bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review The Pianist, Terjebak di Tengah Genosida

Di masa kini, musisi yang sukses terlihat seperti mempunyai kehidupan yang sempurna. Mereka bisa menghasilkan uang dari sesuatu yang mereka senangi.

Tapi bagaimana kalau musisi itu hidup di era perang dunia kedua? Seperti apa jadinya kalau sang musisi harus berada di tengah orang-orang yang akan menjadi korban genosida? Itulah cerita yang diangkat di film The Pianist. Bagaimana kisahnya? Simak sinopsis dan ulasan lengkapnya disini ya!

Sinopsis

the-pianist-2_

Wladyslaw Szpilman adalah seorang pianis keturunan Polandia dan Yahudi. Pada September 1939, dia sedang tampil di sebuah stasiun radio di Warsawa. Nazi meledakan stasiun radio itu sebagaimana mereka tengah menginvasi Polandia.

Szpilman langsung pulang ke keluarganya di rumah. Dia mendapat kabar bahwa Britania Raya dan Perancis mendeklarasikan perang dengan Jerman. 

Bayangan kemerdekaan Polandia dalam waktu dekat menenangkan pikiran Szpilman. Kenyataannya, pasukan Britania Raya dan Perancis nggak kunjung datang ke Polandia. Perlawanan rakyat Polandia hanya berlangsung selama sebulan.

Keadaan semakin parah karena Soviet juga ikut menginvasi wilayah lain di Polandia. Sementara itu, Nazi menguasai Warsawa. Bahkan Nazi membuat kantor khusus untuk operasi militernya di sana.

Keberhasilan Nazi menduduki Warsawa membuat orang-orang keturunan Yahudi kehilangan pekerjaan. Nazi memaksa pemilik tempat usaha untuk menutup usaha mereka.

Nazi juga memerintahkan orang keturunan Yahudi untuk menggunakan ban lengan bergambar bintang David. Tindakan itu bertujuan untuk memberi tanda khusus bagi orang-orang keturunan Yahudi. 

Tak hanya itu, Nazi merampas hak orang-orang keturunan Yahudi. Mereka nggak boleh punya uang lebih dari 2.000 zloty. Mereka juga dilarang berjalan di trotoar dan menggunakan fasilitas umum.

Pada November 1940, Szpilman dan keluarganya terpaksa pindah dari rumah mereka ke Ghetto. Ghetto adalah sebuah kamp untuk orang-orang keturunan Yahudi di Warsawa. 

Jumlah penghuni tempat itu jauh melebihi kapasitas tempatnya. Para penduduk yang berada di Ghetto harus menjalani hidup dengan kondisi yang memprihatinkan. Banyak dari mereka yang kelaparan, bahkan orang yang meregang nyawa menjadi pemandangan biasa. Hal itu diperparah oleh tindakan tentara Nazi yang brutal.

Szpilman terpaksa melihat sebuah tragedi memilukan. Nazi membunuh satu keluarga Yahudi yang menghuni apartemen di seberang jalan. Bahkan Nazi melempar seorang lansia dari jendela lantai empat padahal lansia itu sudah nggak berdaya. Lansia tersebut harus menggunakan kursi roda untuk beraktivitas sehari-hari.

Szpilman menyadari bahwa kondisi ini nggak akan berakhir dalam waktu dekat. Kemudian pada 16 Agustus 1942, Szpilman dan keluarganya akan dipindahkan ke Treblinka, sebuah kamp untuk orang-orang Yahudi yang berada di tengah hutan.

Saat itu, Nazi sedang menggencarkan Operasi Reinhard. Operasi Reinhard merupakan kode untuk sebuah operasi pembantaian orang-orang keturunan Polandia dan Yahudi.

Seorang petugas yang menjaga Ghetto mengenali Szpilman dan memisahkannya dari keluarga Szpilman. Bukannya diselamatkan, Szpilman malah dijadikan budak. Szpilman mencoba membantu kelompok pemberontak dengan menyelundupkan senjata ke Ghetto.

Pada suatu kesempatan, tindakan Szpilman nyaris ketahuan oleh penjaga. Untungnya, Szpilman berhasil melarikan diri dan bersembunyi berkat bantuan dari Andrzej Bogucki dan istrinya, Janina, yang merupakan warga Polandia asli.

Pada April 1943, Szpilman melihat pemberontakan yang terjadi di Ghetto. Szpilman mencoba membantu, tapi upaya pemberontakan itu nggak berjalan sesuai rencana. Szpilman disembunyikan di tempat lain yaitu di sebuah apartemen kosong dimana terdapat piano di dalamnya.

Di saat yang bersamaan, Szpilman mengalami malnutrisi dan kulitnya sudah menguning. Apa lagi yang harus dilakukan Szpilman untuk selamat?

Mengupas Kekejaman Perang

the-pianist-3_

The Pianist diangkat dari sebuah memoir dengan judul sama karya Wladyslaw Szpilman. Sebagai film biografi, cerita tentang perang dari sudut pandang Szpilman dikupas secara tuntas.

Kita bisa melihat Szpilman yang biasanya tampil di hadapan orang untuk menghibur, harus menjadi orang yang berjuang untuk bertahan hidup. Celakanya, dia nggak tahu pasti penderitaan itu akan berlangsung berapa lama.

Ada banyak adegan yang bisa membuat kita merasa ngeri, bahkan ingin meneteskan air mata. Ghetto digambarkan sebagai tempat yang terlalu padat. Banyak anak-anak kelaparan di sana. Banyak juga orang-orang yang mati karena kelaparan atau sakit.

Sementara di luar Ghetto, Warsawa berubah menjadi kota penuh puing-puing bangunan. Perang yang menghancurkan segala hal benar-benar ditampilkan dengan baik di film ini.

Di balik pemandangan menakutkan tentang perang, film ini juga menyiratkan sisi lain. Ada seorang tentara Nazi, Wilm Hosenfeld, yang bersimpati melihat Szpilman.

Dia kemudian diberi tahu oleh Szpilman bahwa Szpilman adalah seorang pianis. Hosenfeld pun memberi kesempatan Szpilman untuk bermain piano. Adegan ini menunjukkan bahwa nggak semua anggota Nazi itu kejam.

Penampilan Sempurna Adrien Brody

the-pianist-4_

Adrien Brody berhasil menghidupkan karakter Szpilman. Dia bisa menjadi Szpilman yang rapuh. Di sisi lain, dia juga bisa menjadi Szpilman yang optimis. Ekspresi, nada bicara, sampai gestur yang ditampilkan Brody terasa meyakinkan.

Salah satu adegan yang menunjukkan kualitas aktingnya adalah ketika menyaksikan kejamnya Nazi menghabisi satu keluarga keturunan Yahudi. Ekspresi wajahnya menunjukkan kemarahan sekaligus ketakutan.

Keunggulan dari The Pianist adalah nggak menjadikan sosok Szpilman sebagai pahlawan. Szpilman diberi pendalaman yang kuat sebagai seorang pianis. Cerita berjalan dengan konsisten tanpa mengubah Szpilman menjadi sosok yang heroik.

Sebagaimana judulnya, film tetap menampilkan Szpilman sebagai seorang pianis yang menjadi saksi kejamnya Nazi pada orang-orang keturunan Yahudi. Dia memang ikut membantu pemberontakan, tapi itu pun dilakukan sesuai dengan kapabilitasnya.

Sinematografi Menawan

the-pianist-5_

The Pianist disutradarai oleh Roman Polanski. Sang sutradara menggunakan suara dan visualisasi untuk menguatkan plot seperti ketika ada adegan Szpilman menjatuhkan kaleng makanan. Kamera lalu menyoroti adegan dengan mid shot lalu berhenti

Kemudian kamera bergerak dari bawah ke atas untuk menyorot seseorang berseragam Nazi, tapi nggak langsung mengungkap siapa sosok itu. Pencahayaan yang muram mendukung kebingungan dan ketakutan yang dirasakan Szpilman.

Polanski cermat dalam mengeksplorasi kekuatan suara. Teriakan, suara langkah, kesunyian benar-benar berguna untuk menguatkan nuansa muram dalam cerita.

Ada sebuah adegan ketika sekelompok anak keturunan Yahudi mencuri makanan dan mencoba melarikan diri. Suara teriakan mereka terdengar ketika kamera menyoroti Szpilman yang tengah berjalan di dekat tempat kejadian.

The Pianist melanjutkan tren film-film yang diangkat dengan latar perang dunia kedua. Hebatnya, film ini nggak jatuh ke kategori heroism. Film ini lebih terasa seperti kesaksian orang yang berhasil selamat.

Durasi 150 menit bukan masalah untuk film yang berhasil menyampaikan pesannya. Film berlatar perang dunia kedua favorit kamu apa guys? Tulis judulnya di bawah, yuk!

The Pianist
Rating: 
4.3/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram