bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film Zack Snyder’s Justice League (2021)

Batman dan Wonder Woman berusaha membuat tim berisi para superhero untuk melawan kekuatan jahat yang digalang oleh Steppenwolf. The Flash, Cyborg, dan Aquaman kemudian bergabung.

Mereka menghidupkan kembali Superman dari kematian demi menyelamatkan bumi dari kehancuran apabila tiga Mother Boxes berhasil disatukan oleh Steppenwolf.

Zack Snyder’s Justice League adalah film superhero yang merupakan visi asli Zack Snyder sebelum mundur dari proyek film Justice League (2017) karena kematian putrinya, yang kemudian dilanjutkan oleh Joss Whedon.

Kegagalan film Justice League, baik secara kualitas maupun komersialitas, membuat pihak Warner Bros. Pictures dan DC Comics mengevaluasi kembali semesta rekaan mereka ini.

Para fans DC Comics menginginkan versi Zack Synder dirilis dengan mempopulerkan tagar #ReleaseTheSnyderCut di media sosial.

Sebelumnya hal seperti ini pernah terjadi pada proyek film Superman II (1980) dimana versi director’s cut milik sutradara Richard Donner, sebelum dilanjutkan oleh Richard Lester, dirilis di tahun 2006.

Zack Snyder’s Justice League dirilis di layanan streaming HBO Max pada 18 Maret 2021. Apakah film ini memuaskan dahaga para fans sejati DC Comics? Simak review kami untuk mengetahui jawabannya.

Sinopsis

justice-league-1_

5.000 tahun yang lalu, Darkseid dan pasukan Parademonnya menyerang bumi menggunakan kekuatan tiga Mother Boxes.

Semua pahlawan Bumi yang terdiri dari para dewa Yunani, para pejuang wanita Amazon, para pahlawan Atlantis, juga para ksatria manusia ditambah perwakilan dari Green Lantern, bersatu untuk menghindarkan bumi dari kehancuran.

Darkseid dan pasukannya berhasil dipukul mundur dan tiga Mother Boxes disimpan secara terpisah dan rahasia di Amazon, Atlantis, dan Eropa oleh manusia.

Ketiga Mother Boxes itu bereaksi setelah kematian Superman dan memancing kehadiran Steppenwolf, mantan panglima perang Darkseid, untuk menyatukannya dan menjadikan Bumi seperti planet mereka, Apokolips.

Steppenwolf menyerang suku Amazon di Themyscira dan berhasil membawa kotak pertama dari mereka. Ibu Diana, Ratu Hyppolita, memberikan sinyal berupa panah api kepada putrinya akan bahaya ini.

Diana memberitahu Bruce Wayne tentang bahaya ini dan mereka langsung membagi tugas untuk melakukan perekrutan superhero agar mau bergabung bersama mereka.

Setelah sebelumnya gagal meyakinkan Aquaman bergabung, Bruce berhasil mengajak Barry Allen atau The Flash ke markas mereka. Sedangkan Diana juga berhasil mempengaruhi Cyborg untuk bergabung, meski awalnya agak sulit.

Keputusan Cyborg bergabung dalam kelompok ini dikarenakan ayahnya diculik oleh kelompok Parademon terkait dengan satu Mother Boxes yang ada di tangannya.

Sementara itu, Steppenwolf berhasil mengambil kotak kedua dari Atlantis dengan mengalahkan Aquaman dan Mera.

Mendapat informasi kemungkinan keberadaan tempat penyanderaan oleh Parademon, Justice League menyerang lokasi itu yang berada tepat di bawah Pelabuhan Gotham. Dengan kemampuan masing-masing, mereka berhasil menyelamatkan semua sandera.

Tapi sayangnya, aksi mereka membuat banjir besar di lorong pelabuhan dan mereka nyaris tenggelam jika saja Aquaman tidak datang tepat waktu. Dengan melihat keberhasilan ayahnya menghidupkannya dari kematian, Cyborg memiliki ide untuk menghidupkan Superman dengan menggunakan Mother Boxes yang ada padanya.

Mereka pun menggali kuburan Superman dan membawanya ke fasilitas S.T.A.R. laboratorium, yang menyimpan pesawat dari planet Krypton, untuk dihidupkan kembali.

Superman berhasil bangkit dari kematian, tapi dia mengalami amnesia dan menyerang rekan-rekannya. Semua tidak ada yang bisa membekuknya dan nyaris terbunuh. Beruntung, Lois Lane datang menghalanginya.

Superman dan Lois Lane kembali ke Smallville untuk mengembalikan ingatannya, sekaligus bertemu dengan ibunya. Steppenwolf berhasil mengambil Mother Boxes terakhir dengan pengorbanan dari Silas, ayah Cyborg. Mereka berhasil mendeteksi keberadaan ketiga Mother Boxes itu di salah satu kota mati di Rusia.

Mereka berusaha sekuat tenaga untuk melawan Steppenwolf dan pasukannya, sekaligus berusaha memisahkan ketiga Mother Boxes itu.

Bagaimana cara Superman mengalahkan Steppenwolf dan pasukannya? Akankah mereka bisa memisahkan tiga Mother Boxes itu? Tonton sampai selesai untuk mendapatkan jawabannya. Jangan lupa, simak juga epilog di akhir filmnya!

Kesan Kelam yang Pekat Khas DC Comics

justice-league-2_

Film-film superhero dari DC Comics memang memiliki nuansa berbeda dengan film-film superhero Marvel.

Jika superhero Marvel semacam Iron Man, Spider-Man, dan teman-temannya tampil lebih berwarna dan memiliki selera humor yang baik, maka sangat bertolak belakang dengan superhero DC Comics yang tampil lebih kelam dan suram, terkesan lebih dewasa.

Sejak Christopher Nolan menaikkan kembali pamor DC Comics di layar lebar lewat trilogi The Dark Knight (2005-2012), nuansa kelam yang ditampilkan di ketiga film itu kemudian menjadi trademark film-film dari DC Comics setelahnya, termasuk Man of Steel (2013) yang menjadi pondasi bagi DC Extended Universe.

Jika dibandingkan dengan film Justice League (2017) yang tampil seperti film-film superhero Marvel, maka tone di Zack Snyder’s Justice League kembali kepada nuansa asal, bahkan lebih pekat daripada film-film DC Comics sebelumnya.

Dari awal film, kita disuguhkan adegan-adegan action dalam slow-motion dan sinematografi yang indah, tidak terburu-buru dan tidak terlihat gegap gempita.

Terkesan lebih realistis, para superhero ini tidak saling bercakap-cakap atau berbicara sendiri dengan nada humor saat beraksi, mereka lebih banyak diam dan berteriak untuk menguatkan diri sendiri, mereka bergerak membantu rekan-rekannya dengan intuisi sendiri tanpa harus mengeraskan suara memberitahu kedatangan mereka.

Kisah Superhero Penuh Kontemplasi

justice-league-3_

Naskah yang ditulis oleh Chris Terrio, meski alur ceritanya sama dengan versi 2017, ternyata menyimpan pesan mendalam tentang hubungan para superhero ini dengan orang tua masing-masing.

Sebenarnya yang menjadi inti elemen ini ialah Cyborg dan hubungannya dengan sang ayah yang menghidupkannya kembali dari kematian dan mengorbankan diri demi memudahkan perjuangan anaknya.

Dari selentingan-selentingan dialog antara superhero ini, kita menyadari bahwa mereka memiliki permasalahan masing-masing terhadap orang tua mereka.

Bruce Wayne yang yatim-piatu sejak kecil dan diasuh oleh Alfred, telah menganggap Alfred sebagai ayah angkatnya, meski sangat kehilangan sosok orang tua yang membuat dirinya berada pada sudut kelam kota Gotham.

Begitupun dengan Diana Prince yang sangat menyayangi ibu dan suku Amazon dimana dia dibesarkan. Tapi saat ini dia harus berjuang jauh dari orang-orang yang mencintainya di belahan bumi yang lebih modern.

Pesan berupa panah api dari ibunya, terbukti bukan hanya informasi akan adanya bahaya, tapi lebih kepada pesan cinta dari ibu kepada putrinya.

Sama halnya dengan Clark Kent dan ibu angkat yang sangat dicintainya, Martha. Meski bukan orang tua biologis, tapi keluarga Kent inilah yang berjasa mendidiknya hingga menjelma menjadi sosok superhero terkuat di sejagad raya yang rendah hati. Kali ini Superman pun hadir dengan kostum hitam yang membuatnya terkesan lebih kuat.

Barry Allen ingin membuktikan kepada ayahnya, yang sedang dipenjara, bahwa dia bisa menjalani hidup dengan baik di atas kesalahan ayahnya yang membuat mereka dikucilkan dari keluarga besar. Lihatlah betapa senangnya Barry ketika dia memperlihatkan kepada ayahnya surat penerimaan kerja dari kepolisian.

Dan yang terakhir, tidak kalah pelik yaitu Arthur Curry alias Aquaman yang hidup jauh dari keluarga Atlantisnya yang tidak menerima dirinya karena setengah manusia. Di akhir film, Arthur menempuh perjalanan untuk bertemu dengan ayahnya, Thomas Curry.

Puisi Visual dengan Porsi Berimbang

justice-league-4_

Zack Snyder membagi filmnya ini menjadi 6 bagian dan sebuah epilog yang membuat 6 superhero di dalamnya mendapat porsi seimbang.

Batman dan Wonder Woman lebih banyak mendapat durasi karena tampil dari awal film, sedangkan Superman tampil paling sedikit dan baru muncul setelah 2 jam film berjalan. Tapi semuanya terasa proporsional, meski durasi film membengkak menjadi 4 jam 2 menit.

Ada kesan yang unik dari kehadiran Superman di film ini dimana penggambarannya adalah solusi dan pemacu motivasi bagi rekan-rekannya dalam mengalahkan Steppenwolf.

Kemunculannya terasa melegakan, sama seperti yang dilakukan Wonder Woman di film Batman v Superman: Dawn of Justice (2016). “Right man at the right time”, seperti itulah Superman disini.

Sedangkan Barry Allen menjadi penyegar suasana dengan celetukan-celetukannya yang ringan, tapi tidak membuat film terjatuh ke dalam komedi konyol dan nuansa kelam film tetap bisa dipertahankan.

Zack Snyder yang membesut film ini dengan apik, seolah menampilkan puisi visual dari kisah superhero dengan gambar-gambar indah dengan permainan warna dan cahaya yang sangat baik.

Secara keseluruhan, Zack Snyder’s Justice League tampil lebih superior dari Justice League versi 2017, baik secara alur cerita, sinematografi, adegan action, kedalaman karakter, dan ending yang lebih baik.

Dengan durasi yang panjang dan format rasio layar 4x3, Snyder lebih leluasa dalam menerjemahkan visi dan imajinasinya. Hasilnya sungguh sangat memuaskan para fans setia superhero DC Comics.

Kesuksesan film ini dalam perilisannya secara streaming membuat para petinggi DC Comics dan Warner Bros.

Pictures kembali bersemangat meneruskan DC Extended Universe yang sempat diragukan kelangsungannya setelah gagalnya Justice League versi 2017. Melihat beberapa adegan di epilog, kita mengharapkan akan adanya petualangan Justice League berikutnya.

Sudah, lupakan Justice League versi 2017 dan jangan diingat lagi. Saksikan film yang dipersembahkan bagi Autumn, mendiang putri Snyder ini sekarang juga dan jangan ditunda lagi, ya!

Justice League
Rating: 
3.4/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram