Bacaterus / Review Film Barat / Review dan Sinopsis Film Zombieland: Double Tap

Review dan Sinopsis Film Zombieland: Double Tap

Ditulis oleh - Diperbaharui 26 Juli 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Pada tahun 2009 yang lalu, Zombieland pertama kali hadir di layar lebar dan mendapatkan kesan yang positif dari penonton serta para kritikus. Respon bagus tersebut didapatkan karena film ini memadukan esensi horror, gore, komedi dalam satu kesatuan yang fresh dan tidak kaku. Menariknya lagi, Zombieland semakin bersinar karena dibintangi oleh aktor papan atas Hollywood.

Setelah sepuluh tahun lamanya, Zombieland: Double Tap muncul sebagai sebuah sekuel dengan tetap mempertahankan karakter terdahulu mulai dari Tallahassee, Columbus, Wichita, dan Little Rock. Tidak seperti film zombie ala mendiang George A. Romero yang satir dan politis, sekuel kedua ini masih menyajikan candaan dan sindiran sosial yang dibalut lewat premis bencana dunia akibat wabah zombie.

Satu dekade menjadi waktu yang sangat panjang bagi sebuah film untuk menelurkan sebuah sekuel. Karena jarak waktu tersebut, Zombieland: Double Tap memiliki unsur minor seperti alurnya cenderung monoton dan tidak adanya perkembangan karakter yang signifikan. Meski begitu, film ini sukses secara finansial dengan mendapatkan pendapatan 122 juta dollar di seluruh dunia.

Sinopsis

sinopsis Zombieland Double Tap

  • Tahun rilis: 2019
  • Genre: Zombie Comedy
  • Rumah produksi: Columbia Pictures, 2.0 Entertainment, dan Pariah
  • Sutradara: Ruben Fleischer
  • Pemeran utama: Woody Harrelson, Jesse Eisenberg, Emma Stone, Abigail Breslin, Rosario Dawson, dan Zoey Deutch

Kuartet penyintas yang terdiri dari Columbus, Tallahassee, Wichita dan Little Rock akhirnya menemukan tempat tinggal yang nyaman setelah bertahun-tahun menjadi nomaden menghindari serbuan para zombie. Mereka beruntung karena berhasil menempati Gedung Putih bekas kediaman Presiden Amerika Serikat, dan menikmati segala fasilitas yang ada di dalamnya.

Keempat orang tersebut kini semakin dekat dan hubungan mereka berkembang layaknya seperti sebuah keluarga. Columbus menjalin asmara dengan Wichita, sedangkan Tallahassee sudah menganggap Little Rock sebagai anak kesayangannya sendiri. Namun, Little Rock sekarang sudah beranjak remaja, dan mulai merasa bosan karena Tallahassee bersikap overprotektif kepadanya.

Selain itu, hubungan Columbus dengan kekasihnya berjalan tidak baik. Masalah kemudian muncul, Little Rock dan Wichita memutuskan untuk kabur dan berpetualang berdua saja. Di perjalanan, mereka lalu bertemu dengan seorang kaum hippie bernama Berkeley yang ternyata mampu menarik perhatian dari Little Rock.

Karena sedih ditinggal oleh Wichita dan Little Rock, Columbus bersama Tallahassee memburu zombie di sebuah mall, hingga akhirnya mereka bertemu dengan seorang survivor yang cantik dan polos bernama Madison. Columbus lalu mengajaknya untuk tinggal dan menetap di Gedung Putih, dan keduanya pun terlibat hubungan asmara.

Tanpa diduga, Wichita kembali ke Gedung Putih dan membawa kabar buruk bahwa Little Rock telah meninggalkan dirinya, lalu kabur bersama seorang pemuda hippie menuju Graceland (rumah Elvis Presley). Columbus, Tallahassee dan Wichita ditambah dengan Madison kemudian mencari keberadaan Little Rock sembari berhadapan dengan zombie-zombie yang kini sudah berevolusi menjadi lebih kuat.

Zombie T-800 Adalah Ancaman yang Sesungguhnya

Zombie T-800 Adalah Ancaman yang Sesungguhnya

Ketika kuartet Columbus, Little Rock, Wichita dan Tallahassee kurang berkembang secara karakter, film ini memperkenalkan zombie T-800 sebagai suatu evolusi dari makhluk pemakan manusia yang lebih ganas, kuat dan liar. Nama tersebut diberikan oleh Columbus yang merujuk kepada karakter Terminator yang diperankan oleh aktor Arnold Schwarzenegger.

Zombie T-800 menjadi karakter horror yang sangat tepat dimunculkan dalam film ini untuk mewarnai jalan ceritanya yang kurang greget. Bayangkan saja jika sang sutradara Ruben Fleischer beserta penulis naskahnya tidak memberikan sentuhan baru di sekuel keduanya ini, mungkin saja Zombieland: Double Tap akan berakhir sangat membosankan.

Makhluk ini menjadi momok menakutkan sekaligus menyebalkan sepanjang film berjalan karena mereka tidak bisa dibunuh dengan mudah. Penonton harus bersiap menerima kebrutalan Tallahassee dan Columbus ketika keduanya membunuh zombie T-800 dengan cara memecahkan kepalanya, dan darah pun berceceran dimana-mana. Itulah salah satu elemen gore yang coba ditampilkan dalam film ini.

Zombie jenis ini muncul untuk pertama kalinya ketika Columbus bersama teman-temannya sedang berusaha mencari kendaraan baru. Tallahassee yang melihat zombie tersebut menembaknya berkali-kali sampai dirinya kehabisan peluru. Meski sudah terkapar, ia masih hidup dan terus merangkak sampai Tallahassee membunuhnya dengan menghancurkan tengkorak kepalanya menggunakan kakinya.

Selepas kejadian yang tak terduga tersebut, mereka lalu beranjak ke sebuah motel bertemakan Elvis yang dimiliki oleh seorang perempuan bernama Nevada. Di tempat itu, mereka menemukan jejak Little Rock dan bertemu dengan penyintas lainnya, yakni Albuquerque serta Flagstaff. Namun sialnya, kedua orang itu telah terinfeksi Zombie T-800 lalu mengincar nyawa Columbus dan Tallahassee.

Keduanya kemudian harus menghadapi Albuquerque dan Flagstaff yang sudah bermutasi jadi zombie lewat tingkah konyol mereka. Columbus dan Tallahassee berlarian kesana-kemari sambil merusak semua aksesoris asli milik Elvis Presley yang ada di motel. Sementara itu, Nevada dan Wichita tak mampu berbuat banyak dan hanya bisa menyongsongkan senjata kepada dua zombie kelaparan tersebut.

Jika kalian pernah bermain game Left 4 Dead atau setidaknya menonton film World War Z, gerakan zombie T-800 kurang lebih seagresif seperti yang ada di game dan film tersebut. Bisa dibayangkan betapa cepatnya mereka saat berlari dan liarnya dalam memangsa manusia. Zombie T-800 memang menjadi sosok menakutkan di film ini meski unsur komedi lebih mendominasi dari awal hingga akhir.

Monoton, Tapi Masih Layak untuk Ditonton

Monoton, Tapi Masih Layak untuk Ditonton

Walaupun menghadirkan jenis zombie baru yang harus dihadapi, namun keberadaan mereka dalam film ini tidak begitu dieksplorasi secara banyak. Zombieland: Double Tap pada dasarnya merupakan sebuah film komedi segar yang berfokus terhadap persoalan hubungan antar manusia yang hidup dalam kondisi dunia pasca apokaliptik.

Oleh karena itu, pertarungan melawan para Zombie T-800 tidak akan terlalu diperlihatkan secara masif. Puncak ketegangan tersebut dapat kalian rasakan di bagian akhir ketika Columbus dan kawan-kawannya melawan mereka di tempat yang bernama Babylonia. Selain hal itu, kurangnya pengembangan dari empat karakter utama membuat alur cerita film ini cenderung tanggung dan terkesan monoton.

Namun, hal tersebut bisa diatasi dengan adanya karakter-karakter baru yang menampilkan kualitas akting terbaiknya. Deretan aktor dan aktris seperti Zoey Deutch, Luke Wilson, Rosario Dawson, dan Thomas Middleditch mampu menarik perhatian lewat masing-masing karakter yang dimainkan. Mereka tampil apik untuk mengimbangi kekonyolan-kekonyolan yang diperlihatkan oleh empat karakter utama.

Memang tidak pernah ada sesuatu yang sempurna, begitu juga dengan film yang satu ini. Meskipun begitu, Zombieland: Double Tap tetap menjadi tontonan yang menghibur sekaligus menyenangkan. Sajian humor yang ditawarkan tentunya bisa menjadi pemanis serta pelipur lara karena selalu menyisipkan candaan-candaan khas film-film komedi Hollywood.

Lelucon-lelucon tersebut dikemas secara menggelitik lewat semua karakter yang terlibat dalam film ini. Wichita dan Columbus pun tak segan untuk membercandakan lukisan yang menggambarkan mantan Presiden Amerika Serikat ke-16, Abraham Lincoln. Sedangkan Tallahassee, dirinya begitu terobsesi pada Elvis Presley hingga akhirnya ia melakukan tingkah konyol saat berada di motel miliki Nevada.

Durasi 90 menit yang ditawarkan dalam film ini tentunya tidak akan menjadi sia-sia bagi kalian yang sudah menggemari Zombieland dari film pertamanya. Sebagai bagian dari fan service, di sekuel kedua ini sutradara Ruben Fleischer tetap menyisipkan beberapa candaan yang terdapat di film terdahulu untuk mengingatkan kepada penonton tentang kesuksesan film Zombieland di tahun 2009.

Lewat pendekatan yang masih mengusung unsur komedi, horror, dan gore, film ini tentunya masih layak untuk kalian tonton. Tidak perlu memusingkan peperangan melawan zombie seperti di film World War Z, atau memikirkan cara bertahan hidup yang rumit di film Dawn of the Dead, di film ini kalian akan diajak untuk menikmati semua konflik dan tingkah jenaka yang ditawarkan dari setiap karakter.

Jadi, bagi yang membutuhkan bahan tontonan yang seru dan menghibur, sekuel kedua dari Zombieland ini mesti wajib masuk dalam daftar referensi film kalian. Jangan lewatkan film yang satu ini, dan selamat menonton ya!

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *