Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis & Review The Kissing Booth (2018), Rom-Com Remaja

Sinopsis & Review The Kissing Booth (2018), Rom-Com Remaja

Ditulis oleh - Diperbaharui 9 November 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Seorang siswi SMA dipaksa untuk menghadapi pencinta rahasianya di bilik ciuman. Icon 1980an, Molly Ringwald, turut membintangi film romantis yang merupakan adaptasi dari novel best-seller karya Beth Reekles yang diterbitkan di tahun 2012 saat usianya 15 tahun.

The Kissing Booth adalah original film Netflix yang dirilis pada 11 Mei 2018 dan langsung menjadi populer berkat penayangannya di seluruh dunia, meski banyak kritikus membenci film yang bertemakan cinta dan persahabatan remaja ini. Cerita yang simple dengan beberapa adegan dan dialog yang klise mewarnai sebagian besar film dengan seting lokasi di Los Angeles ini.

Berikut ini kami akan ulas film yang mengumbar gaya hidup remaja kota besar Amerika dengan berbagai macam pesta dan gaya hidup mewah yang juga menjadi nominator di Kids’ Choice Awards.

Sinopsis

The Kissing Booth (2018)

*https://www.imdb.com/title/tt3799232/mediaviewer/rm1094143232

  • Tahun: 2018
  • Genre: Comedy / Romance
  • Produksi: Komixx Entertainment
  • Sutradara: Vince Marcello
  • Pemeran: Joey King, Jacob Elordi, Joel Courtney

Elle (Joey King) dan Lee (Joel Courtney) adalah sahabat yang lahir di waktu yang sama dan tumbuh layaknya anak kembar. Ibu mereka pun adalah sahabat sejak kecil. Di awal film, Elle menceritakan sinopsis hidupnya dari lahir hingga saat ini secara ringkas dan padat dengan mood yang naik dan turun, termasuk cerita tentang mendiang ibunya. Cukup informatif!

Elle dan Lee sangat menggandrungi arcade game Dance Dance Revolution, yang memang disukai pula oleh para remaja sedunia di sekitar akhir 2000an hingga awal 2010an. Diam-diam, Elle selalu memperhatikan kakak Lee, yaitu Noah (Jacob Elordi), yang gagah dan misterius. Noah selalu melindungi Elle di sekolah dari godaan para siswa, bahkan tidak segan untuk berkelahi karenanya.

Seperti di hari pertama sekolah setelah libur musim panas, celana seragam Elle sobek dan celana gantiannya masih di laundry semua, yang ada hanya rok seragam yang sudah sangat pendek. Akibatnya, semua mata siswa memandang ke arahnya dan salah satunya menyentuh pantatnya. Tentu saja, Noah langsung memukul siswa itu, dan mereka bertiga mendapat hukuman dari kepala sekolah.

Dari siswa yang dipukul Noah itulah Elle tahu jika ternyata Noah melarang semua siswa di sekolah untuk mendekati Elle, apalagi dengan maksud merayunya. Elle dan Lee membuat “bilik cium” untuk acara penggalangan dana sekolahnya. Awal pembukaan, bilik mereka langsung dipenuhi oleh teman-teman sekolahnya dan membuat antrian yang panjang.

Elle bilang kepada trio OMG jika Flynn akan hadir. Yang mereka harapkan adalah Noah, bukan Lee. Tetapi justru Lee yang berada di bilik dan membuat mereka kecewa. Karenanya, mereka mengerjai Elle untuk berada di bilik. Dan ternyata siswa yang seharusnya berada di antrian terdepan justru memberikan tiketnya kepada Noah yang baru saja datang ke situ.

Tentu saja, akhirnya yang dicium Elle adalah Noah. Setelah acara selesai, Noah menawarkan untuk mengantar Elle pulang. Meski Elle awalnya menolak, tapi ketika hujan turun, Elle menerima tawaran Noah. Saat hujan semakin deras, mereka berteduh di sebuah taman yang ternyata taman itu sering dikunjungi Noah bersama gadis-gadis yang menyukainya.

Di sebuah pesta pantai, seorang siswa menggoda Elle lagi dan membuat Noah marah. Untuk menenangkan hati Elle, Noah mengajaknya ke bukit Hollywood. Mereka kemudian memutuskan untuk berpacaran dengan syarat tidak boleh ada orang lain yang tahu, untuk sementara, sampai Elle menemukan cara untuk memberi tahu hubungan mereka kepada Lee.

Suatu hari, Elle membantu Noah memperbaiki motornya dan pipinya terluka karena terjatuh di garasi. Saat mengobati luka Elle di kamar Noah, Lee masuk ke kamar Noah dan kaget. Kemudian Lee menyangka jika Noah memukul Elle. Mencoba menjelaskan kepada Lee, Elle berusaha menahan Noah untuk membuka hubungan mereka saat itu, tapi Lee mengetahuinya saat mereka berciuman.

Mereka bertiga kemudian seperti hidup masing-masing tanpa pernah bertemu dan berbicara. Elle memberikan ice cream cone kepada Lee sebagai permintaan maaf, tapi Lee membuangnya. Noah menghilang dan bolos dari sekolah, tapi kemudian datang kepada ayahnya Elle untuk meminta maaf. Elle dan Lee kemudian baikan setelah bermain Dance Dance Revolution bersama lagi.

Di malam pesta prom, Elle datang bersama Lee dan Rachel. Pesta meriah itu menggambarkan setahun perjalanan sekolah mereka dan disana berdiri juga bilik cium yang populer bagi mereka. Lee tentu saja mengundang Rachel ke bilik, dan dari balik bilik Noah muncul. Elle terkejut sekaligus marah kepada Noah karena hubungan mereka membuat dirinya dijauhi orang-orang yang dia sayang.

Meski Noah sudah menyatakan cinta di depan orang banyak, Elle tetap pergi dari tempat itu. Di pesta ulang tahun mereka, Elle berterus terang kepada Lee tentang perasaannya kepada Noah yang berhubungan dengan persahabatan mereka. Lee mengerti dan bersedia membantu Elle mendapatkan Noah yang sudah dalam perjalanan ke bandara.

Ketika Elle mengendarai mobil, dia mengira jika yang disebelahnya adalah Lee dengan kostum Batman, tapi ternyata itu adalah Noah. Mereka kemudian memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama sebelum Noah berangkat ke Boston untuk kuliah. Saat perpisahan di bandara, Elle meminta kepada Noah untuk tidak menatap balik kepada dirinya. Kemudian Elle pulang mengendarai motor Noah.

Kisah Remaja yang Klise

Kisah Remaja yang Klise

*https://www.imdb.com/title/tt3799232/mediaviewer/rm2637450496

Apa yang diharapkan dari cerita yang ditulis oleh remaja berusia 15 tahun? Tentu saja rangkuman dari cerita-cerita romantis yang pernah ada dengan plot dan dialog imajinatif yang tidak konstan. Alur cerita The Kissing Booth banyak kemiripan disana-sini dengan film sejenis, antara lain Never Been Kissed (1999), Mean Girls (2004), 10 Things I Hate About You (1999), dan Pretty in Pink (1986).

Bahkan aktris utama di Pretty in Pink pun, Molly Ringwald, dihadirkan di film ini sebagai ibu dari Noah dan Lee sebagai penguat nostalgia keklisean cerita romantis remaja ini. Tapi apakah kehadiran Molly Ringwald berpengaruh? Jika karakternya tidak ada pun, cerita film ini akan terus berjalan.

Motivasi Cinta Elle

Motivasi Cinta Elle

*https://www.imdb.com/title/tt3799232/mediaviewer/rm2146192384

Setelah itu muncul pertanyaan lagi, apa yang membuat hati Elle tergerak untuk mencintai Noah? Dan begitupun sebaliknya? Jawaban harfiahnya ialah murni karena ketertarikan fisik. Tidak ada yang meragukan penampilan fisik Noah yang tampan, tinggi dan tegap. Bahkan faktor ini membutakan fakta bahwa Noah bersifat temperamental dan suka berkelahi, hingga pernah direhabilitasi.

Elle tampaknya seperti gadis remaja pada umumnya yang suka dengan bad boy, padahal jika dilihat dari aktivitasnya di sekolah yang menggambarkan kalau dia itu pintar, seharusnya Elle lebih pintar lagi dalam memilih seseorang sebagai penjaga hatinya. Tetapi dia malah terjatuh dalam tipikal gadis remaja kota besar pada umumnya.

Layaknya gadis di usia remaja, yang sering dibilang labil, Elle pun mengalami fase itu. Bahkan ketika dia merasa jika dirinya telah dewasa dalam pemikiran, tetap saja kelabilan itu masih terlihat. Elle marah pada Noah malam itu, tapi besoknya dia tetap saja berhasil diajak jalan oleh Noah. Adegan tarik-ulur ini tersaji hampir di sepanjang film.

Bahkan hingga di adegan akhir pun, kelabilan hati Elle masih sangat terasa. Ketika dia meminta Noah untuk tidak menatap balik kepadanya setelah mengucapkan salam perpisahan di bandara, dia sebenarnya masih berharap Noah melihatnya, meski hanya untuk sesaat saja. Dan kita pun berharap demikian, betul gak? Tapi itu tidak terjadi.

Dalam narasi Elle yang dibacakan dengan visual dia mengendarai motor Noah, tersirat jika dia pun tidak tahu apakah hubungan ini akan terus berjalan atau tidak, dan merasa sudah menjadi sosok yang lebih kuat dan dewasa dari sebelumnya. Ini bisa jadi merupakan twist yang tidak terduga di film sejenis ini.

Tapi ketika Elle melanjutkan narasinya bahwa sebagian dirinya masih ada untuk Noah, keklisean itu kembali membuncah dan menempatkan film ini kembali kepada habitatnya sebagai rom-com remaja yang klise. Mungkin banyak yang menganggap narasi Elle ini sangat romantis, tapi jika melihat jalan cerita dan sosok Noah sebagai yang dicinta, rasanya malahan Elle seperti terpenjara.

Akting dengan Cukup Chemistry

Akting dengan Cukup Chemistry

*https://www.imdb.com/title/tt3799232/mediaviewer/rm255479040

Dari ketiga pemeran utamanya, Jacob Elordi berada di bawah performa yang ditampilkan Joey King dan Joel Courtney. Justru chemistry itu ada pada King dan Courtney, dan sepertinya itu bukan hanya akting saja. Coba lihat di credit title yang memperlihatkan beberapa bloopers dan behind the scene dimana mereka berdua terlihat sangat dekat satu sama lain.

Bahkan, Joel Courtney terlihat sangat nyaman dengan karakter Lee yang dibawakannya, baik ketika senang, sedih, dan marah. Semua terlihat natural. Sedangkan Joey King mampu menghadirkan karakter tipikal siswi SMA yang menyukai bad boy dengan wajar yang karenanya dia berhasil meraih Blimp Award sebagai Favorite Movie Actress di Kids’ Choice Awards.

Yang sangat disayangkan, King selalu memamerkan tubuhnya dalam balutan bikini berkali-kali di beberapa adegan pesta atau keramaian. Jika memang berpengaruh terhadap cerita, mungkin itu wajar, tapi sebenarnya tanpa itu pun, cerita akan terus berjalan. Justru hal ini semakin menguatkan motivasi cinta antara mereka, bahwa Noah pun tertarik kepada Elle karena penampilan fisiknya. Tidak lebih.

The Kissing Booth memang bukanlah salah satu kisah romantis untuk remaja yang membawa warna baru dalam genre tersebut. Film ini tampil dengan cerita yang sebenarnya ringan tapi terkesan diberat-beratkan, didewasa-dewasakan, tapi ternyata tidak sampai pada tingkat yang diharapkan. Jadi jangan berekspektasi lebih dari film yang dibenci banyak kritikus karena tema misoginis yang ditampilkan.

Film yang menjadi salah satu film terpopuler di Netflix ini, bahkan ketika sequel-nya dirilis film ini masih berada di peringkat ketiga top search, bisa saja menjadi film yang layak ditonton, lebih karena kepopulerannya. Cari waktu yang sangat luang, pastikan film-film yang lebih berkualitas sudah ditonton semua, baru film ini bisa menjadi pilihan utama dalam watchlist film kalian.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *