bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review X-Men: Dark Phoenix, Film Penutup X-Men

Dalam hidup, kita nggak selalu mengalami kejadian-kejadian yang menyenangkan. Terkadang ada kejadian yang menyedihkan sampai berbekas dan sulit dilupakan. Bahkan nggak sedikit orang yang harus hidup dengan menyimpan trauma dari sebuah kejadian yang tiba-tiba dapat menghantui lagi. Tapi lewat usaha yang keras dan bantuan dari orang yang tepat, pasti ada solusi untuk menyikapi trauma tersebut.

Di film Dark Phoenix, yang mengalami trauma adalah seorang mutan yang punya kemampuan luar biasa. Melanjutkan saga X-Men yang dimulai dari dekade 2000-an, film karya sutradara Simon Kinberg ini akan menjadi penutup cerita para mutan di bawah pimpinan Charles Xavier. Seperti apa sinopsis dan review-nya? Yuk kita dalami.

Baca juga: Sinopsis & Review X-Men, Film Pertama Franchise X-Men

Sinopsis

Review X-Men: Dark Phoenix

Di tahun 1975, seorang anak bernama Jean Grey terlibat dalam kecelakaan lalu lintas yang menewaskan kedua orang tuanya. Charles Xavier membawa Jean ke Xavier’s School for Gifted Youngsters atau sekolah untuk para mutan. Sekolah itu dapat merawat serta mengembangkan kemampuan Jean. Xavier berjanji akan mengajari Jean cara menggunakan kekuatannya demi kebaikan.

Di tahun 1992, proyek perjalanan ke luar angkasa mengalami masalah. Pesawat luar angkasa rusak oleh sebuah energy. Pemerintah Amerika meminta bantuan X-Men untuk menyelamatkan para astronot. Jean menjadi salah satu yang diberangkatkan. Jean terkena energi itu demi menyelamatkan para astronot. Hebatnya, Jean masih bisa selamat.

Sekembalinya ke bumi, kekuatan telepatik dan telekinesis Jean justru semakin kuat. Sayangnya, hal itu bertolak belakang dengan kondisi emosionalnya yang memburuk. Mengetahui kekuatan luar biasa Jean, Raven menegur Xavier yang dianggap terlalu berbahaya untuk merawat Jean karena bisa mengorbankan seluruh tim.

Jean yang semakin tertekan, secara nggak sengaja mengeluarkan kekuatannya pada sesama murid di sekolahnya. Xavier menenangkan anggota X-Men bahwa dia sudah menciptakan blokade di pikiran Jean supaya Jean bisa mengatasi traumanya. Sementara itu, blokade itu hancur seiring dengan trauma yang semakin menghantui Jean serta ketidaksanggupannya untuk mengontrol kekuatannya.

Setelah melihat bayangan sang ayah, Jean memutuskan untuk kembali ke kota kelahirannya. Di sana, Jean menemukan bahwa ayahnya masih hidup. Berusaha memperbaiki memorinya, Jean secara nggak sengaja membuat sang ibu nggak sadarkan diri menggunakan telepatinya. Alhasil, sang ibu harus meninggal dalam kecelakaan lalu lintas.

Tim X-Men mendatangi Jean yang dirasa nggak mampu mengendalikan kekuatannya. Jean malah menyerang Raven dan membuat Raven terbunuh kemudian melarikan diri. McCoy yang terpukul karena kematian Raven menyalahkan Xavier. Sementara itu, Jean pergi ke Genosha, tempat Lehnsherr dan para mutannya tinggal.  

Pesawat pasukan militer Amerika mendatangi Genosha dan meminta Jean menyerahkan diri. Jean malah menyerang mereka sebelum dihentikan oleh Lehnsherr. Lehnsherr pun membuang Jean. Jean ditemukan oleh Vuk, pemimpin ras alien D’Bari. Vuk menceritakan bahwa energy yang menyerap di tubuh Jean di luar angkasalah yang memusnahkan D’Bari. Dia mengajari Jean cara mengendalikan kekuatan.

McCoy memutuskan keluar dari sekolah milik Xavier dan bergabung dengan Lehnsherr untuk menghabisi Jean di New York. Kurt Wagner yang menggunakan telepatinya untuk membaca rencana Lehnsherr, memberi tahu X-Men. Alhasil, pertarungan dua kelompok mutan pun nggak bisa dihindarkan. Lehnsherr yang mencoba membunuh Jean harus menerima kekalahan.

Sebelum menghabisi Lehnsherr, Xavier datang. Xavier mencoba membuat Jean mengingat kembali dirinya yang dulu. Merasa bersalah, Jean mencoba mentransfer energinya pada Vuk. Charles menyadari bahwa kalau energy itu ditransfer, Jean akan meninggal dan Vuk akan menggunakan kekuatan itu untuk menguasai dunia. Pilihan apa yang harus dipilih Xavier untuk Jean?

Terlalu Banyak Plothole

Terlalu Banyak Plothole

Sebagai bagian dari X-Men, film Dark Phoenix tetap menyuguhkan karakter-karakter utama dari film sebelumnya yaitu Apocalypse. Sayangnya, kemunculan mereka nggak berjalan secara bersinergi dengan cerita utama di film Dark Phoenix, yaitu berubahnya Jean menjadi Dark Phoenix. Di Apocalypse, transformasi Jean menjadi Dark Phoenix sudah digambarkan tapi mendapat penanganan berbeda di film ini.

Film Dark Phoenix seperti mencoba mengangkat bagaimana Jean menjadi Dark Phoenix secara lebih rinci. Tapi hal itu justru terkesan terlalu sederhana. Diceritakan kalau Jean menyerap energi solar di luar angkasa karena energi itu mendeteksi Jean sebagai mutan terkuat. Alhasil, kekuatan cerita yang coba diangkat dalam film ini justru menjadi kelemahan paling utama dengan banyaknya plothole.

Meski demikian penurunan kualitas dari segi cerita nggak berlaku untuk sinematografi. Film ini masih mempertahankan sinematografi epik khas X-men. Segala macam elemen fantasi berhasil ditampilkan dengan baik. Nyaris nggak ada faktor visual yang terasa janggal ketika menceritakan tentang mutan dan segala kekuatan mereka.

Baca juga: Penggemar X-Men? Simak Urutan Film X-Men Ini Dulu Yuk!

Kurang dari Sisi Emosional

Kurang dari Sisi Emosional

Dari segi pendalaman karakter, karakter Dark Phoenix di film ini nggak semengerikan di Apocalypse. Jean yang digambarkan punya kekuatan dengan kehidupan tragis, nyaris nggak diberikan pendalaman dengan baik. Alhasil, karakter Jean atau Dark Phoenix seperti seorang mutan lain yang kesulitan mengendalikan kontrolnya tanpa sebab yang digambarkan dalam cerita yang solid.

Sementara itu, villain utama di film ini, Vuk pun terasa punya motif yang kurang kuat untuk menciptakan efek yang besar. Dengan kemampuan bisa membuat tim X-Men porak poranda, karakternya terasa kurang memorable. Padahal Jessica Chastain yang memerankan karakter Vuk, punya potensi yang luar biasa untuk menjadi super villain.

Kurangnya pendalaman karakter membuat Dark Phoenix terasa hampa sepanjang film. Kita nggak akan terikat secara emosional untuk memihak pada karakter yang ada. Durasi selama 114 menit pun terasa nggak begitu berarti selain menyaksikan adegan laga sebagaimana film superhero lain yang digarap dengan matang dan cukup memanjakan mata.

Pergeseran Karakter Charles Xavier

Pergeseran Karakter Charles Xavier

Dari segala kekurangan Dark Phoenix, yang patut diapresiasi adalah penampilan McAvoy sebagai Xavier dan Fassbender sebagai Lenshnerr. Karakter keduanya yang berpengaruh besar pada plot utama terbilang berhasil dalam mempertahankan cerita pada jalurnya. Sebagaimana yang diketahui, di film ini pun mereka kembali berseberangan dalam menggunakan cara untuk mencapai tujuan.

Pengembangan karakter Xavier membuatnya terasa spesial. Dia nggak lagi menjadi sosok yang benar-benar baik, melainkan ditempatkan sedikit di wilayah abu-abu. Di satu sisi, dia ingin membuat Jean bisa mengontrol kekuatannya tapi dengan menggunakan cara terbaik. Di sisi lain, dia harus bertentangan dengan anggota X-Men yang lain karena menganggap tindakan Xavier merawat Jean dapat membahayakan nyawa mereka.

Dark Phoenix bukanlah tipikal film X-Men yang menyenangkan dan akan diingat sebagai penutup. Kekurangan dari segi cerita yang emosional merupakan alasan terbesarnya serta minim adegan laga yang benar-benar seru. Walau begitu, nggak akan terasa lengkap kalau menonton saga X-Men yang lain tapi melewatkan film ini begitu saja.

Apakah kamu mengikuti film-film X-men? Kalau iya, film ini masih layak ditonton. Rasanya akan ada yang kurang kalau kamu menonton film X-men lain tapi melewatkan film ini. Mungkin kamu bisa merekomendasikan film X-men yang mana yang jadi favoritmu? Kolom komentar sudah disediakan untuk siapa pun yang ingin berbagi!

X-Men: Dark Phoenix
Rating: 
3/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram