bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review X-Men: Days of Future Past (2014)

Banyak yang mengatakan bahwa masa depan adalah sebuah misteri. Jangankan masa depan, hari esok saja nggak ada yang tahu akan berjalan seperti apa. Walau begitu, kita bisa mempersiapkan diri supaya bisa mendapatkan masa depan yang baik atau minimal bisa mengeliminir kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin terjadi.

Film X-Men: Days of Future Past melanjutkan cerita dari film X-Men sebelumnya yaitu First Class. Kali ini, para mutan harus menyelamatkan nasib manusia dan mutan sendiri karena ada kehancuran di masa depan yang sulit untuk diperbaiki. Konflik yang mempertaruhkan dua masa tentunya jadi sesuatu yang menarik untuk ditonton. Kalau penasaran, langsung simak sinopsis dan review filmnya yuk!

Sinopsis

Review X-Men Days of Future Past

Di tahun 2023, robot-robot besar yang dilengkapi dengan persenjataan yang mumpuni bernama Sentinel ditugaskan untuk melindungi bumi dari para mutan. Para mutan dianggap memiliki kemampuan berbahaya yang dapat membuat kerusakan serta memusnahkan manusia. Alhasil, populasi mutan semakin menurun. Para Sentinel bahkan nggak segan-segan menghabisi manusia yang membela mutan.

Di Moskow, para Sentinel menyerang beberapa anggota X-Men yaitu Kitty Pryde, Colossus, Blink, Warpath, Bishop, Iceman dan Sunspot. Beberapa harus terluka, yang paling parah adalah Bishop. Untungnya, Kitty bisa mengembalikan kesadaran Bishop untuk kemudian menyelamatkan diri bersama anggota X-Men yang lain.

Kitty dan anggota X-Men yang selamat di Moskow bertemu dengan Storm, Wolverine, Professor Charles Xavier dan Magneto di Cina. Xavier menceritakan tentang asal-usul Sentinel. Sentinel dibuat oleh Bolivar Trask, seorang ilmuwan militer yang dibunuh oleh Raven pada tahun 1973. Karena hal itu, pemerintah memburu Raven kemudian menggunakan DNA-nya untuk mengembangkan Sentinel.

Xavier berencana untuk kembali ke tahun 1973 dan mencegah pembunuhan terhadap Trask. Sayangnya, dia nggak akan mampu selamat untuk bepergian ke dekade-dekade yang lalu. Wolverine mengajukan diri untuk melakukan perjalanan waktu mengingat kekuatan regenerasinya yang cepat. Dengan begitu, Wolverine bisa kembali ke masa kini.

Terbangun di tahun 1973, Wolverine langsung pergi ke X-Mansion yang sudah sepi. Berdasarkan keterangan Hank McCoy, para penghuninya ditugaskan untuk perang ke Vietnam. Selain itu, Lehnsherr ditangkap atas tuduhan pembunuhan terhadap John F. Kennedy. Wolverine melanjutkan perjalanan menemui Xavier yang menjadi pecandu alkohol. Xavier menggunakan serum supaya dia bisa berjalan tapi itu justru menghambat kemampuan telepatinya.

Berharap akan bertemu lagi dengan Mystique, Xavier setuju untuk membantu Wolverine. Tujuan pertama mereka adalah membebaskan Lehnsherr dari penjara. Mereka berdua dibantu oleh rekrutan X-Men terbaru yaitu Peter Maximoff. Tugas membuat Lehnsherr keluar dari penjara ketat di Pentagon pun berhasil terlaksana.

Raven mengetahui bahwa Trask menggunakan mutan untuk eksperimennya. Dia berniat menghabisi Trask tepat saat penandatanganan perjanjian Amerika menghentikan serangan ke Vietnam. Upaya Raven digagalkan oleh Xavier, McCoy dan Logan. Lehnsherr berupaya menghabisi Raven karena percaya tindakannya akan mengubah masa depan. McCoy menyelamatkan Raven yang melarikan diri.

Upaya Xavier, McCoy dan Logan menyelamatkan Trask, digunakan Trask sebagai bukti untuk menunjukkan betapa mutan adalah mahluk berbahaya. Hal itu berhasil meyakinkan Richard Nixon selaku Presiden Amerika, untuk menyutujui proyek pengembangan Sentinel. Lehnsherr diam-diam mencoba mengambil alih kendali atas Sentinel dengan menyuntikan kandungan besi ke prototype Sentinel.

Xavier berkomunikasi dengan dirinya di masa kini, dan berhenti menggunakan serum sehingga kekuatan mutannya kembali. Dengan menggunakan Cerebro, alat pelacak mutan buatan McCoy, Xavier bersama dua rekannya pergi ke Washington D.C. untuk menggagalkan upaya Raven menghabisi Trask. Bisakah mereka menghentikan Raven dan mengubah sejarah?

Penggunaan Konsep Time Travel

Penggunaan Konsep Time Travel

X-Men: Days of Future Past menggebrak dengan menggunakan konsep time travel sebagai poros cerita. Walau konsep itu bukanlah formula baru dalam film-film superhero, tapi cerita di film ini terasa lebih menyegarkan dan terhubung dengan film sebelumnya, X-Men: First Class. Konflik yang menjadi dasar time travel pun dibangun dengan apik yaitu bahayanya Sentinel yang memusnahkan mutan serta manusia yang membela mutan atau punya genetik mutan.

Dibandingkan dengan film-film X-Men yang lain, Days of Future Past secara konsep jauh lebih rumit. Untungnya, kerumitan itu bisa dirangkai dengan menarik dengan cara mengambil peristiwa-peristiwa bersejarah di Amerika yang populer. Peristiwa-peristiwa itu kemudian disatukan ke dalam cerita superhero yang secara keseluruhan terbungkus dengan rapi.

Secara sinematografi, Days of Future Past kembali menunjukkan penggunaan efek yang brilian terutama dalam adegan-adegan yang menampilkan sentinel. Robot-robot itu terlihat begitu agresif serta nyata. Durasi selama 131 menit pun nggak akan terasa lama dengan cerita berbobot dan keseruan adegan laga yang tersusun rapi.

Porsi Cukup untuk Para Mutan

Porsi Cukup untuk Para Mutan

Di Days of Future Past, Brian Singer mengganti posisi Ratner sebagai sutradara di First Class. Perbedaan karya Singer terlihat cukup mencolok dengan menampilkan banyak mutan tapi mampu memperlihatkan kemampuan mereka. Hal itu berbeda dengan Ratner yang lebih fokus pada karakter Xavier dan Lehnsherr sebagaimana filmnya diproyeksikan untuk mengenalkan dua karakter utama paling berpengaruh di film X-Men.

Di adegan pembuka, mutan-mutan yang ditampilkan bukanlah mutan-mutan yang populer, melainkan nama-nama seperti Blink, Sunspot, Warpath, Iceman, Colossus, Bishop hingga Kitty Pride. Hal itu membuat mereka diberi kesempatan untuk bersinar dengan porsi yang cukup dalam pengembangan cerita. Hebatnya, kehadiran mereka nggak serta-merta mengambil alih sorotan utama pada mutan-mutan paling populer yaitu Wolverine, Raven, Magneto dan Xavier.

Penggambaran Karakter yang Kuat

Penggambaran Karakter yang Kuat

Days of Future Past menampilkan motivasi berbeda dari tiga mutan yaitu Raven, Lehnsherr dan Xavier. Raven berniat membunuh Trask agar keberadaan mutan di dunia tetap terjaga karena mutan dapat berguna untuk menyelamatkan umat manusia. Sedangkan Lehnsherr lebih memilih mengendalikan para Sentinel agar bisa digunakan untuk tujuannya.

Xavier punya tujuan yang paling lurus dengan memiliki tujuan untuk mengubah Trask supaya nggak terbunuh di tahun 1973 agar mutan bisa tetap hidup di masa depan. Perbedaan motivasi Raven, Lehnsherr dan Xavier ini meruncing sehingga memungkinkan adanya gesekan antara satu dan yang lainnya.

Perbedaan motivasi juga yang akhirnya merenggangkan hubungan Xavier dan Lehnsherr di film-film X-Men berikutnya walau di Days of Future Past masih digambarkan memiliki kesamaan. Motivasi-motivasi itu menunjukkan penggambaran karakter ketiganya yang solid sehingga cerita terbangun dengan nyata dan berhasil mengikat secara emosional.

Sebagai lanjutan First Class, X-Men: Days of Future Past berhasil menyajikan tontonan yang seru. Konsep time travel yang sekilas cukup rumit berhasil ditampilkan dengan cara yang relatif ringan sehingga mudah diikuti. Dengan cerita yang solid dan adegan-adegan laga yang seru, sangat disayangkan kalau begitu saja melewatkan film ini. Apa menurutmu film ini layak ditonton? Ayo tuliskan pendapatmu di kolom komentar, teman-teman!

X-Men: Days of Future Past
Rating: 
4/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram