bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review We're the Millers, Keluarga Penyelundup Narkoba

We're the Millers adalah film tahun 2013 yang dikerjakan oleh sutradara Rawson Marshall Thurber. Film ini dibintangi oleh Jason Sudeikis sebagai pengedar ganja yang bernama David Clark, dan Jennifer Aniston yang berperan menjadi Rose O'Reilly alias Sarah, seorang penari telanjang.

Selain itu, Will Poulter memerankan karakter Kenny Rossmore, seorang remaja canggung yang merupakan tetangga David. Lalu ada Emma Roberts yang menjadi Casey Mathis, gadis berusia 19 tahun yang tinggal jauh dari orang tuanya.

Selama perilisannya, We're the Millers mendapatkan ulasan yang beragam, dan mampu meraup 270 juta dollar secara global dibandingkan dengan anggaran produksinya sebanyak 37 juta dollar. Pada tahun 2013 juga, film ini masuk nominasi kategori Favorite Comedic Movie di ajang People's Choice Awards. Ini dia sinopsis dan review-nya!

Sinopsis

were-the-miller-1_
  • Tahun rilis: 2013
  • Genre: Crime comedy
  • Rumah produksi: New Line Cinema, Slap Happy Productions, dan Heyday Films
  • Sutradara: Rawson Marshall Thurber
  • Pemeran utama: Jennifer Aniston, Jason Sudeikis, Emma Roberts, dan Will Poulter

David Clark, yang bekerja sebagai seorang pengedar ganja, mengalami nasib sial karena ia dirampok. Ia juga mempunyai hutang kepada Brad Gurdlinger, pemasok narkoba yang bekerjasama dengannya. Untuk melunasi hutangnya, Brad memaksanya untuk menyelundupkan ganja dari Meksiko ke Amerika Serikat.

Ia kemudian memutar otak agar rencananya itu berhasil tanpa diketahui oleh kepolisian. David lalu mempunyai ide yang cukup berani, dimana ia memutuskan membuat sebuah keluarga palsu supaya bisa menjadi alibi untuk menutupi perjalanan penyelundupannya. David kemudian menyewa tetangganya, Rose, seorang penari telanjang untuk menjadi istrinya. 

Agar keluarga buatannya semakin lengkap, ia pun mengajak tetangganya yang lain mulai dari Casey dan juga Kenny untuk berpura-pura menjadi anaknya. David lalu akan memberikan imbalan uang kepada mereka, dan ia pun akhirnya membentuk sebuah keluarga palsu bernama Millers.

Sepanjang perjalanan ke Meksiko, David dan keluarganya itu mengendarai mobil RV. Mereka terlihat canggung satu sama lain. Sesampainya di tempat tujuan, David lalu menyebut dirinya sebagai Pablo Chacon kepada sekelompok gangster. Mereka pun mengerti dan membiarkannya untuk mengambil ganja yang ternyata sangat banyak sekali. 

David merasa ada yang janggal. Ia kemudimenghubungi Brad karena jumlah ganja yang akan diselundupkan sekitar dua ton. Brad berusaha meyakinkan David bahwa semuanya terkendali dengan aman dan David tetap harus membawanya ke Amerika.

Selepas menyimpan ganja di mobilnya, mereka lalu segera pergi ke Amerika untuk menyelundupkan ganja tersebut. Di tengah jalan, seorang petugas polisi memberhentikannya karena mencurigai mereka. Namun, David berhasil menyuapnya dan mereka bisa melanjutkan perjalanan kembali.

Ketika berhasil keluar dari pos perbatasan, mobil mereka mengalami kerusakan karena beban muatan ganja yang sangat banyak. Di saat itu juga, keluarga Fitzgeralds yang terdiri dari Don, Edie, dan anaknya, Melissa, melihat mereka tengah kesulitan. Don pun membantu mereka dengan menarik mobil RV milik David menuju bengkel terdekat.

Don lalu memperkenalkan diri kepada keluarga Millers bahwa dirinya adalah seorang agen penegak narkoba (DEA) yang kebetulan sedang berlibur bersama keluarganya. Mendengar hal itu, David dan yang lainnya berusaha tetap tenang meski mereka sangat panik.

Keluarga Millers pun mau tidak mau harus terus bersama dengan Don hingga mobil mereka selesai diperbaiki. Selama momen tersebut, kedua keluarga mencoba untuk saling mengenal satu sama lain. Kenny kemudian menyukai Melissa. Ia lalu meminta bantuan kepada Rose dan Casey untuk mengajarinya cara mencium perempuan.

Sementara itu, Pablo Chacon yang asli datang ke tempat dimana David mengambil paket ganjanya. Ternyata, David ditipu oleh Brad karena ganja yang ia ambil adalah milik Pablo, seorang mafia narkoba yang berbahaya.

Selagi keluarga Millers berusaha menutupi aksi penyelundupannya dari Don, David tidak menyadari bahwa Pablo Chacon serta anak buahnya saat itu sedang memburu mereka.

Cukup Konyol dan Terkadang Kurang Senonoh

were-the-miller-2_

Selama 110 menit, We're the Millers terlihat seperti film komedi keluarga yang konyol. Beberapa lelucon yang dilontarkan oleh semua pemain pun terdengar cukup lucu.

Film ini juga menghadirkan beragam adegan menyenangkan dan juga momen berharga tentang arti sebuah keluarga. Lalu, aksi mereka dalam menyelundupkan ganja dari Meksiko ke Amerika adalah perjalanan yang seru untuk dinikmati.

Meski begitu, sebagian komedi dalam We're the Millers terasa cukup nakal dan juga mesum. Ada beberapa adegan yang mungkin kurang senonoh dan juga nyeleneh meskipun tidak se-vulgar film The Hangover.

Selain itu, Emma Roberts, Jason Sudeikis, dan Jennifer Aniston kerap melontarkan kata-kata kasar serta kotor di hampir setiap adegannya. Oleh karena itu, We're the Millers pun memiliki rating restricted (R) karena menyuguhkan dialog-dialog kasar, konten seksual, hingga menyajikan materi tentang narkoba. 

Terlepas dari rating tersebut, film ini berjalan cukup menghibur, dan menjadi tontonan yang mampu menyegarkan kita. Premisnya tidak terlalu rumit dan alur ceritanya juga terasa mudah untuk diikuti dari menit awal hingga selesai. 

Sepanjang 45 menit pertama, kita akan melihat jika proses penyelundupan yang dilakukan oleh keluarga Millers nampaknya akan berjalan lancar.

Namun setelah itu, mereka sedikit putus asa ketika halangan demi halangan muncul mulai dari datangnya polisi gay, konflik di pos perbatasan, pertemuan dengan keluarga Fitzgerald hingga harus diburu oleh kelompok mafia Pablo Chacon.

Momen-momen tersebut tentunya membuat film ini terasa seru untuk dinikmati dan selalu ada hal-hal yang membuatnya tidak membosankan. We're the Millers mencoba untuk menyuguhkan film drama kriminal secara solid, dan meskipun tidak terlalu istimewa tetapi film ini masih layak untuk ditonton.

Kedua Keluarga yang Sama-Sama Menyenangkan

were-the-miller-3_

We're the Millers memiliki kombinasi langka antara humor mesum dan komedi absurd. Tak heran juga, film ini mengandung cukup banyak tawa yang membuat kita terhibur.

Para pemain dalam keluarga Millers adalah salah satu pemicu tawa tersebut. Meski pada awalnya canggung, David, Rose, Kenny, dan Casey kemudian perlahan-lahan serasa memiliki keluarga asli mereka sendiri.

Sementara itu, anggota keluarga Fitzgerald memainkan perannya masing-masing secara baik. Nick Offerman (Don Fitzgerald), dan Kathryn Hahn (Edie Fitzgerald) adalah dua karakter yang terbilang sama-sama uniknya seperti Jason Sudeikis (David Clark), dan Jennifer Aniston (Rose O'Reilly).  

Keluarga Fitzgerald adalah tambahan karakter yang membuat film ini menjadi lebih menarik lagi. Apalagi, Edie Fitzgerald tampil sebagai karakter yang eksentrik, dan Melissa Fitzgerald (Molly Quinn) merupakan gadis pemalu yang mampu membuat Kenny jatuh hati padanya. 

Dalam keluarga Millers, semua pemain membentuk hubungan yang terasa lumayan kuat. Emma Robert sebagai Casey selalu melakukan dialog secara sinis, dan kasar sesuai kepribadian karakternya. Kemudian, Jason Sudeikis adalah tipikal aktor komedi yang bisa memainkan sosok David Clark dengan apik.

Jennifer Aniston keluar dari zona nyamannya dengan memainkan seorang penari telanjang bernama Rose alias Sarah. Rose sebenarnya sangat perhatian dengan semua anggota Millers, meski ia terkadang jengkel, dan memarahi mereka. Will Poulter membuat Kenny menjadi karakter yang lucu, menyentuh, dan juga kerap mendapatkan nasib yang malang.

Seru dan Menghibur

were-the-miller-4_

Sebagai film bergenre komedi kriminal, We're the Millers berjalan cukup mumpuni untuk memberikan bentuk hiburan kepada kita. Sajian komedinya terlihat konyol, kocak, dan juga nyeleneh dengan tambahan humor yang mesum.

Meski bukanlah salah satu film komedi terbaik, We're the Millers setidaknya mesti mendapatkan perhatian karena masih terasa menyajikan cerita yang seru, dan menyenangkan.

Selain itu juga, presentasi visual sinematografinya terbilang sederhana dan tidak terlalu memperlihatkan sesuatu yang estetik. Toh, We're the Millers hanyalah film komedi kriminal ringan dan bukanlah sesuatu yang indah seperti karya Christopher Nolan, Quentin Tarantino, maupun Paul Thomas Anderson, yang selalu terlihat memukau.

Secara simpulan, film ini menampilkan para pemain yang potensial dengan jalan ceritanya yang sangat menyegarkan. We're the Millers menjadi salah satu film komedi berlabel “restricted” yang tidak boleh terlewatkan, dan harus masuk ke dalam daftar tontonan kalian.

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram