bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review The Rhythm Section, Pembalasan Dendam

The Rhythm Section adalah film bergenre thriller aksi berdasarkan sebuah novel dengan judul yang sama karya Mark Burnell tahun 1999. Saat ini filmnya bisa disaksikan pada layanan streaming Netflix. Dalam proses produksi film ini, Burnell juga ikut terlibat dengan menulis skenario ceritanya. 

Film ini dibintangi oleh Blake Lively sebagai Stephanie Patrick, seorang perempuan yang berubah menjadi pembunuh untuk membalas dendam setelah keluarganya tewas oleh serangan teroris.

Ada juga Jude Law yang memerankan mantan agen MI6 bernama Iain Boyd, yang menjadi mentor Stephanie, serta Sterling K. Brown sebagai Marc Serra, mantan pejabat CIA yang bekerja sebagai intelijen swasta.

Sinopsis

The Rhythm Section__

Tiga tahun Selepas keluarganya tewas dalam kecelakaan pesawat, Stephanie Patrick masih belum bisa melupakan peristiwa tragis tersebut dan masih menyimpan rasa kesedihannya. Di tengah-tengah situasi hidupnya yang kacau, Stephanie malah kecanduan narkoba dan memutuskan menjadi seorang pekerja seks komersial (PSK) di Kota London.

Suatu hari, seorang jurnalis bernama Keith Proctor mencoba mendekati Stephanie. Ia mengungkapkan bahwa kecelakaan pesawat yang melibatkan kematian orang tua Stephanie adalah aksi serangan teroris dan pemerintah mencoba menutupi hal itu.

Stephanie dan Proctor selanjutnya menemukan bukti bahwa bom yang menyebabkan pesawat hancur, dibuat oleh Reza, seorang mahasiswa magister di sebuah universitas yang ada di Kota London. Setelah mengetahui hal itu, Stephani membeli pistol dan mencoba untuk menembak Reza di kampusnya. Akan tetapi, ia tidak berani melakukannya dan malah berakhir memakinya di depan umum.

Saat kembali ke apartemen, ia menemukan Proctor telah tewas terbunuh oleh seseorang yang tak dikenal. Stephanie kemudian mengambil catatan pribadi milik Proctor dan menemukan identitas informan miliknya yang merupakan seorang mantan agen MI6 dengan panggilan Boyd yang sekarang tinggal di daerah terpencil di Skotlandia.

Sesampainya di negara itu, akhirnya Boyd menjelaskan segala hal tentang Reza dan semua aksi terorisnya kepada Stephanie. Ia mengatakan bahwa Reza hanya bertindak sebagai pembuat bom yang bekerja untuk seorang teroris yang dikenal dengan nama U-17.

Teroris tersebut ternyata melakukan aksi pengeboman atas perintah seorang Islamis radikal. Dalam suatu misi, sang teroris berhasil menjalankan misi pembunuhan dengan menewaskan seorang ulama pembaharu yang bernama Abdul Kaif.

Setelah mendengarkan penjelasan dari Boyd, Stephanie mengatakan bahwa dirinya ingin balas dendam kepada Reza atas kematian keluarganya. Ia kemudian meminta Boyd mau melatihnya menggunakan senjata api untuk menjadi seorang pembunuh.

Awalnya Boyd menolak rencana dari Stephanie, namun lambat-laun ia melatihnya selama berbulan-bulan agar handal menggunakan senjata api. Stephanie kemudian mengubah namanya dan mengambil identitas seorang pembunuh bernama Petra Reuter, seorang pembunuh bayaran yang tewas oleh Boyd yang mayatnya tidak bisa ditemukan oleh siapa pun.

Dengan identitasnya yang baru, Stephanie pergi ke Spanyol menemui mantan pejabat CIA, Marc Serra, yang sekarang menjadi seorang intelijen, untuk mendapatkan informasi tentang U-17. Stephanie alias Petra lalu pergi menemui ayahnya Abdul Kaif, Suleman Kaif, di Kota Surrey. Ia meminta Suleman untuk mendanai misinya untuk membunuh orang-orang yang terlibat dalam tewasnya Abdul.

Karakter Utama yang Terobsesi Membunuh

The Rhythm Section_Karakter Utama yang Terobsesi Membunuh_

Dalam film The Age of Adaline (2015), Blake Lively tampil sangat menawan sebagai Adaline Bowman, seorang perempuan yang tidak pernah menua sepanjang abad 20. Sedangkan pada film The Shallow (2016), ia memainkan karakter bernama Nancy Adams yang sangat pemberani dan harus bertahan hidup dari serangan ikan hiu di lautan Meksiko.

Sementara itu, pada film The Rhythm Section ini Lively tampil berbeda dari kedua film tersebut dengan berperan sebagai karakter yang rapuh dan menyimpan rasa dendam yang begitu liar.

Karakternya yang bernama Stephanie Patrick terlihat tidak “anggun” seperti dalam film The Age of Adaline, namun sosok yang ia mainkan ini masih tetap mencuri perhatian dengan kepribadiannya yang kompleks dan gelap.

Setelah kematian keluarganya, Blake Lively sebagai Stephanie digambarkan sedikit terlihat urakan dari penampilan hingga kepribadian karakternya. Ia memutuskan menjadi seorang PSK serta mengonsumsi narkoba. Lewat nasib yang ia pilih tersebut kita pun seolah merasa ikut berempati dengan apa yang telah terjadi dalam hidup Stephanie.

Namun, film ini tidak berjalan menyedihkan. Alur cerita The Rhythm Section bahkan menjadi lebih kelam dan menarik ketika Stephanie memutuskan menjadi seorang pembunuh di bawah arahan Boyd yang tampil lumayan apik dengan karakternya tersebut.

Di sisi lain, aksi balas dendam yang dilakukan oleh Stephanie sangat sulit dilakukan olehnya. Kelompok teroris yang dihadapi cukup merepotkan dan membahayakan untuknya. Ketika ia harus bertemu dengan Marc Serra yang diperankan oleh Sterling K. Brown, dirinya seperti berhadapan dengan musuh dalam selimut yang licik serta berbahaya.

Penuh Rasa Emosional yang Kompleks

The Rhythm Section_Penuh Rasa Emosional yang Kompleks_

Selama 1 jam 50 menit, The Rhythm Section berjalan menjadi film action thriller yang cukup realistis, dimana sang karakter utamanya tidak benar-benar langsung menjadi pembunuh yang handal. Ia melewati momen kegagalan dalam beberapa misi pertamanya sebelum terlihat sebagai seorang “pembalas dendam” yang mematikan.

Sepanjang durasi tersebut, kita bisa melihat emosi dari Stephanie yang diperlihatkan begitu rumit. Dibalik sifat pendendamnya yang keras kepada teroris yang membunuh keluarganya, ia adalah sosok perempuan yang rapuh. Jauh sebelum tragedi tersebut, Stephanie adalah perempuan cerdas yang memiliki masa depan cerah untuk hidupnya.

Jalan nasib mengubah takdirnya menjadi seseorang yang hidup dalam kenelangsaan dan tidak mampu berdamai dengan masa lalunya. Kedalaman emosi dari sang karakter utama yang diperlihatkan oleh Lively sangatlah menonjol dalam film ini dan lagi-lagi kita pun bisa diajak untuk memahami segala kompleksitas perasaanya.

Lewat genre yang diusungnya, The Rhythm Section bisa dibilang memang tidak seliar Red Sparrow (2018), Atomic Blonde (2017), maupun Kate (2021). Namun, film ini terasa cukup segar dan seru lewat persona karakter utamanya yang digambarkan memiliki nasib suram.

Stephanie menjadi karakter primadona sepanjang jalan cerita dan memegang kendali penuh atas premis yang disuguhkan oleh sang sutradara Reed Morano.

Menarik Simpati Untuk Ditonton

The Rhythm Section_Menarik Simpati Untuk Ditonton_

Visual dan sinematografi The Rhythm Section tersaji secara mumpuni dalam menghadirkan urutan aksi maupun momen-momen yang lainnya. Rangkaian adegan pun tersusun lumayan solid dengan intensitas cerita yang berjalan cukup menjanjikan. 

Selain itu, film ini tampaknya mencoba untuk memberikan jalan cerita yang bersifat depresi dan muram, namun diakhiri lewat cara yang penuh kedamaian. Langkah tersebut rasanya cukup berhasil dilakukan, sebab di akhir cerita, Stephanie mendapatkan ketenangan hati selepas menyelesaikan aksi balas dendamnya yang penuh amarah.

Walaupun menyajikan jalan cerita yang seru untuk ditonton, The Rhythm Section meraih ulasan yang kurang baik di situs Rotten Tomatoes dan juga pendapatan box office yang tidak memuaskan. Namun, hal tersebut tidak membuat film ini terasa jelek. The Rhythm Section pun menyimpan premis cerita yang bisa menarik simpati bagi kita yang menontonnya.

Secara singkatnya, The Rhythm Section menjadi sebuah film action thriller yang apa adanya dan tidak ada ledakan-ledakan hingga aksi tembak menembak yang berlebihan. Lewat latar belakang dari karakter utamanya yang merupakan seorang perempuan biasa dengan misi balas dendamnya, film ini berjalan menarik serta tidak terlalu buruk.

The Rhythm Section
Rating: 
3/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram