bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film Horror The Witch (2015)

Ditulis oleh Desi Puji Lestari - Diperbaharui 1 Juni 2021

Keluarga William harus keluar dari desa sebab berselisih masalah kepercayaan dengan penduduk desa yang lain. Alih-alih hidup tenang, mereka mulai menghadapi teror yang membuat seluruh anggota keluarga merasa bingung dan terancam. Semua dimulai dari peristiwa hilangnya putra bungsu mereka.

Dibintangi sederet nama-nama besar seperti Anya Taylor-Joy, Ralph Ineson, Harvey Scrimshaw dan Kate Dickie, film The Witch siap mengganggu ketenangan dengan teror-teror penyihir yang mengerikan lainnya. Film supernatural period horor ini pernah beberapa kali memenangkan penghargaan film bergengsi. Semakin tertarik dengan jalan ceritanya? Anda bisa segera menonton, tapi sebelum itu simak ulasannya berikut ini!

Sinopsis

Sinopsis
  • Tanggal/Tahun Rilis: 27 Januari 2015
  • Genre: Period Supernatural Horror
  • Produksi: Parts and Labor, RT Features, Rooks Nest Entertainment, Maiden Viyage Pictures
  • Sutradara: Robert Eggers
  • Pemeran: Anya Taylor-Joy, Ralph Ineson, Kate Cicki, Harvey Scrimshaw

Pada tahun 1630-an, seorang pria seperti sedang didakwa, dihakimi. Dengan suaranya yang berat, pria itu mengatakan dia tak bisa dihakimi oleh umat Kristiani palsu karena menyebarkan ajaran Kristus yang benar. Dia juga dianggap meremehkan hukum Persemakmuran dan Gereja dengan kesombongannya. Seseorang kemudian lantang berkata bahwa pria itu harus diusir dari wilayah tersebut.

Tanpa takut, pria bernama William (Ralph Ineson) itu menyanggupi. Dia membawa pergi keluarganya yang terdiri atas istri bernama Katherine (Kate Dickie) dan buah hati mereka, yaitu Thomasin (Anya Taylor-Joy), Caleb (Harvey Scrimshaw) dan si kembar, Mercy (Ellie Grainger) dan Jonas (Lucas Dawson).

William kemudian mendirikan rumah sekaligus pertanian di dekat hutan besar yang terpencil. Tak lama, Katherine melahirkan anak kelima mereka yang diberi nama Samuel. Suatu hari, Katherine menyerahkan Samuel pada Thomasin karena dia harus mengerjakan sesuatu. Sebagai kakak tertua, Thomasin harus sigap dengan hal itu. Dia pun segera menggendong Samuel dan pergi mengajaknya bermain peekaboo di dekat hutan.

Saat tengah asyik bermain, ketika Thomasin membuka matanya, Samuel tiba-tiba hilang. Bayi itu tidak berada di tempatnya. Thomasin yang panik berlari menuju hutan sambil meneriakkan nama sang adik. Samuel dibawa oleh sosok penyihir berjubah merah. Penyihir itu membunuhnya, menghancurkan tubuh Samuel yang tidak berdosa dan membaluri tubuh keriputnya menggunakan itu.

Sejak Samuel hilang, Katherine sangat terpukul hingga tidak pernah bisa tidur. Di luar rumah, William bicara pada Caleb bahwa mereka tidak bisa lagi mencari Samuel. Sang ayah mengajak anak lelaki tertuanya itu untuk pergi ke hutan, memeriksa perangkap. Caleb ragu karena sang ayah dan ibunya sendiri yang melarang mereka pergi ke hutan.

Namun, persediaan pangan menipis karena hasil panen tidak akan cukup hingga musim dingin. William terpaksa mengajak Caleb ke hutan untuk mencari makanan. Keduanya pun berangkat sambil membawa anjing peliharaan mereka yang bernama Fowler ikut serta. Sementara itu, di rumah, Thomasin seperti mendengar suara tangisan bayi dari kamar sang ibu. Saat diintip, tidak ada siapa pun kecuali Katherine yang tidak henti berdo’a dan menangis.

Di sisi lain, Caleb tidak henti-hentinya membicarakan dosa dengan sang ayah, terutama perihal Samuel. Dia bertanya apakah Samuel ada di Neraka? Dia juga berandai-andai jika mati hari ini, dia punya sifat jahat, dosanya tak bisa diampuni, bagaimana jika Tuhan tidak mendengar doanya? Caleb meracau sebelum sang ayah menenangkannya.

Caleb lalu kembali bertanya dari mana William mendapatkan peralatan perangkap yang dipasang? Apa yang ditukarnya? Ternyata William menukar cawan perak milik Katherine. William meminta putranya untuk tidak mengatakan apa pun pada sang ibu. Tanpa disadari, mereka sudah tidak bersama Fowler untuk waktu yang lama. William memanggil anjing itu dan Fowler menyaut dengan gonggongan.

Di saat bersamaan di depan mereka terlihat seekor kelinci. Ketika hendak menembaknya, William justru melukai matanya sendiri. Di rumah, Thomasin tidak henti melakukan pekerjaan rumah, sementara si kembar, Jonas dan Mercy bermain-main sambil bernyanyi. Perlakuan Katherine pada Thomasin terasa berbeda. Wanita itu memarahi putrinya karena tidak mengawasi si kembar dengan jeli.

William juga kena marah karena sudah pergi sejak pagi. Caleb terpaksa berbohong mengenai perburuan mereka di hutan. Cerita berlanjut saat Thomasin mencuci baju sang ayah di sungai, tak lama Caleb menyusulnya. Pria remaja itu seperti tertarik secara seksual dengan kakak perempuannya. Dia tidak berani menatap Thomasin.

Saat sedang berdua, Mercy tiba-tiba mengagetkan mereka. Dengan poios, anak itu mengatakan bahwa Samuel diculik oleh penyihir. Dia pernah melihatnya mengenakan jubah bertudung di dalam hutan. Thomasin menimpali adiknya dengan perkataan yang tak masuk akal. Dia mengatakan bahwa dia lah penyihirnya, dialah yang menculik Samuel. Dari belakang Caleb berteriak kepada Mercy untuk jangan mendengarkan perkataan Thomasin.

Thomasin meneruskan perkataannya yang lama-lama membuat Mercy takut. Ketika Caleb menegurnya, gadis itu tidak mau mendengar. Thomasin sebenarnya bersedih karena perlakuan sang ibu yang seolah menyalahkannya atas kejadian yang menimpa Samuel.

Saat makan malam tiba, Katherine tiba-tiba bertanya soal cawan peraknya kepada Thomasin. Sang ibu langsung menuduh dia telah menghilangkannya. Walau William ikut bicara dan membela, Katherine terlanjur berprasangka. Caleb yang tahu kejadian sebenarnya pun tidak bisa mengatakan apa-apa.

Di tengah makan malam, Katherine menyuruh Thomasin untuk menidurkan kambing-kambing mereka. Gadis itu pun pergi ke luar rumah berbekal lentera yang temaram. Di dalam kandang kambing, Thimasin melihat seekor kelinci; kelinci yang sama dengan ditemukan William dan Caleb di hutan. Apakah kelinci itu benar-benar kelinci? Bagaimana jika ia rupanya penyihir? Lalu, akankah keluarga William bisa terbebas dari teror penyihir itu?

Unsur Ketuhanan dalam Dialog

Unsur Ketuhanan dalam Dialog

Tayang perdana di Sundance Film Festival 2015, film The Witch banyak menyertakan unsur-unsur keagamaan di dalamnya. Sejak film ini dimulai, agama menjadi latar belakang mengapa William sekeluarga diusir dari desa. Melalui dialog-dialog yang berlaku antara karakternya, Anda seperti mendengar orang sedang berdakwah menggunakan ayat-ayat di dalam Alkitab.

Keluarga William merupakan keluarga religius. Dalam setiap kegiatannya, para anggota keluarga tidak lupa untuk selalu menyertakan Tuhan. Kate sebagai seorang ibu yang kehilangan putra bungsunya, tidak henti berdo’a karena khawatir anaknya masuk neraka sebab Samuel belum dibaptis.

Beberapa dialog dalam film ini, yang kental sekali dengan unsur ketuhanan paling banyak keluar dari karakter William. Sang kepala keluarga berulang kali mengatakan hal-hal yang muaranya adalah manusia harus berpegang teguh pada kekuatan iman.

Seperti ketika William mengingatkan Kate untuk jangan larut dalam kesedihan dengan mengatakan, “Aku tak mau kau terlarut dalam kesedihan ini. Mari fokuskan pikiran kita kepada Tuhan, bukan pada diri kita,” dan beberapa dialog lainnya. Sepanjang film, kepercayaan terhadap Tuhan berjalan beriringan dengan kengerian, rasa takut.

Backsound Menambah Kengerian

Backsound Menambah Kengerian

Saat Anda menonton The Witch, siap-siap untuk mendengar backsound yang tidak nyaman terdengar di telinga. Ia sangat mengganggu karena seperti meninggalkan dengungan di kepala. Suara-suara yang dipilih menjadi musik pengiring, pengantar adegan demi adegan, terlihat disiapkan dengan sangat matang. Penempatannya pun begitu pas hingga sukses menambah kengerian pada film ini.

Beberapa backsound yang ada dalam film The Witch tampak menggunakan teknik fade in-fade out; dimulai dengan pelan, semakin tinggi, tinggi, sangat tinggi, lalu menghilang. Teknik semacam ini ampuh membuat dada berdebar-debar. Kita seolah menunggu kejutan yang akan terjadi setelahnya.

Keluarga Taat Tuhan yang Harus Berurusan dengan Iblis

Keluarga Taat Tuhan yang Harus Berurusan dengan Iblis

Diusir dari desa, membuat keluarga William menepi di pinggir hutan. Tanpa mereka sadari di dalamnya tinggal sesosok penyihir haus darah yang mengerikan. Melihat William dan keluarganya diteror oleh sesuatu yang tidak mereka ketahui, ada rasa nelangsa dan iba. Apalagi, keluarga ini sangat taat terhadap Tuhan dan selalu meminta perlindungan serta ampunan.

Sebagai orang yang percaya Tuhan, William memilih untuk tidak memercayai keberadaan penyihir. Dalam salah satu scene, ketika Caleb pulang dalam keadaan telanjang setelah seharian hilang, William tetap tidak berpikir bahwa itu ulah penyihir. Dia bahkan memperolok kegelisahan dan kekhawatiran Kate sebagai ketakutan seorang anak kecil.

Iblis yang mereka hadapi bukan hanya berbentuk penyihir yang mengerikan, melainkan keraguan mereka pada kekuatan Tuhan, terutama Kate. Sejak Samuel meninggal, dia merasa hatinya seperti batu. Iman yang ada dalam dirinya dirasakan semakin melemah sehingga Kate merasa semakin jauh dari Kristus. Iblis yang dihadapi keluarga ini jauh lebih mengerikan daripada penyihir yang mengancam nyawa.

The Witch mendapat banyak respon positif. Penulis horor Stephen King dan Brian Keene bahkan memuji film ini dengan mengatakan bahwa The Witch berhasil membuatnya ketakutan. Ia adalah sebuah film yang nyata dan menegangkan. Tidak heran jika pada akhirnya film ini mendapat banyak penghargaan resmi yang bergengsi, di antaranya Toronto Film Critics Association (2015) sebagai Best First Feature.

Bagaimana? Penasaran dengan salah satu film horor tersukses yang dibintangi oleh aktor bersuara berat, Ralph Ineson? Anda perlu segera menontonnya dan temukan jawaban di sana. Selamat menyaksikan penyihir beraksi dalam The Witch.

The Witch
8 / 10 Bacaterus.com
Rating

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram