bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Drama Biografi The King's Speech (2010)

The King's Speech merupakan sebuah film drama biografi sejarah asal Inggris yang dikerjakan oleh Tom Hooper sebagai sutradaranya, Iain Canning, Gareth Unwin serta Emile Sherman sebagai produsernya, dan juga David Seidler yang bertindak sebagai penulis naskahnya.

Film ini dibintangi oleh Colin Firth yang berperan menjadi Pangeran Albert alias Raja George VI, serta Geoffrey Rush sebagai Lionel Logue, seorang terapis bicara kelahiran Australia yang membantu sang raja untuk menghilangkan kegagapannya saat berpidato.

Pada ajang Academy Awards ke-83, The King's Speech berhasil memenangkan 4 penghargaan dari 12 nominasi yang diterima. Empat penghargaan tersebut terdiri dari Best Actor untuk Colin Firth, dan Best Picture, Best Director, hingga Best Original Screenplay.

Baca juga: Sinopsis dan Review Film Biografi Madame Claude (2021)

Sinopsis

The King's Speech

Pangeran Albert “Bertie”, putra kedua dari Raja George V, akan membacakan sebuah pidato pada penutupan Pameran Kerajaan Inggris di Stadion Wembley, Kota London.

Di tengah puluhan ribu warga Inggris yang berada di stadion tersebut, Albert nampak tegang, serta gugup, dan ia pun pada akhirnya berpidato dengan tergagap-gagap.

Sang istri yang bernama Elizabeth kemudian membujuknya untuk menemui Lionel Logue, seorang terapis bicara dan bahasa dari Australia yang tinggal di Harley Street, Inggris.

Pada pertemuan pertama, Lionel memberikan aturan-aturan yang harus ditaati oleh Albert, salah satunya adalah sang pangeran tidak boleh merokok.

Untuk menghilangkan kegagapannya dalam berbicara, Lionel lalu meminta Albert untuk membaca buku Hamlet karya William Shakespeare sembari mendengarkan musik klasik menggunakan headphone. Lionel pun merekam aktivitas yang dilakukan oleh Albert menggunakan rekaman piringan hitam.

Pertemuan awal mereka ternyata tidak berjalan baik, Albert merasa cara yang dilakukan oleh Lionel sia-sia, dan tidak berguna untuknya. Sebelum Albert pergi, Lionel lalu memberi rekaman tersebut kepadanya sebagai hadiah secara gratis.

Di istana kerajaan, Ayah Albert, Raja George V, menyiarkan pidato ucapan Natal kepada para warga melalui jaringan radio.

Sang Raja kemudian mencoba mengajarkan kepada putranya itu cara berpidato yang baik, dan menyinggung soal putra pertamanya, kakak dari Albert, Pangeran Edward, yang lalai dari tanggung jawabnya sebagai keluarga kerajaan.

Pada malam harinya, Albert memutar piringan hitam yang diberikan oleh Lionel kepadanya. Ia lalu mendengarkan rekaman dirinya yang sedang membaca buku Hamlet dengan intonasi suara yang cukup jelas, dan nada bicaranya juga tidak terlalu gagap.

Beberapa hari kemudian, Raja George V meninggal di tahun 1936. Pangeran Edward selanjutnya naik tahta menggantikan ayahnya menjadi Raja Edward VIII.

Selain memegang kekuasaan atas wilayah-wilayah persemakmuran Inggris, Raja Edward VIII pun secara langsung memegang jabatan sebagai Gubernur Tertinggi Gereja Inggris.

Selama dirinya memimpin, Kerajaan mengalami krisis kepercayaan dari warga, dan juga parlemen Inggris. Hal itu diakibatkan karena sang raja bersikeras ingin menikah dengan Wallis Simpson, seorang wanita sosialitas kelahiran Amerika Serikat yang sudah bercerai dua kali.

Padahal, Parlemen pun sedari awal tidak bisa menyetujui keputusannya itu karena akan melanggar undang-undang. Sementara itu, Albert menemui Lionel, dan mengungkapkan bahwa ia mulai bisa berpidato dengan tenang saat berbicara dengan masyarakat.

Namun, ia merasa kesal karena cara bicara gagapnya tidak bisa hilang ketika dirinya hendak memarahi kakaknya, Raja Edward VIII, yang memutuskan untuk menikahi Simpson.

Lionel kemudian mengatakan kepadanya bahwa Albert bisa menjadi seorang raja yang baik, dan berani. Tetapi, Albert tersinggung, dan marah atas perkataan yang diucapkan oleh Lionel kepadanya. Di lain sisi, Raja Edward VIII, memutuskan turun dari tahtanya, dan memilih untuk menikahi Simpson secara serius.

Albert selanjutnya mesti menggantikan posisi yang ditinggalkan oleh kakaknya itu. Ia kemudian meminta bantuan Lionel agar dirinya bisa tenang, dan tidak gagap saat menghadiri Upacara Penobatan. Albert pun kini menjadi Raja George VI, dan Elizabeth diangkat menjadi seorang ratu.

Selepas menjadi seorang raja, Albert kini mesti menghadapi situasi krisis yang cukup pelik, dimana Adolf Hitler telah memicu Perang Dunia ke-2 di Eropa.

Ia bersama dengan Lionel selanjutnya mempersiapkan pidato pengumuman deklarasi perang melawan Nazi Jerman yang akan disiarkan lewat jaringan radio, dan didengarkan oleh seluruh rakyat Inggris.

Persahabatan Hangat Antara Albert dan Lionel

Persahabatan Hangat Antara Albert dan Lionel

Dalam momen awal di film ini, kita bisa langsung melihat kegagapan bicara yang diderita oleh Pangeran Albert, Duke of York (Colin Firth). Saat mencoba berbicara di penutupan Pameran Kerajaan Inggris, ia membeku di depan mikrofon, dan kata-kata yang ingin diucapkan seolah terhenti di tenggorokannya.

Kesunyian pun memenuhi Stadion Wembley sepanjang waktu tersebut. Meskipun pada akhirnya mampu membacakan pidato dengan cukup berwibawa, namun kesan gagapnya masih terasa dalam setiap teks yang ia bacakan.

Di tengah-tengah momen itu, sang istri, Elizabeth (Helena Bonham Carter), merasakan kegelisahan yang dihadapi oleh suaminya.

Lewat dukungan, dan kasih sayangnya, Albert pun menyetujui untuk bertemu dengan Lionel Logue (Geoffrey Rush) yang sangat tenang, dan cukup eksentrik.

Pangeran Albert sendiri awalnya digambarkan cenderung sombong saat bertemu dengan Lionel. Sang pangeran juga meminta kepada Lionel untuk memanggilnya dengan sebutan yang pantas seperti Yang Mulia, dan juga Sir.

Lionel pun ternyata mempunyai sikap yang tak gentar, dan ia malah memanggilnya dengan nama “Bertie,” panggilan sayang yang hanya terucap dari keluarga kerajaan kepada dirinya. Lionel menjelaskan dengan tegas bahwa selama berada di tempatnya, kita adalah setara, dan Bertie harus menurutinya.

Pertemuan awal yang tidak “bersahabat” tersebut lambat laun menjadi sebuah pertemanan erat yang terjadi diantara Albert, dan juga Lionel.

Dalam momen-momen sulit yang terjadi kepada Albert, khususnya saat harus berpidato kepada warganya, Lionel selalu berada di dekatnya untuk membimbingnya agar tidak gagap dalam berbicara.

Para Pemeran Tampil Brilian

Para Pemeran Tampil Brilian

Dalam The King's Speech, aktor Michael Gambon berperan sebagai Raja George V yang keras kepala, dan juga penuh wibawa. Karakter raja Inggris tersebut dibawakan cukup kharismatik oleh Gambon meski dirinya mendapatkan porsi tampil yang sedikit.

Guy Pearce memerankan putra sulung dari sang raja sebagai Pangeran Edward. Sosoknya ini diperlihatkan sombong, kurang bertanggung jawab, dan kerap bermain wanita.

Saat dirinya menjadi raja menggantikan ayahnya, ia malah tidak bisa mengemban amanat tersebut, dan memilih menikahi Wallis Simpson (Eve Best).

Pangeran Albert yang awalnya cukup frustasi karena harus menjadi Raja Inggris ternyata menjadi sosok yang lebih tepat untuk menggantikan posisi ayahnya itu. Albert menjadi Raja George VI yang berwibawa, gagah, walaupun kegagapannya dalam berbicara tidak pernah bisa hilang dari dirinya.

Colin Firth sebagai Raja George VI tampil sangat brilian di sepanjang film ini berjalan, dan kegagapannya begitu meyakinkan untuk dilihat. Penghargaan Aktor Terbaik dalam ajang Oscar ke-83 memang sangat pantas ia dapatkan.

Geoffrey Rush yang menjadi Lionel Logue tampil dengan karakter yang sangat lucu, menarik, dan juga eksentrik. Setiap interaksi diantara Lionel dan Raja George VI terkesan menyenangkan, terkadang juga menjengkelkan.

Dialog yang mereka lakukan terlihat seperti obrolan hangat, dan tulus antara raja dan rakyat jelata. Lionel pun pada akhirnya menjadi pria terhormat di dalam kerajaan, dan selalu mendampingi sang raja di tengah-tengah masyarakat.

Sementara itu, Helena Bonham Carter sebagai Ratu Elizabeth adalah sosok lembut penuh kasih sayang yang selalu mendukung sang suami dengan solid, dan juga penuh pengertian.

Film yang Hebat dan Artistik

Film yang Hebat dan Artistik

Kisah nyata Raja George VI, dan kegagapannya tersaji dengan cara yang hati-hati agar konteks sejarahnya tetap menyenangkan untuk dinikmati.

Film ini juga mempunyai alur cerita yang berjalan begitu apik, dan membuat kita terus terpikat untuk mengikuti usaha sang Raja dalam mengatasi ketegangannya, dan kegagapannya saat berbicara untuk warganya.

Selama kurang lebih dari dua jam, The King's Speech mampu menyoroti pertemanan yang sangat personal diantara Lionel, dan Bertie alias Raja George VI.

Keduanya menjadikan film ini lebih terasa intim untuk melihat perjalanan Albert hingga sampai menjadi seorang raja, dan juga kehidupan Lionel yang biasa saja hingga menjadi seorang pria terhormat di kerajaan yang dibanggakan oleh keluarganya.

Selanjutnya, film ini memberikan visual yang sangat mempesona di tengah-tengah suasana Inggris era klasik sebelum Perang Dunia II. Sinematografi yang dikerjakan oleh Danny Cohen cukup berhasil dalam membingkai karakter dengan sempurna, dan juga memperlihatkan latar tempat yang begitu artistik.

Secara keseluruhan, The King's Speech merupakan film bagus dengan jalan cerita yang hebat, dan juga menyenangkan. Beragam nominasi, dan penghargaan yang diterima memang cukup pantas didapatkan oleh film ini.

Meski telah rilis di tahun 2010 silam, The King's Speech rasanya harus menjadi film yang tidak boleh terlewatkan oleh siapapun, dan wajib masuk ke dalam daftar tontonan kalian di rumah.

The King's Speech
Rating: 
4.5/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram