Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review The Mask of Zorro ‘The Legend Reborn’

Sinopsis dan Review The Mask of Zorro ‘The Legend Reborn’

Ditulis oleh - Diperbaharui 14 Oktober 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Zorro adalah karakter dongeng kepahlawanan yang diciptakan oleh penulis Amerika Serikat Johnston McCulley pada tahun 1919. Kisah pahlawan bertopeng dengan baju dan jubah serba hitam ini memiliki setting di California pada masa pendudukan Spanyol, sekitar tahun 1769-1821. Seperti apa kisahnya, kurang lebih, Zorro memiliki cerita layaknya kisah Robin Hood.

Arti dari kata Zorro sendiri berarti ‘fox’ dalam Bahasa Inggris, atau ‘rubah’ dalam Bahasa Indonesia. Pada tahun 1998, sutradara kawakan Martin Campbell mengangkat kisah sang pahlawan ke layar lebar. Dengan dibintangi oleh Antonio Banderas, Catherine Zeta-Jones, dan Anthony Hopkins, film ini diberi judul The Mask of Zorro.

22 tahun telah berlalu, sekarang film ini dapat kembali kita saksikan lewat jaringan Netflix. Sebelum kamu menyaksikannya, mari kita bahas film ini bersama-sama.

Sinopsis

Review The Mask of Zorro

  • Tahun rilis: 1998
  • Genre: adventure, action, drama
  • Produksi: TriStar Pictures, Amblin Entertainment
  • Sutradara: Martin Campbell
  • Pemeran: Anthony Hopkins, Antonio Banderas, Catherine Zeta-Jones, Stuart Wilson

Pada tahun 1821, Spanyol telah bersiap-siap untuk angkat kaki dari wilayah California yang akan menjadi kekuasaan Mexico. Namun rupanya, Don Rafael Montero, gubernur korup wilayah tersebut masih ingin mengucapkan ‘salam perpisahan’ pada rakyatnya. Juga, musuh bebuyutannya selama ini, yaitu sang pahlawan berjubah hitam yang tidak lain adalah Zorro.

Memanfaatkan rakyat jelata, Rafael berhasil memancing Zorro untuk menampakan dirinya. Sementara itu, kakak beradik Joaquin dan Alejandro Murrieta ingin menyaksikan kemunculan pahlawan mereka. Benar saja, Zorro muncul dan menyelamatkan tiga orang warga sipil yang nyaris saja mati karena hukuman tembak tanpa alasan yang jelas oleh Rafael.

Di saat-saat genting, Murrieta bersaudara membantu Zorro. Sang pahlawan kemudian menghadiahkan kalung peraknya pada Joaquin, karena ia dan adiknya berperan membantu menyelamatkan pahlawan mereka tersebut dari sebuah jebakan licik.

Kemerdekaan yang berhasil diraih oleh Mexico atas Spanyol, termasuk wilayah California saat itu, membuat Don Diego de la Vega (Anthony Hopkins) yang merupakan pria di balik kostum Zorro mengakhiri aksi kepahlawanannya itu. Namun, Rafael Montero (Stuart Wilson) sepertinya tidak mengizinkan lawannya untuk lolos begitu saja.

Rafael rupanya berhasil mengetahui siapa Zorro sebenarnya. Ia mendatangi rumah Diego, dan berusaha menangkap sang bangsawan. Namun hal tak terduga terjadi. Diego melakukan perlawanan sengit hingga mengakibatkan istrinya, Esperanza, tewas. Diego ditangkap, sementara putrinya yang masih bayi bernama Elena dibawa oleh Rafael.

20 tahun kemudian, Murrieta bersaudara telah menjadi bandit. Setelah melakukan aksi penipuan mereka harus berhadapan dengan Captain Harrison Love (Matt Letscher), seorang ranger yang berhasil melumpuhkan Joaquin (Victor Rivers), sementara Alejandro (Antonio Banderas) bersembunyi.

Hingga akhirnya, Joaquin yang masih mengenakan kalung pemberian Zorro memutuskan untuk melakukan aksi bunuh diri. Setelah dua dekade lamanya, Rafael yang selama ini berada di Spanyol kembali ke California, bersama Elena (Catherine Zeta-Jones). Ternyata, sang mantan gubernur tengah merencanakan sesuatu.

Ia bermaksud untuk mendirikan Republic of California. Dengan cara, memanfaatkan tambang emas yang berada di sana, dan ia akan membayarkan emas tersebut terhadap tokoh kemerdekaan Mexico, Jenderal Santa Anna. Karena Santa Anna tengah bersiap-siap untuk mengahdapi perang dengan Amerika.

Sementara itu, Diego berhasil meloloskan diri dari penjara. Ia kemudian bertemu dengan Alejandro, yang tengah mabuk, kemudian mengenali pria tersebut dari kalung yang ia kenakan. Karena sebelumnya, Alejandro mengambil lantas mengenakan kalung pemberian Zorro milik kakaknya tersebut setelah Captain Love memancung Joaquin.

Melihat Alejandro yang memiliki semangat dan ingin membalaskan dendamnya, Diego memutuskan untuk melatih pria tersebut agar dapat menjadi the next Zorro pengganti dirinya yang telah memasuki usia senja. Sang Zorro orisinil juga sangat ingin agar Elena, putrinya, mengetahui siapa dirinya sebenarnya.

Cerita dengan Unsur Historis

Cerita dengan Unsur Historis

Kita mesti mengakui, bahwa kisah dari The Mask of Zorro berjalan dengan sangat rapi. Meskipun film ini bisa dikategorikan sebagai sebuah film lama, tapi ceritanya begitu padat, dan mengalir dengan sangat baik. Alur yang disampaikan juga tidak bertele-tele dan memiliki plot yang ringan. Singkatnya, The Mask of Zorro memang hadir bak sebuah dongeng yang seru.

Uniknya, Martin Campbell dan tim yang mengerjakan naskah ini memutar balik kisah asli karya McCulley. Karena, dalam cerita aslinya Don Diego sebenarnya adalah putra dari Don Alejandro. Tapi di sini, Diego justru ‘mengangkat’ Alejandro dan melatihnya untuk menjadi Zorro.

Uniknya, Joaquin Murrieta adalah tokoh dalam dunia nyata. Menurut sejarah, Joaquin juga sebenarnya adalah seorang ‘Robin Hood’ yang beraksi di kawasan California pada tahun 1850-an. Ia kemudian tewas di tangan Harry Love, seorang California rangers.

Betul, dalam The Mask of Zorro, kita mengenal karakter Harry Love dalam wujud Harrison Love. Begitu juga Jendral Santa Anna yang namanya sering disebut, memang merupakan seorang tokoh kemerdekaan Mexico di dunia nyata dan pernah memimpin negara tersebut selama beberapa periode.

Dengan melibatkan tokoh-tokoh dunia nyata, tidak mengherankan memang jika ada sebagian orang yang menyangka, bahwa kisah dalam film ini diangkat dari peristiwa nyata. Nama-nama tersebut memang nyata. Tapi cerita Zorro tentu hanya fiksi belaka.

Laga yang Mengasyikan

Laga yang Mengasyikan

Zorro adalah sebuah dongeng kepahlawanan. Jadi, tentunya kamu berharap bahwa akan banyak adegan laga di dalamnya. Kamu tidak salah. The Mask of Zorro memang menyuguhkan banyak adegan laga yang terasa begitu terasa menyenangkan di mata, untuk film yang dirilis 20 tahun lalu.

Demi melakukan aksi menggunakan fencing sword, Antonio Banderas sempat berlatih bersama tim Olimpiade Spanyol. Jadi, tidak mengherankan jika saat menyaksikan film ini, kamu akan melihat bagaimana gerakan-gerakan sang aktor terlihat begitu luwes.

Yang membuat adegan laga dalam The Mask of Zorro begitu menghibur adalah, Martin Campbell yang terkenal akan film-film James Bond-nya juga memasukan unsur komedi slapstick. Misalnya, saat Alejandro menyusup ke markas tentara untuk mencuri kuda. Segala kehebohan yang terjadi rasanya seperti adegan dalam sebuah film kartun.

Ada juga aksi akrobat Zorro di atas kuda saat ia tengah dikejar-kejar oleh sekelompok tentara. Mereka yang menyaksikan film John Wick tentu menyaksikan bagaimana sang tokoh utama merobohkan lawan-lawannya seraya mengendarai motor.

Dalam film ini, Antonio Banderas juga tidak kalah epik dengan Keanu Reeves. Ia mengalahkan lawan-lawannya seraya beratraksi melompat dari atas kuda yang satu, ke kuda yang lain. Singkatnya, kita tidak akan ditinggalkan untuk menyaksikan dialog panjang antar pemeran. Tapi adegan laga film ini juga sungguh menghibur.

Serius Tapi Santai

Serius Tapi Santai

Komedi sepertinya adalah salah satu unsur utama yang disuguhkan para sineas The Mask of Zorro. Poster promonya memberi kesan misterius nan gagah, malah berkesan agak kelam memang sedikit membuat kita terkecoh. Film ini tidak seserius itu.

Banyak adegan-adegan kocak yang ditampilkan di dalamnya. Apalagi, seperti yang kita bahas sebelumnya, ada nuansa komedi slapstick dari adegan-adegan laga dalam film yang satu ini. Sehingga, tidak jarang akan membuat kita terkekeh, atau sekedar tersenyum.

Meski begitu, ada juga adegan-adegan yang terasa miris. Seperti saat Rafael menangkap Diego, maupun adegan di mana Joaquin Murrieta memilih untuk mengakhiri hidupnya sementara sang adik hanya bisa menyaksikan seraya bersembunyi di balik semak-semak. Lalu, tentu saja karakter Harrison Love yang bengis itu terlihat menyebalkan memang.

Dipadu dengan adegan laga yang menghibur tadi, The Mask of Zorro memang menjadi sebuah tayangan yang cukup berimbang. Ada drama ringan yang cukup serius, tapi juga suguhan humor segar.

Total running time-nya standar film-film Hollywood pada umumnya, 2 jam 16 menit. Tapi tidak akan terlalu terasa karena memiliki alur yang cepat dan unsur-unsur yang tadi disebutkan di dalamnya.

Setelah menyaksikan kembali, mungkin sudah saatnya Zorro bisa ditampilkan kembali di era milenial ini. Karena, berbeda dengan Robin Hood yang telah beberapa kali mendapat adaptasi ulang, hingga saat ini Zorro baru mendapat The Mask of Zorro dan sekuelnya, The Legend of Zorro. Atau mungkin, sedikit versi modernisasi dari Zorro. Batman? Iya, ada kemiripan memang.

Dari segi hiburan, tentu saja The Mask of Zorro layak untuk menjadi tontonan menyenangkan di waktu luang. Tidak ada plot twist yang membuat kita memutar otak atau tema kelam di dalamnya. Jadi, kalau kami mencari tayangan yang bisa disaksikan sambil memakan semangkuk mie instan atau sebelum tidur, film ini bisa jadi pilihan tepat.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *