bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film Action Triple Frontier (2019)

Ditulis oleh Dhany Wahyudi - Diperbaharui 23 September 2021

Kesetiaan diuji ketika lima orang sahabat sesama mantan anggota pasukan khusus bersatu kembali untuk menjatuhkan seorang gembong narkoba di Amerika Selatan yang membawa mereka kepada konsekuensi yang tidak diharapkan. Triple Frontier adalah original film Netflix bergenre action yang dirilis pada 13 Maret 2019 dan dibintangi oleh Ben Affleck dan Oscar Isaac dibawah arahan J.C. Chandor.

Film yang diproduseri oleh Kathryn Bigelow ini menampilkan cerita yang menarik karya Mark Boal, penulis naskah favorit Bigelow di dua film suksesnya, The Hurt Locker (2008) dan Zero Dark Thirty (2012). Produksi film ini sempat mengalami penundaan panjang yang dimulai sejak tahun 2010 dan baru berjalan setelah 8 tahun kemudian dengan beberapa kali pergantian pemerannya.

Apakah kelima sahabat ini berhasil menuntaskan misinya dengan baik? Apakah mereka semua selamat? Sebelum menontonnya, simak dulu review kami tentang film yang soundtrack-nya dipenuhi oleh lagu-lagu metal ini, salah satunya adalah Metallica.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun: 2019
  • Genre: Action, Adventure, Crime, Thriller
  • Produksi: Acquire Talent Agency, Atlas Entertainment
  • Sutradara: J.C. Chandor
  • Pemeran: Ben Affleck, Oscar Isaac, Charlie Hunnam, Garrett Hedlund, Pedro Pascal

Santiago “Pope” Garcia bekerja sebagai penasihat militer swasta yang memerangi peredaran narkoba di Kolombia. Lewat informannya, Yovanna, dia berhasil mengetahui lokasi penyimpanan uang milik gembong narkoba terkenal se-Amerika Selatan bernama Lorea. Untuk bisa menuntaskan misinya ini, Pope harus bisa membujuk mantan rekan-rekannya dari Delta Force di Amerika Serikat.

Tom “Redfly” Davis, sang kapten, sekarang bekerja sebagai agen penjualan rumah yang kurang sukses sejak dirinya diberhentikan secara paksa dari militer. William “Ironhead” Miller menjadi motivator di sekolah militer, sedangkan adiknya Ben “Benny” Miller menjadi petarung MMA, dan Francisco “Catfish” Morales adalah seorang pilot yang sedang dicabut izin terbangnya karena kasus kokain.

Rayuan Pope kepada mereka berhasil dengan rencana pembayaran yang sudah pasti dari agen militer yang menugaskan misi ini. Awalnya mereka hanya bertugas untuk melakukan pengamatan saja tanpa ada kontak senjata yang masing-masingnya akan mendapat $17 ribu. Tetapi setelah mereka mengetahui jumlah pasti uang di dalam rumah di tengah hutan itu, $75 juta, hasrat rakus mereka mengemuka.

Sesuai rencana berdasarkan pengamatan, mereka masuk ke rumah itu di hari minggu pagi saat seluruh keluarga Lorea pergi ke gereja, kecuali dirinya yang tidak akan meninggalkan uangnya. Mereka berhasil masuk dengan mudah dan mulai mencari uang yang ternyata tersimpan di dalam dinding-dinding rumahnya. Seluruh dinding dibongkar dan mereka mulai memasukkan uang ke dalam tas.

Mobil yang sudah disiapkan oleh Yovanna sebelumnya, penuh dengan tas berisi uang. Mereka juga berhasil membunuh Lorea tapi menyebabkan Ironhead tertembak. Karena kerakusan Redfly untuk membawa semua uang, mereka harus berjibaku dengan penjaga tambahan yang datang terlebih dahulu dari gereja. Tapi mereka akhirnya berhasil lolos dan menuju titik penjemputan.

Setelah ditimbang, uang di dalam seluruh tas itu diperkirakan berjumlah $250 juta dan mereka memaksa untuk membawanya semua ke dalam helikopter. Yovanna dan adiknya ikut serta hingga perbatasan Peru dengan diberikan uang sejumlah $3 juta beserta tiket ke Sydney. Mereka melanjutkan perjalanan menuju pantai melewati pegunungan Andes.

Setiba di pegunungan yang diliputi salju itu, helikopter tidak bisa naik lebih tinggi karena keberatan beban bawaan dan mereka harus merelakan beberapa tas uang untuk dibuang dari udara. Tetapi tetap saja itu tidak membantu dan mereka harus mendarat dengan mendadak di atas perkebunan kokain milik warga sekitar yang melahirkan penembakan setelah terjadi salah paham di antara mereka.

Mereka kemudian membayar atas kerugian yang telah diperbuat kepada kepala suku dalam jumlah besar sebagai santunan untuk keluarga korban yang tewas dan keledai yang akan mereka bawa. Dalam perjalanan, seekor keledai terjatuh ke jurang yang mengakibatkan beberapa tas berisi uang harus mereka relakan terbang tertiup angin.

Sesampai di tebing, mereka melepaskan seluruh keledai dan menarik semua tas ke atas gunung. Malam itu, mereka membakar satu tas uang untuk dijadikan api unggun. Pagi harinya mereka ditembaki oleh dua warga dari perkebunan yang menyebabkan Redfly tewas. Ironhead dan Benny sempat bertengkar, tapi berhasil diredakan oleh Pope.

Mereka melanjutkan perjalanan menuruni gunung menuju arah pantai sambil membawa jenazah Redfly. Benny memeriksa kapal sewaan mereka di pantai dan kembali dengan informasi jika kota itu dipenuhi oleh para remaja yang disewa untuk membunuh mereka. Menyadari jika beban terlalu berat, mereka membuang sebagian besar tas ke jurang dan hanya membawa uang yang bisa mereka masukkan ke ransel.

Mereka berhasil mencapai pantai dan naik ke kapal setelah melewati kejaran beberapa remaja bersenjata. Di depan pengacara di St. John yang ditugaskan untuk mengatur pembayaran uang bawaan mereka yang berjumlah $5 juta, mereka merelakan seluruh uang tersebut kepada keluarga Redfly sebagai tebusan penyesalan mereka atas kematian sang kapten.

Sebelum berpisah, dimana mereka membawa buku tabungan masing-masing, Ironhead memberikan secarik kertas kepada Pope yang ternyata berisi titik koordinat jurang tempat mereka melemparkan tas-tas yang berisi uang.

Petualangan Kriminal Melintasi Tiga Negara

Petualangan Kriminal Melintasi Tiga Negara

Triple Frontier, yang menjadi judul film ini, adalah istilah yang para mantan Delta Force ini hadapi, yaitu mereka harus berpetualang melintasi tiga negara dengan tingkat peredaran narkoba terbesar, Paraguay, Brazil dan Argentina. Perjalanan ini tidaklah mudah karena mereka harus membawa banyak tas berisi uang dan banyak peristiwa yang tidak sesuai dengan rencana mereka.

Terjatuhnya pesawat mereka di pegunungan Andes adalah malapetaka pertama dari rentetan kejadian lainnya yang akan menguji fisik dan mental mereka. Pernah terpikir untuk merelakan saja sebagian uang untuk meringankan beban, tapi hasrat rakus di dalam diri mereka membuat niat ini urung dilaksanakan dan mereka tetap pada rencana dengan konsekuensi yang besar.

Arahan Sutradara dengan Karir yang Pesat

Arahan Sutradara dengan Karir yang Pesat

J.C. Chandor adalah sutradara yang baru memiliki tiga film saja sebelum membesut Triple Frontier. Tetapi dari tiga filmnya itu, Margin Call (2011), All Is Lost (2013) dan A Most Violent Year (2014), Chandor dianggap memiliki gaya yang cerdas dan mampu menampilkan ambiguitas moral yang rumit secara mendalam. Tapi sayangnya, kali ini keahliannya tersebut hadir kurang maksimal.

Chandor masuk ke dalam proyek ini di tahun 2015 menggantikan Kathryn Bigelow yang kemudian duduk sebagai produser eksekutif di film ini. Dalam pra-produksi film yang memakan waktu tiga tahun untuk proses pemilihan pemeran, bahkan Ben Affleck sempat mundur sebelum akhirnya kembali lagi, Chandor sibuk menulis naskah bersama Mark Boal.

Ambiguitas moral yang coba ditampilkan disini ialah kekecewaan para mantan prajurit ini yang tidak mendapat kehidupan yang layak setelah masa bakti mereka berakhir, padahal beberapa diantara mereka adalah para patriot sejati yang mendapat luka dan cedera yang parah saat bertugas dahulu. Tapi tidak semua karakter bisa digali lebih dalam, rasa simpati cerita hanya tertuju pada karakter Redfly.

Deretan Pemeran yang Mentereng

Deretan Pemeran yang Mentereng

Untung saja karakter Redfly ini diperankan dengan baik oleh Ben Affleck. Kehidupannya yang merana, diceritakan secara sekilas oleh putrinya, tergurat dengan jelas pada wajahnya dan pandangan matanya. Dan ketika menjalankan misi, resonansi kerakusan akan uang bisa terlihat jelas pada getar teriakan dan bentakannya. Redfly harus bisa membawa semua uang ini untuk masa depan putrinya.

Tapi takdir berkata lain, dia harus tewas tertembak dan pulang dalam kantung. Ternyata rekan-rekannya memang adalah sahabat sejati, yang merelakan seluruh uang bawaan mereka untuk santunan keluarga Redfly. Tapi, mereka masih menyimpan koordinat jurang tempat mereka melempar sebagian besar tas, lho! Jika ada sequel-nya, mungkin misi berikutnya adalah mengambil tas-tas tersebut.

Oscar Isaac tampil penuh kharisma, hanya sayang saja karakternya kosong yang membuat kita tidak peduli pada sosoknya, sama dengan karakter yang diperankan Pedro Pascal. Kejelian tim casting film ini yang memasangkan Charlie Hunnam dan Garret Hedlund sebagai kakak-adik merupakan nilai lebih tersendiri, karena mereka memiliki wajah yang mirip.

Triple Frontier adalah film action yang pastinya akan memuaskan para penonton. Balutan cerita yang tidak rumit di tengah petualangan seru menembus hutan, mendaki gunung dan menuju lautan, membuat otak kita tidak perlu berpikir lebih. Metascore sebesar 61 yang mengindikasikan penilaian positif dari kritikus, cukup membuat film ini layak untuk ditonton. Langsung nikmati aksi mereka di layar Netflix, ya!

Triple Frontier
Rating: 
3/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram