Bacaterus / Review Film Indonesia / Sinopsis & Review The Night Come For Us, Sangat Menegangkan

Sinopsis & Review The Night Come For Us, Sangat Menegangkan

Ditulis oleh - Diperbaharui 14 Oktober 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

The Night Comes For Us adalah sebuah film action thriller yang menghadirkan pertarungan berkelas diantara Joe Taslim dan Iko Uwais. Dua aktor laga yang sedang populer di Indonesia ini akan menyuguhkan nuansa gore lewat perkelahian sadis berceceran darah.

Film ini di situs aggregator Rotten Tomatoes mendapatkan peringkat persetujuan 88% berdasarkan dari 26 ulasan, dan memiliki nilai rata-rata di angka 7,2/10. The Night Comes For Us pertama kali rilis dan didistribusikan ke seluruh dunia oleh Netflix pada tanggal 19 Oktober 2018.

Sinopsis

The Night Come For Us

  • Tahun rilis: 2018
  • Genre: Action thriller
  • Rumah produksi: XYZ Films dan Screenplay Infinite Films
  • Sutradara: Timo Tjahjanto
  • Pemeran Utama: Joe Taslim, Iko Uwais, Julie Estelle, Sunny Pang, dan Zack Lee

Ito adalah salah satu dari enam orang yang tergabung ke dalam kelompok Six Seas dari organisasi mafia Triad wilayah Asia Tenggara. Suatu hari, ia berhasil membantai sebuah desa di pesisir pantai karena ada warganya yang telah mencuri obat-obatan milik Triad. Namun, saat menemukan korban terakhir yang adalah seorang gadis kecil, Ito mengurungkan niat untuk membunuhnya.

Ia kemudian merasa iba melihat sosoknya, dan malah berbalik arah menghabisi orang-orang Triad yang berada di desa. Gadis kecil yang bernama Reina itu kemudian dibawa oleh Ito ke Jakarta agar bisa disembunyikan di tempat yang aman.

Ito lalu bertemu dengan mantan kekasihnya, Shinta, beserta teman-teman lamanya, yaitu Bobby dan Fatih yang membawa saudaranya bernama Wisnu.

Bobby dan Fatih dulunya adalah satu komplotan dengan Ito, dan mereka sudah lama tidak bertemu satu sama lain. Meski pada awalnya terjadi perseteruan, Bobby kemudian setuju membuatkan paspor baru untuk Ito dan Reina.

Selain mereka berdua, ada juga Arian yang merupakan salah satu anggota dari kelompoknya Ito. Namun, Arian kini telah pindah ke Makau dan menjalankan sebuah klub malam untuk Triad. Anggota Six Seas lainnya yang bernama, Chien Wu, lalu meminta Arian untuk membunuh Ito yang telah berkhianat.

Sementara itu, Ito mendatangi seorang pemilik toko daging bernama Yohan yang mempunyai koneksi dengan Triad. Ito menemui Yohan untuk mengambil uang miliknya yang di simpan di sana.

Namun, perkelahian terjadi dengan Yohan bersama anak buahnya. Ia lalu memanggil sekelompok polisi korup untuk menangkap Ito, tapi Yohan sendiri tewas dalam situasi mencekam tersebut.

Di tempat yang lain, sekelompok preman mencoba mendatangi kediaman Fatih di sebuah apartemen. Bobby, Fatih, dan Wisnu terlibat pertarungan dengan mereka sembari melindungi Reina.

Dua orang perempuan dari Triad, Elena dan Alma, tiba di tempat tersebut dan membunuh Bobby serta Wisnu. Saat Alma ingin menghabisi nyawa Fatih, Arian lalu muncul dan berhasil menyelamatkan hidupnya.

Fatih kemudian menuduh Arian sebagai orang yang memberi tahu tempat tinggalnya kepada Triad. Ia menolak mentah-mentah bantuan dari kawan lamanya itu. Fatih lalu pergi dari hadapan Arian, dan ia dikejar-kejar kembali oleh kelompok Triad.

Ia berhasil menemukan Reina, dan menyembunyikannya. Namun, ia tewas tertembak, sedangkan kelompok Triad yang memburunya dibunuh oleh wanita misterius yang dikenal dengan sebutan The Operator

Setelah kejadian tersebut, Chien Wu lalu bertemu dengan Arian, dan memberinya kesempatan terakhir agar bisa membunuh Ito. Ia menjanjikan kepada Arian satu tempat spesial dalam kelompok Six Seas jika berhasil membunuh Ito.

The Operator selanjutnya menemui Ito dan mengungkapkan bahwa misinya adalah membunuh semua anggota Six Seas, termasuk Ito sendiri, Chien Wu, hingga pimpinannya.

Ito kemudian bersumpah akan membunuh Chien Wu asalkan The Operator mau melindungi Reina. Keduanya lalu berangkat ke sebuah gudang, dimana Ito akan berhadapan dengan Arian, dan The Operator melawan Elena serta Alma.

Semua Karakter Terlihat Brutal Tanpa Ampun

Semua Karakter Terlihat Brutal Tanpa Ampun

Kualitas bela diri dan akting dari Joe Taslim serta Iko Uwais memang sudah tidak bisa diragukan lagi. Nama keduanya sudah mulai terdengar di dunia setelah membintangi beberapa film action yang mumpuni. Di dalam film ini, kehebatan mereka berhasil ditunjukan dengan cara yang apik dan menawan lewat adegan perkelahian berdarah-darah tanpa ampun.

The Night Comes for Us langsung tancap gas dari menit awal dan tidak berbasa-basi dalam menghadirkan setiap konflik. Semua aspek kesadisan coba disajikan dalam film ini, dan nampaknya hal tersebut berhasil disuguhkan dengan sangat jelas.

Tak hanya perkelahiannya saja yang terlihat sadis, setiap umpatan dalam dialog-dialognya sangat terdengar “berani” dan justru malah menambah keseruan dalam film ini.

Cerita dramanya pun tidak bertele-tele karena mendapatkan porsi yang tidak terlalu banyak. Sepanjang film, kalian tentunya akan disuguhkan adegan laga brutal penuh emosi, menegangkan, hingga terkadang tak tega melihat cara mati dari setiap pemerannya.

Tapi, itulah kekuatan The Night Comes for Us yang patut diacungi jempol karena menghadirkan situasi gore yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Di film ini, kita akan melihat betapa sangarnya Iko Uwais dalam menghabisi setiap lawan-lawannya. Karakternya sebagai Arian dirasa jauh lebih sadis dan brutal dari apa yang pernah ia perankan dalam The Raid, Headshot, Mile 22, dan yang lainnya.

Tak berbeda dengan lawan mainnya, Joe Taslim pun tampil begitu impresif dan sangat meledak-ledak dalam The Night Comes for Us.  Perannya sebagai Ito mampu ditampilkannya dengan baik lewat sejumlah situasi perkelahian yang mengerikan.

Ito sejatinya lebih menakutkan dan jauh membahayakan dari semua karakter yang pernah ia mainkan sampai sejauh ini. Joe dan Iko adalah bintang utamanya, namun jangan lupakan juga kehadiran sejumlah aktor dan aktris Indonesia lainnya yang tampil menarik perhatian dalam film ini.

Dian Sastrowardoyo dan Hannah Al Rashid masing-masing memerankan pembunuh berdarah dingin Alma serta Elena. Meski masih terlihat canggung dalam film-film action, keduanya mampu menampilkan sosok pembunuh yang mengerikan.

Selain keduanya, ada juga Julie Estelle sebagai The Operator yang menjadi seorang pembunuh bayaran misterius. Dengan berpakaian serba hitam, ia muncul dalam keheningan dan membunuh semua orang yang menghalangi misinya tanpa ragu-ragu.

Ia begitu menarik perhatian karena dengan wajah cantiknya dirinya berhasil memerankan sosok berbahaya lewat sorot matanya yang sangat tajam menakutkan.

Selanjutnya, ada juga Revaldo sebagai Yohan yang sangat gila dan karakternya cenderung menyebalkan. Lalu, ada Abimana dan Zack Lee sebagai Fatih serta Bobby, keduanya tampil bernyali besar melawan semua anggota Triad tanpa takut mati sedikit pun.

Terlalu Berfokus pada Action

Terlalu Berfokus pada Action

The Night Comes for Us sudah jelas menghadirkan pertarungan yang intens dengan segala kebrutalannya. Namun, film ini sebenarnya berpotensi menawarkan konflik batin yang mendalam diantara Ito dan Arian. Masalahnya, perseteruan personal mereka kurang digali secara apik, dan permasalahan pribadi keduanya kurang menyentuh bagi yang menontonnya.

Perseteruan Arian dan Ito adalah cerita utama yang mendasari setiap konflik dalam film ini. Masalah mereka lalu melibatkan orang-orang disekitarnya hingga berujung dengan aksi pembalasan dendam dari Triad. Selanjutnya, film ini bercerita tentang perkelahian demi perkelahian yang brutal dan sadis.

Arian, Ito, Bobby, dan Fatih pada akhirnya diperlihatkan hanya sebagai orang-orang yang suka berkelahi saja. Keempatnya kurang mendapatkan latar belakang cerita yang dalam untuk menguatkan ikatan diantara mereka masing-masing.

Hubungan emosional diantara mereka kurang digali. Bahkan, saat Ito bertemu kembali dengan Fatih, dan Bobby, rasa penyesalan atau bahkan ikatan yang harus ditonjolkan di momen tersebut kurang terlihat. Adegan tersebut tidak jelek, dan tidak mengecewakannya sebenarnya, hanya saja kurang diajak untuk bersimpati terhadap latar belakang dari mereka.

Selain itu, di menit-menit awal kita akan melihat Ito yang tidak jadi membunuh Reina dikarenakan masih seorang gadis kecil polos tanpa dosa. Pergulatan batin yang dialami Ito selanjutnya tidak digambarkan secara mendalam, dan tidak diceritakan pula secara pasti kenapa dirinya mati-matian harus melindungi Reina dari Triad.

Ada juga Arian yang terlihat begitu ambisius untuk bergabung dengan Six Seas, dan mengincar posisi penting dalam Triad. Motif pribadinya itu kurang digambarkan secara meyakinkan, dan hanya terlihat sebagai ego personalnya saja.

Karena terlalu berfokus pada adegan aksinya, The Night Comes for Us nampaknya sedikit nanggung dalam membangun konflik personal diantara karakternya. Meski adanya hal tersebut, film ini tampil tidak mengecewakan, dan sangat bisa dinikmati oleh pecinta film-film ‘keras’ bernuansa gore.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *