bacaterus web banner retina
Bacaterus / Review Film / Sinopsis & Review Film Thriller The Lighthouse (2019)

Sinopsis & Review Film Thriller The Lighthouse (2019)

Ditulis oleh Aditya Putra - Diperbaharui 1 Juni 2021

Ada sebuah ungkapan yang bilang kalau kita nggak perlu waktu lama untuk mengenal karakter seseorang. Kita cuma menghabiskan waktu beberapa hari hanya bersamanya. Karakter yang baik dan buruk akan muncul dengan sendirinya. Di situ kita bisa menilai seberapa jauh hubungan dengan orang tersebut harus dibangun. Apakah cukup hanya menjadi teman atau lebih dari itu?

Dua orang pria ditugaskan untuk menjadi penjaga mercusuar dalam waktu yang nggak sebentar. Kebersamaan itu justru memunculkan karakter mereka sebenarnya, bahkan menjadi sesuatu yang mengerikan. Itulah yang terjadi di film The Lighthouse. Bagaimana sinopsis dan reviewnya? Mari kita kupas lebih dalam.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun Rilis: 2019
  • Genre: Psychological Horror, Thriller
  • Produksi: A24, Regency Enterprises, RT Features
  • Sutradara: Robert Eggers
  • Pemain: Robert Pattinson, Willem Dafoe, Valeriia Karaman, Logan Hawkes

Ephraim Winslow setuju untuk bekerja selama sebulan sebagai penjaga mercusuar di lepas pantai New England. Tempat mercusuar itu terpencil sehingga mengharuskannya hidup terisolasi. Dia akan bekerja dengan penjaga mercusuar lain, Thomas Wake. Wake yang punya pengalaman panjang sebagai penjaga mercusuar diharapkan bisa membimbing Winslow yang masih hijau.

Sesampainya di pulau terpencil, Wake langsung mengantar Winslow menuju kamar. Kamar itu merupakan satu-satunya kamar yang bisa ditinggali sehingga mereka harus tidur bersama. Di dalam kasur, Winslow menemukan sebuah patung putri duyung. Dia kemudian menyimpannya tanpa sepengetahuan Wake.

Sebagai senior, Wake mempergunakan posisinya untuk menyuruh Winslow mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat. Sementara Wake hanya mendapat tugas memasak serta menjaga ruang atas mercusuar. Winslow ingin masuk ke ruangan itu, tapi Wake melarang. Wake menyatakan menjaga lampu mercusuar di ruangan atas merupakan tugasnya dan nggak bisa diganggu gugat.

Winslow menaruh curiga pada Wake yang pada malam hari sering pergi ke ruangan atas. Di tengah tekanan dari Wake untuk mengerjakan tugas yang menguras tenaga, Winslow mulai berhalusinasi. Dia mulai melihat berbagai bayangan mulai dari monster laut, kayu yang mengambang di lautan, sampai sosok putri duyung.

Diam-diam Winslow mulai menyelidiki perilaku aneh Wake. Wake mengingatkan Winslow agar nggak membunuh burung camar yang sering hinggap di sekitar mercusuar. Bagi Wake, burung-burung camar itu merupakan reinkarnasi dari para pelaut. Kalau burung camar itu dibunuh, maka akan mendatangkan kesialan.

Wake selalu mabuk-mabukan setelah makan malam. Sementara Winslow selalu menolak ketika diajak untuk mabuk. Pendiriannya luluh sebagaimana masa kerjanya yang akan habis. Mereka berdua kemudian minum sampai mabuk. Winslow secara nggak sadar mengaku bahwa dia dulunya bekerja menebang kayu di Kanada.

Sehari sebelum Winslow dijemput, dia menemukan burung camar yang sudah mati serta mayat di tempat penangkapan lobster. Dia kemudian diserang oleh seekor burung camar bermata satu. Merasa marah, dia balik menghabisi burung tersebut. Tiba-tiba arah angin berubah total dan badai datang menerjang tempat tinggalnya.

Pada malam Winslow seharusnya dijemput, kapal nggak muncul juga. Dia dan Wake menghabiskan malam dengan mabuk-mabukan. Pagi harinya, badai menghantam tempat tinggal mereka. Persediaan makanan mulai menipis. Wake bilang penjemputan ke wilayahnya seringkali gagal karena cuaca buruk. Bahkan rekannya pernah menunggu selama tujuh bulan.

Keesokan harinya, Winslow dan Wake kembali mabuk-mabukan. Winslow mengaku bahwa dirinya adalah Thomas Howard. Winslow adalah nama orang yang dia habisi. Karena menggunakan nama asli akan membuatnya sulit mendapat pekerjaan, Thomas mengaku namanya sebagai Winslow. Merasa nggak tahan lagi, Winslow mencoba melarikan diri dengan menggunakan perahu.

Untuk sampai di pulau lain membutuhkan waktu berminggu-minggu. Wake merusak perahu itu dan memburu Winslow. Wake berhasil menyudutkan Winslow dan mengatakan bahwa Winslow bermasalah mentalnya. Menurut Wake, Winslow yang merusak perahunya sendiri. Siapakah yang sebenarnya mengatakan kejujuran? Wake atau Winslow?

Visualisasi Nyentrik

Visualisasi Nyentrik

The Lighthouse secara berani muncul dengan tampilan eksentrik. Hanya menggunakan warna hitam putih sepanjang film serta menggunakan aspek rasio 1.19:1. Dengan mengambil latar akhir abad ke-19, penggunaan warna hitam putih dan aspek rasio itu bisa dibilang berhasil memberi sajian lengkap seakan-akan kita sedang menonton film jaman dahulu.

Di segi sinematografi, film ini juga berhasil menyuguhkan nuansa kesunyian terperangkap di tempat yang terisolasi. Kamera akan bergerak dengan lambat untuk menangkap berbagai interior di dalam ruangan. Kemudian berganti menyoroti karakter Winslow dan Wake yang banyak melakukan dialog, baik yang penting maupun nggak begitu penting.

Jarin Blaschke merupakan orang di balik sinematografi The Lighthouse. Film ini menjadi kerja sama keduanya bersama sang sutradara, Robert Eggers, setelah The Witch. Kehebatan Blaschke ini nggak luput dari perhatian. Dia berhasil masuk nominasi di Academy Award untuk kategori Best Cinematography.

Penampilan Gemilang Robert Pattinson dan Willem Dafoe

Penampilan Gemilang Robert Pattinson dan Willem Dafoe

The Lighthouse memberi porsi seluruh cerita pada Robert Pattinson dan Willem Dafoe. Pattinson berperan sebagai Ephraim Winslow/Thomas Howard sedangkan Willem Dafoe berperan sebagai Thomas Wake. Keduanya bisa memberikan penampilan mumpuni dalam menciptakan sebuah psychological horror yang berat.

Pattinson berhasil memerankan karakter Winslow/Howard. Di satu sisi, kita akan melihat bagaimana dia menjadi orang yang lebih menahan amarah walau terus terganggu oleh ulah Wake. Dia kemudian menjadi buas ketika pikirannya terganggu oleh rutinitas. Di sisi lain, dia bisa menampilkan sosok pria yang gelisah dan rapuh karena kebingungan harus berbuat apa.

Dafoe dengan reputasi menterengnya terlihat bisa memerankan karakter Wake dengan natural. Dia bisa menjadi Wake yang doyan minum-minuman keras, melempar candaan a la British, menggerutu sampai mengatakan sumpah serapah. Untuk urusan tersebut, Dafoe berhasil melakukannya dengan aksen yang nyaris sempurna.

Satu hal yang membuat penampilan Pattinson dan Dafoe spesial di film ini adalah kepiawaian mereka ketika cerita berubah 180 derajat. Dari adegan cekcok atau bertengkar, bisa menjadi ngobrol kasual berdua. Hal itu didukung dengan kehebatan kedua aktor yang piawai membawa emosi kita ikut naik-turun.

Bermain di Area Abu-Abu

Bermain di Area Abu-Abu

Area abu-abu sudah dimainkan sejak film dimulai. Winslow/Howard yang kehilangan akal sehatnya melakukan tindakan-tindakan aneh, seperti masturbasi sambil memegang boneka putri duyung serta berhalusinasi melakukan hubungan seks dengan putri duyung. Sementara Wake cenderung digambarkan menjadi antagonis dengan banyak memerintah.

Dari pertengahan menuju akhir film, area abu-abu menjadi semakin pekat. Kita nggak bisa lagi menentukan karakter protagonis atau antagonis, keduanya kehilangan akal sehatnya. Winslow/Howard ingin segera keluar dari pulau serta ingin menyibak misteri di ruangan atas mercusuar. Sedangkan Wake diam-diam menulis laporan buruk tentang Winslow/Howard.

Bermain di area abu-abu bukan hanya menjadi sajian utama dalam The Lighthouse. Ada banyak ambiguitas yang disuguhkan sepanjang film. Dengan akal yang sudah terganggu, kita dibuat kesulitan untuk membedakan ketika karakter berhalusinasi atau memang melakukan tindakan tertentu di kehidupan nyata.

The Lighthouse berjalan dengan tempo pelan, tanpa jumpscare sama sekali. Hal itu digantikan oleh dialog serta tindakan-tindakan yang mencerminkan bagaimana terganggunya dua orang yang harus hidup bersama dalam waktu tertentu.

Oleh karena itu juga, film ini merupakan film horror yang spesial. Rasakan sendiri sensasinya, lalu bagikan pendapatmu di kolom komentar, teman-teman!

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram