Bacaterus / Novel / Belajar Memahami 10 Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel

Belajar Memahami 10 Unsur Intrinsik dan Ekstrinsik Novel

Ditulis oleh - Diperbaharui 12 Juli 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Novel merupakan karangan panjang dalam bentuk prosa yang mengandung serangkaian kehidupan tokoh, serta diperjelas dengan penjelasan watak dan sifat setiap tokoh yang masuk dalam cerita. Novel terdiri dari bab dan sub-bab yang sesuai dengan alur ceritanya. Isi sebuah novel lebih banjang dan kompleks tanpa batasan strukturan dan sajak. Penulis novel dikenal dengan sebutan novelis.

Ciri-ciri umum pada novel adalah jumlah kata yang lebih dari 35.000 kata, alur cerita yang kompleks, cerita memiliki lebih dari satu impresi serta emosi, terdiri dari minimal 100 halaman, cerita lebih panjang dan didukung dengan deskrimsi dalam menggambarkan situasi di dalamnya.

Struktur novel terdiri dari abstrak, orientasi, komplikasi, evaluasi, resolusi, dan koda atau penutup cerita dalam novel. Novel memiliki dua jenis, yaitu fiksi dan non-fiksi, serta jenis berdasarkan genre seperti novel horror, novel romantis, novel inspiratif, dan novel komedi. Jika kamu ingin menulis sebuah novel, ada unsur intrinsik dan ekstrinsik yang perlu dipahami. Simak penjelasannya berikut ini!

Unsur Intrinsik

Unsur Instrinsik merupakan unsur utama untuk membangun cerita dalam sebuah novel. Unsur Intrinsik dapat ditemukan dengan mudah dalam cerita novel. Unsur Intrinsik diperlukan untuk memudahkan novelis dalam menyampaikan cerita kepada pembaca agar lebih mudah untuk dianalisa. Berikut ini 7 Unsur Intrinsik yang diperlukan untuk membuat cerita dalam novel.

1. Tema

Tema

Tema merupakan ide yang menjadi pokok utama dalam cerita. Tema berisi gambaran cerita secara keseluruhan yang dinyatakan dalam bentuk frasa. Tema sangat penting untuk ditentukan pada awal proses menulis novel karena nyawa novel ditentukan berdasarkan tema yang kuat dan menentukan isi dari cerita.

2. Tokoh dan Penokohan

Tokoh dan Penokohan

Tokoh dan Penokohan merupakan dua hal yang berbeda. Tokoh adalah pemeran yang menjadi pelaku dalam cerita, sedangkan Penokohan adalah karakter yang dimiliki oleh tokoh dalam cerita novel. Dua hal ini penting ditentukan sejak awal untuk memudahkan pembaca dalam mengenali pemeran dari cerita yang dibuat.

Karakter tokoh dalam novel dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

  • Tokoh Antagonis

Tokoh yang digambarkan sebagai orang yang memiliki sihat buruk, tidak bersahabat dan cenderung jahat. Tokoh Antagonis biasanya menjadi tokoh yang menentang cerita.

  • Tokoh Protagonis

Kebalikan dari Tokoh Antagonis, Tokoh Protagonis digambarkan sebagai orang yang baik, sabar, berkepribadian santai, dan umumnya disenangi oleh pembaca.

  • Tokoh Tritagonis

Tokoh yang digambarkan sebagai orang yang dapat menjadi penengah bagi Tokoh Antagonis dan Tokoh Protagonis. Tokoh Tritagonis umumnya bersikap netral, dan dalam kasus tertentu tokoh ini dapat memihak Tokoh Protagonis.

Tokoh dan Penokohan dapat ditentukan melalui dua cara, yaitu :

  • Analitik

Teknik Analitik merupakan penokohan secara langsung dimana novelis menggambarkan penokohan melalui bentuk fisik sehingga tokoh tersebut dapat dikenal langsung oleh pembaca.

  • Dramatik

Teknik Dramatik merupakan penokohan secara tidak langsung dimana novelis menciptakan hal yang berhubungan dengan tokoh dalam cerita, contohnya seperti gaya bicara, tingkah laku, dan gaya berjalan.

3. Alur Cerita

Alur Cerita

Alur Cerita atau disebut juga dengan plot merupakan rangkaian cerita yang terdiri dari kejadian atau peristiwa yang dialami, kemudian disusun sesuai kronologis dari awal cerita sampai akhir sebagai interaksi fungsional dari bagian keseluruhan cerita. Jenis Alur Cerita antara lain :

  • Alur Maju

Alur Maju disebut juga progresif merupakan alur kejadian yang bergerak secara berurutan dari awal hingga akhir cerita. Umumnya novel dengan alur maju dibuat berdasarkan kisah nyata, biografi, dan autobiografi.

  • Alur Mundur

Kebalikan dari Alur Maju. Alur Mundur atau disebut regresif merupakan cerita yang bergerak mundur, sehingga alur cerita tidak rapi dan dibuat secara acak. Umumnya cerita dengan Alur Mundur digunakan untuk menceritakan kisah masa lalu.

  •  Alur Campuran

Alur Campuran disebut juga dengan Alur Maju-Mundur merupakan gabungan dari Alur Maju dengan Alur Mundur. Sama seperti novel dengan Alur Mundur, Alur Campuran dibuat tidak rapi dan acak. Umumnya cerita dengan Alur Campuran digunakan untuk pembuatan novel ber-genre fantasi dan misteri.

4. Gaya Bahasa

Gaya Bahasa

Setiap novelis memiliki gaya bahasa yang berbeda-beda. Bahkan satu novelis dapat menggunakan gaya bahasa yang berbeda untuk setiap novel yang ditulis. Gaya bahasa menjadi alat utama bagi novelis untuk menggambarkan sebuah cerita secara estetika. Jenis gaya bahasa yang digunakan novelis adalah simile atau perumpamaan, personafikasi, dan hiperbola.

Baca juga: Hobi Nulis? Kamu Harus Tahu 8 Unsur Intrinsik Cerpen Ini

5. Latar Cerita

Latar Cerita

Latar Cerita merupakan sesuatu yang berkaitan dengan waktu dan tempat dalam sebuah cerita. Penggambaran Latar Cerita yang baik tentunya akan mempengaruhi suasana dalam cerita. Latar Cerita terdiri dari waktu yang berkaitan dengan peristiwa dalam novel, tempat yang berkaitan dengan lokasi peristiwa, dan suasana yang berkaitan dengan suasana ketika peristiwa terjadi.

6. Sudut Pandang

Sudut Pandang

Sudut Pandang merupakan cara pandang penulis yang digunakan untuk menegaskan posisi novelis di dalam cerita yang ditulis. Terdapat tiga macam sudut pandang, diantaranya :

  • Sudut Pandang Sebagai Orang Pertama

Di sini novelis memposisikan diri sebagai tokoh utama dalam novel. Umumnya sudut pandang orang pertama digunakan untuk menceritakan pengalaman pribadi. Di dalam cerita, novelis bisa menggunakan kata ganti “saya” atau “aku” sebagai tokoh utama.

  • Sudut Pandang Sebagai Orang Ketiga

Di sini novelis memposisikan diri sebagai orang ketiga dimana cerita ditulis berdasarkan peristiwa yang didengar atau dilihatnya. Sudut pandang orang ketiga bisa menggunakan nama tokoh, atau gunakan kata ganti seperti “dia” atau “mereka.

  • Sudut Pandang Sebagai Orang Ketiga Serba Tahu

Di sini novelis memposisikan diri sebagai orang ketiga yang mengetahui banyak tentang watak, kejadian, latar belakang, hingga pikiran dan perasaan tokoh dalam cerita. Novelis lebih banyak menceritakan tentang tokoh utama secara detil.

7. Amanat

Amanat

Dalam setiap cerita, tentu terdapat hal baik yang bisa dipetik. Begitu pun dengan novel. Amanat menjadi unsur intrinsik terakhir ketika menulis novel. Amanat dapat disampaikan secara langsung dan tidak langsung, yaitu dengan disisipkan dalam alur cerita. Dengan begitu, novel yang ditulis tak hanya menjadi hiburan semata, melainkan menjadi pelajaran bagi pembaca.

Unsur Ekstrinsik

Selain Unsur Intrinsik, ada juga Unsur Ekstrinsik yang tak kalah penting dalam proses menulis novel. Unsur Ekstrinsik novel merupakan suatu hal yang dapat membangun novel dari luar cerita. Unsur Ekstrinsik tidak akan ditemukan dalam alur cerita, tetapi memiliki peran penting untuk mengenal novel yang dibaca lebih jauh. Berikut Unsur Ekstrinsik yang dapat membangun sebuah novel :

1. Biografi Penulis

Biografi Penulis

Di dalam sebuah novel, Biografi Penulis menjadi hal yang penting untuk diketahui. Di sini, novelis bisa menulis latar belakang kehidupannya mulai dari tanggal lahir, tempat tinggal, latar belakang pendidikan, keluarga, lingkungan, dan sebagainya yang dirasa penting untuk dituliskan. Hal ini dapat berpengaruh dalam cerita novel yang ditulis.

2. Situasi dan Kondisi

Situasi dan Kondisi

Pada hal ini, novelis menerangkan situasi dan kondisi novelis pada saat proses pembuatan novel. Situasi dan Kondisi yang dituliskan bisa juga berdasarkan latar belakang masyarakat sekitar saat novel ditulis. Hal ini dapat berpengaruh pada hasil novel yang diciptakan.

3. Nilai dalam Cerita

Nilai dalam Cerita

Berbeda dengan Amanat pada Unsur Intrinsik Novel yang dijabarkan pada alur cerita, bagian ini novelis menuliskan nilai-nilai yang dapat diambil oleh pembaca. Di sini, novelis dapat menyisipkan nilai kehidupan diantaranya nilai moral, nilai budaya, nilai sosial, dan nilai estetika yang akan mempengaruhi pembaca.

Itulah 10 unsur intrinsik dan ekstrinsik yang perlu diperhatikan untuk membuat sebuah novel. Sebuah karya yang baik, ditentukan dari seberapa mampu ia membangun emosi dari pembaca. Sudah siap untuk menulis novel? Yuk, menjadi novelis!

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *