bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Serial Anime Violet Evergarden (2018)

Serial anime Violet Evergarden awalnya adalah sebuah novel seri yang ditulis oleh oleh Kana Akatsuki dan diilustrasikan oleh Akiko Takase. Seri novel tersebut kemudian meraih penghargaan utama di ajang Kyoto Animation Award yang kelima di tahun 2014 lalu. Studio animasi Kyoto Animation lalu memproduksi Violet Evergarden ke dalam serial anime dan ditayangkan sejak bulan Januari hingga April 2018.

Cerita anime ini berpusat pada seorang karakter perempuan remaja bernama Violet Evergarden. Setelah tidak lagi menjadi prajurit militer, ia mencoba untuk beradaptasi dengan kehidupan masyarakat, sekaligus berusaha mencari jati diri dan tujuan hidupnya sendiri. Violet kemudian mendapatkan pekerjaan sebagai Boneka Kenangan Otomatis (Auto Memory Doll) alias menjadi seorang penulis surat untuk orang lain.

Sinopsis

anime-violet-evergarden-1_
  • Tahun rilis: 2018
  • Genre: Fantasy, drama
  • Jumlah episode: 13
  • Rumah produksi: Kyoto Animation
  • Sutradara: Taichi Ishidate, dan Haruka Fujita
  • Pengisi suara: Yui Ishikawa, Daisuke Namikawa, Takehito Koyasu, Aya Endo, Koki Uchiyama, Minori Chihara, dan Haruka Tomatsu

Violet merupakan seorang remaja perempuan, dan juga prajurit Tentara Leidenschaftlich. Ia bertugas di bawah komando Mayor Gilbert Bougainvillea, sosok pria yang sangat ia hormati. Saat menjalankan misi berbahaya bersama dengan Gilbert, Violet terluka parah, dan kedua lengannya pun terputus, sedangkan Gilbert keberadaannya tidak diketahui, dan dinyatakan sudah tewas.

Setelah kejadian itu, Violet tidak sadarkan diri dan dirawat di sebuah fasilitas kesehatan. Kedua tangan Violet pun sekarang telah diganti dengan lengan mekanik. Seorang teman lama Mayor Gilbert, Kolonel Claudia Hodgins, lalu menjenguk Violet dan menjelaskan padanya bahwa peperangan telah berakhir. Namun ia tidak memberi tahu Violet tentang apa yang sesungguhnya terjadi kepada Gilbert.

Kolonel Hodgins lalu membawa Violet ke Kota Leiden untuk diadopsi oleh keluarga Evergarden. Akan tetapi, Violet tidak bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan sosial dan juga keluarga tersebut karena doktrin militer yang sudah kental tertanam pada dirinya.

Hodgins lalu memutuskan membawa Violet untuk bekerja di tempat usahanya, yakni perusahan pos CH yang bergerak di bidang jasa penulisan surat pribadi, dan pengiriman surat. Violet selanjutnya melihat para perempuan yang dinamai sebagai Boneka Kenangan Otomatis, sedang menulis surat untuk seorang pria yang ingin mengatakan cintanya kepada perempuan yang ia sukai.

Saat melihat mereka, Violet kemudian mulai mengingat bahwa kalimat “Aku mencintaimu” adalah kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Mayor Gilbert kepadanya ketika melaksanakan misi berbahaya, yang menyebabkan kedua tangannya putus. Violet lalu memutuskan menjadi seorang Boneka Kenangan Otomatis untuk memahami kata-kata tersebut dengan menulis surat untuk orang lain.

Violet lalu bergabung dengan bagian penulis surat dan bertemu anggota senior, Cattleya, serta dua orang perempuan lainnya bernama Erica, dan Iris. Di bawah arahan Cattleya, Violet secara cepat bisa menggunakan mesin ketik. Namun ia masih tidak bisa untuk memahami emosi orang-orang yang meminta jasanya sebagai penulis surat.

Alhasil, Violet tidak bisa menulis surat romantis, yang akhirnya malah membuat sang klien dan penerimanya salah paham. Iris lalu meminta kepada Hodgins untuk memecatnya, namun Erica membelanya karena sudah mengetahui titik permasalahannya. Hodgins tetap mempertahankannya. Ia kemudian memberikan seragam baru dan sebuah bros yang dulunya diberikan Mayor Gilbert kepada Violet.

Dengan bros tersebut, Violet menjadi lebih semangat dan setuju untuk menghadiri pelatihan sebagai Boneka Kenangan Otomatis. Tetapi di tempat lain, Hodgins mengatakan dengan putus asa kepada Cattleya tentang persahabatannya dengan Gilbert, serta meyakini jika ia sudah tidak ada di dunia ini lagi, dan mungkin tidak akan pernah ditemukan.

Kisah Pilu Mantan Prajurit Pembunuh

anime-violet-evergarden-2_

Episode pembuka dari serial anime Violet Evergarden membawa kita langsung pada situasi pelik layaknya menonton film-film bertemakan perang seperti 1917 (2019) ataupun Dunkirk (2017). Hal itu tidaklah terlalu berlebihan mengingat anime ini menghadirkan visual yang sangat kental dengan nuansa Eropa klasik, terutama gambaran saat Perang Dunia berkecamuk di benua biru tersebut.

Walaupun premis utamanya bukanlah mengenai peperangan yang penuh dengan kesan heroik, Violet Evergarden memiliki konsep cerita yang terbilang cukup unik. Anime ini berfokus pada sosok Violet, seorang “prajurit pembunuh”, yang dimasa mudanya hanya mengenal realitas perang, dan pembunuhan. Ia pun tidak mempunyai kehidupan sosial yang baik seperti seorang gadis remaja pada umumnya.

Setelah perang usai, dan masa-masa kedamaian sudah tiba, Violet langsung kehilangan tujuan hidupnya, sekaligus juga jati dirinya. Karena ia diperlakukan seperti sebuah “senjata”, Violet tidak memiliki perasaan emosional terhadap orang-orang disekitarnya, termasuk kata cinta yang diucapkan oleh Mayor Gilbert kepadanya.

Untuk memahami perasaan cinta, Violet mengambil langkah dengan menjadi seorang Auto Memory Doll di perusahaan pos, dan pelayanan surat milik Kolonel Hodgins. Selepas dari situ, kita pun serasa diajak untuk menyelami sikap dingin, dan kaku, yang dimiliki olehnya. Kita juga perlahan-lahan dapat memahami situasi getir yang harus dihadapi oleh Violet untuk menemukan makna cinta sesungguhnya yang ia cari.

Visual Animasi Memuaskan

anime-violet-evergarden-3_

Serial Violet Evergarden mempunyai jumlah 13 episode dengan masing-masing berdurasi sekitar 23 menit. Meskipun alur ceritanya terkesan lambat dan singkat, tapi entah kenapa jalan ceritanya malah terasa semakin bermakna di setiap episodenya. Semua episode yang disajikan saling berkaitan sangat kuat satu sama lain, dan mampu membentuk karakter Violet menjadi lebih hangat, dan semakin mendalam.

Karakter Violet dalam serial anime ini bisa dibilang benar-benar menjadi sesuatu yang cukup ironis. Lewat parasnya yang terlihat cantik, Violet mempunyai sisi kehidupan yang tragis, dan penuh kehampaan. Tetapi, episode terakhir dalam serial ini berjalan cukup adil untuk perjalanan hidup Violet itu sendiri, dimana ia akhirnya mampu memahami makna cinta dengan cara yang terlihat melegakan untuknya.

Violet Evergarden pun bukan hanya menarik dari konsep ceritanya saja, maupun perjalanan dari Karakter Violet ini dalam menemukan makna cinta. Serial ini semakin lebih mengesankan karena ditunjang oleh sinematografi animasinya yang sangat mengagumkan.

Visual latar benua Eropa, di kota fiksi Leiden terlihat mempesona dengan bangunan-bangunan klasik yang memanjakan mata. Pengerjaan CGI yang diterapkan oleh Violet Evergarden terasa sangat mulus, visual warnanya terkadang hangat, dan juga kelam, serta semua gerakan karakter tidak kaku sama sekali.

Selain itu juga, desain kostum yang digunakan setiap karakter terlihat elegan, dan semakin benar-benar menguatkan nuansa Eropa klasik yang sangat kental. Violet Evergarden harus diakui sangat mumpuni sebagai salah satu anime terbaik Jepang saat ini, dan kualitas visual animasi yang dibuat oleh studio Kyoto Animation harus diberikan sanjungan yang memuaskan.

Karakter Violet Berkembang Dengan Baik

anime-violet-evergarden-4_

Perjalanan karakter Violet Evergarden (Yui Ishikawa) dalam memaknai kehidupannya, dan juga memahami emosi dirinya sendiri tidak terjadi secara kebetulan, serta begitu saja. Ada beberapa karakter pendukung dalam serial ini yang menjadikan Violet terlihat lebih “manusiawi” dari waktu ke waktu.

Orang pertama yang membuat Violet merasakan kehidupan sosial adalah Kolonel Claudia Hodgins (Takehito Koyasu). Hodgins berusaha membantu Violet untuk menemukan kehidupan barunya, dan juga membebaskan dirinya dari doktrin militer sebagai seorang “senjata pembunuh.”

Lewat Hodgins, Violet kemudian menemui banyak orang yang berpengaruh dalam pendewasaan dirinya, termasuk orang-orang di perusahan pos CH, dan anggota Auto Memory Doll seperti Benedict Blue (Uchiyama Kouki), Cattleya Baudelaire (Aya Endo), Erica Brown (Minori Chihara), dan Iris Cannary (Haruka Tomatsu).

Meski karakter mereka mendapatkan porsi tampil yang sedikit, tapi peran semuanya sangat mendukung terhadap konteks cerita serial ini, dan juga membantu perjalanan Violet dalam memaknai makna Cinta, pencarian jati diri, dan tujuan hidupnya.

Kemudian, secara singkatnya, serial anime ini berakhir sangat mengesankan dan memberikan jalan cerita yang penuh makna tentang cinta, dan pencarian jati diri. Violet Evergarden pun berjalan mengesankan sepanjang 13 episodenya dan menjadi anime dari Netflix yang tidak boleh terlewatkan oleh siapapun. Selamat menonton!

Violet Evergarden
Rating: 
4/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram