bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review The Last Black Man in San Francisco (2019)

Ditulis oleh Dhany Wahyudi
The Last Black Man In San Fransisco
4.1
/5

Seorang pria muda menghadapi kerasnya kehidupan di kota San Francisco dan hidup menumpang di rumah sahabatnya. Dia sangat mencintai rumah masa kecilnya yang kini sudah dimiliki oleh orang lain. Ketika penghuni rumah itu pindah, dia pun mengisi dan memperbaiki rumah itu tanpa izin. Masalah menjadi pelik ketika fakta tentang siapa pendiri rumah itu terkuak.

The Last Black Man in San Francisco adalah film drama tentang efek gentrifikasi pada warga kelas menengah di Amerika. Film ini dirilis secara limited oleh A24 pada 7 Juni 2019 setelah sebelumnya tayang perdana di Sundance Film Festival pada 26 Januari 2019. Bahkan sutradara Joe Talbot meraih penghargaan sebagai Best Director di ajang film indie internasional itu.

Film yang merupakan semi-autobiography dari tokoh utamanya ini termasuk ke dalam salah satu film indie terbaik di tahun 2019, bahkan kabarnya juga menjadi salah satu film favorit Barack Obama. Sebagus itukah film ini? Simak review berikut sebagai pengantar sebelum menontonnya.

Sinopsis

the-last-black-man-in-san-fransisco-1_
  • Tahun: 2019
  • Genre: Drama
  • Produksi: A24, Longshot Features, Plan B Entertainment
  • Sutradara: Joe Talbot
  • Pemeran: Jimmie Fails, Jonathan Majors

Jimmie Fails dan Mont Allen adalah dua sahabat yang kesehariannya mereka lalui dengan bekerja serabutan demi bisa hidup dan mewujudkan impian mereka. Sore itu Jimmie dan Mont menunggu bis di pinggir jalan sambil menyaksikan khotbah seorang pendeta yang memprotes pemerintah tentang pencemaran air di daerah itu. Karena bis tidak juga lewat, mereka berdua menaiki skateboard.

Jimmie mulai mengecat jendela rumah yang dulunya adalah milik kakeknya dan dia pernah tinggal disana. Ketika ketahuan oleh pemilik rumah, Jimmie diusir meski dia masih bertekad untuk menyelesaikan pekerjaannya di lain hari. Mont terheran-heran dengan obsesi sahabat terhadap rumah yang berada di lingkungan elite di salah satu daerah di San Francisco itu.

Ketika mereka mengunjungi rumah itu lagi, mereka melihat pemilik rumah itu pindah karena ibunya wafat dan dia bertengkar dengan adiknya karena masalah warisan. Mereka mengunjungi kantor realtor yang baru tahu tentang informasi ini dan bilang jika harga rumah itu pasti tinggi sehingga tidak akan mudah untuk dibeli dalam waktu dekat.

Jimmie dan Mont masuk dengan sembunyi-sembunyi ke rumah itu dan mereka memeriksa semua ruangan yang mengembalikan kenangan masa kecil Jimmie. Dengan kosongnya rumah itu, Jimmie memiliki ide untuk tinggal di rumah tersebut dan mengambil seluruh perabot rumah miliknya yang dititipkan di rumah bibi Wanda.

Suatu malam Mont mengundang Kofi, seorang preman jalanan, ke rumah sebagai sumber karakter bagi drama yang sedang ditulisnya. Tapi keesokan harinya ketika Jimmie membantu Mont membawa barang-barangnya untuk pindah ke rumah baru, Kofi menghina mereka dan menyinggung perasaan Jimmie dengan menghina ayahnya. Tapi Jimmie hanya membalas dengan ucapan dan berusaha tidak peduli.

Suatu hari mereka pulang sambil membawa bunga untuk ditanam di taman, mereka menemukan pemilik rumah yang lama duduk di teras rumah. Mereka pun pergi ke rumah Mont untuk sementara. Di dalam perjalanan, tidak diduga Jimmie bertemu dengan ibunya yang sudah beberapa bulan ini kembali ke San Francisco. Meski canggung, ibu Jimmie berjanji akan menyambanginya di rumah barunya itu.

Jimmie merasa tidak nyaman tinggal di rumah Mont yang sempit dan segera kembali ke rumah bekas milik kakeknya itu. Ternyata perabotan mereka dikeluarkan dari rumah dan diletakkan di pinggir jalan oleh realtor, orang yang pernah mereka tanyai sebelumnya. Merasa dikhianati, Jimmie memasukkan semua perabotan kembali ke dalam rumah, sementara Mont pergi ke kantor realtor.

Mont diberikan sebuah dokumen yang menyatakan jika rumah yang mereka tempati itu bukan dibangun oleh kakeknya Jimmie di tahun 1940-an, melainkan dibangun pada tahun 1850-an dan sudah dijual oleh ayah Jimmie kepada bank sebagai ganti pelunasan hutangnya.

Mont kemudian mulai menulis naskah untuk pentas drama setelah terinspirasi kematian Kofi yang tewas ditembak di jalan. Jimmie membantunya dengan menyebarkan iklan dan undangan pentas yang akan digelar di rumah mereka. Di hari H, semua undangan datang, termasuk ayah Jimmie dan rekan-rekan Kofi. Mont memulai pentas yang diperankan hanya olehnya sendiri.

Semua hal yang menjadi inspirasinya ditampilkan, mulai dari isu sosial dan lingkungan hingga peristiwa penembakan Kofi serta respon orang-orang di media sosial setelahnya. Mont juga meminta respon secara langsung dari para penonton, salah satunya Jimmie. Saat Jimmie selesai memberikan responnya, Mont membuka fakta bahwa rumah ini tidak dibangun oleh kakeknya Jimmie.

Jimmie marah dan disusul oleh para penonton yang berangsur-angsur pergi. Akankah persahabatan Jimmie dan Mont terjalin kembali? Bagaimana status rumah itu setelahnya? Jika ingin tahu jawabannya, maka tonton sampai habis film dengan cerita yang menarik ini, ya!

Tampilan San Francisco yang Intim

the-last-black-man-in-san-fransisco-2_

Sebagai penduduk asli San Francisco (informasinya adalah generasi kelima), Joe Talbot menampilkan kota kecintaannya dengan sangat baik, detail, dan terasa sangat intim. Talbot sangat tahu harus dimana lokasi syuting dilaksanakan dan bagaimana menempatkan kamera supaya semua detail itu bisa ditangkap dan bercerita di dalam layar.

Kesan lusuh dan kusam salah satu kota terkenal di Amerika ini, ditampilkan dengan beberapa sentilan yang mampu menarik minat kita untuk kemudian mencari informasi tersebut di internet. Salah satu yang mengundang perhatian ialah lokasi rumah bergaya Victorian yang menjadi kecintaan Jimmie, yang disebutkan berada di daerah Fillmore.

Setiap lokasi yang ditampilkan cukup memukau, apalagi dipoles dengan sinematografi yang mempercantik tampilan kerusuhan kota. Dermaga yang kering, padang rumput indah menuju rumah bibi Wanda, dan tentu saja lingkungan sekitar rumah di Fillmore, terlihat sisi indahnya dibalik kekusaman yang tampak.

Terinspirasi dari Kisah Nyata Fails dan Talbot

the-last-black-man-in-san-fransisco-3_

Joe Talbot dan Rob Richert menulis naskah yang padat dan lambat serta penuh emosi. Apalagi diperankan oleh Jimmie Fails sendiri dimana cerita film ini berdasarkan dari salah satu fase dalam hidupnya. Fails dan Talbot adalah sahabat karib yang tumbuh dan besar bersama di San Francisco. Bisa diasumsikan bahwa karakter Mont adalah perwujudan dari sosok Talbot dalam kehidupan nyata.

Tidak ada keraguan jika film ini memiliki jiwa di dalam ceritanya. Kita dapat merasakan penderitaan dan kecintaan Jimmie kepada rumah masa kecilnya ini. Hingga akhirnya dia sangat yakin jika rumah itu dibangun oleh kakeknya pada tahun 1940-an, bukan dibangun pada era 1850-an seperti yang dipaparkan oleh seorang pemandu tur.

Mont yang mengetahui fakta sebenarnya, memiliki cara yang unik untuk membongkar kebohongan sahabatnya. Tapi sikapnya ini bukan untuk menjatuhkan. Justru niatnya agar Jimmie bisa keluar dari kebohongannya dan memperbaiki hidupnya. Konflik tak terduga inilah yang menjadi momen mengejutkan dari film berdurasi 2 jam 1 menit ini.

Pesan Sosial yang Menyentuh

the-last-black-man-in-san-fransisco-4_

The Last Black Man in San Francisco mengusung tema sosial yang cukup banyak dan padat terkait kehidupan warga Afrika-Amerika disana. Kehidupan mayoritas dari mereka hidup di bawah garis kemiskinan, hingga membuat ayah Jimmie menjual rumah itu dan tinggal di penampungan. Disini, diperlihatkan juga salah satu teman ayah Jimmie yang tinggal di dalam sebuah mobil, tanpa memiliki rumah.

Kesulitan ekonomi yang membuat mereka terpinggirkan dari pusat kota, menjadi tema utama film dengan tempo yang lambat ini. Talbot dengan apik memperlihatkan satu-persatu efek dari gentrifikasi, salah satunya kesulitan memiliki rumah dan tingkat kriminalitas yang tinggi. Tapi meski begitu, mereka sangat mencintai kota ini dan tidak rela jika ada pendatang yang menilai jelek San Francisco.

The Last Black Man in San Francisco memang bukanlah film yang bisa dicerna dengan mudah. Butuh waktu untuk bisa mengerti arah cerita melalui adegan-adegan yang seolah tanpa arah di setengah awal film. Tapi setelah kita berhasil memahaminya, kita pun akan bisa menikmati dan mulai memahami pesan yang ingin disampaikan oleh film ini.

Lewat film ini pula, Joe Talbot yang baru pertama kali menyutradarai sebuah film feature, langsung disebut-sebut sebagai sutradara brilian dengan potensi masa depan yang cerah. Apalagi dia berhasil menyabet penghargaan Best Director di Sundance Film Festival. Detail dan keintiman kisah yang dipaparkan menjadi kekuatan utamanya dalam mengarahkan film ini.

Tentu saja film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton, terutama bagi fans film-film indie yang biasanya memiliki cerita yang kuat dan mendalam dengan penyampaian yang unik dan anti-mainstream. Dijamin kamu tidak akan menyesal menontonnya. Film ini sudah tersedia di Netflix, ya!

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram