bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film The Man from Toronto (2022)

Saat hendak berlibur dengan istrinya, seorang salesman salah masuk kabin dimana dia disangka sebagai pembunuh bayaran paling mematikan.

Kesalahan identitas ini membuat dia dan sosok asli pembunuh itu bekerja sama untuk menyelesaikan misi yang sudah dijalani. Ternyata mereka justru membongkar konspirasi terbesar dan pengkhianatan di tubuh organisasi yang menaunginya.

The Man from Toronto adalah film action comedy karya Patrick Hughes yang dirilis sebagai original film Netflix pada 24 Juni 2022.

Seharusnya film ini dirilis oleh Sony Pictures yang akan ditayangkan di bioskop, tapi kemudian hak penayangannya dibeli oleh Netflix.

Patrick Hughes sepertinya mengulangi formula duet canggung antara dua orang yang tidak saling mengenal dalam menuntaskan sebuah tugas.

Apakah ada hal baru yang ditampilkan dalam film The Man from Toronto ini? Simak reviewnya berikut sebelum menontonnya.

Baca juga: Butuh Hiburan? 10 Film Terbaik Kevin Hart Ini Boleh Dicoba!

Sinopsis

Sinopsis

Teddy adalah seorang instruktur olahraga sekaligus salesman di internet yang gagal menjual semua idenya. Dia pun gagal mendapat kepercayaan dari Marty, pemilik sasana tinju, untuk menjual ide terbarunya yaitu non-contact boxing.

Marty marah dan memecatnya karena membuat brosur sederhana saja Teddy banyak melakukan kesalahan sehingga membuatnya merugi.

Ingin membuat hari ulang tahun istrinya istimewa, Teddy membawa Lori ke tempat spa mewah untuk memanjakan diri. Sementara itu, dia mencari kabin untuk mereka menginap.

Karena tinta pada alamatnya buram, Teddy salah masuk rumah. Dipersilakan masuk, Teddy kaget karena dia berada di situasi interogasi. Rupanya mereka menunggu pembunuh terkenal yang misterius untuk melakukan kegiatan ini.

Di bawah perasaan takut dan kebingungannya, Teddy menyatakan diri sebagai sosok pembunuh terkenal itu dan melanjutkan interogasi.

Dengan kecerewetannya, dia berhasil mendapatkan informasi yang diinginkan. Tapi, kemudian FBI melakukan penggerebekan dan Teddy ditangkap.

Agen Lawrence dan Davis menjelaskan situasi yang terjadi dimana mereka sedang memburu seorang pimpinan militer Venezuela, Kolonel Marin, yang hendak melakukan pembunuhan kepada Presiden Venezuela.

Mereka berdua meminta Teddy untuk melanjutkan kesalahan identitas ini demi menyelesaikan tugas yang sangat penting bagi FBI.

Sementara itu, FBI mengutus salah satu agennya untuk menemani Lori dan temannya Anne selama kepergian Teddy. Hal ini membuatnya cemburu, karena agen yang dikirim ternyata tampan.

Teddy menemui istri sang kolonel, Daniela, yang menyuruhnya melanjutkan perjalanan ke Puerto Riko. Pesawat mereka dibajak oleh The Man from Toronto asli yang bernama Randy.

Dia membunuh seluruh orang yang mengawal Teddy. Randy lalu meminta Teddy melanjutkan misinya sebagai The Man from Toronto untuk menemui seseorang di sebuah konferensi teknologi. Randy melengkapi Teddy dengan peralatan interogasi khasnya, yaitu berbagai jenis pisau.

Mereka masuk ke ruang interogasi dimana Teddy diminta untuk mencari tahu sosok bernama Green dari empat orang yang ada. Setelah tidak sengaja melukai salah satunya dengan pisau, Green asli mengaku.

Randy lalu membunuh semua orang disitu, kecuali Green. Setelah menjelaskan keterlibatannya dalam pembuatan senjata mematikan, Randy memotong jempol Green.

Randy menghubungi The Handler. Mereka kemudian harus berhadapan dengan The Man from Miami yang berusaha merebut jempol Green dari mereka. Setelah pengejaran seru di dalam mal, jempol Green tetap ada di tangan Teddy.

Mereka kembali ke Amerika untuk menghadiri makan malam bersama Lori. Karena Lori membawa Anne, Teddy pun mengajak Randy yang canggung di depan wanita.

Tapi berkat obrolan yang santai, Randy merasa nyaman dengan Anne. Saat mereka berdansa, Teddy mengajak Randy lari karena melihat kedatangan The Man from Miami.

Terjadi perkelahian sengit dimana Teddy kemudian berusaha menembak The Man from Miami, tapi justru mengenai paha Randy. Jempol Green berhasil direbut lawan mereka tersebut.

FBI menyerbu tempat itu, membuat mereka berdua kabur dengan mengendarai mobil polisi. Mereka menuju Hotel Monarch tempat sang Kolonel berada untuk menghentikan rencana pembunuhan.

Teddy datang tepat waktu dan mengaku sebagai The Man from Toronto. Dia mengulur waktu sehingga FBI bisa menguasai gedung tersebut dan berhasil membekuk sang Kolonel. Namun Randy lari dengan membawa uang transaksi.

Teddy pulang ke rumah dengan perasaan sedih. Dia tidak mendapati Lori di rumah yang memutuskan untuk pergi dengan kereta.

Teddy mengejar ke stasiun tapi dihadang oleh The Man from Miami. Randy datang menyelamatkan dirinya. Tapi kemudian para pembunuh bayaran kiriman The Handler menghadang langkah mereka.

Tidak ada jalan lain bagi mereka selain meladeni serangan mendadak itu. Bisakah mereka menghentikan perlawanan para pembunuh profesional itu?

Apakah Teddy berhasil mengejar Lori sebelum dia naik ke kereta? Tonton terus keseruan film ini hingga selesai untuk mendapatkan jawabannya!

Duet yang Talentanya Tersia-siakan

Duet yang Talentanya Tersia-siakan

Secara individu, Kevin Hart dan Woody Harrelson adalah aktor dengan performa teratas di genre masing-masing. Kevin Hart adalah komedian yang terkenal dengan mulutnya yang cerewet dan celotehannya yang lucu.

Sementara itu, Woody Harrelson sangat powerful ketika berperan di dalam film-film dengan tema kriminal, seperti di Natural Born Killers (1994) yang mengatrol karir filmnya.

Merupakan ide yang bagus menduetkan mereka di film The Man from Toronto ini. Kevin Hart yang cerewet dengan Woody Harrelson yang dingin sepertinya akan banyak menjanjikan hal lucu dalam film berdurasi 1 jam 50 menit ini.

Tidak salah memang karena Kevin Hart tampil dalam performa yang biasa dia bawakan dalam karakter tipikal seperti di film-film sebelumnya.

Sosok seorang salesman yang belum menemukan jalan kesuksesan dengan ide-idenya tapi memiliki rasa percaya diri yang tinggi memang tepat dibawakan olehnya.

Dan, Kevin Hart menampilkannya secara konstan. Tapi ketika dipadukan dengan Woody Harrelson, tidak ada chemistry yang terpercik. Meski Woody Harrelson tampil tidak buruk, namun dia juga seperti kurang menghayati.

Tidak selayaknya aktor sekelas Woody Harrelson tidak bisa menampilkan akting canggung ketika bertemu wanita. Di adegan makan malam tersebut, dia tampil kaku dan hampa, sehingga perasaan canggung yang ada pada Randy tidak tersampaikan dengan baik.

Begitupun ketika harus melakukan adegan aksi. Tidak ada koreografi perkelahian yang memukau dan sebagian besar terlihat diperagakan oleh stuntman.

Premis Menarik yang Gagal Dieksekusi

Premis Menarik yang Gagal Dieksekusi

The Man from Toronto memiliki premis yang menarik dan bisa memancing tawa yang lebih segar. Kesalahan identitas di dunia kriminal dengan karakter utama yang dibawakan oleh Kevin Hart sepertinya sangat menjanjikan. Tapi sekali lagi, kita dibuat kecewa karenanya.

Di adegan pembuka, kita diperlihatkan bagaimana cara Randy melakukan interogasi yang efektif dengan penekanan psikologis dari kisah masa lalunya. Cukup mengesankan.

Lalu kita ditunjukkan bagaimana usaha Teddy untuk menjual produk-produk olahraga inovatif yang hanya berakhir dengan kegagalan. Juga cukup lucu.

Tapi ketika cerita mempertemukan mereka, tidak ada perpaduan yang bisa membuat kita menikmati kisah yang dipaparkan oleh Robbie Fox dan Chris Bremmer sebagai penulis naskahnya.

Cerita berjalan sesuai formula film action comedy seperti biasanya dimana semua pihak yang terkait dalam aksi dua tokoh utama film ini tampil tidak kompeten.

Selain itu, adegan aksinya juga terlihat biasa saja dan tidak mampu membuat kita kagum. Adegan ledakan banyak mobil di area parkir memang terlihat nyata, tapi karena editing yang tidak halus membuat kita gagal untuk terkesima.

Dan yang lebih absurd adalah ketika Teddy dan Randy terlempar keluar dari pabrik yang meledak. Mereka tidak terluka sedikitpun, seolah mereka adalah sosok superhero yang kebal.

Meninggalkan Banyak Celah dalam Cerita

Meninggalkan Banyak Celah dalam Cerita

Seperti yang sudah disinggung tadi, bahwa naskah film dengan sinematografi yang tidak istimewa ini terlalu formulaic. Selain itu, banyak celah dalam ceritanya yang cukup mengganggu.

Salah satunya adalah rasa percaya Lori kepada Teddy yang terlalu berlebihan. Memang peran istri adalah memotivasi suaminya agar tetap berusaha sekuat tenaga demi menafkahi keluarga.

Tapi rasanya ada yang janggal ketika Teddy diundang untuk presentasi di sebuah acara besar yang menjamu Lori dengan fasilitas eksklusif terpisah darinya. Sebelumnya kita tahu bahwa Teddy bilang bahwa idenya diterima oleh Marty, padahal yang terjadi adalah sebaliknya.

Yang perlu dipahami, bahwa sasana tinju milik Marty terlihat kecil dan berskala regional. Jadi cukup aneh jika Teddy bisa menghadiri acara besar karena ide yang diajukan ke Marty.

Lalu kehadiran karakter Anne hadir secara mendadak. Namanya tidak disebutkan sebelumnya dan dia hadir setelah Lori dibawah pengawasan FBI. Pastinya kita akan berpikir bahwa Anne adalah salah satu agen yang menyamar juga.

Karakter Anne tidak banyak mendapat ruang dan juga tidak begitu berpengaruh terhadap cerita. Sehingga menggunakan Kaley Cuoco yang sedang naik daun terasa sia-sia.

Dan harapan kita melihat lawan yang tangguh bagi The Man from Toronto bersiap dibuat kecewa. The Man from Miami yang menjadi lawan utama memang tangguh, gesit dan memiliki tingkah menyebalkan.

Tapi yang menjadi perhatian utama ialah The Man from Tokyo dan The Man from Moscow yang membuat kesan skala internasional ceritanya menjadi kental. Pembunuh dari Tokyo diperankan oleh aktor populer Jepang, Tomohisa Yamashita.

Kemunculannya dengan gaya seorang samurai cukup mengundang perhatian, tapi dia tidak sempat beraksi sama sekali karena langsung tewas ditabrak mobil.

Dan sosok pembunuh dari Moscow diperankan oleh juara UFC Oleg Taktarov yang menguasai bela diri Sambo dan Judo. Aksinya saat berkelahi di sasana tinju cukup mengesankan.

Dihadirkan dengan teknik long take seperti di film Extraction (2020), seharusnya adegan dengan pergerakan kamera yang dinamis ini terlihat seru. Tapi karena editing yang tidak begitu baik, adegan ini tampil biasa saja.

The Man from Toronto seharusnya bisa tampil lebih baik lagi dengan premis menjanjikan seperti ini, apalagi dengan kehadiran Kevin Hart dan Woody Harrelson sebagai pemeran utamanya.

Tapi komedi yang tidak begitu lucu dan adegan aksi yang tidak istimewa membuat kita banyak menelan rasa kecewa. Selain itu, tidak ada hal baru yang ditampilkan oleh film ini. Semua terasa tipikal dan klise.

Namun bagi yang hanya ingin menikmati waktu santai dengan menonton film aksi yang lucu, maka film ini bisa menjadi pilihan yang bijak. Kita tidak perlu berpikir rumit untuk mencerna jalan ceritanya yang ringan. Cukup duduk manis dengan camilan di tangan. Selamat menonton, ya!

The Man from Toronto
Rating: 
2/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram