bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review The Mitchells vs. The Machines (2021)

Ditulis oleh Dhany Wahyudi - Diperbaharui 11 September 2021

Perjalanan darat lintas negara bagian dari sebuah keluarga yang unik berubah menjadi menegangkan ketika mereka berada di tengah-tengah pemberontakan kaum robot atas umat manusia dan mendadak menjadi harapan terakhir yang paling tidak diharapkan bagi umat manusia. The Mitchells vs. the Machines adalah original film Netflix yang dirilis pada 30 April 2021.

Awalnya film ini akan dirilis secara luas di layar bioskop oleh Sony Pictures di tahun 2020 dengan judul Connected, tetapi karena efek pandemi Covid-19, Sony menjual hak tayang film ini ke Netflix yang mengubah judulnya kembali sesuai dengan naskah awal milik Mike Rianda dan merilisnya secara terbatas di layar bioskop Amerika pada 23 April 2021 yang diikuti rilis streaming seminggu setelahnya.

Diproduseri oleh duo Phil Lord dan Christopher Miller yang pernah sukses dengan film animasi Cloudy with a Chance of Meatballs (2009) dan The LEGO Movie (2014), menambah faktor penasaran akan kualitas dan goresan animasi yang bakal ditampilkan. Simak review kami berikut ini sebelum menonton filmnya.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun: 2021
  • Genre: Adventure, Animation, Comedy, Family, Sci-Fi
  • Produksi: Columbia Pictures, Sony Pictures Animation, One Cool Films, Lord Miller Productions
  • Sutradara: Mike Rianda
  • Pengisi Suara: Abbi Jacobson, Danny McBride, Maya Rudolph, Mike Rianda

Katie Mitchell adalah remaja yang unik dan sangat menyukai dunia film dengan banyak membuat film pendek yang diunggahnya di kanal YouTube. Katie mendapat surat penerimaan dirinya di sekolah film di California yang dianggapnya jalan baginya untuk bisa bersama orang yang seide dengannya dan meninggalkan keluarganya yang masing-masing anggotanya memiliki keunikan yang cenderung aneh.

Di malam terakhir sebelum keberangkatannya, secara tidak sengaja ayahnya membuat laptop Katie rusak. Untuk bisa berbaikan dengan putrinya, Rick membatalkan tiket pesawat dan mengajak seluruh anggota keluarga, termasuk seekor anjing bernama Monchi, mengantar Katie dengan mengendarai mobil tuanya melintasi berbagai negara bagian.

Ketika singgah di sebuah lokasi wisata, mereka terjebak oleh serangan sekelompok robot yang menculik seluruh orang yang ada disana. Dengan beberapa aksi ketidaksengajaan, mereka berempat berhasil bersembunyi di sebuah café dan bertemu dua robot yang error. Kedua robot ini memberitahu semua rencana PAL, sebuah aplikasi yang memberontak, beserta cara menghentikannya.

Mereka membuat mobil tua Rick menjadi kamuflase jalan raya agar tidak diketahui oelh para robot. Meski akhirnya ketahuan, tetapi mereka bisa menghindar dan sampai ke sebuah mal di Colorado untuk mengunggah kode pemusnahan ke sistem PAL. Tetapi rencana mereka harus terhadang oleh alat-alat elektronik dengan chip PAL yang menyerang mereka.

Dengan segala usaha, mereka akhirnya bisa melumpuhkan seluruh alat elektronik di mal itu dengan mengalahkan Furby raksasa yang menghancurkan router PAL. Tetapi dengan begitu, unggahan kode pemusnahan menjadi gagal dan membuat mereka harus menuju pusat sistemnya di Silicon Valley. Setiba disana mereka menyamar dengan menggunakan kostum robot dan menuju pusat kendali.

Tetapi dengan propaganda yang dilakukan PAL dengan menayangkan video CCTV di café yang memperlihatkan ketidaktulusan Katie kepada ayahnya membuat semua rencana berantakan. Rick dan Linda disekap oleh sekelompok robot, sementara itu Katie dan Aaron beserta Monchi berhasil melarikan diri dari tempat itu.

Dalam handycam miliknya, Katie menemukan banyak rekaman video masa lalu yang menggambarkan betapa ayahnya sangat mencintainya dengan merelakan impiannya demi kehidupan keluarga. Sementara itu, Rick pun sadar akan kesalahannya kepada Katie setelah Mark memperlihatkan film-film pendek karya Katie di YouTube.

Dengan obeng yang selalu dibawanya, Rick dan Linda berhasil lepas dari kurungan. Katie nekat menembus kantor pusat sekali lagi dengan mengebutkan mobil ayahnya. Monchi diletakkan di depan mobil untuk membuat error para robot.

Katie berhasil menghindari kejaran para robot dengan bantuan Aaron di atas gunung dan menaiki dinding kantor pusat dengan mobilnya. Sementara itu, Rick dan Linda berusaha untuk memutar film pendek karya Katie dari YouTube di seluruh layar raksasa kantor.

Disaat Aaron tertangkap dan Katie nyaris terjatuh dari ketinggian, seluruh robot menjadi tidak berfungsi ketika layar-layar raksasa menampilkan Monchi dari film pendek karya Katie. Rick datang menyelamatkan Katie dengan bantuan dua robot error, Eric dan Deborahbot. Dan Linda berhasil membebaskan Aaron serta menghancurkan para robot satu persatu.

Katie berhasil mengambil PAL dan melemparkannya ke arah kolam renang, sayangnya PAL tidak jatuh tepat sasaran. Tetapi dengan bantuan Monchi, akhirnya PAL terjatuh ke dalam gelas berisi air yang membuat seluruh sistem padam dan seluruh robot menjadi tidak berfungsi. Seluruh umat manusia terbebas dari kurungan dan kembali ke kehidupan masing-masing.

Beberapa bulan kemudian, Katie berpisah dengan keluarganya di depan kampus barunya. Katie menikmati masa kuliahnya. Mereka sekali lagi melakukan road trip untuk menerima medali penghargaan dari negara.

Kombinasi Premis Klise dengan Referensi Modern

Kombinasi Premis Klise dengan Referensi Modern

Sebenarnya premis film ini sudah seringkali diangkat, yaitu family road trip. Di awal film, kita disuguhkan konflik antara ayah dan putri remajanya yang siap untuk kuliah ke luar kota yang pada akhirnya membuat sang ayah memilih untuk mengantarkan putrinya dengan mengendarai mobil beserta seluruh anggota keluarga. Kisah seperti ini nyaris serupa dengan premis film College Road Trip (2008).

Lalu muncul pemberontakan para robot terhadap umat manusia yang dipicu rasa kecewa aplikasi lama yang kemudian menguasai sistem seluruh robot juga alat-alat elektronik yang ditanam chip PAL di dalamnya. Kesan pemberontakan robot disini sangat serupa dengan yang ditampilkan oleh film-film dalam franchise Terminator.

Lalu apa hal baru yang membuat kombinasi premis klise ini menarik untuk ditonton? Faktor utamanya adalah referensi modern dengan budaya internet lewat YouTube. Karakter Katie diceritakan sebagai content creator YouTube dengan unggahan film-film pendeknya yang ternyata menginspirasi seorang entrepreneur di bidang teknologi sang pembuat aplikasi PAL dan robot-robotnya.

Dan tentu saja, YouTube pula yang menjadi kunci terpenting dalam menghentikan pemberontakan robot ini, meski terkesan absurd dan konyol, yaitu dengan menampilkan video YouTube yang bisa membuat para robot korslet dan error. Ide cemerlang ini sukses memancing tawa kita ketika menyaksikan Monchi berhasil membuat ribuan robot korslet hanya dengan duduk di bagian depan mobil saja.

Visual Animasi yang Dinamis

Visual Animasi yang Dinamis

Dengan Phil Lord dan Christopher Miller di kursi produser, sudah menjanjikan akan hadirnya kualitas animasi sekelas Cloudy with a Chance of Meatballs (2009) dan selera humor sekelas The LEGO Movie (2014), dan semua terjawab dengan visualisasi animasi yang dinamis yang mampu menyegarkan mata dan membuat kita betah duduk menontonnya selama 1 jam 53 menit.

Uniknya, tampilan animasi di film ini dipadukan juga dengan unsur komik dan street art yang membuatnya menjadi semakin hidup dan penuh imajinasi. Kombinasi unik ini sebenarnya pernah ditampilkan juga di film Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018) yang juga ditulis naskahnya oleh Phil Lord, hanya kali ini penggunaannya lebih maksimal.

Bahkan, Rianda tidak segan-segan mencampurnya juga dengan beberapa potongan footage non-animasi yang semakin menambah kelucuan, seperti menampilkan foto simpanse yang disamakan dengan teriakan ayahnya di awal film dan juga teriakan PAL di akhir film. Kombinasi unik ini cukup menyegarkan, karena mungkin saja jarang ditampilkan dalam film animasi sejenis.

Kisah Keluarga yang Menyentuh Hati

Kisah Keluarga yang Menyentuh Hati

Apalah arti film keluarga tanpa pesan moral yang menyentuh, dan film The Mitchells vs. the Machines ini menyuguhkan konflik ayah dan putrinya yang terkendala oleh kemajuan teknologi.

Diceritakan Rick adalah pria yang tidak begitu mau memahami kemajuan teknologi, atau biasa disebut technophobic, sedangkan putrinya sangat cekatan dalam menggunakan smartphone dengan segala kecanggihan fiturnya.

Kesenjangan generasi ini memang bisa memicu kesalahpahaman dalam keluarga. Oleh karena itu, para orang tua zaman sekarang harus bisa memahami kemajuan teknologi beserta nilai positif dan negatifnya agar bisa mengimbangi anak-anaknya yang pasti sudah melek teknologi di usia dini.

Tugas orang tualah untuk mengarahkan dan menjaga anak-anak mereka dari kemajuan teknologi saat ini dan masa nanti.

Pesan yang paling menyentuh di dalam film ini ialah bagaimana sang ayah mau mengorbankan mimpinya untuk terus tinggal dan hidup sederhana di luar kota demi keluarganya, sedangkan putrinya berpikir sebaliknya dimana dia ingin meninggalkan keluarganya demi mengejar mimpinya menjadi pembuat film dengan kuliah jauh di kota lain.

Pada akhirnya, mereka berdua sadar dan paham akan kesalahan masing-masing, lalu saling memaafkan dan berusaha untuk mengerti dan memberikan yang terbaik untuk keluarga. Ada pepatah mengatakan, “like father, like daughter” yang mengindikasikan jika anak perempuan itu lebih dekat dengan ayahnya, dan sifat Katie ternyata nyaris serupa dengan ayahnya dalam segala hal.

Selain menampilkan animasi yang eye-catching dan dinamis, The Mitchells vs. the Machines juga menyuguhkan jalan cerita yang hangat dan lucu sehingga bisa dinikmati oleh seluruh anggota keluarga. Tidak ragu lagi, film ini kami rekomendasikan untuk ditonton sekeluarga di rumah pada akhir pekan. Dijamin, kita semua akan terhibur dengannya. Play di Netflix sekarang juga ya!

The Mitchells vs. The Machines
Rating: 
4/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram