bacaterus web banner retina
Bacaterus / Serba Serbi / Sejarah Singkat Masjid Istiqlal, Terbesar se-Asia Tenggara

Sejarah Singkat Masjid Istiqlal, Terbesar se-Asia Tenggara

Ditulis oleh Desi Puji Lestari - Diperbaharui 2 April 2021

Di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat, berdiri sebuah masjid super besar dan megah yang menjadi kebanggaan umat muslim di Indonesia sekaligus simbol toleransi antara agama. Masjid yang diberi nama Istiqlal atau berarti ‘Merdeka’ dalam bahasa Arab ini berdiri kokoh, menjadi rumah bagi hamba-hamba Allah untuk beribadah serta melakukan berbagai macam kegiatan agama.

Diakui sebagai masjid terbesar se-Asia Tenggara, Masjid Istiqlal berdiri persis di seberang Gereja Katedral. Penempatan masjid yang sedemikian rupa sudah dipikirkan oleh sang pemrakarsa. Siapa lagi jika bukan Ir. Soekarno. Kini, masjid yang berdiri di tanah seluas 98.247 m2 dengan luas bangunan sebesar 24.200 m2 ini mampu menampung sebanyak 200.000 jamaah.

Keberadaan Masjid Istiqlal membutuhkan proses pembangunan hingga belasan tahun. Kemegahannya yang mampu membuat siapa pun terpana, tidak selesai hanya dengan satu hingga dua tahun. Landmark legendaris kebanggaan umat muslim Indonesia ini punya sejarah yang panjang.

Namun, melalui artikel di bawah ini, Anda akan menemukan dan membaca sejarah singkat Masjid Istiqlal yang tercinta. Rangkuman informasi penting terkait sejarah Istiqlal pada artikel berikut ini diambil dari berbagai sumber. Tak sabar mengetahui cerita sejarah apa saja yang terjadi saat pembangunan Masjid Istiqlal? 

Direncanakan Dibangun Tahun 1950

Direncanakan Dibangun Tahun 1950

Pasca kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, tokoh-tokoh bangsa mulai mengembangkan banyak gagasan menyangkut pembangunan masjid nasional. Kala itu, Ir. Soekarno menjadi pencetus ide. Untuk mewujudkan ide tersebut beliau dibantu banyak pihak terutama para pemangku jabatan. Di antaranya adalah KH. Wahid Hasyim sebagai Menteri Agama RI saat itu dan H. Anwar Tjokroaminoto sebagai perwakilan PSI (Partai Syarikat Islam).

Dua tokoh tersebut mengadakan pertemuan dengan beberapa tokoh Islam di sebuah gedung pertemuan yang ada di kawasan Jalan Merdeka Utara. Ketika itu KH. Taufiqurrahman bertindak sebagai pemimpin pertemuan guna membahas segala macam rencana pendirian masjid.

Dari hasil rapat, diputuskan bahwa H. Anwar Tjokroaminoto bertanggung jawab sebagai ketua Yayasan Masjid Istiqlal. Tahun 1953, Yayasan Masjid Istiqlal melaporkan semua bentuk rencana pembangunan kepada Ir. Soekarno. Satu tahun setelahnya, yayasan tersebut diresmikan.

Perbedaan Pendapat Menentukan Lokasi Masjid

Perbedaan Pendapat Menentukan Lokasi Masjid

Sejarah singkat Masjid Istiqlal memuat informasi mengenai perbedaan pendapat perihal pemilihan lokasi antara Ir. Soekarno dan Bung Hatta. Dua tokoh bangsa tersebut menghendaki lokasi yang berbeda. Ir. Soekarno berkeinginan untuk membangun masjid di Taman Wilhelmina. Di sana terdapat reruntuhan benteng Belanda serta dikelilingi oleh bangunan pemerintah, pusat perdagangan, dan yang utama, lokasi tersebut dekat dengan Istana Merdeka.

Soekarno ingin Masjid Istiqlal nantinya berdampingan dengan Gereja Katedral Jakarta sebagai perlambang persaudaraan, toleransi beragama dan persatuan. Taman Wilhelmina sendiri merupakan taman modern yang dibangun oleh pihak Belanda di abad ke 19. Ia menjadi taman terluas di Batavia sekaligus taman modern paling besar di Asia pada saat itu.

Pada zaman dulu, Taman Wilhelmina kerap dipakai para tuan tanah serta orang-orang kaya Batavia untuk bersantai bersama keluarga di hari Sabtu dan Minggu. Setelah terbengkalai, lokasi tersebut ingin dimanfaatkan oleh Ir. Soekarno sebagai lokasi pembangunan Masjid Istiqlal.

Namun, keinginan orang nomor satu RI tersebut tersebut berseberangan dengan orang nomor dua RI. Bung Hatta memiliki pendapat bahwa lokasi yang strategis dan tepat untuk pembangunan Masjid Istiqlal adalah di Jalan Moh. Husni Thamrin.

Beliau berpendapat bahwa di sana belum ada bangunan apa pun sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk penggusuran. Selain itu, di lokasi tersebut juga banyak terdapat masyarakat muslim. Setelah melewati musyawarah, akhirnya diputuskan bahwa lokasi pembangunan Masjid Istiqlal mengikuti pendapat Ir. Soekarno.

Sayembara Rencana Gambar Masjid Istiqlal Tahun 1955

Sayembara Rencana Gambar Masjid Istiqlal Tahun 1955

Pada 22 Februari 1955, pembangunan masjid dimulai dengan lebih dulu mengadakan Sayembara Rencana Gambar Masjid Istiqlal. Ditunjuk sebagai Ketua Panitia Sayembara adalah Mr. Assaat, mantan Presiden Negara bagian RI yang berkedudukan di Yogya, sedangkan Ir. Soekarno diminta sebagai Ketua Dewan Juri. Sayembaranya sendiri dibuka dari tanggal 22 Februari hingga 30 Mei 1955. 

Selama kurang lebih tiga bulan, setidaknya peserta yang mendaftar dan mengirimkan rencana gambarnya ada 27 orang. Dari 27 orang tersebut, terpilih 22 orang yang dinilai memenuhi persyaratan. Dewan Juri pun mulai melakukan tugasnya dengan memilih serta menetapkan 5 rencana gambar terbaik sebagai nominator. Setelah dipilih, akhirnya ditetapkan bahwa rencana gambar milik Frederich Silaban dengan tema Ketuhanan menjadi pemenangnya.

Menariknya, Frederich adalah seorang Protestan. Untuk membuat rencana gambar masjid nasional, beliau berkeliling ke berbagai wilayah Indonesia guna melihat serta mempelajari desain-desain khas yang digunakan setiap masjid. Semua dilakukannya agar tetap sesuai dengan prinsip agama Islam itu sendiri. 

Memulai Tahap Pembangunan Tahun 1961

Memulai Tahap Pembangunan Tahun 1961

Setelah gambar disepakati, rencana pembangunan tidak berarti langsung dimulai. Perlu waktu hingga 6 tahun setelah pengumuman tersebut hingga pemancangan tiang pertama masjid benar-benar dilakukan. Baru pada 24 Agustus 1961, peristiwa bersejarah itu benar-benar terjadi. Pemancangan tiang pertama Masjid Istiqlal dilakukan bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw ketika itu. Ini menjadi peristiwa yang turut disaksikan oleh ribuan umat muslim.

Sayangnya, hingga 1965 tidak ada perkembangan pembangunan yang signifikan. Proyek pembangunan Masjid Istiqlal tidak berjalan lancar karena berbagai hal, salah satunya peristiwa krisis moneter yang menimpa Indonesia tahun 1960-an. Selain itu, kondisi politik Indonesia yang tidak kondusif juga menjadi faktor yang menyendat proses pembangunan, termasuk peristiwa Gerakan 30 September kala itu.

Pada 1966, setelah kondisi politik mulai terkendali, pembangunan Masjid Istiqlal mulai dilakukan kembali. Kali ini KH. Muhammad Dahlan sebagai Menteri Agama yang mempeloporinya. Setelah melalui berbagai gejolak dan proses yang tidak mudah, pada 22 Februari 1978, Masjid Istiqlal akhirnya berhasil diresmikan. Peresmiannya sendiri dilakukan oleh Soeharto sebagai Presiden RI yang baru.

Peresmian Masjid Istiqlal bisa dilihat dari tanda tangan Soeharto pada prasasti yang disimpan di area tangga pintu As-Salam. Hingga rampung, Masjid Istiqlal menghabiskan dana APBN setidaknya sebesar Rp 7 Miliar dan USD 12.000.000. 

Renovasi Setelah 42 Tahun Berdiri

Renovasi Setelah 42 Tahun Berdiri

Fakta bahwa masjid megah dan kebanggaan Indonesia ini direnovasi setelah 42 tahun berdiri menjadi bagian dari sejarah singkat Masjid Istiqlal yang tidak boleh dilewatkan. Setelah menghabiskan waktu beberapa lama dan dana yang tidak sedikit, yaitu sekitar Rp 475 Miliar, renovasi Istiqlal akhirnya rampung pada 25 Juli 2020. 

Renovasi tersebut melingkupi perluasan lahan parkir menjadi dua lantai, termasuk lantai di bawah tanah dan penambahan berbagai fasilitas yang memudahkan para penyandang disabilitas untuk beribadah di sini.

Selain itu, kawasan di sekitar masjid ditata lebih rapi, gerbang masjid tidak ketinggalan diperbaiki, fasad, lantai, kusen, dinding, pintu dan jendela pun diremajakan. Anda akan mendapati tempat wudhu serta toilet yang lebih bagus, serta ruang bagian dalam VIP dan ruang solat utama yang juga turut direnovasi.

Informasi mengenai sejarah singkat Masjid Istiqlal, dari mulai rencana pembangunan hingga renovasi, semoga semakin menambah kekaguman Anda pada masjid kebanggaan Indonesia ini ya!

Bagaimanapun, ia adalah salah satu bangunan bersejarah yang berdiri di atas banyak peristiwa politik penting di negeri ini, sekaligus menjadi pusat aktivitas keagamaan bagi umat muslim di Indonesia, khususnya di Jakarta. Sudah pernah berkunjung ke masjid megah ini?   

Tag: , , ,
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram