bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review The Hunger Games: Mockingjay – Part 1

Ditulis oleh Syuri - Diperbaharui 16 Juni 2021

"Mockingjay" merupakan film terakhir dari trilogi "The Hunger Games". Akan tetapi, film ini dipecah menjadi dua part. Bagian pertamanya dirilis pada November 2014, sedangkan bagian kedua dirilis setahun setelahnya.

Bagaimanakah cerita selanjutnya untuk peperangan antara warga distrik bersama Katniss melawan pemerintahan Capitol? Berikut sinopsis dan review film "Mockingjay" Part 1 dari Bacaterus.

Peringatan: Artikel ini mengandung spoiler! Jika kamu tidak ingin kehilangan euforia-nya, saya sarankan untuk menonton film atau membaca novelnya terlebih dahulu. Jika tidak ada masalah dengan mengetahui (hampir) keseluruhan isi cerita, silakan lanjutkan membaca review ini~

Sinopsis

Sinopsis & Review The Hunger Games: Mockingjay – Part 1 1
  • Tahun rilis: 2014
  • Genre: Perang, Fiksi ilmiah, Petualangan, Film fantasi, Cerita seru, Drama
  • Produksi: Studio Babelsberg AG Color Force
  • Sutradara: Francis Lawrence
  • Pemeran: Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Woody Harrelson, Donald Sutherland, Julianne Moore, Philip Seymour Hoffman, Elizabeth Banks, Jeffrey Wright, Jena Malone, Willow Shields, Mahershala Ali, Elden Henson, Stef Dawson

Setelah diselamatkan dari arena The Hunger Games ke-75, Katniss Everdeen (Jennifer Lawrence), Beetee Latier (Jeffrey Wright), dan Finnick Odair (Sam Claflin) dibawa ke Distrik 13. Ya, selama ini diketahui hanya ada 12 distrik saja karena Distrik 13 telah 'dihancurkan' Capitol.

Akan tetapi, ternyata Distrik 13 survive di bawah tanah, terisolasi dari Panem. Karena, 75 tahun lalu Distrik 13 lah yang menjadi ujung tombak pemberontakan, dan sekarang mereka melihat peluang itu kembali dengan menggunakan Katniss sebagai Mockingjay mereka, alias wajah pemberontakan.

Di Distrik 13, Katniss mendapatkan perawatan medis untuk kondisi fisik dan mentalnya. Di sana juga ia bertemu lagi dengan Gale Hawthorne (Liam Hemsworth) sahabatnya, juga keluarganya yaitu Primrose Everdeen (Willow Shields) dan ibunya.

Yang paling mengejutkan (sebenarnya ini sudah Katniss ketahui di akhir film "Catching Fire"), kalau Plutarch Heavensbee (Philip Seymour Hoffman) selaku game maker The Hunger Games ke-75 merupakan salah satu dalang dari pemberontakan sehingga Katniss bertemu lagi dengan Plutarch di Distrik 13.

Seperti Panem yang memiliki presiden, yaitu Snow, Distrik 13 juga memiliki pemimpin, seorang wanita bernama Alma Coin (Julianne Moore). Dia mendeklarasikan diri sebagai Presiden Distrik 13 sekaligus pemimpin pemberontakan.

Setelah cukup sehat jasmani dan rohani, Katniss pun diajak untuk 'rapat' perang bersama Presiden Alma Coin dan Plutarch. Ia diberitahu kalau panahnya menghancurkan arena The Hunger Games. Dan, itu menyebabkan kerusuhan di lebih dari setengah distrik.

Snow pun membom Distrik 12 sebagai pembalasan terhadap apa yang telah Katniss lakukan. Presiden Alma Coin juga memintanya untuk menjadi Mockingjay—simbol pemberontakan. Karena, tak dapat dipungkiri, sejak awal Katniss lah yang membuat warga district tersulut semangatnya untuk memberontak.

Ia setuju asalkan para tribute (teman-temannya di arena permainan) yang ditangkap oleh Snow diselamatkan dan dibebaskan dari hukuman apapun. Katniss pun memulai kerjanya sebagai face of rebellion. Ia merekam propaganda yang disebut 'propo'.

Konsepnya sama seperti hal yang dilakukan pemerintahan Capitol dan Presiden Snow selama ini, hanya saja Distrik 13 membuat propo untuk mengajak distrik lainnya memberontak juga. Untuk propo pertama, Katniss berangkat ke Distrik 8, di mana seluruh distrik tersebut telah melakukan pemberontakan cukup lama.

Makanya hampir seluruh area Distrik 8 menjadi reruntuhan bangunan. Ada sebuah rumah sakit yang sangat seadanya, dipenuhi orang-orang yang terluka juga gelimpangan mayat.

Melihat Katniss masih hidup dan datang ke Distrik 8, Presiden Snow memerintahkan untuk membom rumah sakit di sana, menunjukkan bahwa 'pertemanan' dalam bentuk apapun dan penggunaan simbol Mockingjay dianggap sebagai pemberontakan, dan akan diberi hukuman yang setimpal.

Seluruh warga yang tak berdaya pun meninggal terperangkap dan terbakar di rumah sakit Distrik 8. Hal itu membangunkan kemarahan Katniss dan ia pun lebih semangat untuk menjadi Mockingjay. Ada kalimat Katniss yang begitu memorable: "Fire is catching. If you burn, you burn with us!".

Setelah video propo yang pertama rilis, terjadi pemberontakan di Distrik 7 (distrik pemroduksi kayu), di mana para warganya menanam bom di dalam bawah tanah hutan yang menewaskan seluruh Peace Keepers (Penjaga Perdamaian)—semacam polisi jaga.

Akan tetapi, Snow tak tinggal diam melihat pemberontakan di distrik-distrik. Ia pun menggunakan Peeta Mellark (Josh Hutcherson) sebagaimana Distrik 13 menggunakan Katniss. Jika propo Katniss mengajak warga distrik untuk memberontak, maka video Peeta kebalikannya yaitu mengajak seluruh rakyat Panem untuk genjatan senjata.

Itu dianggap sebagai pengkhianatan oleh Distrik 13, tapi Katniss sadar kalau Peeta dibuat berbicara seperti itu oleh Snow, dan karena Peeta tidak tahu apa yang terjadi di luar sana. Untuk itu, Katniss dan tim propaganda pun merekan video di reruntuhan Distrik 12 yang tak ada satupun orang juga bangunan tersisa.

Setelah video itu rilis, Distrik 5 (distrik dam air, penyedia listrik) melakukan pemboman pada bendungan pembangkit listrik tenaga air. Serangan ini membuat listrik di Capitol mati, mereka memiliki cadangan listrik tapi itu tidak bisa menampung semua kebutuhan Capitol sehingga pertahanan keamanan mereka pun melemah.

Snow pun membalas lagi dengan menampilkan video wawancara Peeta. Namun, kondisi fisik Peeta semakin memburuk. Terlihat sekali kalau selama ini ia disiksa di Capitol. Karena sistem keamanan Capitol sedang melemah, Distrik 13 bisa merusak siaran mandat Capitol dan memasukkan klip Katniss di Distrik 12.

Melihat itu, Peeta pun tahu kalau Katniss masih hidup, telah terjadi pemberontakan, dan rumahnya (Distrik 12) telah lenyap. Peeta pun memanfaatkan momen itu untuk memperingatkan Katniss bahwa Capitol akan menyerang Distrik 13 besok pagi.

Presiden Coin pun mengevakuasi seluruh warganya ke bunker yang lebih dalam lagi ke bawah tanah. Seluruh warga selamat dan kondisi Distrik 13 pun tak terlalu 'hancur', karena, well, Capitol tidak tahu tepatnya di mana para warga Distrik 13 tinggal dan mereka pun tidak mau merusak apa yang ingin mereka miliki.

FYI, Distrik 13 adalah tempat pertambangan grafit dan pengembangan industri teknologi nuklir, sehingga Capitol tentu tidak ingin membom Distrik 13 secara total karena mereka menginginkan apa yang Distrik 13 miliki.

Bom tersebut hanya untuk 'memperingatkan' saja. Setelah berjam-jam pemboman, para tim propo Distrik 13 pun keluar dari bunker dan berencana untuk merekam video propaganda lagi. Akan tetapi, Katniss akhirnya sadar kalau semakin ia menjadi Mockingjay, semakin tersiksa Peeta. Khawatir akan nyawa Peeta, Katniss pun ingin berhenti menjadi wajah pemberontakan.

Karena tak bisa membiarkan pemberontakan hanya terjadi setengah-setengah, dan tahu betul bahwa peran Katniss sangat dibutuhkan, Presiden Coin pun mengirim pasukan elit yang terdiri dari Boggs (Mahershala Ali), Gale, dll untuk menyelamatkan Peeta dan tribut lainnya yang ditawan di Capitol.

Akan tetapi ada yang aneh, karena Capitol seperti sengaja membiarkan pasukan Distrik 13 memasuki Capitol dan menyelamatkan para tribut. Dan, kecurigaan itu terbukti ketika Peeta bukannya memeluk Katniss sepeti yang dilakukan Annie Cresta pada Finnick (mereka sepasang kekasih).

Karena, Peeta malah menyerang Katniss dengan cekikan. Setelah melakukan tes, ternyata Peeta di'hijacked' yang berarti dibajak atau semacam dicuci otak sambil disiksa selama ditawan di Capitol sehingga ia menganggap Katniss adalah marabahaya.

Itu menjelaskan kenapa Capitol seperti sukarela Peeta dibawa kembali ke Katniss, karena Peeta malah bisa menjadi mesin pembunuh yang paling berbahaya untuk 'gadis yang membara' tersebut.

Taktik Snow: Menggunakan Peeta sebagai Alat Propaganda

Sinopsis & Review The Hunger Games: Mockingjay – Part 1 3

Jika kamu telah membaca review The Hunger Games 2, berarti kamu sudah tahu kalau Peeta dan Johanna Mason (tribut dari District 7) tertinggal di arena. Dan, bisa kamu tebak, mereka berdua dibawa ke Capitol dan disekap di sana.

Tak hanya disiksa, Capitol juga menggunakan mereka sebagai pion permainan baru untuk menghegemoni masyarakat. Tapi, karena Johanna tidak dalam kedaan mental yang baik, hanya Peeta yang akhirnya muncul di televisi.

Peeta meminta para pemberontak dan khususnya District 13 untuk ceasefire alias genjatan senjata. Tapi, Gale, Katniss, dan beberapa orang yang cukup 'waras' berpikir bahwa Peeta melakukan itu semua untuk melindungi Katniss.

Ini semacam perjanjian dengan Snow bahwa ia bisa menggunakan Peeta sebagai pion dalam propagandanya, asalkan Snow tidak menyentuh Katniss. Snow menghukum Katniss dengan menghukum Peeta, karena hal itu lebih efektif, dan memang terbukti benar adanya.

Katniss sang Ace di Film Ini

Sinopsis & Review The Hunger Games: Mockingjay – Part 1 5

Karakter Katniss terasa semakin real. Film "Mockingjay: Part 1" dibuka dengan Katniss yang mengalami PTSD alias post-traumatic stress disorder atau gangguan stres paskatrauma. Itu gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami langsung, atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan.

Katniss mengalami kecemasan, gangguan tidur, halusinasi, mimpi buruk, dan masih banyak lagi. Wajar saja, Katniss masih remaja, sekitar 17 tahunan. Ia telah melewati dua The Hunger Games dan sekarang ia 'menyebabkan' peperangan tumpah di seluruh negeri. 'Pasangan'nya, Peeta, juga tengah berada di dalam genggaman Capitol. Tentu aneh jika Katniss tidak stres.

Kemudian, terjadi character development dari Katniss yang awalnya 'bekerja' sebagai Mockingjay lalu bertransformasi menjadi prajurit yang turun langsung ke medan perang. Dari hanya 'harapan', menjadi 'face of rebellion', lalu ia benar-benar ada di gardu depan untuk menjatuhkan Presiden Snow.

Dalam film "Mockingjay Part 1" ini juga kita diperlihatkan bagaimana beberapa karakter berusaha keluar dari ketakutan dan problema masing-masing, sebut saja Haymitch, Finnick, Annie, dan juga Peeta (tapi nanti kalau yang Peeta diceritakan lebih detilnya di film "Mockingjay" Part 2).

Saya menyukai fokus adegan ini karena membuat para tokoh tersebut terasa lebih 'manusia', lebih hidup. Sayangnya, cerita menggantung karena film "Mockingjay" yang seharusnya menjadi akhir dari trilogi dibagi menjadi dua bagian, huft.

Adegan terakhir dalam film "Mockingjay" Part 1 adalah Peeta yang terlihat struggling karena di'pasung' di kamar perawatan Distrik 13. Cukup anti klimaks kalau menurut saya. Membuat penonton merasa iba pada Peeta sekaligus penasaran bagaimana kelanjutan dari film.

Bagaimana menurut kamu tentang film "Mockingjay" Part 1 ini? Baca review Mockingjay Part 2 untuk mengetahui akhir yang sesunguhnya dari perjalanan pemberontakan Katniss dkk melawan pemerintahan yang tak adil, yuk!

The Hunger Games: Mockingjay – Part 1
7 / 10 Bacaterus.com
Rating

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram