Sinopsis dan Review Film Netflix The White Tiger (2021)

Ditulis oleh Dhany Wahyudi
The White Tiger
3.7
/5

Perjalanan panjang dari seorang sopir miskin di India yang harus menggunakan akal dan kelicikannya untuk bisa bebas dari pelayanannya kepada tuannya yang kaya dan naik ke kasta yang tinggi di masyarakat. Adarsh Gourav, Rajkummar Rao dan Priyanka Chopra Jonas membintangi film adaptasi novel karya Aravind Adiga yang disutradarai oleh Ramin Bahrani ini.

The White Tiger adalah original film Netflix produksi bersama Amerika dan India dengan mengambil lokasi cerita di beberapa daerah di India, seperti Laxmangarh, New Delhi dan Bangalore. Selain membintangi film ini, Priyanka Chopra Jonas juga duduk di kursi produser yang turut membantu publikasi film ini di mata internasional.

Dipuji oleh para kritikus, film ini mengupas secara pintas kondisi ekonomi dan politik di negara tempat Taj Mahal berada ini. Sebagus apakah kualitas film ini? Simak review kami tentang film yang sudah bisa ditonton di layar Netflix sejak 22 Januari 2021 ini.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun: 2021
  • Genre: Crime, Drama
  • Produksi: Lava Media, Netflix, ARRAY Filmworks, Noruz Films, Purple Pebble
  • Sutradara: Ramin Bahrani
  • Pemeran: Adarsh Gourav, Rajkummar Rao, Priyanka Chopra Jonas

Balram terlahir di sebuah keluarga miskin di daerah Laxmangarh. Dia pernah dijanjikan mendapat beasiswa untuk sekolah di Delhi karena kepintarannya. Tetapi karena ayahnya tidak mampu membayar hutang kepada tuan tanah dari kota, dia harus bekerja di kedai teh bersama kakaknya dan tidak pernah masuk sekolah lagi, apalagi setelah itu ayahnya wafat karena penyakit TBC.

Beranjak dewasa Balram menemukan jalan untuk keluar dari kemiskinan, yaitu menjadi sopir bagi putra tuan tanah yang baru pulang dari Amerika. Dengan modal dari neneknya, dia mengambil kursus menyetir dan kemudian mendatangi rumah keluarga Stork, sang tuan tanah. Dia diterima sebagai sopir kedua yang hanya mengantarkan putra sang tuan tanah saja yang bernama Ashok dan Pinky, istrinya.

Kelicikannya bermula karena dia ingin menggeser posisi sopir pertama yang menyimpan sebuah rahasia selama 20 tahun. Rencananya berhasil dan dia menjadi sopir utama yang mengantar Tuan Stork dan kedua putranya ke New Delhi untuk melakukan negosiasi dengan para pejabat di pemerintahan. Setelah itu, dia tinggal beberapa waktu bersama Ashok dan istrinya di sebuah apartemen.

Di malam ulang tahun Pinky, Balram dipaksa duduk di kursi penumpang saat Pinky mengendarai mobil. Tidak disangka, mereka menabrak seorang pejalan kaki yang hendak menyeberang di tengah malam. Tuan Stork memaksa Balram untuk membuat surat pernyataan bahwa dia yang bertanggung jawab atas kejadian itu. Tapi ternyata tidak ada yang melaporkan gugatan atas peristiwa tabrak lari itu.

Meski begitu, jiwa Balram mulai berkecamuk, begitupun Pinky yang kemudian meninggalkan suaminya untuk kembali ke Amerika. Balram mencoba untuk membantu Ashok menjalani hidupnya dengan penuh semangat, tetapi kemudian dia dikecewakan dengan sikap Ashok dan keluarga besarnya. Balram pun melakukan berbagai kegiatan untuk menghasilkan uang dengan menggunakan mobil tuannya.

Nenek Balram mengirimkan keponakannya kepadanya untuk menimba ilmu menjadi sopir sepertinya yang juga sebagai bentuk ancaman bahwa dirinya harus kembali mengirimkan uang untuk sang nenek dan juga harus mau menikah dengan wanita pilihan neneknya. Balram kemudian menyusun sebuah rencana keji karena dia menduga bahwa dirinya akan diganti dengan sopir lain.

Dalam sebuah perjalanan ke Sheraton, Balram membunuh Ashok dengan pecahan botol Whiskey dan membawa kabur tas berisi uang bersama keponakannya. Mereka pergi ke Bangalore dan memulai usaha baru disana dengan menyuap pihak kepolisian agar status buronannya diabaikan, mendapat perlindungan juga menyingkirkan para pesaingnya.

Usaha sopir pribadinya berkembang pesat dan dia memperlakukan semua sopirnya dengan baik meski mayoritas berasal dari kasta yang rendah. Semua ini dia ceritakan dalam sebuah e-mail kepada Perdana Menteri China yang akan datang mengunjungi India. Dia juga mencantumkan identitas barunya, yaitu Ashok Sharma.

Pengarahan yang Apik dari Ramin Bahrani

Pengarahan yang Apik dari Ramin Bahrani

Mungkin belum banyak dari kita yang mengenal Ramin Bahrani, padahal sutradara ini adalah salah satu yang diakui kualitasnya oleh kritikus film ternama Roger Ebert. Bahrani juga pernah meraih Guggenheim Fellowship di tahun 2009 atas karya kreatifnya di dunia sinema, dan dia juga adalah seorang profesor dari Columbia University School of the Arts. Menakjubkan bukan? Apa saja sih film karyanya?

Pria kelahiran 20 Maret 1975 ini pertama kali dikena lewat film indie berjudul Man Push Cart (2005) yang membuatnya meraih banyak penghargaan. Kemudian Chop Shop (2007) yang sangat disukai oleh kritikus Roger Ebert, dan Goodbye Solo (2008). Aroma Hollywood mulai terasa di film At Any Price (2012) yang dibintangi oleh Zac Efron dan 99 Homes (2014) dengan Andrew Garfield sebagai pemeran utamanya.

Setelah mendapat respon negatif atas film Fahrenheit 415 (2018), sebuah film TV produksi HBO, Bahrani kembali menampilkan arahan tangan dinginnya di film The White Tiger ini. Kita bisa lihat bagaimana dia mengatur ritme dan emosi film sehingga tetap menarik dan menyimpan tanda tanya hingga semua terjawab di akhir film. Dia juga menangkap dan memaparkan dengan baik kondisi negara India.

Jika kita simak dari rentetan filmography-nya, Bahrani sangat piawai dalam mengupas psikologis sosok yang hidup di bawah garis kemiskinan atau kasta rendah di masyarakat dalam mengatasi kesulitan hidup dan bangkit dari keterpurukan demi kelangsungan hidup yang lebih baik. Begitupun yang dia lakukan terhadap karakter Balram yang mampu melewati masa suram dalam kisah hidupnya.

1 2»
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram