bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review The Main Event, Menjadi Bintang WWE

Ditulis oleh Dhany Wahyudi - Diperbaharui 10 September 2021

Setelah menemukan topeng ajaib, seorang bocah berusia 11 tahun yang memiliki cita-cita menjadi pegulat profesional mengikuti sebuah kompetisi untuk menjadi bintang WWE berikutnya. The Main Event adalah original film Netflix yang mengangkat tema olahraga gulat dengan orientasi keluarga. Film yang menampilkan beberapa pegulat profesional WWE sebagai cameo ini dirilis pada 10 April 2020.

Gaung olahraga gulat WWE memang tidak akan pernah pudar dengan semakin banyaknya bintang-bintang baru bermunculan, juga dengan eksistensi mereka di dunia film yang membuat para pegulat ini keluar dari ring dan beraksi di layar lebar. Film ini menawarkan hiburan terbaru dari para pegulat profesional WWE bagi seluruh anggota keluarga dengan tema dan cerita yang absurd.

Formula apa yang ingin mereka tampilkan kali ini? Apakah pertandingan David melawan Goliath? Konsep from zero to hero? Dan yang paling penting, apakah film ini mampu menghibur seluruh keluarga? Simak review kami berikut ini sebelum menontonnya.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun: 2020
  • Genre: Action, Comedy, Family, Fantasy, Sport
  • Produksi: WWE Studios
  • Sutradara: Jay Karas
  • Pemeran: Seth Carr, Tichina Arnold, Keith Lee

Leo, usia 11 tahun, memiliki cita-cita untuk menjadi pegulat profesional WWE yang juga didukung oleh neneknya yang merupakan fans setia olahraga ini. Sedangkan ayahnya tidak begitu tertarik dengan olahraga tersebut dan sibuk mencari uang dengan dua pekerjaan dan hobinya mengotak-atik mobil. Leo memiliki dua sahabat di sekolah dimana mereka sering sekali dikerjai oleh murid lainnya.

Suatu hari sepulang sekolah, Leo dikejar oleh tiga murid yang biasa mengerjainya hingga Leo bersembunyi di sebuah gudang dari rumah yang sedang mengadakan open house. Leo menemukan sebuah topeng gulat yang sangat bau. Pemilik rumah mengizinkan Leo memiliki topeng itu. Leo kemudian mendaftarkan diri untuk mengikuti kompetisi gulat dengan hadiah $50 ribu untuk membantu pelunasan hutang ayahnya.

Saat memakai topeng itu, Leo memiliki kekuatan super. Selain itu suaranya menjadi besar dan kepribadiannya berubah menjadi seperti para pegulat WWE. Mencari informasi di Google, Leo menemukan bahwa topeng legendaris itu pernah dipakai oleh pegulat di masa lalu yang bisa menambah kekuatan pemakainya.

Leo nekat mencoba kekuatan itu saat menghadapi tiga murid bengal di sekolah, dan aksinya ini membuat Erica terkesan yang akhirnya menjadikan mereka berteman. Leo menghadiri audisi gulat dan berteman dengan Smooth Operator. Setelah melalui berbagai macam tes, Leo termasuk dari 16 pegulat yang masuk babak final dengan julukan Kid Chaos.

Pertandingan pertama dilewati dengan mudah dan Kid Chaos mulai dikenal serta disukai publik. Saat bersama teman-temannya di café, Leo menggunakan topeng Kid Chaos dan menggagalkan sebuah aksi perampokan. Popularitas Kid Chaos semakin meningkat dan menjadikannya sosok superhero lokal. Pertandingan berikutnya pun dengan mudah dilalui untuk menuju semifinal.

Leo membantu Erica mempersiapkan penampilannya di pentas seni sekolah dengan menjadi pasangan dance-nya. Saat ini, ketiga teman Leo dan neneknya sudah mengetahui identitas Kid Chaos sebenarnya. Di pertandingan semifinal, Kid Chaos harus berhadapan dengan Smooth Operator yang berhasil dia kalahkan dan siap bertemu Samson di partai final.

Leo menghadapi dilema saat dia harus melakukan koferensi pers, pemotretan dan jumpa fans padahal dia sudah harus menemani Erica di atas panggung. Walhasil, Caleb mendadak naik ke panggung dan secara mengejutkan menjadi pasangan dance yang serasi bagi Erica. Leo datang terlambat dan mengecewakan teman-temannya dengan sikap egois yang menyebalkan.

Leo dengan segera meminta maaf kepada teman-temannya. Saat menjelang pertandingan final, Samson dan manajernya menemui Leo di ruang ganti dan berhasil menukar topeng Kid Chaos. Pertandingan dimulai dan Leo menyadari jika dia tidak memiliki kekuatan super lagi ketika Samson membuang topeng aslinya yang tersangkut di atas jaring kawat.

Saat hendak mengambilnya, yang kemudian coba disusul Samson, ayah Leo menghampiri ring dan memberi tahu Leo bahwa Samson takut ketinggian. Tidak berapa lama Samson pingsan dan Leo berhasil memenangi pertandingan itu. Leo berhak mendapatkan hadiah tapi dia tidak bisa dijadikan superstar WWE karena usia yang masih sangat muda. Akhirnya Leo memilih penggantinya, yaitu Smooth Operator.

WWE untuk Keluarga

WWE untuk Keluarga

World Wrestling Entertainment (WWE) adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang hiburan berupa olahraga gulat yang telah lama berdiri, sejak tahun 1953. Sudah banyak pegulat yang dilahirkannya dan populer di seluruh dunia, bahkan beberapa diantaranya sukses menjadi bintang film. Oleh karena itu, untuk mengakomodir karir film para pegulatnya, perusahaan ini mendirikan WWE Studios.

Sejak era 2000an, studio ini mulai memproduksi film yang menampilkan para pegulat mereka sebagai pemeran utamanya. Kebanyakan filmnya bergenre action, tentu saja. Selain itu ada juga film-film bergenre komedi, dan baru belakangan ini mereka merambah ke wilayah film untuk keluarga. Salah satunya adalah lewat film Fighting with My Family (2019).

The Main Event bermaksud melanjutkan kesuksesan film tadi dengan menambahkan unsur fantasi agar lebih disukai oleh anak-anak usia 9-13 tahun. Tentu saja di usia tersebut, anak-anak lebih menyukai karakter superhero sebagai idolanya dan film ini mencoba merebut hati mereka dengan menampilkan karakter preteen dengan konsep zero to hero.

Naskah yang Klise

Naskah yang Klise

Tapi sayangnya, The Main Event tampil dengan cerita yang sangat klise tanpa ada hal baru yang disuguhkan. Mari kita cek bareng apa saja keklisean itu. Karakter berasal dari keluarga broken home? Ya! Sedang berada pada kesulitan finansial? Ya! Kekuatan super berasal dari sebuah benda? Dalam hal ini ialah topeng, sama seperti premis film The Mask (1994). Ya!

Karakter adalah anak yang kurang populer dan sering dikerjai? Ya! Dia kemudian membalas dengan aksi ala Spider-Man? Ya! Menarik perhatian gadis? Ya! Bersahabat erat dengan teman-temannya lalu mengecewakan mereka? Ya! Dia berhasil menjuarai kompetisi? Ya! Rasanya itu saja sudah cukup menggambarkan betapa film dengan durasi 1 jam 41 menit ini sangat stereotype.

Belum lagi ditambah dengan kesan absurd yang sangat luar biasa. Bagaimana bisa pihak WWE meloloskan anak kecil sebagai pesertanya? Apa ketika mendaftar tidak diminta memperlihatkan KTP? Padahal hadiah utamanya $50 ribu, lho! Secara fisik juga sudah terlihat dan sangat tidak mungkin dengan postur tubuh seperti itu bisa mengangkat lawannya yang berbadan jauh lebih besar darinya.

Apalagi ketika Leo dan neneknya menyadari jika topeng itu bau, mereka tidak mencucinya dan Leo terus memakainya dengan menahan nafas saat mulai memasangkan topeng itu di kepalanya. Memang sih ini cerita fantasi, tapi setidaknya perlu diperhatikan juga kedetailan ceritanya, supaya bisa sedikit masuk akal, tidak terlalu mengawang-awang.

Selain itu, jika memang film ini untuk keluarga, rasanya tidak pantas menampilkan sosok Leo dengan alter-ego sebagai Kid Chaos yang berceloteh dengan bahasa kasar khas para pegulat WWE. Ini cukup menyebalkan. Pesan yang ingin disampaikan film ini nyatanya hampir menyalahi cita-cita anak yang ingin menjadi pegulat profesional.

Dengan menghadirkan topeng ajaib yang bisa memunculkan kekuatan super, bisa mengurangi motivasi si anak. Mereka pastinya hanya ingin berpikir instan tanpa proses. Tapi untungnya, di akhir film kita diperlihatkan jika Leo membuang topeng itu dan memulai cita-citanya dengan belajar gulat secara benar di sekolah. Jadi semua aman, ya!

Hanya Khusus bagi Fans Setia WWE

Hanya Khusus bagi Fans Setia WWE

Bagi kalian yang merupakan fans setia WWE, maka film ini wajib ditonton, apalagi menghadirkan beberapa pegulat populer sebagai cameo, antara lain Kofi Kingston, Sheamus dan The Miz. Tapi sayangnya, adegan-adegan pertarungan di atas ring tidak dibesut dengan lebih baik, semua biasa saja, bahkan beberapa diantaranya sangat komikal. Kehadiran empat sinematografer seolah tidak berarti.

Selain itu, performa akting para pemerannya tampil biasa saja, tidak ada satupun yang menonjol. Jadi, The Main Event memang tidak memberikan hal baru untuk genre film keluarga dan merupakan follow-up yang buruk dari WWE Studios atas Fighting with My Family, tapi setidaknya film ini masih memiliki beberapa adegan humor yang lucu, meski tidak banyak. Pilihan ada di tangan kalian, nonton atau tidaknya.

The Main Event
Rating: 
2.5/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram