klasik.

Segala perihal ilmu Astronomi, seperti adanya stargate, black hole dan wormhole yang dikemukakan di film ini, kemudian seringkali diulang dan dikembangkan di film-film berikutnya, seperti di film Gravity (2013) dan Interstellar (2014), dimana kedua film tersebut terinspirasi dari film yang diproduksi di Shepperton Studios di Inggris ini.

Star Trek Film Series [1979-now]

Star Trek Film Series

Dalam perfilman sci-fi, tidak akan lengkap rasanya tanpa kehadiran serial Star Trek. Merupakan adaptasi layar lebar dari serial televisi yang sudah mengudara sejak tahun 1966, film pertamanya dirilis di tahun 1979. Star Trek: The Motion Picture diproduksi secara terburu-buru meski semua aktor di serial televisinya hadir memerankan karakter masing-masing. Meski meraih cukup box-office, kualitas film menuai banyak respon negatif.

Star Trek II: The Wrath of Khan (1982) berhasil tampil lebih baik secara kualitas dan box-office, meski mengirit biaya produksi dengan memakai sisa setting film sebelumnya. Star Trek III: The Search for Spock (1984) yang disutradarai oleh “Spock” sendiri, Leonard Nimoy, gagal meraih prestasi film sebelumnya.

advertisements
advertisements

Star Trek IV: The Voyage Home (1986) sedikit keluar dari tema Star Trek yang penuh adegan action. Kali ini tema yang diangkat adalah pelestarian alam dimana mereka memiliki misi untuk menyelamatkan spesies paus yang hampir punah.

Star Trek V: The Final Frontier (1989) dibesut oleh aktor utamanya, William Shatner, dan meraih hasil negatif karena tema cerita dan buruknya special-effects. Star Trek VI: The Undiscovered Country (1991) merupakan film terakhir yang menampilkan cast asli serial televisinya dan mendapat sambutan yang baik karena tema cerita yang filosofis.

Star Trek: Generations (1994) menampilkan banyak karakter utama yang baru. Meski membawa gairah baru, kualitas film tidak bisa menyamai kesuksesan film-film sebelumnya. Star Trek: First Contact (1996) diarahkan oleh salah satu aktor di film ini, Jonathan Frakes, setelah beberapa masalah yang timbul selama masa produksi. Dianggap sebagai film terbaik di serial kedua ini karena penampilan Captain Picard dan tema time travel-nya.

Star Trek: Insurrection (1998) menampilkan kelelahan para cast dan kru Star Trek yang secara marathon melakukan syuting dua serial televisi dan satu film layar lebar setiap dua tahunnya. Yang terjadi, kualitas film ini tidak lebih baik dari salah satu episode di serial televisinya.

Star Trek: Nemesis (2002) adalah film terakhir dengan cast serial Star Trek: The Next Generation yang masih tidak mampu memiliki kualitas yang baik, sehingga membuat rencana serial televisi barunya dihentikan.

Star Trek (2009) hadir sebagai reboot serial yang sudah hampir mati ini. Di tangan J.J. Abrams, Star Trek hidup kembali dengan deretan cast yang lebih muda dan terkenal, seperti Chris Pine, Zachary Quinto dan Simon Pegg. Digarap lebih serius oleh sineas yang juga fans berat serialnya ini, petualangan kru pesawat USS Enterprise terasa mengikat penonton untuk tetap duduk di kursinya hingga film berakhir.

Star Trek Into Darkness (2013) melanjutkan kisah petualangan Captain Kirk muda dalam mengejar musuh yang melakukan terror kepada pemerintah. Menuai pujian yang sama dengan film sebelumnya, sequel ini meraih lebih banyak box-office.

Alien Franchise [1979, 1986, 1992, 1997]

Alien Franchise

Kisah horror di luar angkasa ini pertama kali dibuat oleh sineas Ridley Scott di tahun 1979 yang tidak butuh waktu lama menjadi franchise film yang komersil juga berkualitas. Film Alien ini mendorong karir Sigourney Weaver sebagai aktris papan atas di Hollywood. Diproduksi dengan sedetil mungkin, termasuk bentuk dan karakter sang alien yang juga membutuhkan waktu lama dari beberapa desainer dan konsep artis dalam membuatnya.

Dilanjutkan di tahun 1986 oleh sineas James Cameron yang meningkatkan kadar action dibandingkan horror-nya, Aliens sukses juga meraih box-office dan beberapa penghargaan. Film berikutnya, Alien 3 yang dirilis pada tahun 1992, mengalami banyak masalah selama masa pra-produksi, syuting dan pasca-produksinya. Sehingga sutradara film ini, David Fincher, tidak mengakui film ini adalah karyanya.

Film keempatnya yang melengkapi kisah sci-fi luar angkasa ini dirilis di tahun 1997. Alien: Resurrection membangkitkan kembali karakter Ripley yang sudah mengakhiri hidupnya di film sebelumnya sebagai makhluk cloning. Tidak ada yang istimewa dari film yang disutradarai oleh Jean-Pierre Jeunet ini.

Usaha untuk membangkitkan karakter alien di keempat film diatas coba dilakukan di film AVP: Alien vs. Predator (2004) dan sequel-nya Alien vs. Predator: Requiem (2007) yang mempertemukan sang alien dengan predator dan mengangkat mitologi Mesir Kuno sebagai asal-usul sang alien. Sayangnya, franchise crossover ini banyak menuai kritikan dan cibiran dari moviegoers dan kritikus film.

Ridley Scott sebagai pencetus alien kembali turun tangan untuk membawa sosok ini kembali berjaya. Prometheus (2012) mengawali kisah prequel yang rencananya akan dibuat trilogy. Film ini banyak menuai pujian meski ending-nya dibuat menggantung dan tidak banyak menampilkan sosok alien. Kita tunggu saja di dua film berikutnya.

Blade Runner [1982]

Blade Runner

Nama Philip K. Dick sebagai penulis kisah-kisah sci-fi terangkat lewat film yang disutradarai oleh Ridley Scott dan dibintangi oleh Harrison Ford ini. Bernuansa noir dengan tema yang sering disebut sebagai cyberpunk, Blade Runner tampil sebagai salah satu film sci-fi terbaik yang pernah diproduksi Hollywood. Bercerita tentang pasukan pemburu replikan yang kembali ke Bumi. Bagi Ridley Scott sendiri, film ini dianggap olehnya sebagai film terbaiknya.

Karya-karya Philip K. Dick yang juga telah diangkat ke layar lebar antara lain: Total Recall (1990), Minority Report (2002), Impostor (2002), Paycheck (2003), A Scanner Darkly (2006) dan The Adjustment Bureau (2011). Kesemua film tersebut dibintangi oleh para aktor terkenal dan banyak mendapat respon positif dari para kritikus film dan para ilmuwan.

E.T. the Extra-Terrestrial [1982]

E.T. the Extra-Terrestrial

Film sci-fi terbaik yang pernah dibesut Steven Spielberg ini menjadi icon dengan posternya yang menggambarkan telunjuk anak manusia bertemu dengan telunjuk alien, saat ini telah menjadi klasik. Kisah alien baik hati yang tersesat di Bumi dan berteman dengan anak-anak kecil, sangat cocok untuk ditonton oleh seluruh anggota keluarga.

Selain menjadi blockbuster di tahun 1982, film ini juga banyak menuai pujian dari para kritikus film dan sudah menjadi klasik saat ini. Adegan sepeda terbang melintasi bulan kemudian menjadi icon bagi perusahaan Amblin Entertainment milik Steven Spielberg. Drew Barrymore cilik ikut berperan di film ini.

Back to the Future Trilogy [1985, 1989, 1990]

Back to the Future Trilogy

Film sci-fi tidak selalu menguras otak untuk mencernanya, tetapi ada juga yang memiliki unsur hiburan yang tinggi tanpa meninggalkan hukum-hukum fisika yang akurat. Salah satunya adalah trilogy Back to the Future. Perjalanan menembus waktu yang disuguhkan film ini tampak begitu menyenangkan meski banyak sekali hukum-hukum fisika yang diumbar seputar dunia time travel.

Disutradarai oleh Robert Zemeckis dan diproduseri oleh Steven Spielberg, film ini menjadi box-office di tahun 1985 dan kemudian dibuatkan dua sequel-nya di tahun 1989 dan 1990 yang syutingnya dilakukan secara back-to-back untuk melengkapi cerita menjadi sebuah trilogy.

The Matrix Trilogy [1999, 2003]

The Wachowski Brothers menciptakan dunia cyberpunk yang menakjubkan lewat The Matrix dan dua sequel-nya, The Matrix Reloaded dan The Matrix Revolutions. Neo, yang dianggap sebagai “the one”, adalah sosok yang dianggap bisa meruntuhkan kekuasaan tirani berupa mesin dan menyelamatkan umat manusia.

https://www.youtube.com/watch?v=WhxbYTMNMxo

Cerita yang penuh dengan filosofi dari agama-agama dan karya-karya klasik ini sangat rumit untuk diikuti, bahkan hingga ke akhir filmnya masih membuat penonton berpikir dengan maksud yang disampaikan film ini. Dengan adegan action dan martial arts yang mutakhir, salah satunya inovasi adegan “bullet time”, akan menjamin penonton betah dan mengikuti petualangan Neo dalam membebaskan umat manusia.

Avatar [2009]

Avatar

Film sci-fi terbaik dengan lokasi di Planet Pandora ini memakan waktu yang sangat lama untuk mencapai layar lebar. Dimulai di tahun 1994, James Cameron menulis sendiri ceritanya, membuat sendiri bahasa bangsa Na’vi dan membikin kamera sendiri yang mampu memudahkan proses produksi film yang saat ini masih menempati posisi pertama film terlaris di dunia.

Penggunaan kamera stereoscopic dianggap sebagai terobosan baru di dunia perfilman yang memudahkan proses syuting dengan langsung menggunakan special-effects dan CGI secara sekaligus. Karena kesuksesannya, James Cameron berencana membuat tiga film lanjutan yang akan menuntaskan kisah bangsa Na’vi di Planet Pandora ini.

Inception [2010]

Inception

Setelah sukses dengan serial Batman-nya, Christopher Nolan memproduksi film yang sudah lama dipendam sejak tahun 2002. Idenya adalah melakukan pencurian dengan memasuki mimpi seseorang. Penonton pasti akan dibuat pusing dengan lapisan-lapisan mimpi yang harus diterobos oleh tim yang dipimpin oleh Leonardo DiCaprio ini yang kesemua mimpi itu saling mempengaruhi terutama dalam kehidupan nyata. Agar bisa menikmati ceritanya, otak kita harus fresh dan fokus kepada film.

Deretan aktor tenar memenuhi film ini, mulai dari Leonardo DiCaprio, Ellen Page, Joseph Gordon-Levitt, Marion Cotillard, Ken Watanabe, Tom Hardy, Cilian Murphy, Tom Berenger dan Michael Caine. Banyak terobosan teknologi dan special-effects yang dihadirkan, seperti perkelahian di hallway hotel yang berputar-putar dan kota yang seolah-olah melipat.

Interstellar [2014]

Interstellar

Christopher Nolan sepertinya tidak akan membiarkan penonton film-filmnya berhenti berpikir bahkan setelah filmnya usai. Interstellar adalah salah satu film sci-fi yang mengungkap dahsyatnya alam semesta terutama luar angkasa yang belum terjamah dan masih berupa filsafat dan teori-teori fisika nan ilmiah.

Berusaha menerjemahkan teori dari fisikawan Kip Thorne menyangkut wormhole, black hole, relativitas waktu dan hal-hal diluar akal sehat manusia normal ditampilkan dalam satu film yang akan membuat kening kita akan berkerut, terutama bagi yang tidak paham dengan teori-teori di atas.

Satu yang terlupakan untuk mengungkap semua permasalahan yang masih menyisakan tanda tanya di akhir film, yaitu tidak adanya peran Tuhan bagi alam semesta ini. Penonton harus kuat untuk memahami sehingga tidak terjerumus menjadi atheis.

Itulah 10 film science-fiction (fiksi ilmiah) yang pernah diproduksi oleh Hollywood dan memiliki nilai monumental tersendiri. Sebenarnya masih banyak film lainnya yang bisa dimasukkan ke dalam daftar ini, mungkin nanti akan kami bahas dalam artikel lainnya yang lebih spesifik disesuaikan dengan temanya.

Seluruh ramalan filsafat, teori dan teknologi di beberapa film sci-fi terbaik seperti ini di masa depan mungkin akan menjadi kenyataan. Kita hanya bisa menunggu para ilmuwan mengembangkannya menjadi nyata. Semoga kemajuan ilmu dan teknologi ini membawa peradaban umat manusia menjadi lebih baik.

Artikel Menarik Lainnya: