bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film The Taking of Pelham 123 (2009)

Semakin majunya zaman, maka akan dibarengi oleh kemajuan teknologi yang memberi kemudahan pada kehidupan manusia. Contoh sederhananya adalah moda transportasi yang semakin lama semakin banyak pilihannya. Orang-orang tinggal memilih menggunakan moda transportasi mana yang sesuai dengan kebutuhan.

Kereta merupakan salah satu moda transportasi yang bisa membawa penumpangnya lebih cepat sampai tujuan dengan menggunakan jalur darat. Karena itulah kereta menjadi pilihan terbaik untuk banyak orang.

Apa jadinya kalau kereta yang berisi banyak penumpang dibajak oleh teroris? Itulah yang terjadi di film The Taking of Pelham 123. Kita bahas sinopsis dan review filmnya, yuk!

Baca juga: Review & Sinopsis Air Force One, Pesawat Kepresidenan Dibajak

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun Rilis: 2009
  • Genre: Action, Thriller
  • Produksi: Columbia Pictures, Metro-Goldwyn-Mayer, Relativity Media, Scott Free Productions
  • Sutradara: Tony Scott
  • Pemain: Denzel Washington, John Travolta, John Turturro, Luis Guzman, James Gandolfini

Walter Garber adalah seorang pegawai Metropolitan Transportation Authority (MTA) yang bertugas mengatur jalur kereta bawah tanah di New York. Dia dihubungi lewat radio oleh seorang pria yang mengaku bernama Ryder.

Ryder menyatakan bahwa dia dan krunya sudah mengambil alih Pelham 123 dan meminta bayaran sebesar 10 juta USD dalam waktu 60 menit.

Garber mencoba mengulur waktu dengan berbicara dengan Ryder. Dia mencoba menggali informasi agar sang teroris secara nggak sengaja membuka beberapa informasi sehingga identitas Ryder bisa diketahui.

Sementara itu, rekan-rekan Garber mulai menggunakan akses internet di dalam kereta. Ryder melihat bahwa tindakannya membajak kereta berpengaruh di pasar saham.

Ryder ditemani oleh Bashkin, Emri dan Phil Ramos menyandera penumpang di Pelham 123. Kepolisian datang ke MTA untuk mencoba bernegosiasi dengan Ryder.

Negosiator yang ditunjuk polisi malah digertak oleh Ryder dan meminta Garber yang berbicara dengannya. Apabila itu nggak dilakukan, maka akan ada sandera yang dibunuh. Alhasil, masinis kereta dihabisi oleh Ryder.

Lieutenant Camonetti, anggota kepolisian yang ditugaskan menangani kasus pembajakan Pelham, mengetahui bahwa Garber tersangkut kasus.

Garber diduga menerima uang suap sebesar 35.000 USD agar kereta di New York menggunakan kereta buatan Jepang. Ryder yang balik mencari identitas Garber, menemukan berita tersebut. Dia pun meminta Garber untuk mengakui perbuatannya.

Posisi Garber semakin terdesak setelah Ryder mengancam akan membunuh sandera apabila Garber enggan mengaku. Garber akhirnya mengaku bahwa dia memang menerima uang suap yang digunakan untuk membayar biaya kuliah anaknya.

Pernyataan Garber itu memancing empati Ryder yang menganggap bahwa Garber adalah seorang pahlawan tapi nggak diapresiasi orang-orang di sekitarnya.

Walikota New York memutuskan untuk menyetujui permintaan Ryder. Dia pun meminta kepolisian untuk mengantarkan uang tunai sebesar 10 juta USD ke lokasi yang diminta Ryder.

Sayangnya, mobil kepolisian yang membawa uang mengalami kecelakaan di jalan. Alhasil, uang yang diminta Ryder nggak berhasil tiba di waktu yang tepat.

Garber mencoba mengalihkan perhatian Ryder dengan menyatakan bahwa uang yang diminta sudah sampai. Ryder ternyata memantau setiap gerakan polisi dan mulai kesal karena permintaannya nggak bisa dipenuhi.

Dia pun mulai mengancam akan membunuh seorang penumpang yang membawa anak kecil. Salah seorang penumpang lain yang dulunya bekerja sebagai tentara mengorbankan diri supaya wanita itu selamat.

Kepolisian New York mulai mengetahui koordinat Ryder menghentikan kereta. Mereka mulai mengepung Pelham 123. Adu tembak pun pecah antara kepolisian dan anak buah Ryder sehingga mengakibatkan Ramos tewas.

Kepolisian mendapatkan informasi bahwa tindakan Ryder terekam oleh salah satu kamera penumpang yang menayangkannya pada livestream.

Kepolisian berhasil mengetahui identitas Ryder sebenarnya yaitu Dennis Ford, seorang petinggi perusahaan investasi yang dijatuhi hukuman penjara atas tindakan curang. Ford setuju untuk bekerja sama dengan kepolisian agar dihukum tiga tahun saja.

Tapi pengadilan justru menjatuhkan hukuman selama 10 tahun. Bisakah tindakan Ford dihentikan? Apa yang harus Garber lakukan sebagaimana hanya dia yang diterima oleh Ford untuk berkomunikasi dengannya?

Penggunaan Tempo Cepat

Penggunaan Tempo Cepat

The Taking of Pelham 123 tanpa basa-basi langsung memacu intensitas cerita sejak dari awal. Kita sebagai penonton nggak akan diberi kesempatan untuk mengenali karakter lebih jauh, melainkan langsung disuguhkan konflik.

Untungnya, pendalaman karakter bisa digali dengan baik seiring dengan berjalannya cerita. Bahkan cukup lengkap sampai mengungkap kru dari Ryder.

Penggunaan tempo cepat di film ini nggak serta-merta berjalan searah dengan banyaknya adegan-adegan aksi. Justru film ini lebih menekankan pada unsur thriller dengan mengandalkan dialog dua arah antara Garber dan Ryder.

Hebatnya, dialog-dialog itu bisa dikemas dengan baik untuk menciptakan nuansa mengerikan ketika para sandera harus mengandalkan Garber, sosok karyawan biasa bukan negosiator.

Adegan aksi nggak dilewatkan untuk dimunculkan di dalam film, hanya saja dalam porsi yang minim. Adegan khas seperti tembak-tembakan, kejar-kejaran yang dilakukan oleh polisi sampai kecelakaan mobil disertakan di beberapa titik.

Secara sinematografi, film ini banyak melakukan pergerakan kamera secara dinamis untuk merekam ketegangan di dalam kereta. Sayangnya, editing yang kasar membuatnya nggak terasa seperti film yang dibuat dengan baik dalam departemen tersebut.

Penampilan Meyakinkan Denzel Washington

Penampilan Meyakinkan Denzel Washington

Karakter Garber dan Ryder adalah kunci bagaimana The Taking of Pelham 123 bisa berjalan dengan menarik. John Travolta yang berperan sebagai Ryder bisa menjadi seorang kriminal yang narsis, manipulatif sekaligus keji.

Sayangnya, penampilan di film ini terasa dibuat terlalu berlebihan walau bisa dinetralkan oleh Denzel Washington yang berperan sebagai Garber.

Denzel Washington menunjukkan kegemilangannya sebagai aktor dengan menjadi Garber yang naif tapi dipaksa untuk menjadi sosok pemberani.

Ekspresi dan nada bicara Denzel punya pengaruh yang cukup besar di film ini. Untuk membuat cerita bergulir dan menyampaikan emosi ke penonton, film ini mengandalkan dialog antara Denzel dan John.

Adegan yang perlu disorot dari penampilan Denzel adalah bagaimana ketika dia merasa malu sekaligus gelisah harus mengakui menerima suap, padahal di sekitarnya ada rekan pegawai lain dan polisi.

Dia terpaksa harus melakukan hal itu karena Ryder mengancam akan menghabisi salah satu sandera. Terlebih sebelumnya Ryder mendesak Garber untuk mengaku seperti Garber sedang melakukan pengakuan dosa.

Kekurangan pada Third Act

Kekurangan pada Third Act

The Taking of Pelham 123 dari segi cerita berhasil memberi tontonan yang seru. Karakter yang dipacu untuk masuk ke dalam konflik perlahan-lahan diberi penjabaran mengenai siapa dirinya yang sebenarnya. Dan bagaimana satu sama lain mencoba memanfaatkan kekurangan serta kesalahan untuk bisa menjadi unggul.

Kelemahan besar terlihat ketika memasuki third act yang terasa kurang greget. Identitas Ryder sebagai pimpinan teroris yang menyandera kereta berhasil ketahuan.

Tapi setelah itu, cerita bergeser menjadi berkaitan dengan pasar saham serta adanya tindakan heroik yang terlalu predictable. Kekurangan itu dilengkapi dengan solusi konflik yang tergesa-gesa.

The Taking of Pelham 123 cukup menyajikan ketegangan dari cerita Garber yang terpaksa berada di dalam posisi yang sulit. Durasi selama 106 menit, terasa terlalu ringkas sehingga klimaks terasa nggak maksimal.

Walau begitu, penampilan Denzel Washington bisa menjadi salah satu alasan mengapa film ini layak ditonton. Film Denzel favorit kamu apa nih? Kasih tahu kita di kolom komentar, yuk!

The Taking of Pelham 123
Rating: 
3.5/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram