Bacaterus / Review Film Asia / Sinopsis dan Review Film A Little Thing Called Love (2010)

Sinopsis dan Review Film A Little Thing Called Love (2010)

Ditulis oleh - Diperbaharui 14 Oktober 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Kisah cinta semasa SMA memang selalu menarik untuk diceritakan. Dalam usia tersebut, kita sudah mulai beranjak dewasa tapi masih nanggung, jadi masih ada sifat kekanak-kanakannya juga.

Mungkin karena itulah cerita cinta SMA lebih sering terkenang, karena kita bisa melakukan hal-hal menyenangkan, maupun hal-hal bodoh, tanpa memikirkan hari esok. Seperti Nam dan Shone pada film yang akan Bacaterus bahas kali ini.

A Little Thing Called Love, First Love, atau lebih dikenal sebagai Crazy Little Thing Called Love, adalah film dengan genre romantic comedy Thailand yang melegenda. Sudah lebih dari satu dasawarsa rilis, film ini masih ditonton banyak orang. Film ini menjadi salah satu film terbaik Mario Maurer dan Pimchanok Luevisadpaibul, sekaligus film romantis yang wajib ditonton semua orang.

Sinopsis

  • Tahun rilis: 2011
  • Genre: Romance, Comedy
  • Produksi: Sahamongkol Film International Co. Ltd., Workpoint Entertainment
  • Sutradara: Puttipong Pormsaka Na-Sakonnakorn, Wasin Pokpong
  • Pemeran: Mario Maurer, Pimchanok Luevisadpaibul, Sudarat Budtporm, Peerawat Herapath, Pijitra Siriwerapan, Acharanat Ariyaritwikol

Film ini menceritakan tentang cinta remaja saat SMA yang dialami Khun Nam (diperankan oleh Pimchanok Luevisadpaibul). Ia adalah gadis kuper, kurang menarik, dan tidak terlalu pintar juga.

Karena sekolahnya menggunakan sistem lanjutan—dari SMP lanjut ke SMA yang masih dalam satu yayasan—ia masih bisa bertemu dengan crush-nya semasa SMP, Khun Shone yang diperankan oleh Mario Maurer. Pada waktu itu, Nam masih kelas M.1 (sama dengan 1 SMP) dan Shone kelas M.4 (sama dengan 1 SMA).

Berkat dorongan sahabat-sahabatnya yaitu Cheer, Gei, dan Nim, Nam yang tadinya hanya berani menjadi secret admirer mulai berani menunjukkan dirinya agar ‘terlihat’ oleh sang mas crush. For your information, Shone itu beken banget.

Cowok terganteng di sekolah, lah, yang bahkan sampai junior di SMP saja tahu sama dia. Walaupun begitu, Shone tidak menjadi angkuh, justru dia sangat baik hati dan perhatian pada yang lemah.

Pernah suatu ketika, Nam dan sahabat-sahabatnya mau beli minum, tapi diganggu oleh dua orang senior mereka yang merupakan pemain basket sampai minuman mereka jatuh. Shone yang melihat kejadian itu membelikan kembali empat minuman untuk Nam dan teman-temannya.

Karena kesal dan malu, dua orang pemain basket tadi memukul Shone pada sore harinya. Hal ini terdengar oleh Nam cs. Nam pun berlari ke tempat perkelahian tapi ternyata semuanya sudah bubar. Di sana, Nam menemukan kancing seragam yang lepas.

Mengira itu milik SHone, Nam mengambil dan menjaga kancing baju itu dan sering mengajaknya bicara (ketika sedang membicarakan tentang Shone). Hal ini membuat rasa suka Nam semakin besar, dia pun mantap ingin PDKT dengan Shone.

Trio kwek-kwek teman Nam menyarankan dia mengikuti buku ‘bagaimana cara mendekati senior di sekolah’. Nam merasa buku itu sangat aneh dan memilih untuk belajar saja, karena dia dijanjikan boleh menyusul ayahnya ke Amerika jika mendapatkan peringkat pertama di sekolah. Akan tetapi, diam-diam Nam mengikuti tips dari buku tersebut, loh.

Cerita yang Simpel, Tapi Ngena

Film dengan genre komedi romantis merupakan ‘santapan’ semua orang. Walaupun kamu pecinta film-film ‘sadis’, kamu akan selalu membutuhkan penyegaran dari film ringan seperti Crazy Little Thing Called Love ini. Film ini memiliki jalan cerita sederhana, cinta pertama, masa SMA, sudah tertebak sebenarnya ceritanya bakal seperti apa.

Tapi, justru itulah yang ditunggu. Momen-momen gemesin saat kedua tokohnya sama-sama oblivious, dan kita sebagai penonton tahu sebenarnya mereka berdua saling menyukai, kan gemes. Rasanya ingin masuk ke film terus teriak, “Woy, kalian saling suka, confess aja kenapa, sih?!“.

Buat yang kurang suka film romansa picisan pasti merasa film ini terlalu bertele-tele, durasinya terlalu lama dengan happy ending yang nggak sampai dua menit (sedangkan ‘penderitaan’nya 116 menit). Padahal ceritanya sederhana banget dan problem-nya nggak berat.

Nggak Cuma Cinta, Tapi Tentang Persahabatan Juga

Persahabatan Nam dengan ketiga kawannya cukup menyita perhatian juga selain kisah cinta sang tokoh utama. Seperti biasa, si cupu berteman dengan yang cupu juga, si beken berteman dengan yang beken juga. Jadi, teman-teman Nam ya sama kuper dan tidak terkenalnya dengan dia.

Ketiga sahabat tersebut bernama Nim, Gie, dan Cheer. Karena melihat Nam yang benar-benar suka sama kak Shone, ketiga sahabat ini mendukung Nam untuk merubah penampilan agar jadi lebih menarik.

Seperti di Indonesia, standar kecantikan Thailand adalah yang memiliki kulit putih. Sedangkan diceritakan kulit Nam sawo matang dan kucel karena tidak terawat pada saat itu. Mereka membaca di buku kiat-kiat mendekati gebetan, cara memutihkan badan adalah dengan menggunakan kunyit.

Mereka pun melumuri tubuh Nam hingga berubah jadi kuning (dari wajah sampai kaki). Namun, efek kunyit tersebut tidak langsung hilang. Jadinya, Nam mash kuning dalam beberapa hari. Dan, lucunya, dia tidak sengaja papasan dengan Shone lalu ditanya oleh Shone “Apakah kamu sakit?”.

Singkat cerita, Nam sudah jadi cantik saja, ya. Saat terpilih menjadi mayoret drum band sekolahnya, Nam pun digebet Top, teman Shone yang populer juga. Top pun ‘nembak’ Nam dan mereka jadian karena Shone tidak bergeming saat Nam tanya/kode.

Sayangnya, setelah menjadi lebih cantik dan populer, dan karena berpacaran dengan Top, Nam berubah (tanpa dia sadari sebenarnya). Nam jadi lebih sering main dengan gengnya Top, karena kalau ada Top berarti ada Shone juga. Agak ngeselin juga ya Nam ini. Saat duduk di kantin pun Nam duduk dengan Top and the genk.

Setiap ada yang ulang tahun biasanya empat sekawan itu merayakannya bareng-bareng. Tapi, pada saat Cheer ulang tahun, Nam malah pergi hangout sama Top dkk, karena dia ngincar ingin dekat sama Shone.

Sepulangnya dari jalan-jalan itu, Nam pergi ke rumah Cheer malam sekali, tapi ketiga sahabatnya itu ternyata tidak merayakan ultah Cheer di rumahnya (dan Nam tidak diberi tahu). Itu karena teman-temannya merasa Nam berubah, tidak mau berteman dengan yang jelek dan tidak populer lagi. Persahabatan mereka sempat retak, tapi mendekati akhir film mereka berbaikan, kok.

Komedi yang Seru

Jangan lupa kalau ini film komedi romantis! Saya lebih menikmati adegan lucunya sebenarnya, karena cerita cintanya terlalu bertele-tele. Ikon lucu di film ini sebenarnya si gurunya yang mungil dan berambut keriting bernama Inn (diperankan oleh Sudarat Budtporm).

Dia memiliki watak yang ceplas-ceplos tapi baik. Dia juga yang mendukung Nam untuk bermain sebagai putri salju dalam drama sekolah dan menjadi mayoret yang menjadi batu lonjakan Nam untuk menjadi populer.

Sisi komedi lainnya bisa didapatkan dari teman-teman cabe rawitnya Nam. Scene ketika mereka membicarakan cowok yang mereka suka, atau ketika mendandani Nam, itu seru, sih. Tapi, yang paling memorable bisa dibilang saat mereka mengumpati Faye, cewek populer angkatan Nam yang genit.

Dia selalu mengincar cowok terpopuler di sekolah. Gelagatnya bikin pengen nampol memang, haha. Faye juga sempat mendekati Shone, selalu mencegat dan mengganggu ketika Nam mau gerak PDKT.

Jangan Buat Janji yang Nggak Bisa Kamu Tepati

Saya rasa janji antar teman yang dilakukan Top dan Shone sangat konyol. Perjanjian mereka adalah jangan menyukai perempuan yang sama, karena mereka tidak ingin persahabatan mereka hancur.

Dan, walaupun cuma berhubungan singkat, ternyata Top benar-benar menyukai Nam. Jadi, dia bilang sendiri ke Shone jangan sampai mereka pacaran setelah Top putus sama Nam. Egois banget. Tapi, namanya juga cinta remaja, ya, kadang melakukan hal-hal yang ‘apa sih’.

Patah Hati Sedalam-dalamnya

Saat hari kelulusan Shone dan kenaikan kelas Nam, si cewek protagonis kita memutuskan untuk confess. Tapi, ternyata, Shone baru saja berpacaran beberapa minggu dengan Pin (senior baik hati yang dekat dengan Nam juga, mereka satu circle). Jadinya mau sedih juga gimana, karena Pin selalu baik dengan Nam walaupun ketika Nam masih ‘jelek’.

Scene ini terjadi di kolam renang sekolah. Saat mau pergi, Nam yang sedang kalut tidak melihat kemana arah kakinya berjalan dan akhirnya tercebur ke kolam renang. Ini dia scene-nya. Agak sebel juga sama Shone yang cuma diem aja nggak ngapa-ngapain. Memang, dia mengulurkan tangan yang tidak diterima oleh Nam karena malu.

Tapi, lebih gereget kalau Shone bantu! Sudah ditolak ditambah didiemin saat sedang kecebur. Tapi, mungkin Shone mau ngasih jarak supaya Nam bisa menenangkan diri? Hmm, maybe.

Plot Twist, Happy Ending Kah?

Sepanjang film kita melihat perjuangan dan penderitaan Nam. Mulai dari dia yang masih seperti bebek hingga bertransformasi mejadi angsa yang cantik. Kita juga sudah diperlihatkan adegan Nam confess tapi ternyata Shone sudah pacaran sama orang lain. Tapi, ternyata, perasaan Nam berbalas, loh.

Memang, Shone terlihat cuek setiap kali Nam terang-terangan PDKT. Shone memang baik, tapi terkesan abai. Ternyata, itu semua akting belaka. Semua terjawab saat setelah kelulusan sekolah selesai.

Shone dikabari ayahnya kalau dia mendapatkan beasiswa ke luar negeri, yang berarti dia akan berpisah dengan Nam untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Penonton pun dibawa ke kamar Shone, di mana dia memiliki sebuah buku penuh dengan foto Nam!

Jadi, Shone itu memang suka bawa kamera ke mana-mana, kan. Nah, dia suka diam-diam motret Nam, dari awal dia masih jadi itik hingga jadi angsa. Ini agak creepy, sih. Tapi, kita lihat dari sisi romantisnya saja, deh.

Ternyata Shone sudah lama suka sama Nam juga, malah sebelum Nam berubah mempercantik diri pun Shone sudah suka. Tapi, entah kenapa dia nggak pernah confess, jadinya keburu kesalip sama Top dan akhirnya malah jadian sama Pin. Menurut saya, Shone coward sih. Nam juga nyatain perasaannya kelamaan.

Bayangin, awal film menceritakan Nam kelas 1 SMP dan Shone 1 SMA. Kalau di ending adalah hari kelulusan Shone, berarti kira-kira mereka udah kenal dan jadi deket tiga tahunan. Itu tuh lama banget! Ada banyak waktu untuk confess but both of them nggak melakukannya.

Di scene menuju ending kita diperlihatkan kalau Shone itu sweet banget. Shone ternyata masih menyimpan cokelat pemberian Nam yang sudah meleleh, tidak dimakan sama sekali, disimpan di freezer supaya bisa jadi artefak.

Terus, ingat bunga mawar yang sama akar-akarnya yang diberikan Shone pada Nam saat valentine? Shone kan bilangnya itu dari temannya, dan Nam cs mengira itu dari Top. Padahal Shone menanam bunga itu sendiri dari batang doang sampai berbunga, ada foto sequence-nya di buku kumpulan foto Nam buatan Shone tadi.

Karena akan pergi jauh dalam waktu yang belum bisa dipastikan, Shone pun ‘confess’ dengan menaruh buku saktinya di depan pintu rumah Nam. Which is again, romantic, but stupid. Bagaimana kalau hujan? Kalau bukunya digigit anjing? Kalau dibawa orang lain?

Tapi nggak, karena ini film dan kata sutradaranya, bukunya harus diketemuin sama Nam. Nam lihat buku misterius dan dia buka di kamarnya. Dia terkaget-kaget dan nangis (antara bahagia dan sedih karena Shone-nya mau pergi).

Waktu dipercepat hingga 9 tahun kemudian. Nam sudah enjadi desainer sukses basis Amerika, namun dia sedang ada acara di Thailand jadi pulang dulu ke kampung halamannya.

Di acara televisi, dia diwawancarai tentang perjuangannya menggapai karir. Kata Nam, kekuatan cinta yang membuat dia bisa menjadi desainer muda dan terkenal. Jadi, perjalanan cintanya Nam di masa lalu dia gunakan secara positif.

Host acara tv tersebut memberikan sesuatu yang ternyata buku saktinya Shone. Saat sedang terpaku karena mungkin Nam sudah lama tidak melihat buku itu, sang pembawa acara memanggil seseorang yang ingin bertemu dengan Nam, dan dia adalah Shone. Mereka pun berbincang ringan, terus Shone ngasih kancing yang dulu diambil sama Nam dan bilang kalau itu bukan kancingnya.

Sampai ke pertanyaan Nam yang membuat semua penonton di studio ikut deg-degan. “Mas Shone, apa kau sudah menikah?”. Beberapa detik mencekam, wajah Shone disorot, lalu wajah Nam disorot, dan akhirnya setelah detik-detik yang menyiksa itu Shone menjawab “Aku menunggu seseorang untuk pulang dari Amerika.” Mendengar itu, Nam pun menangis bahagia dan selesai.

Saya memang terlihat nge-judge film ini, karena waktu pertama kali saya menontonnya saya pikir romantis banget. Soalnya dulu saya masih menye-menye, sama kayak Nam. Memang usianya kali, ya. Tapi, saya yang sekarang melihat film ini capek sendiri. Overall, film ini bagus buat tontonan ringan. Buat pujangga sejati mungkin bisa sampai menitikkan air mata saat menontonnya.

Sesuai judulnya, Crazy Little Things Called Love, ternyata nggak harus sesuatu yang besar, hal kecil pun bisa membuat seseorang bahagia. Film ini juga mengajarkan kalau cinta bisa membuat orang berubah, baik itu menjuju lebih baik atau lebih buruk, orang yang mengalaminya sendiri yang seharusnya bisa memutuskan.

Dan, di sini Nam menggunakan pengalaman pedihnya semasa remaja menjadi acuan untuk bisa menjadi lebih baik lagi. Sekian review dari saya, sampai ketemu di review film lainnya!

Topik Terkait:

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *