Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis & Review Serial The Twelve: 12 Juri Kasus Pembunuhan

Sinopsis & Review Serial The Twelve: 12 Juri Kasus Pembunuhan

Ditulis oleh - Diperbaharui 22 September 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

The Twelve (De Twaalf) merupakan sebuah serial TV bergenre thriller yang berasal dari Belgia. Serial ini berkisah tentang 12 warga sipil dengan latar belakang yang berbeda terpilih menjadi anggota juri untuk mengadili kasus pembunuhan. Pelakunya sendiri bernama Frie Palmer yang telah membunuh anaknya serta sahabatnya sendiri.

Serial ini tidak hanya membicarakan kejahatan yang dilakukan oleh Frie Palmer, namun juga menyoroti bagaimana kasus itu mempengaruhi kehidupan sosial bagi para juri. Setiap episodenya pun mengupas kehidupan pribadi dari anggota juri sembari berusaha menyelidiki kasus pembunuhan kejam tersebut.

Sinopsis

The Twelve

*

  • Tahun rilis: 2019
  • Genre: Drama thriller
  • Rumah produksi: Eyeworks Film & TV Drama
  • Sutradara: Sanne Nuyens dan Bert Van Dael
  • Pemeran Utama: Luc De Ruelle, Zouzou Ben Chikha, Maaike Cafmeyer dan Souad Boukhatem
  • Jumlah Episode: 10

Frie Palmers adalah seorang perempuan yang sedang diadili karena melakukan dua kali pembunuhan secara kejam. Pembunuhan pertamanya terjadi pada tahun 2000 terhadap sahabat baiknya sendiri bernama Brechtje Vindevogel.

Di tahun 2016 ia dituduh telah membunuh putrinya, Roos, yang masih kecil dengan pecahan kaca setelah kalah dari mantan suaminya dalam perebutan hak asuh anak. Kasus pembunuhan yang dilakukan olehnya menjadi berita utama dalam berbagai macam media yang ada di Kota Ghent, Belgia.

Proses peradilan kemudian dilakukan menggunakan pengadilan juri dengan memanggil 12 orang masyarakat setempat yang terpilih untuk menjadi anggota juri. Mereka nantinya mempunyai tugas untuk memutuskan dan mengadili semua tindakan yang dilakukan oleh Frie Palmers.

Di hari pertama persidangan, seorang perempuan bernama Delphine Spijkers datang terlambat untuk tugas sebagai juri. Ia kemudian merasa lega karena saat seleksi berakhir ia tidak duduk diantara 12 juri yang telah disetujui oleh para hakim.

Namun, Delphine ternyata dipilih menjadi juri alternatif yang harus berada di pengadilan selama kasus tersebut disidangkan. Delphine tadinya berjanji untuk tidak menerima tugas sebagai seorang juri karena membuatnya merasa tidak nyaman dan ketakutan.

Ia pun terpaksa berbohong kepada suaminya, Mike, bahwa ia tidak terpilih menjadi juri dalam kasus pembunuhan tersebut. Sementara itu, seorang juri lainnya yang bernama Holly Ceusters mempunyai kehidupan rahasia yang misterius.

Perempuan muda ini selalu menggunakan nama belakang yang berbeda-beda, dan berkeinginan untuk menjual rumah mewahnya yang sudah ditinggalinya selama bertahun-tahun.

Saat persidangan, Frie lalu bersaksi kepada hakim dan para juri bahwa mantan suaminya, Stefaan De Munck, telah meninggalkannya hanya untuk menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Margot. Menurutnya lagi, Stefaan ternyata mempunyai penyakit kelamin HPV karena sering berselingkuh yang menyebabkan rahimnya sedikit terinfeksi.

Frie kemudian menjadi emosional selama interogasi di muka persidangan. Ia lalu bertanya-tanya mengapa dirinya ditangkap dan bahkan menjadi tersangka atas kasus yang terjadi kepada putrinya, dan Brechtje.

Di lain sisi, ayah dari Brechtje yang bernama Marc Vindevogel, meragukan keterlibatan Frie dalam pembunuhan atas putrinya. Marc sendiri telah menonton video rekaman yang memperlihatkan anaknya tengah disandera dengan tubuh berlumuran darah. Di video itu juga, sang anak meminta pertolongan dan mengatakan bahwa ada “seseorang” yang akan menyakitinya.

Di tempat yang lain, Mike akhirnya mengetahui bahwa Delphine telah berbohong kepadanya. Delphine sendiri merasa tertekan dan ingin segera menyelesaikan tugasnya sebagai juri. Sementara itu, seorang pengacara berusaha menyelidiki Holly Ceusters dan mencari tahu kenapa dirinya selalu bergonta-ganti nama.

Bobot Cerita yang Disajikan Cukup Baik

Bobot Cerita Setiap Episode Disajikan Cukup Baik

*

The Twelve menyajikan narasi yang cukup menarik sepanjang 10 episode yang ditayangkan dalam serial televisi ini. Dengan penekanan pada kehidupan anggota para juri serta drama ruang persidangan, The Twelve menghadirkan tontonan yang penuh intrik dan kecurigaan.

Seperti yang sudah dijelaskan dalam sinopsis di atas, inti dari drama thriller ini terletak pada pembunuhan ganda yang dilakukan oleh Frie Palmers kepada anaknya dan sahabatnya. Di samping itu juga ada beberapa sub-plot yang melibatkan kehidupan dari para anggota juri yang terkait secara langsung dengan tema setiap episodenya.

Selain Delphine dan Holly, beberapa anggota juri seperti Joeri Cornille, Arnold Briers, Carl Destoop, dan Noel Marinus mendapatkan sorotan cerita yang sangat menarik untuk diikuti.

Joeri mempunyai masalah setelah mengalami kecelakaan di tempatnya bekerja, sementara Arnold berusaha untuk mengendalikan hidupnya. Carl bermasalah dengan anak perempuannya, sedangkan Noel berjuang melawan kecanduan.

Semua karakter tersebut menjadi tulang punggung cerita yang secara dominan hadir di setiap episodenya. Meski begitu, sosok Frie Palmers sebagai seseorang yang membutuhkan penyelesaian tetap mendapatkan porsi cerita yang cukup layak.

Di sepanjang episode awal hingga menuju akhir, ada beberapa urutan kilas balik yang berfungsi sebagai pengalih perhatian cerita. Lewat cara seperti itu, penonton diajak untuk bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan berusaha menebak cerita yang sedang ditampilkan.

Hal tersebut tentu saja salah satu kekuatan cerita dari The Twelve. Penonton nampaknya akan hanyut ke dalam cerita yang setiap episodenya semakin dibuat penasaran berkat pendekatan kilas balik ke adegan masa lalu tiap karakter.

Meski konsisten menghadirkan konsep seperti itu, The Twelve pun berpotensi menyajikan kisah yang bikin pusing penonton karena kesulitan memaknai alur cerita maju-mundur.

Beberapa anggota juri seperti Arnold sebenarnya memiliki narasi yang konstan dan tidak mencoba membawa penonton untuk ikut larut ke dalam kehidupannya. Sementara yang lainnya terasa sedikit melodramatis sehingga membuat drama ruang persidangan nampak begitu menyedihkan.

Semua karakter yang terlibat cukup sempurna dan memiliki motif serta masalahnya masing-masing, hingga akhirnya dapat membantu menambah bobot konflik pada ruang sidang. Semua orang yang tergabung sebagai anggota juri pun berhasil membangun ketegangan dari awal persidangan sampai putusan akhir.

Dari episode tentang peragaan ulang hingga berbagai karakter saksi yang diajukan, The Twelve melakukan upaya yang konsisten untuk memastikan sebanyak mungkin perspektif yang berbeda tentang pembunuhan tersebut.

Hasilnya membuat drama ini benar-benar menyenangkan untuk dinikmati. Meski tidak sempurna, tetapi 10 episode yang disajikan patut untuk ditonton satu persatu.

Eksplorasi Drama Persidangan yang Serius

Eksplorasi Drama Persidangan Yang Serius

*

Serial TV ini mencoba mengajak penonton untuk melihat sistem peradilan pidana dengan cara yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Dengan adanya sisi lain dari kehidupan para anggota juri, kita bisa melihat pengalaman hidup yang mereka bawa ke meja sidang untuk memberikan argumen kuat tentang tindakan yang dilakukan oleh Frie.

Ketika mereka bersumpah untuk bersikap objektif, kita akan melihat para juri bergelut dengan hati nuraninya masing-masing yang nantinya bisa mempengaruhi pandangan mereka tentang kasus ini. Pandangan bias yang dimiliki tiap juri tersebut nampaknya menjadi topik yang berhasil dieksplorasi cukup baik dalam serial TV ini.

The Twelve sendiri berusaha memberikan pendekatan yang berlapis-lapis kepada para penonton atas kasus yang dilakukan oleh Frie. Maka tak heran, jika di awal-awal episode kita akan digiring untuk merasa iba terhadap Frie, dan percaya bahwa dirinya sebenarnya tidak bersalah dalam dua kasus pembunuhan yang dituduhkan kepadanya.

Kehidupan Frie begitu miris dengan dipenuhi oleh kekecewaan dan tragedi hingga perlakuan kasar dari sang mantan suami terhadap dirinya. Meski begitu, Frei memang pernah menyakit Ross dalam kilas balik kisah masa lalunya, dan membuatnya menjadi tersangka atas kasus pembunuhan.

Terlepas dari segala rumitnya cerita yang dihadirkan, The Twelve bukanlah sebuah tontonan yang bisa dinikmati begitu saja ketika pertama kalian menontonnya.

Drama thriller ini mencoba menyajikan cerita yang berat dan serius dari sebuah kejahatan keji. Salah dan benarnya perbuatan terdakwa dilihat bukan dari perspektif pelaku, korban, atau penegak hukum, tetapi 12 orang biasa yang duduk sebagai juri.

Sudut pandang yang dimiliki tiap karakter pada akhirnya memberikan dinamika cerita yang segar untuk The Twelve. Sepanjang episode, kita akan melihat bagaimana pengambilan keputusan dengan segala pertimbangannya akan dihadapkan pada aspek kemanusiaan.

Lewat hal-hal yang manusiawi dan pertentangan seperti itu, serial TV ini memberikan tontonan berbeda dengan kesan yang begitu kompleks. Cocok untuk kamu yang suka nonton film bergenre crime. Tertarik untuk menontonnya?

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *