bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review The Train, Peperangan di Atas Rel Kereta

Ditulis oleh Aditya Putra - Diperbaharui 25 Juni 2021

Film-film bertema peperangan banyak menggunakan cerita tentang perang dunia kedua. Banyaknya bukti dari masa itu berupa foto dan dokumen sejarah menjadi salah satu faktor pendukung yang membuat banyak cerita bisa dikembangkan. Walau begitu, kebanyakan masih menjadikan Nazi sebagai musuh utama.

Menilik dari sejarah perfilman, film tentang perang dunia kedua pertama kali dibuat pada dekade 30-an. Dalam beberapa dekade selanjutnya, film bertema serupa semakin sering muncul. Salah satunya dari dekade 60-an, ada film berjudul The Train yang dianggap sebagai salah satu film perang terbaik. Langsung simak sinopsis dan review-nya, yuk!

Sinopsis

  • Tahun Rilis: 1964
  • Genre: War, Action
  • Produksi: Les Productions Artistes Associes, Les Films Ariane, Dear Film
  • Sutradara: John Frankenheimer
  • Pemain: Burt Lancaster, Paul Scofield, Jeanne Moreau, Michael Simon

Pada bulan Agustus 1944, Tentara Sekutu akan menduduki Prancis dan pasukan Nazi dipukul mundur. Dengan banyaknya pasukan Nazi yang menduduki Prancis, mereka diberi kesempatan untuk pulang ke negaranya sampai Tentara Sekutu datang. Kolonel Franz von Waldheim ditugaskan dalam sebuah operasi untuk mengangkut lukisan-lukisan berharga yang dipajang di museum Jeu de Paume.

Waldheim memilih beberapa lukisan yang akan dikirim ke Jerman. Walau akan memakan biaya yang mahal, dia nggak peduli asalkan lukisan-lukisan itu bisa sampai di negaranya. Dia berdalih bahwa lukisan-lukisan itu punya harga mahal dan dapat digunakan untuk membiayai operasi militer yang dilakukan Nazi.

Kurator Jeu de Paume, Mademoiselle Villard meminta bantuan pada Pasukan Pemberontak Prancis. Pasukan Pemberontak cukup percaya diri untuk menggagalkan misi Nazi mengangkut lukisan ke Jerman karena Tentara Sekutu akan segera datang. Pasukan Pemberontak kemudian bekerja sama dengan perusahaan kereta api agar mencegah lukisan itu ke luar dari negara mereka.

Mereka berencana membuat kereta tertunda keberangkatannya. Paul Labiche, salah satu Pemimpin Pemberontak sekaligus petugas inspeksi perusahaan kereta api menolak usulan anggotanya yang ingin menyelamatkan lukisan dari tangan Nazi. Labiche mengungkapkan bahwa lukisan-lukisan itu nggak seberharga nyawa manusia.

Misi penyelamatan lukisan merupakan misi berbahaya karena tentara Nazi lebih terorganisir. Bisa dipastikan kalau mereka juga akan mengerahkan anggota terbaiknya dalam membawa lukisan-lukisan ke Jerman. Labiche nggak mau merestui kalau harus ada pertumpahan darah cuma demi menyelamatkan lukisan.

Papa Boule, salah satu teknisi kereta sekaligus teman Labiche harus tewas ketika menyabotase kereta yang berisi lukisan. Merasa tersentuh kehilangan teman yang membela aset negara, Labiche berubah pikiran dan bergabung dengan dua pemberontak yaitu Didot dan Pesquet. Mereka berdua merupakan orang yang menyiapkan rencana lain untuk menghentikan tentara Nazi.

Didot dan Pesquet yang dibantu Labiche menyiapkan jebakan berupa perubahan rute kereta. Dengan begitu, kereta yang membawa lukisan akan seperti pergi ke Jerman padahal mereka balik menuju Prancis. Rencana dilanjutkan dengan merekayasa tabrakan kereta. Hal ini menjadi pilihan karena bagaimana pun kereta yang membawa lukisan harus berhenti.

Rencana Didot dan Pesquet berhasil dijalankan. Kereta yang ditumpangi Nazi terpaksa berhenti di Rive-Reine, sebuah kota kecil di Prancis. Tentara Nazi kemudian turun dari kereta untuk mengecek keadaan dan menemukan Pemberontak Prancis yang berada di lokasi kejadian. Mereka menembaki Labiche tapi Labiche berhasil selamat. Hanya saja, kakinya terluka.

Tentara Nazi mengejar Labiche yang berlari dengan kaki terluka sementara pemberontak lain tewas dieksekusi. Labiche kemudian sampai di hotel Rive-Reine dan meminta tolong pada Christine, pemilik hotel, agar bisa bersembunyi. Christine menyembunyikan Labiche agar nggak tertangkap oleh Tentara Nazi.

Christine mau mengikuti permintaan Labiche dan mengatakan pada tentara Nazi bahwa dia nggak melihat sosok yang dicari. Pada malam harinya, Labiche menemui Spinet, Didont dan Robert untuk membahas rencana selanjutnya. Mereka berencana mengecat tiga gerbong kereta yang akan digunakan untuk mencuri balik lukisan agar nggak terkena serangan Tentara Sekutu.

Robert mengumpulkan pekerja kereta dan mulai mengecat beberapa gerbong. Upaya mereka ketahuan oleh Tentara Nazi dan mereka dieksekusi termasuk Didont dan Robert. Waldheim mulai menggunakan cara yang lebih keras. Dia menculik beberapa warga lokal agar keretanya nggak diserang pemberontak. Sementara itu, Labiche harus berjuang seorang diri. Berhasilkah upaya Labiche?

Plot Solid

The Train menggunakan latar sejarah sebagai fondasi cerita. Sebagaimana film pada umumnya, ada fiksi yang ditambahkan ke dalam cerita. Pada kenyataannya, kereta Nazi dibelokkan menuju Paris untuk menunggu kedatangan Pasukan Sekutu. Di film, cerita tersebut dimodifikasi dengan sentuhan tambahan sehingga menjadi lebih dramatis.

Bukan hanya sejarah yang ditampilkan, tapi drama serta adegan action turut melengkapi film ini. Durasi 133 menit dengan versi aslinya berwarna hitam putih nggak akan terasa. Plot solid dari film ini melingkupi detail-detail kecil. Bagaimana cara perpindahan jalur kereta diperhatikan dengan baik, begitu juga dengan teknis mengenai kereta. Hal tersebut membuat film believable.

Di luar nuansa serius, diselipkan juga adegan yang menghibur. Salah satunya adalah ada seorang Tentara Nazi yang bertugas memeriksa stasiun apa saja yang sudah dilewati kereta. Dengan kereta melaju melewati perbatasan, bendera di stasiun pun akan berubah. Pria tersebut melihat bendera Jerman tapi dalam bentuk kanvas yang ditulisi. Hal itu menunjukkan bahwa mereka nggak benar-benar sampai di wilayah Jerman melainkan berbalik arah ke wilayah Prancis.

Film ini juga menghadirkan beberapa subplot seperti asmara antara Labiche dengan Christine. Dengan waktu yang singkat, romansa keduanya menjadi cerminan bagaimana peperangan berdampak pada warga sipil. Kehadiran subplot nggak mengganggu plot utama, malah memperkuat dengan menunjukkan upaya Labiche bersembunyi dari Tentara Nazi sebelum berjuang kembali.

Baca juga: Review & Sinopsis Film 1917 (2019), Perang Tanpa Henti

Narasi tentang Dampak Peperangan dan Nasionalisme

Film perang biasanya menyisipkan pesan tentang dampak buruk dari peperangan. The Train pun melakukan hal serupa. Christine menyindir bagaimana para pria memilih berperang demi negara tapi membuat istri-istrinya menjadi janda. Begitu pun Labiche yang awalnya menolak berjuang karena merasa perjuangan tersebut nggak setimpal dan juga Sekutu akan tiba.

Narasi tentang nasionalisme dibahas oleh pasukan pemberontak. Mereka nggak mau tentara Nazi seenaknya membawa barang berharga dari negara mereka. Dengan akan perginya Nazi dari Prancis, mereka pun memilih cara paling ringan yaitu merebut kembali lukisan-lukisan yang dicuri di wilayah pinggiran Prancis. Dengan begitu, korban bisa diminimalkan.

Ada sebuah satir tentang nasionalisme yang dimasukkan ke dalam film. Berbeda dengan Labiche yang sama sekali nggak memahami seni, Waldheim merupakan penggemar seni. Waldheim terjun langsung memilih lukisan-lukisan mana yang akan dibawa. Niatnya untuk memajang serta menggunakan lukisan untuk keperluan negara ternyata merupakan kedok belaka.

Adegan Action Dikemas Rapi

Sensasi dari menonton film perang adalah bagaimana cara salah satu pihak berhasil menang. Untuk memenangkannya, biasanya digambarkan dalam adegan action. Dengan cerita solid, adegan action di akhir film terasa begitu rapi. Tembak-tembakan, ledakan, kereta tubrukan sampai serangan udara ditampilkan di The Train.

Dirilis pada tahun 1964 nggak membuat The Train asal-asalan dalam menampilkan adegan action. Semua adegan berbahaya seperti tabrakan kereta diambil secara nyata, bukan dengan miniatur. Begitu juga dengan keputusan menggunakan stuntman dibanding special effect yang membuat film ini murni sebagai live-action.

Dari sekian banyak film yang dirilis pada dekade 60-an, The Train adalah salah satu yang paling sering dibicarakan oleh pecinta film. Bahkan, film ini dikategorikan sebagai salah satu film klasik terbaik. Mari tambah pengalamanmu dengan menonton film-film jaman dulu seperti The Train. Mau berbagi pengalaman atau rekomendasi? Langsung tuliskan di kolom komentar ya, teman-teman!

The Train
8 / 10 Bacaterus.com
Rating

Artikel Terkait :
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram