bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film The Matrix Revolutions (2003)

Ditulis oleh Dhany Wahyudi - Diperbaharui 23 September 2021

Zion, kota terakhir umat manusia, harus mempertahankan diri dari serangan besar-besaran para mesin, sementara Neo berjuang untuk mengakhiri perang dengan cara lain dan juga harus berhadapan dengan musuh besarnya, Agen Smith. The Matrix Revolutions menjadi penutup trilogi The Matrix yang dirilis hanya 6 bulan setelah The Matrix Reloaded, yaitu pada 5 November 2003.

Proses syuting dilakukan secara back-to-back dengan The Matrix Reloaded, sehingga memberikan hasil yang nyaris sama, tapi kali ini disajikan dalam skala yang jauh lebih besar, baik dari sisi cerita juga special effect. Film ini menjadi yang pertama memiliki jadwal rilis di bioskop dan teater IMAX secara bersamaan, dan berhasil meraup keuntungan yang sangat besar.

Dianggap mengecewakan oleh para kritikus dan penonton, apakah memang kualitas film ini berada di bawah dua film sebelumnya? Simak review kami untuk mengetahui tentang film yang sudah bisa ditonton ulang di Netflix ini lebih dalam.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun: 2003
  • Genre: Action, Sci-Fi
  • Produksi: Warner Bros. Pictures, Village Roadshow Pictures, NPV Entertainment
  • Sutradara: The Wachowski Brothers
  • Pemeran: Keanu Reeves, Carrie-Anne Moss, Laurence Fishburne

Neo terbaring dalam perawatan di kapal Hammer. Di situ juga dirawat kru kapal lain yang selamat, Bane. Sementara di dunia Matrix, Neo tersesat di sebuah stasiun kereta yang merupakan dunia transisi antara Matrix dengan dunia nyata. Neo bertemu dengan keluarga program yang menunggu kereta datang. Ketika Neo ingin masuk ke dalam kereta, dirinya ditolak oleh Si Masinis, anak buah Merovingian.

Atas petunjuk Oracle, Morpheus dan Trinity dibantu oleh Seraph menghadap Merovingian agar dia mau melepaskan Neo. Setelah dijemput oleh Trinity, Neo menghadap Oracle yang memberitahunya jika Agen Smith ingin menghancurkan dunia Matrix juga dunia nyata. Setelah Neo pergi, sepasukan Agen Smith merangsek ke dalam rumah Oracle dan berhasil mengubahnya menjadi Agen Smith.

Sementara itu di dunia nyata, kru kapal Nebuchadnezzar dan Hammer menemukan Niobe dan kru kapal Logos. Mereka berhasil menyalakan kembali kapal tersebut. Bane tersadar, tapi dia tidak bisa mengingat kejadian yang dialaminya sama sekali. Neo meminta satu kapal untuk dia bawa ke kota Mesin untuk mengikuti petunjuk yang diberikan Oracle. Niobe memberikan kapal Logos miliknya.

Trinity menemani Neo, sedangkan kru kapal lainnya membawa Hammer kembali ke Zion untuk menghadapi serangan para mesin. Dalam perjalanan, ternyata Bane berada di dalam kapal Logos dan menyerang Neo serta Trinity. Ternyata, Bane telah dirasuki oleh Agen Smith dan membuat mata Neo buta setelah menyetrumnya dengan kabel listrik. Tapi Neo berhasil membunuh Bane dengan ilmu barunya.

Di Zion, seluruh tentara dan rakyatnya bahu-membahu mempertahankan kota mereka yang diserang ribuan sentinel dengan persenjataan yang mereka miliki. Kalah dalam jumlah, Zion berada di ujung kehancuran. Kapten Mifune yang gugur mengamanatkan Kid untuk membuka gerbang agar kapal Hammer bisa masuk. Dia berhasil melakukannya dan Hammer meledakkan EMP yang membuat para sentinel mati.

Tapi ledakan itu berefek buruk pada pertahanan kota yang juga padam. Dengan tenaga dan persenjataan tersisa, mereka bersiap menyambut ribuan sentinel lagi dan sudah merasa jika ini adalah akhir dari kehidupan umat manusia. Sementara itu, Neo dan Trinity sampai di kota Mesin dan diserang oleh rudal dan sentinel. Kapal Logos jatuh dan membuat Trinity tewas. Neo menghadap “Deus Ex Machina”, pemimpin mesin. Neo memberitahu rencana Agen Smith dan menawarkan bantuannya dengan imbalan perdamaian antara mesin dan manusia. Sang Pemimpin setuju dan memasukkan Neo ke Matrix.

Neo langsung berhadapan dengan Agen Smith yang sudah memiliki kekuatan Oracle. Terjadilah pertarungan maha dahsyat di tengah derasnya hujan. Neo tergeletak tidak berdaya setelah mengeluarkan semua tenaga, jurus dan usahanya. Agen Smith mengubah Neo menjadi dirinya. Pemimpin Mesin mengirim sinyal penghapus melalui Neo yang menyebabkan seluruh Agen Smith meledak.

Tentara mesin meninggalkan Zion, Morpheus dan Niobe berpelukan, umat manusia bergembira dan Neo diletakkan tak berdaya oleh mesin. Sang Arsitek menemui Oracle di taman setelah Matrix di-reboot, dan mereka setuju dengan perdamaian ini. Seti dan Seraph menyusul Oracle di taman sambil menatap terbitnya mentari yang merupakan program buatan Seti.

Tampilan Special Effect dalam Skala yang Lebih Besar

Tampilan Special Effect dalam Skala yang Lebih Besar

Faktor utama ketertarikan kita dalam menonton The Matrix Revolutions adalah pameran special effect-nya. Kita dibuat penasaran dengan apa lagi yang bisa disajikan oleh Wachowski Bersaudara kali ini. Untuk faktor ini, mereka sama sekali tidak mengecewakan. Kita disuguhkan keajaiban rekayasa gambar komputer dalam skala yang lebih besar dan mencengangkan dari dua film sebelumnya.

Tunggu dulu! Apakah adegan dengan CGI ala video game di film sebelumnya masih ditampilkan? Ya masih, tapi dalam porsi yang sangat kecil sekali, dan selebihnya menampilkan banyak adegan pertarungan yang dilakukan oleh para aktornya. Percaya deh, kita pasti dibuat tercengang dengan betapa dahsyatnya pertarungan antara Neo dengan Agen Smith di dunia Matrix.

Di tengah hujan yang deras, pertarungan mereka terasa sangat dramatis. Ilmu kanuragan mereka saat beradu bisa membuat air hujan terhempas kemana-mana dan menimbulkan banyak ledakan dan kehancuran pada lingkungan sekitarnya, baik itu gedung dan juga jalan raya. Untung saja dunia Matrix saat itu sedang kosong, tanpa populasi sedikitpun. Bisa jadi warganya menjadi Agen Smith semua!

Tidak ada pertarungan sengit antara Neo dengan sekumpulan Agen Smith seperti di film sebelumnya, kali ini mereka bertarung satu lawan satu dengan disaksikan oleh sekelompok Agen Smith. Ilmu kanuragan Agen Smith mencapai batas maksimal kali ini setelah berhasil mengubah Oracle menjadi dirinya. Sepertinya dia satu padepokan dengan Naruto dan BoBoiBoy dalam menuntut ilmu memperbanyak diri.

Tidak hanya pertarungan Neo saja yang mencengangkan, tapi juga adegan ribuan sentinel menyerang Zion juga sangat mendebarkan dan patriotis. Rasanya memang tidak mungkin sentinel dalam jumlah besar dengan kecepatan dan keganasan seperti itu dikalahkan oleh manusia yang masih menggunakan robot yang dikendalikan manual oleh tentaranya.

Cerita yang Membingungkan

Cerita yang Membingungkan

Seperti yang kita tahu, trilogi The Matrix ini dipenuhi dengan referensi filosofi dari berbagai sumber. Untuk kali ini filosofi Hindu yang lebih dikedepankan dan banyak dinukil di beberapa adegan. Dengan ketinggian filosofi ini, cerita yang disajikan tidak terasa membumi, terlalu mengawang-awang, sehingga tidak membuat kita merasakan satu hal yang penting untuk kita simak, selain karena bingung tentunya.

Sisi penceritaan inilah yang menjadi titik terlemah The Matrix Revolutions. Jika The Matrix yang pertama penuh dengan ambiguitas yang membuat penasaran, justru harapan jawaban atas rasa penasaran itu tidak kita dapatkan dalam film ini dengan memuaskan. Film ini jatuh ke dalam jenis film yang murni menampilkan pertarungan antara pihak yang baik melawan pihak yang jahat.

Kita masih menerka, dunia yang manakah yang sebenarnya? Karena semua terlihat buram. Dari analisa yang bisa disimpulkan, bahwa cerita dalam film ini adalah imajinasi dalam sebuah sistem komputer yang terserang virus dan harus dibersihkan agar bisa berjalan normal kembali. Neo bukanlah “The One” yang pertama dan Agen Smith adalah salah satu dari “The One” tersebut.

Penutup yang Buruk dari Sebuah Trilogi

Penutup yang Buruk dari Sebuah Trilogi

Harapan tinggi yang dibebankan kepada The Matrix Revolutions ternyata tidak bisa dibalas dengan baik dan memuaskan oleh Wachowski Bersaudara. Dan membuat film ini menjadi penutup yang buruk untuk sebuah trilogi. Banyak celah cerita yang mengundang pertanyaan besar, contohnya apakah Neo tewas? Bagaimana bisa Oracle muncul lagi di akhir film, sedangkan dia terlihat terkapar di dunia Matrix?

Itu hanya beberapa pertanyaan yang masih tidak bisa dijawab hingga film berakhir. Mungkin karena alasan ketidakpuasan inilah, mereka membuat film keempatnya yang akan dirilis di akhir tahun 2021. Bagi yang kecewa karena film ini, sebaiknya kita tunggu bersama kehadiran film lanjutannya yang semoga bisa menjawab banyak pertanyaan dalam benak kita.

The Matrix Revolutions hanya diberikan rating 6,8 oleh IMDb dengan Metascore sebesar 47 saja dan menjadi satu-satunya film dalam trilogi ini yang tidak diberikan cap certified fresh oleh Rotten Tomatoes. Bisa dibilang, film ini adalah yang terburuk dari semuanya. Dari sisi penghasilan, untuk peredaran di Amerika saja film ini berhasil masuk box-office dengan pendapatan sebesar $139 juta.

Tapi angka itu belum bisa menutupi bujet produksi yang mencapai $150 juta. Untungnya jika ditotal dengan peredaran di seluruh dunia, film ini mengantungi pendapatan sebesar $427 juta. Tentunya, bagi penggemar Matrix dan film action pada umumnya, film ini tidak boleh dilewatkan begitu saja. Meski akan sedikit kecewa, semua terobati dengan pameran special effect yang dahsyat.

The Matrix Revolutions
Rating: 
2.7/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram