bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Film Netflix The Heartbreak Club (2021)

Ditulis oleh Desi Puji Lestari - Diperbaharui 1 Juni 2021

Lagu-lagu patah hati milik Didi Kempot belakangan mendadak booming dan disukai anak-anak muda. Konser sang maestro kerap dibanjiri tangisan dari kaum-kaum tersakiti. Tidak wanita atau laki-laki, mereka ikut bernyanyi, berteriak sembari meluapkan emosi dan kekecewaannya. Didi Kempot memang fenomena. Sosok serta lagu-lagunya adalah wakil rasa sakit hati.

Pada pertengahan Januari tahun 2021, lagu-lagu tersebut hadir dalam bentuk film berjudul The Heartbreak Club. Ia bercerita tentang seorang pria yang patah hati lalu sedih dan meratapi. Apakah itu saja? Tentu saja tidak, sebab film ini juga menggambarkan pentingnya sahabat dan keluarga. Daripada semakin penasaran, lebih baik baca sinopsis serta ulasannya dulu yuk! Setelah ini Anda bisa lanjut menontonnya. Mari simak bersama!

Sinopsis

Sinopsis
  • Tanggal/Tahun Rilis: 14 Januari 2021
  • Genre: Drama, Keluarga, Cinta, Komedi
  • Produksi: Magma Entertainment, Paragon Pictures, Rapi Films, Ideosource Entertainment
  • Sutradara: Charles Gozali, Bagus Bramanti
  • Pemeran: Bhisma Mulia, Denira Wiraguna, Didi Kempot, Asri Welas

Di sebuah konser Didi Kempot, Jatmiko (Bhisma Mulia) pingsan setelah berteriak. Dia dibawa ke sebuah ruangan dan tak lama didatangi oleh Didi Kempot. Alur pun mulai mundur ke satu bulan lalu. Jatmiko dan sahabatnya, Kopet (Erick Estrada) membuka sebuah café. Sayangnya walau sudah lama buka, café tersebut belum juga ramai.

Jat merasa putus asa dan berniat untuk menutup café tersebut. Sebagai sahabat, Kopet melarang walau akhirnya menyerahkan keputusan pada Jatmiko. Kopet yang sudah tidak mau ambil pusing, memutar musik campur sari milik Didi Kempot. Jat minta dimatikan tapi tiba-tiba seorang pelanggan cantik (Denira Wiraguna) masuk ke café mereka.

Secara naluri, Kopet ingin sahabatnya tersebut berhasil mendapatkan nomor telepon sang pelanggan. Dia pun meminta Jat membuatkan kopi khas café mereka dan pelanggan cantik tersebut terkesan serta menyukainya. Keesokan harinya, semua barang-barang di café siap diangkut karena café akan tutup. Tidak disangka, sang pelanggan cantik itu datang lagi.

Anjani (Fransisca Saraswati Puspa Dewi), adik Jatmiko, segera membawanya masuk. Tidak berbeda jauh dengan Kopet, Anjani juga ingin Jat segera berkenalan dengan pelanggan itu. Namun, sudah berkali-kali datang, Jat belum juga berani. Hingga suatu hari, sang pelanggan melihat ada seorang laki-laki datang ke café. Dia bergegas lari sambil menggandeng tangan Jat.

Jat lalu mengantarnya pulang. Mereka berdua tetap berada di dalam mobil hingga malam. Di sana akhirnya Jat tahu bahwa nama gadis tersebut adalah Saras. Jat juga tahu alasan Saras tiba-tiba pergi dari café, yaitu Saras malas menghadapi laki-laki drama. Oleh karena itu, Jat berjanji pada Saras, memastikan bahwa laki-laki tersebut tidak akan datang ke café lagi. Sebaliknya, mereka malah jadi pelanggan tetap.

Saras merupakan mahasiswi akhir yang sedang menyusun skripsi. Jat lantas membantunya menjadi narasumber. Saras pun datang ke rumah Jat dan mendapat penjelasan mengenai kopi Tembang Manis khas peninggalan alm ayah dan ibu Jat. Setelah melewati banyak hal, Saras berhasil lulus dengan bantuan Jat. Hubungan mereka pun bertambah dekat dan mesra.

Setelah lulus, Saras memutuskan kembali ke Surabaya. Dia berjanji tidak akan lama dan akan merayakan ulang tahun bersama Jat. Namun,  kabar dari Saras tidak kunjung datang, bahkan sampai hari ulang tahun. Jat lalu memutuskan untuk pergi ke Surabaya, menemui Saras dan merayakan ulang tahun bersama.

Begitu sampai di rumah Saras, gadis tersebut terlihat bahagia menyambut kedatangan seseorang, tapi ekspresinya seketika berubah saat mengetahui bahwa orang yang datang adalah Jat. Tak lama seorang pria datang. Saras menyambutnya dengan gembira dan tak peduli pada perasaan Jat. Dengan dalih mengikuti kata hati, Saras memilih pria itu.

Komedi Romantis dengan Dialog Jawa

Indonesia tidak kekurangan film komedi romantis, tapi The Heartbreak Club cukup segmented dan berbeda karena mayoritas dialognya menggunakan bahasa Jawa. Dialog antara Jat, Kopet dan karakter lain, mayoritas menggunakan bahasa Jawa keseharian.

Oleh karena itu, film ini cukup menyulitkan bagi Anda yang tidak mengerti bahasa Jawa. Sebaliknya, ia menjadi sangat lucu bagi penonton yang paham berbahasa Jawa. Misalnya umpatan-umpatan atau dialog yang dilemparkan Kopet dan Asri Welas. Karakter mereka berdua menambah kelucuan dengan dialog Jawanya yang kental.

Film tentang Cinta, Keluarga dan Sahabat

Film tentang Cinta, Keluarga dan Sahabat

Film yang terinspirasi dari lagu-lagu Maestro Didi Kempot ini bukan sekadar lucu dan berisi patah hati. The Heartbreak Club juga memperlihatkan hubungan antara sahabat dan keluarga. Karakter Kopet yang menjadi sahabat Jatmiko memahami betul kebutuhan Jat. Kopet kerap mengingatkan Jat untuk optimis.

Dia mendorong Jat berkenalan dengan Saras, tapi ketika sahabatnya disakiti, Kopet ingin Jat realistis, bukan lagi optimis. Walau kecewa karena Jat sempat gagal move on, lelaki itu tetap merangkul sahabatnya. Kopet tidak membiarkan sahabatnya itu sendirian.

Selain Kopet, karakter Anjani juga penting untuk film ini. Berperan sebagai sang adik, Jani juga banyak membantu Jat untuk melupakan Saras. Dia bahkan rela menggantikan pekerjaan sang kakak di café walau  membuat pelajarannya terganggu. Karektar Kopet dan Anjani membuat film ini terasa lebih mengharukan.

Pria dan Patah Hati

Pria dan Patah HatiSumber: cineverse.id

Melalui film ini, hal yang sama-sama harus disetujui adalah pria juga bisa patah hati. Pria boleh menangis dan meratapi, terakhir, pria juga boleh gagal move on. Semua terwakili oleh karakter Jat. Hal-hal melankolis yang selama ini identik dengan wanita, sangat lumrah dirasakan oleh pria. Tak apa menangis, hanya segeralah kembali pada kehidupan. Jangan lama-lama dan terlalu larut karena masih banyak yang sayang dan menunggu kita.

Dibuang oleh seseorang yang disayangi, siapa pun pasti sakit hati. Jat yang jauh-jauh datang dari Solo ke Surabaya dengan membawa boneka beruang raksasa, dipatahkan hatinya seketika oleh Saras. Jat datang dengan kerinduan dan percaya, tapi pulang membawa luka dan kecewa. Kehadiran dirinya dikalahkan oleh orang baru begitu saja.

The Heartbreak Club mengajak siapa pun yang patah hati, tidak peduli wanita atau pria, untuk menyikapi kesedihan dengan “dijogheti”, seperti pesan alm. Didi Kempot pada Jat. Dengan begitu, kesedihan bisa dirayakan dengan hati yang lebih ringan. Selain itu, film ini juga menyampaikan pesan melalui karakter Kopet bahwa sakit hati hanya bisa sembuh oleh tekad.

Toxic Relationship yang Harus Dihindari

Toxic Relationship yang Harus DihindariSumber: sushi.id

Jatuh cinta seperti jebakan. Sedihnya, ada orang-orang yang sadar sudah dijebak tapi masih merelakan diri dan berharap pada yang tidak pasti. Persis seperti Jat. Sejak awal, ketika Saras tiba-tiba marah dan mengeluh soal skripsi, harusnya Jat menyadari bahwa kehadirannya sedang dimanfaatkan. Saras tidak pernah jatuh cinta sejak awal. Gadis cantik itu hanya memanfaatkan perasaan Jat padanya.

Saras tahu bahwa Jat menyukainya, karena itulah dia juga yakin Jat akan membantunya. Semua terbukti ketika Saras pulang ke Surabaya dan mulai sulit dihubungi. Saras melakukan itu karena dia tidak membutuhkan Jat lagi. Dia bahkan dengan mudah jatuh cinta pada bos barunya dan tidak segan menunjukkan itu di depan Jat yang dayang dari jauh.

Ketika Saras datang untuk sekadar melepas rindu, gadis itu sesungguhnya sama sekali tidak memikirkan Jat, melainkan memikirkan kesenangan dirinya sendiri. Namun, Jat yang masih menyimpan cinta dan harapan memilih kembali maju tanpa berpikir risiko akan dipatahkan lagi.

Saras bahkan mengundang Jat ke acara wisudanya hanya karena dia menyangka Abdul, bos barunya, tidak bisa datang. Begitu Abdul datang, seketika Saras meninggalkan Jat tanpa rasa bersalah. Perlakuan Saras kepada Jat merupakan salah satu contoh toxic relationship yang sebaiknya segera dihindari.

Jika seseorang tanpa beban menyakiti kita berulang kali, sudah seharusnya diwaspadai. Jangan terlena oleh sekadar kata rindu karena semua itu sifatnya semu. Tidak ada yang salah dengan mengikuti kata hati atau mementingkan diri sendiri, tapi jika sampai secara sadar dan sengaja menyakiti orang lain, seperti yang Saras lakukan, itu tidak dibenarkan.

The Heartbreak Club punya alur yang cukup ringan. Konfliknya juga perkara cinta yang rasanya sudah sangat umum. Namun, film ini punya daya tarik tersendiri. Penggunaan bahasa Jawa dan kehadiran Didi Kempot adalah di antaranya. Rindu dengan penampilan Godfather of the Broken Heart? Anda bisa menyaksikan film ini di Netflix saat ini juga! Selamat menonton!

The Heartbreak Club
8 / 10 Bacaterus.com
Rating

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram