bacaterus web banner retina
Bacaterus / Serba Serbi / 5 Tradisi Bulan Puasa yang Sudah Hilang di Indonesia

5 Tradisi Bulan Puasa yang Sudah Hilang di Indonesia

Ditulis oleh Siti Hasanah - Diperbaharui 23 April 2021

Indonesia adalah sebuah negara dengan beragam kebudayaan dan agama. Nilai-nilai budaya dan spiritual dari agama yang dianut di Indonesia bisa berbaur dan melebur menghasilkan satu tradisi unik dari masing-masing daerah dan bulan Ramadhan menjadi momentum penegasan adanya hal tersebut. Tradisi dari berbagai daerah di bulan puasa ini kini banyak yang sudah jarang dilakukan.

Bahkan ada tradisi yang hilang seiring berkembangnya zaman. Generasi masa kini hanya bisa mengetahui adanya tradisi di bulan puasa tersebut dari cerita nenek dan buyut. Kisah yang diceritakan menjadi hal yang seru untuk didengar. Yuk, berkenalan dengan tradisi bulan puasa di Indonesia yang kini sudah tidak ada. Simak selengkapnya berikut ini!

1. Kuramas Masal – Sunda

Kuramas Masal – Sunda

Sejatinya masyarakat Sunda itu senang berkumpul. Ada ungkapan Sunda yang menyatakan “bengkung ngariung bongkok ngaronyok” yang berarti selalu bersama-sama di saat suka dan duka.

Maksudnya bagi masyarakat Sunda, di mana pun dan kapan pun akan terasa lebih afdol jika selalu berdekatan secara fisik. Kebiasaan orang Sunda berkumpul dinyatakan pula dalam ungkapan lain, yaitu “kopi sagelas oge diregot babarengan” yang berarti kurang lebih bemakna sama.

Sebelum menjalankan ibadah puasa umat Islam diwajibkan untuk adus, yaitu mandi membersihkan diri sehari sebelum berpuasa. Istilah ini berbeda-beda di tiap daerah beragntung dari bahasa daerah masih-masing. Di masyarakat Sunda, prosesi adus menjelang puasa disebut kuramas.

Uniknya di beberapa tempat di wilayah Sunda kuramas dilakukan secara berjamaah di aliran sungai atau tampian-pancuran. Sehari sebelum puasa orang-orang akan bersama-sama turun ke pancuran atau ke sungai untuk kuramas.

Sungai-sungai yang biasa dijadikan sebagai lokasi kuramas adalah sungai Ci Liwung, Ci Tarum, Ci Tanduy. Kuramas masal ini membuat kenangan indah di benak para orang tua. Mereka biasa menceritakannya kepada anak cucu mereka.

Sayangnya, tradisi kuramas sudah tidak dilakukan lagi. Proses membersihkan diri sebelum berpuasa ini kini dilakukan sendiri-sendiri. Pasalnya permukiman masyarakat Sunda sudah jarang ada yang masih mempunyai pancuran. Setiap rumah kini sudah memunyai kamar mandi masing-masing.

Selain itu, kualitas air sungai pun tidak sebaik dulu. Air sungai kini sudah kotor dan dipenuhi sampah. Tradisi kuramas masal pun hilang.

2. Botram di Tempat Terbuka - Sunda

Botram di Tempat Terbuka - Sunda

Masih dari daerah Sunda. Tradisi lain yang kini sudah tinggal cerita adalah botram di taman dan sekitar sungai. Ini merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan dalam munggahan yang kerap dilakukan menjelang puasa.

Pada setiap munggahan, orang Bandung misalnya, akan botram di taman dan di daerah Pasar Baru. Masyarakat lain ada pula yang botram di sawah, kebun dan tempat-tempat terbuka lainnya. Masyarakat akan ngariung sambil menyantap makanan bersama.

Kini tradisi botram di tempat terbuka seperti itu tidak ada lagi. Pasar Baru Bandung buka lagi tempat tujuan untuk munggahan. Sawah dan kebun-kebun di kota Bandung sudah menyempit, tidak nyaman untuk dijadikan sebagai tempat botram.

Sekarang botram dilakukan di tempat-tempat wisata dan restoran atau café. Masyarakat akan mereservasi restoran sebelumnya. Keseruan makan di restoran tentu tidak sama dengan botram di alam terbuka dengan anggota keluarga di bulan puasa.

3. Nyorog – Betawi

Nyorog – Betawi

Penduduk asli Betawi pernah menjadi sangat galib dengan adanya tradisi nyorog di bulan puasa. Tradisi ini sama dengan tradisi nganteuran di masyarakat Sunda. Kata nyorog adalah Bahasa Betawi, artinya menghantarkan. Pada prakteknya nyorog dan nganteuran adalah sama saja, yakni mendatangi rumah kediaman keluarga yang lebih tua dengan membawa bingkisan.

Bingkisan tersebut biasanya berupa bahan makanan mentah seperti beras, minyak, gula, tepung dan lain-lain. Bingkisan nyorog juga ada yang berisi makanan matang khas Betawi seperti sayuran dan lain-lain.

Menurut salah satu budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra nyorog berasal dari sebuah perisiwa ritual baritan, yaitu upacara yang berhubungan dengan kepercayaan masyarakat terhadap peristiwa alam. Ritus baritan adalah cerminan antar interaksi manusia, lingkungan dan kepercayaan terhadap Tuhan.

Pada awal Islam masuk ke tanah Jawa, nyorog adalah sebuah upacara sedekah bumi. Dulu masyarakat membawakan makanan atau sesajen untuk dipersembahkan kepada Dewi Sri, dewi simbol kemakmuran.

Sesajen tersebut adalah sebuah bentuk rasa syukur kepada sang dewi karena alam ini telah diberkahi dengan kesuburan tanah, dan berbagai hasil bumi yang melimpah. Seiring dengan berkembangnya peradaban baru, tradisi nyorog lantas berubah menjadi sebuah tradisi penghormatan kepada kerabat yang dituakan.

Dalam tradisi nyorog ini orang yang lebih muda bersilahturahmi dan bermaaf-maafan ke orang yang lebih tua sambil membawa bingkisan yang isinya berbagai macam makanan. Di momentum ini, di kampung-kampun Betawi sering terlihat barisan orang-orang menenteng berbagai macam makanan.

Inilah serunya nyorog. Namun, di zaman tradisi ini sudah tidak dilakukan lagi. Kalau pun masih ada, tradisi ini hanya dilakukan di kampung-kampung di Betawi. Praktek nyorog sudah dibuat lebih praktis.

Kerabat yang datang tidak membawa serta sorogan (bingkisan). Mereka datang untuk bersilahturahmi dan sorogan nanti akan menyusul dibawakan. Keseruan berjalan beringinan sowan ke rumah kerabat yang lebih tua sambil menenteng sorogan kini tidak ada lagi.

4. Motog Kebo Andalin – Betawi

Motog Kebo Andalin – Betawi

Selain tradisi nyorog, masyarakat Betawi mempunyai tradisi motong kebo andalin di bulan puasa. Masyarakat Betawi zaman dulu biasa menabung uang untuk kemudian uangnya dibelikaan kebo atau kerbau.

Kerbau tersebut selanjutnya digembalakan oleh masyarakat Betawi secara bergiliran ke lapangan rumput. Dulu di Jakarta masih banyak ditemukan lapangan rumput untuk menggembalakan kerbau atau sapi dan hewan ternak lainnya.

Kerbau andalin tidak hanya digembalakan. Hewan ternak itu dirawat dengan sangat baik, diperhatikan kesehatan dan pakannya. Kemudian setelah sebulan berpuasa selesai kerbau tersebut disembelih dan diolah oleh masyarakat kampungn Betawi. Daging kerbau andalin dibagikan ke seluruh masyarakat kampung.   

Tradisi motong kebo andalin di Betawi tidak lagi dilakukan. Daerah Jakarta sudah sulit ditemukan lapangan untuk ngangon atau menggembalakan kerbau. Faktor perubahan sosial di kehidupan kota Jakarta pun menjadi alasan di balik hilangnya tradisi ini.

5. Marpangir – Sumatera Utara

Marpangir – Sumatera Utara

Membersihkan diri sebelum menjalankan ibadah puasa adalah wajib hukumnya menurut ajaran Islam. Umat Islam yang hendak berpuasa diharuskan membersihkan diri dengan mandi, keramas dan membaca niat membersihkan diri sebelum berpuasa.

Proses adus di beberapa tempat memiliki tata cara yang berbeda. Ada yang diawalii dengan ziarah ke makam-makam leluhur dan tokoh-tokoh penting seperti yang dilakukan di Riau, ada pula adus dengan menggunakan buah jeruk limau seperti tradisi masyarakat Sumatera Barat.

Di Sumatera Utara terdapat tradisi yang unik menjelang bulan puasa yang disebut marpangirMarpangir merupakan mandi adus cara tradisional sebelum berpuasa. Alih-alih menggunakan shampoo dan sabun batang atau sabun cair, dalam marpangir orang Sumatera Utara menggunakan bahan-bahan alami seperti rempah, bunga-bungaan wangi.

Paket pangir berisi bunga pinang, bunga mawar, bunga kenanga, daun limau, daun pandan, daun serai, jeruk purut, dan akar wangi. Akar kautsar dan embelu terkadang ditambahkan pula jika sedang musimnya.

Yang utama dari paket pangir adalah tujuh macam dedaunan dan rempah-rempah di dalamnya. Bahan-bahan dalam pangir mudah dijumpai dan memang banyak dijual di pasar-pasar tradisional dengan harga yang sangat terjangkau. Namun, paket pangir hanya ada saat Ramadan saja.

Prosesi marpangir dilakukan beramai-ramai di pemandian umum. Sekolah-sekolah di Sumatera Utara akan libur dan siswa akan ikut marpangir. Di waktu tersebut masyarakat akan berbondong-bondong turun ke pemandian untuk marpangir bersama-sama.

Sebetulnya, tradisi yang merupakan akulturasi dari tradisi Hindu Islam ini adalah tradisi Sumatera Utara. Namun, sekarang hanya beberapa daerah di Medan saja yang masih melakukan marpangir. Padahal marpangir mempunyai efek yang bagus bagi kulit dan kesehatan kita.

Mandi marpangir bisa membantu merelaksasikan tubuh. Aroma bunga-bungaan dan rempah yang direbus membuat pikiran dan hati tenang. Membicarakan tradisi-tradisi berpuasa zaman dulu memang selalu menghadirkan perasaan nostalgia di benak para orang tua kita.

Sayang sekali generasi muda kita tidak lagi merasakan pengalaman seru seperti itu. Para anak muda ini hanya bisa menikmati keseruan tradisi nyorog, motong kebo andalin, kurames masal dan lain-lain dalam bentuk cerita.

Perubahan zaman dan konstruksi sosial di masyarakat menjadi faktor yang mempengaruhi hilangnya tradisi ini. Tapi meski ada tradisi yang hilang, semangat berpuasa tidak boleh ikutan hilang. Yuk, tetap semangat!

Tag: , , ,
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram