Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review Film The Kissing Booth 2, Lebih Seru?

Sinopsis dan Review Film The Kissing Booth 2, Lebih Seru?

Ditulis oleh - Diperbaharui 24 November 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Di sequel The Kissing Booth ini, Elle yang kini berada di tahun akhir SMA menjalin long-distance relationship dengan kekasihnya, Noah. Ditambah lagi dengan rencana melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, dan persahabatan baru dengan teman sekolah yang tampan yang bisa mengubah segalanya.

Kangen dengan penampilan mereka? Mereka lebih kangen kepada kalian. Joey King, Jacob Elordi dan Joel Courtney menyuguhkan lebih banyak kisah romantis dan persahabatan di film yang tidak ada perubahan sama sekali dari seluruh cast dan krunya ini. Tapi apakah The Kissing Booth 2 lebih baik dari film pertamanya? Simak ulasan kami kali ini tentang salah satu film terpopuler di Netflix ini.

Sinopsis

Film The Kissing Booth 2

*https://screenrant.com/fun-facts-about-making-of-netflix-kissing-booth-2/

  • Tahun: 2020
  • Genre: Comedy / Romance
  • Produksi: Netflix, Picture Loom, Clearback Films
  • Sutradara: Vince Marcello
  • Pemeran: Joey King, Joel Courtney, Jacob Elordi

Film dimulai tepat sesaat setelah film pertama berakhir. Dengan narasi yang cepat, Elle (Joey King) menceritakan semua rangkuman kisah yang terjadi di saat terakhirnya bersama Noah sebelum dia berangkat kuliah ke Harvard. Kemudian cerita “the first last year” dimulai dengan gossip jika dia dan Noah sudah putus. Meski mencoba menepisnya tetap saja ada perasaan ragu dalam hatinya.

Elle dan Lee kembali mengajukan Kissing Booth kembali untuk mengisi acara amal tahunan kali ini yang langsung disetujui oleh dewan panitia tanpa mereka harus menyelesaikan presentasinya. Kehadiran siswa pindahan, Marco (Taylor Zakhar Perez), menjadi berita hangat bagi seisi sekolah yang langsung tergila-gila dengan sosoknya.

Elle dan Lee membujuk Marco untuk mengisi booth mereka dengan cara mengalahkan Marco dalam game Dance Dance Mania sesuai syarat dari Marco sendiri. Sementara itu, Elle dan Lee juga sibuk merencanakan kelanjutan pendidikan mereka setelah lulus nanti dengan mendaftar di kampus yang sama seperti yang dilakukan oleh ibu mereka masing-masing dahulu.

Tanpa diketahui oleh Lee, Elle mendaftar juga ke Harvard atas bujukan Noah. Dan Elle mengunjungi Noah ke Boston dan bertemu dengan teman-teman Noah serta seorang mahasiswi yang juga model, Chloe (Maisie Richardson-Sellers), yang membuat kecurigaan Elle tentang kedekatannya dengan Noah. Elle menyadari jika biaya yang dibutuhkan untuk kuliah di Boston sangat besar dan ayahnya tidak sanggup.

Kompetisi Dance Dance Mania dianggap Elle sebagai jalan terbaik untuk mendapatkan uang yang banyak. Lee yang cedera saat latihan, padahal itu hanya pura-pura, membujuk Marco untuk menggantikannya sebagai pasangan Elle di kompetisi. Alasan Lee melakukan itu agar dia bisa meluangkan waktunya untuk Rachel tanpa kehadiran Elle.

Di acara Halloween, Rachel hadir salah kostum karena Lee lupa memberitahu perubahan kostum mereka, membuat Rachel merasa terasing, apalagi ketika Elle dan Lee menari bersama. Di kompetisi DDM, Elle dan Marco tampil gemilang dan mengakhiri penampilan mereka dengan ciuman yang membuat Noah langsung meninggalkan acara itu yang kemudian dikejar oleh Elle.

Di acara makan Thanksgiving tahunan keluarga mereka, masalah yang mendera Elle, Lee, dan Noah memuncak dan tidak bisa diselesaikan saat itu juga. Di hari carnival, Elle dan Lee sudah berbaikan dan menggelar booth mereka dengan sukses. Lee balikan lagi dengan Rachel dan Elle berhadapan dengan Marco yang menyatakan cintanya. Tapi Elle tetap memilih Noah dan mengejarnya ke bandara.

Sementara itu, Noah pun tidak bisa melupakan Elle dan diminta oleh Chloe untuk segera menemui Elle. Setelah Elle tidak bertemu dengan Noah di bandara, Elle segera menuju taman dimana mereka pernah berteduh. Noah menyatakan tetap mencintai Elle dan Chloe hanyalah sahabat yang membantunya fokus dalam belajar, sama seperti persahabatan Elle dan Lee.

Beberapa bulan kemudian, mereka lulus dan Lee diterima di Berkeley. Sedangkan Elle menerima dua surat dari Harvard dan Berkeley yang menyatakan jika dia diterima di kedua universitas itu. Film ini diakhiri oleh dilema Elle, apakah dia akan ke Boston bersama Noah, atau ke California bersama Lee? Jangan lupakan, jika Marco masih berniat untuk mengejar Elle!

Apakah Sequel Ini Tampil Lebih Baik?

Apakah Sequel Ini Tampil Lebih Baik

*https://www.imdb.com/title/tt9784456/mediaviewer/rm3227691265

Apa yang kita harapkan dari sebuah film sequel? Tentu saja adalah pengembangan karakter dan cerita yang lebih menarik. Dua faktor ini coba ditampilkan oleh sutradara Vince Marcello yang juga merangkap sebagai penulis naskahnya. Mengadaptasi novel The Kissing Booth 2: Going the Distance karya Beth Reekles yang dirilis di tahun 2020 juga, cerita film ini sedikit lebih baik dibanding film sebelumnya.

Dari sisi pengembangan karakter, ketiga tokoh utamanya mendapatkan porsi yang cukup dan membuat kompleksitas cerita yang baik. Meski ritme film terkesan naik dan turun, tetapi pondasi cerita dibangun secara baik dan mencapai titik kulminasi di satu adegan dimana sebenarnya kita mengharapkan ada ledakan yang cukup berarti. Tapi sayangnya tidak!

Mungkin Marcello dan Reekles ingin membuat sebuah pembaharuan dari keklisean film pertamanya dan caplokan adegan dari film sejenis di sana-sini, tapi karena adegan tersebut tidak sesuai ekspektasi, membuat jalan cerita seolah menjadi tidak berarti lagi. Konklusi yang ditawarkan pun memang benar-benar tawar! Tidak ada rasa yang pantas untuk dicerna.

Dan bilik ciuman hanya ditampilkan sekilas hanya untuk menyelesaikan masalah Lee dan menambah masalah Elle saja. Tidak ada kesan berarti dan semua terkesan so typical! Dan seperti dugaan kita, Noah dan Marco menjadi dilema tersendiri bagi Elle, akan tetapi kita pun sudah tahu pasti jika Elle akan tetap memilih Noah apapun yang terjadi.

Tantangan Berakting dengan Sang Mantan

Tantangan Berakting dengan Sang Mantan

*https://www.imdb.com/title/tt9784456/mediaviewer/rm51881473

Sejak sukses dengan The Kissing Booth, Joey King dan Jacob Elordi terlibat cinta lokasi dan akhirnya mereka berpacaran. Tetapi ketika syuting film kedua ini dimulai, mereka sudah putus. Bisa dibayangkan bagaimana mereka harus tampil profesional dalam memerankan karakter yang masih saling cinta. Tapi untungnya, adegan antara mereka berdua tidak banyak karena dalam cerita mereka berbeda kota.

Dalam behind the scene di end credit title, kita bisa melihat bagaimana cara Elordi untuk menciptakan suasana sedih dalam hatinya, yaitu dengan memandang foto-foto mereka berdua saat masih bersama dalam sebuah slideshow dengan iringan lagu yang sedih. Tapi menurut pengakuan Elordi sendiri, dia sudah move on dan bersikap profesional dalam berakting.

Fakta Produksi yang Tidak Terduga

Fakta Produksi yang Tidak Terduga

*https://www.imdb.com/title/tt9784456/mediaviewer/rm1511499265

Di dalam cerita, film ini berlokasi di Los Angeles. Tapi siapa sangka bahwa syuting dilakukan di Afrika Selatan? Kota Cape Town menjadi lokasi syuting secara keseluruhan yang selesai di bulan Agustus 2019 ini. Bahkan infonya, karena kesuksesan film yang kini sudah menjadi franchise ini, syuting The Kissing Booth 3 dilakukan secara back-to-back dengan film ini untuk dirilis di tahun 2021.

Apakah kalian tahu jika Joey King sepanjang film memakai wig? Produksi The Kissing Booth 2 dimulai tepat setelah proses syuting The Act (2019) selesai, dimana di film tersebut King mencukur habis rambutnya, alias botak. Jadi, untuk menutupi rambut yang belum tumbuh sempurna itu, King terpaksa harus menggunakan wig, yang untungnya, menutupi kepala King dengan sempurna.

The Kissing Booth 2 jelas tampil lebih baik dari film pertamanya, dan langsung berada di puncak film paling populer di Netflix di minggu pertama perilisan, sedangkan film pertamanya masih berada di peringkat ketiga. Data hingga akhir Oktober 2020, film ini sudah ditonton oleh 66 juta pemirsa Netflix! Hal ini membuktikan jika fans film ini cukup banyak, jadi wajar film ketiganya sudah siap dirilis.

Meski memiliki pondasi cerita yang cukup kuat dan kisah cinta yang masuk akal antara Elle dan Marco, tapi yang sangat disayangkan adalah tidak adanya klimaks yang berarti, justru film melemah di saat-saat akhir. Apalagi ditambah dengan dialog yang tidak kuat dan terkesan klise. Untung saja, performa Joey King menyelamatkan film ini dari kehancuran total.

Bagi para penggemar film The Kissing Booth, rasanya film sequel ini sudah pasti wajib ditonton. Tetapi bagi para penonton umum, sebaiknya kalian tonton dulu film pertamanya terlebih dahulu, sehingga bisa “nyambung” dengan ceritanya dan kalian akan banyak-banyak bersyukur atas kelebihan yang ada di film kedua ini daripada film pertamanya. Silakan simak film pertamanya di “Review Film The Kissing Booth“.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *