bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film Drama Netflix Tigertail (2020)

Ditulis oleh Dhany Wahyudi - Diperbaharui 1 September 2021

Seorang pekerja pabrik di Taiwan meninggalkan tanah airnya untuk mencari kesempatan di Amerika, dimana dia berjuang untuk menemukan keseimbangan antara keluarga dan tanggung jawab pekerjaannya. Tigertail adalah original film Netflix yang menggelar tema drama lintas generasi dari keluarga imigran di tanah Amerika.

Sutradara debutan Alan Yang akan mengandalkan kekuatan akting Tzi Ma dalam film yang menjadikan kota New York dan Taiwan sebagai lokasi syutingnya ini. Terdapat nama aktor dan aktris senior lainnya sebagai pendukung, yaitu James Saito Joan Chen. Dengan amunisi ini, drama seperti apa yang akan dipersembahkan? Simak review kami berikut ini sebelum menontonnya.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun: 2020
  • Genre: Drama
  • Produksi: MACRO, Netflix
  • Sutradara: Alan Yang
  • Pemeran: Tzi Ma, Christine Ko, Hong-Chi Lee

Pin-Jui kecil dititipkan ke neneknya yang bekerja sebagai petani setelah kematian ayahnya, sementara ibunya mencari pekerjaan di kota lain. Dia bertemu dengan Yuan Lee yang berasal dari keluarga kaya dan mereka berteman hingga Pin-Jui dijemput ibunya. Beberapa tahun kemudian, Pin-Jui yang sudah bekerja di sebuah pabrik bersama ibunya, bertemu kembali dengan Yuan di Huwei.

Mereka tidak mungkin menikah karena perbedaan status ekonomi keluarga. Pin-Jui pernah mengajak Yuan makan malam di restoran mewah dan kabur setelah selesai makan. Suatu hari, pimpinan pabrik bertanya kepada Pin-Jui yang memendam impian untuk pergi ke Amerika. Pin-Jui diperkenalkan dengan anak pimpinan pabrik bernama Zhenzhen. Dalam sebuah kencan mereka terlihat kesulitan berkomunikasi.

Setelah kencan itu, Pin-Jui segera menemui Yuan yang sudah menunggunya di tepi sungai dan dia terpaksa berbohong atas keterlambatannya. Suatu hari tangan ibunya terluka saat sedang bekerja yang membuat Pin-Jui untuk meyakinkan diri pergi dan mencoba peruntungannya di Amerika bersama Zhenzhen sebagai istrinya agar ibunya tidak lagi bekerja. Pin-Jui terpaksa meninggalkan Yuan, sang kekasih hati.

Sesampai di Amerika mereka tinggal di sebuah apartemen kecil dan Pin-Jui bekerja di toko grosir. Karena kesibukannya bekerja, Pin-Jui tidak memiliki banyak waktu untuk bersama istrinya yang membuat Zhenzhen bosan. Saat di laundromat, Zhenzhen bertemu dengan imigran lain bernama Peijing. Mereka kemudian berteman akrab dan Zhenzhen sering menghabiskan waktu bersama Peijing dan keluarganya.

Suatu malam saat Pin-Jui pulang kerja, dia tidak menemukan makanan yang tersedia di rumah, sedangkan Zhenzhen sedang makan malam bersama keluarga Peijing. Atas saran Peijing, Zhenzhen ingin sekolah untuk menjadi guru, tetapi ditolak oleh Pin-Jui dengan alasan nantinya dia tidak akan punya waktu jika sudah punya anak. Tidak berapa lama kemudian Zhenzhen mengandung dan mereka pindah rumah.

Mereka memiliki dua anak, salah satunya bernama Angel yang di masa remajanya pernah lupa lagu yang dimainkan saat di sebuah pentas lomba. Pin-Jui marah dan malu atas kesalahan putrinya itu. Zhenzhen meminta cerai karena merasa diperlakukan seperti pembantu yang harus selalu di rumah. Semua cerita ini dipaparkan sebagai adegan flashback yang diselipkan di alur utama film.

Sedangkan alur utamanya, dengan seting waktu masa kini di kota New York, Pin-Jui baru saja kembali dari pemakaman ibunya di Taiwan dan dijemput di bandara oleh Angela. Pernah sekali datang ke rumah Angela dan tunangannya, Pin-Jui sempat berujar jika Angela kerja terlalu keras sedangkan tunangannya tidak. Suatu hari Pin-Jui mengajak Angela makan bersama yang malah berakhir dengan pertengkaran.

Hidup dalam kesendirian, Pin-Jui kemudian mencoba mencari Yuan Lee melalui Facebook dan berhasil memulai komunikasi yang sudah terputus lama sekali. Suatu hari Yuan Lee mengunjungi New York dan bertemu dengan Pin-Jui. Mereka saling bercerita tentang kehidupan dan keluarga, juga sedikit nostalgia tentang masa lalu yang indah.

Angela menjadi tuan rumah acara tahun baru Cina yang dihadiri oleh ibunya yang datang dengan suami baru, dan juga ayahnya yang datang sendiri. Ibunya terlihat bahagia, sukses sebagai guru dan merencanakan traveling bersama suaminya. Setelah pesta selesai, Pin-Jui membantu Angela membersihkan rumah dan setelahnya mereka berbicara dari hati ke hati.

Pin-Jui mengajak Angela ke Taiwan untuk memperlihatkan seluruh cerita hidupnya yang sebelumnya tidak pernah dia ceritakan kepada putrinya. Mulai dari rumah neneknya di sawah, pabrik tempat dia dan ibunya dulu bekerja, hingga rumah lama mereka yang sudah terbengkalai. Dan tentu saja cinta rahasianya dengan Yuan Lee yang baru diketahui oleh Angela.

Kisah Introspeksi yang Mendalam

Kisah Introspeksi yang Mendalam

Hal pertama yang jelas terlihat dan terasa dari film Tigertail ini ialah ceritanya yang sangat kuat dan otentik, seolah ini adalah biografi atau kisah nyata. Setelah ditelusuri, ternyata Alan Yang mengambil inspirasi naskahnya dari kisah hidup yang dialami oleh ayahnya sendiri yang merupakan imigran dari Taiwan yang hidup merajut cita-citanya demi mewujudkan “American Dream”.

Film ini tampil bagaikan sebuah proses introspeksi diri atas kesalahan dan kejadian masa lalu yang mempengaruhi hidup dan keadaannya di masa kini. Pin-Jui tua kembali mengingat semua peristiwa penting di dalam hidupnya yang membentuk sifat dan sikapnya saat ini, baik terhadap diri sendiri, keluarga dan orang lain. Terutama kepada putri tercintanya yang terasa asing baginya.

Perjalanan hidup Pin-Jui memang mengagumkan dan juga menyedihkan. Dimana dia harus merelakan cintanya di Taiwan demi mengejar cita-cita untuk hidup lebih baik di Amerika dan berjuang demi keluarga yang pada akhirnya tidak bisa dia pertahankan yang membuat semua anggota keluarganya merasa asing dengan dirinya yang lebih banyak diam dan tampak kaku dalam menanggapi semua masalah.

Tidak disangka, naskah karya Alan Yang ini sangat detail, dan faktor inilah yang paling mengena di hati. Coba cerna ini! Di adegan pembuka, nenek Pin-Jui berkata kepada dirinya yang selalu merengek untuk bertemu dengan ibunya, “Jadilah kuat. Jangan sampai orang lain melihatmu menangis!” Kalimat ini nyatanya mempengaruhi sikap Pin-Jui selama hidupnya yang selalu berusaha kuat dalam masalah apapun.

Sepanjang film dengan durasi 1 jam 31 menit ini, kita tidak pernah melihat sosok Pin-Jui meneteskan air mata, meski saat sendiri, bahkan di beberapa adegan dia terlihat penuh amarah. Tapi setelah semua kisah dipaparkan kepada putrinya, di adegan terakhir kita lihat Pin-Jui menangis. Lihatlah betapa cerdas dan detailnya naskah yang ditulis Alan Yang ini.

Alur Cerita Non-Linear yang Efektif

Alur Cerita Non-Linear yang Efektif

Alur cerita dalam film Tigertail memang dihadirkan secara non-linear dengan beberapa flashback yang menjadi penguat adegan yang terjadi di masa kini. Hubungan antar adegannya sangat baik dan pesan yang ingin disampaikan cukup mengena dan mudah dimengerti. Semua hal yang perlu kita tahu dipaparkan dengan baik dalam film yang bernuansa sendu ini.

Meski tidak ditampilkan waktu kejadiannya, misalnya tahun berapa atau saat usia Pin-Jui berapa, tetapi kita tidak dibuat bingung karenanya. Sebenarnya timeline cerita hanya ada dua, yaitu masa kini dan masa lalu yang semuanya berjalan maju tanpa acak. Adegan flashback disini dibutuhkan untuk memperjelas feel adegan yang terjadi di masa kini, baik itu pada Pin-Jui atau Angela.

Semua pertanyaan yang muncul di benak kita seluruhnya terjawab dengan baik hanya dalam satu adegan saja. Sangat efektif! Misal, kita ingin tahu kenapa Pin-Jui dan Zhenzhen bercerai, muncul satu adegan yang menjadi titik kulminasi dari rentetan adegan sebelumnya. Lalu kenapa Angela merasa asing dengan ayahnya, dijawab dengan satu adegan kegagalannya dalam lomba piano.

Efektifitas inilah yang membuat film ini terasa padat makna. Pikiran kita seolah terasa penuh, dan ketika film berakhir kita baru sadar bahwa durasi film tidak sepanjang yang kita duga. Dan yang paling penting, kita dibuat bisa menelan dan mencerna keseluruhan jalan cerita dengan baik.

Nuansa kesenduan yang memenuhi film ini ditampilkan dengan baik sejak awal film. Banyak adegan yang menggambarkan perasaan dengan tepat, seperti adegan Pin-Jui kecil berlarian di tengah sawah yang mencerminkan kebebasan jiwa anak kecil, lalu adegan Pin-Jui dan Yuan Lee di tepi sungai sambil bernyanyi lagu milik Otis Redding yang menggambarkan jiwa muda yang penuh cinta dan cita-cita.

Performa Akting Tzi Ma yang Solid

Performa Akting Tzi Ma yang Solid

Tentunya keseluruhan cerita dalam film Tigertail ini tidak akan sempurna jika tidak didukung oleh akting yang baik pula dari para pemerannya. Sebagai pemeran utama, Tzi Ma tampil cemerlang. Dari wajahnya kita bisa merasakan kekerasan sekaligus kerapuhan hatinya dalam menghadapi kehidupan keluarganya, terutama kepada Angela. Dia seolah tidak mampu untuk berbicara banyak di depan putrinya itu.

Dan ketika dia menemukan Yuan Lee melalui Facebook, terlihat aura sendu terangkat dan berubah menjadi ceria, apalagi saat pertemuan mereka. Joan Chen yang berperan sebagai Yuan Lee dewasa tampil mempesona dan menjadi scene stealer, meski kehadirannya hanya singkat saja. Chemistry-nya dengan Tzi Ma langsung memancar seolah memang mereka adalah teman lama dalam kehidupan aslinya.

Pada akhirnya, Tigertail adalah sebuah film drama yang kuat secara naskah dan solid secara akting. Semua dipaparkan dengan efektif dan detail, sepertinya tidak ada yang terlewat. Kita akan memahami bahwa hidup dan cita-cita tidak melulu tentang materi, tapi juga butuh komunikasi yang baik, sehingga membuat hubungan menjadi awet dan lebih berwarna.

Dengan cap certified fresh dari Rotten Tomatoes, tentu saja film ini layak kami rekomendasikan untuk ditonton. Tidak perlu bingung dulu dengan beberapa adegan flashback di awal, karena nantinya cerita akan terbangun dengan baik. Jadi, jangan tunggu lama lagi ya, segera tonton di layar Netflix kalian!

Tigertail
Rating: 
3.3/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram