Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review Film Thriller Asal Polandia, The Hater

Sinopsis dan Review Film Thriller Asal Polandia, The Hater

Ditulis oleh - Diperbaharui 3 September 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

The Hater adalah sebuah film bergaya drama thriller yang didistribusikan di seluruh dunia oleh Netflix pada tanggal 29 Juli 2020. Film ini sendiri berfokus pada seorang mahasiswa yang mencoba untuk menyebarkan kebencian dan kekerasan lewat platform media sosial di internet.

Film besutan sutradara Jan Komasa ini ditayangkan secara perdana pada Festival Film Tribeca. Di festival film tersebut, The Hater meraih penghargaan untuk kategori The Best International Narrative Feature Award.

Sinopsis

The Hater

  • Tahun rilis: 2020
  • Genre: Drama thriller
  • Rumah produksi: Naima Film
  • Sutradara: Jan Komasa
  • Pemeran Utama: Maciej Musiałowski, Vanessa Aleksander, Agata Kulesza, dan Danuta Stenka

Tomasz Giemza adalah seorang mahasiswa hukum yang dikeluarkan dari kampusnya karena kedapatan melakukan plagiat di dalam karya tulisnya. Selepas kejadian itu, ia pergi mengunjungi keluarga Krasucka yang telah membantu dalam membiayai kuliahnya. Namun di pertemuannya itu, ia tidak memberi tahu bahwa dirinya telah diskors hingga dikeluarkan dari kampus.

Krasucka merupakan salah satu keluarga yang kaya raya di Polandia, dan Tomasz nampaknya sangat terobesi dengan anak perempuan dari keluarga tersebut yang bernama Gabi. Meski terlihat sangat baik, keluarga Krasucka ternyata sebenarnya tidak terlalu menyukai Tomasz, dan mereka menganggapnya sebagai pemuda yang aneh serta menyeramkan.

Tomasz kemudian bekerja di salah satu perusahaan agensi public relation sebagai buzzer yang bertugas menyebarkan berita palsu. Di sela-sela waktunya, ia juga sering menyempatkan diri untuk memata-matai facebook milik Gabi, hingga menyadap semua percakapan yang terjadi di keluarga Krasucka.

Beata, yang merupakan atasan dari Tomasz sangat puas dengan kinerjanya saat ia berhasil membuat kampanye kotor untuk menjatuhkan seorang ahli kesehatan. Dalam propagandanya itu, Tomasz berhasil menyakinkan kepada warga dunia maya bahwa produk yang dipromosikan oleh ahli kesehatan tersebut palsu, dan dapat mengubah kulit tangan berwarna kuning.

Karena berhasil mengerjakan tugasnya dengan baik, Tomasz lalu diberikan tanggung jawab yang lebih luas lagi. Ia diminta terjun ke dunia nyata agar berurusan dengan dunia politik, dan dirinya juga menyebarkan kebencian dan propaganda kotor untuk menyerang lawan politik yang telah ditentukan di media sosial.

Ia menyiapkan berbagai macam cara dan mengirimkan berita bohong dengan isu-isu sensitif di internet, mulai dari rasisme, xenofobia, islamofobia, hingga homofobia. Rencananya tersebut sepertinya berhasil, beberapa orang kemudian mengikuti tagar yang ia ciptakan di internet, dan demonstrasi nampaknya sudah tidak bisa dihindarkan lagi.

Agar rencananya dalam dunia politik semakin sukses, ia lalu bergabung masuk ke dalam tim kampanye Pawel Rudnicki yang mencalonkan sebagai walikota. Mereka yang ada di dalam tim kampanye tersebut tidak mengetahui jika Tomasz adalah seorang yang licik.

Tomasz kemudian membuat agenda pawai kemenangan untuk sang calon walikota agar bisa menarik simpati warga. Namun, ia juga ternyata menyebarkan propaganda kepada para pembenci Pawel Rudnicki untuk melakukan aksi demonstrasi di hari yang sama saat pawai kemenangan berlangsung.

Sementara itu, kedua orang tua Gabi meminta kepada Tomasz untuk tidak mendekati putrinya lagi dan menjauh dari kehidupannya. Dengan cara kasar seperti itu, Tomasz merasa sangat kecewa. Kelicikannya semakin menjadi-jadi ketika mengetahui jika mereka ternyata pendukung besar Pawal Rudnicki. Kini, dirinya semakin berhasrat besar untuk menjatuhkan sang calon walikota hingga keluarga Krasucka.

Tomasz Giemza, Karakter Sosiopat yang Menakutkan

Tomasz Giemza, Karakter Sosiopat yang Menakutkan

Saat The Hater baru memasuki menit-menit awal, para penonton nampaknya akan bersimpati dengan karakter Tomasz. Dengan wajah kosongnya di depan umum, ia terlihat begitu menyedihkan dan terkesan menyimpan kegelapan yang begitu dalam. Ketika ia berada di kediamannya, ia hanya menjadi seorang penguping dan selalu menguntit halaman Facebook milik perempuan yang disukainya, Gabi.

Tomasz begitu terobsesi dengan Gabi yang berasal dari keluarga kaya raya Krasucka, dan ia selalu ingin membuatnya terkesan lewat segala apa yang ia kerjakan. Keluarga tersebut hanya menganggap Tomasz sebagai masyarakat kelas bawah yang tidak terlalu istimewa. Karena Tomasz menyadap segala apa yang dibicarakan oleh mereka terhadap dirinya, sifat licik dan jahatnya perlahan-lahan mulai muncul.

Setelah pengenalan sosoknya yang seperti itu, rasa iba terhadap Tomasz kemudian mulai berubah dengan rasa takut karena melihat transformasinya yang begitu gelap. Karakternya lalu berkembang ke arah yang lebih misterius, menyeramkan, dan cenderung sosiopat.

Sifatnya itu semakin menjadi-jadi ketika ia bekerja sebagai buzzer di sebuah agensi public relation. Di tempat tersebut, ia termotivasi oleh sebuah filosofi perang dari Sun Tzu yang berbunyi “Seni tertinggi perang adalah untuk menaklukkan musuh tanpa pertempuran”.

Ia secara cepat berhasil menyerap makna “The Art of War” dari ahli strategi Tiongkok kuno tersebut untuk diaplikasikan ke dalam platform digital dengan mudah. Selepas berhasil meruntuhkan citra seorang ahli kesehatan, Tomasz terlibat lebih jauh di dalam kegelapan saat berusaha menjadi ‘agen ganda’ untuk menyabotase Pawel Rudnicki, seorang  politisi liberal yang mencalonkan diri sebagai walikota.

Komitmen Tomasz dalam menyebarkan berita bohong dan kebencian di sosial media begitu ia curahkan saat bergabung menjadi tim kampanye Rudnicki. Di sini, ia mampu memainkan mimik yang meyakinkan untuk membantu kemenangan Rudnicki sekaligus menghancurkan reputasinya.

Ia terlihat begitu jahat karena berusaha mengeksplorasi penyimpangan seksual yang ada di dalam diri sang calon walikota tersebut untuk disebarkan sebagai skandal. Tomasz berbuat seperti itu tentunya didukung oleh atasan tempatnya bekerja, dan ia sangat lihat dalam memanipulasi perasaan orang-orang disekitarnya.

Dalam menjalankan perannya di dunia nyata, Tomasz juga mempunyai seorang kaki tangan yang bersedia melakukan apa saja yang disuruhnya. Orang tersebut bernama Guzek, dan Tomasz berhasil merekrutnya di sosial media karena ia mempunyai kebencian terhadap Rudnicki dan orang-orang asing yang tinggal di Polandia. Propagandanya cukup meyakinkan Guzek untuk membunuh Rudnicki yang sangat dibencinya.

Seperti seorang ahli catur, Tomasz begitu berhati-hati dalam mengambil langkah. Ia tidak ingin tangannya kotor untuk melakukan hal-hal penuh darah. Meski begitu, Tomasz sangat rapuh di hati yang terdalamnya. Ia begitu depresi karena tidak bisa dekat dengan Gabi. Pada akhirnya, Tomasz berhasil mengendalikan keluarga Krasucka dan berlindung di balik keluarga tersebut atas kejahatan yang dilakukannya.

Relevan Terhadap Kehidupan di Era Sekarang Ini

Relevan Terhadap Kehidupan di Era Sekarang Ini

The Hater tidak mengadaptasi sebuah kisah pribadi dari siapapun, dan menjadi film fiksi yang sarat dengan makna. Film ini menyajikan cerita yang sangat kental dengan situasi kehidupan bersosial media sekarang ini. Begitu maraknya berita bohong, kebencian rasial dan agama yang dihadirkan lewat sosial media bisa berdampak sangat buruk terhadap psikologis penggunanya.

Masyarakat kemudian akan termanipulasi oleh kebohongan tersebut dan menyebarkannya secara masif lewat berbagai macam platform media sosial yang tersedia. Dampaknya tentu sangat akan destruktif secara sosial, psikologis, hingga bisa berujung aksi kejahatan kepada siapa saja yang dibencinya.

Sosok Tomasz dalam film ini mengingatkan kita akan tokoh Menteri Propaganda Nazi yang bernama Joseph Goebbels. Ia adalah salah satu orang kepercayaan Hitler yang berhasil membangkitkan semangat pasukan tentara Nazi lewat propagandanya untuk menguasai Eropa dalam Perang Dunia II.

Goebbels sendiri mempunyai filosofi yang bernama argentum ad nausem atau dikenal dengan sebutan kebohongan besar (Big Lie). Ia melakukan propaganda secara besar-besaran dengan menyebarluaskan berita bohong lewat media massa sesering mungkin. Hingga pada akhirnya, berita bohong tersebut akan diyakini menjadi sebuah kebenaran yang mutlak.

Teknik sederhana namun mematikan tersebut menjadi satu senjata ampuh yang dipertontonkan dalam film ini. Tomasz yang merupakan orang terpelajar menjadi satu karakter yang berhasil menciptakan kekacauan di dunia nyata lewat perannya sebagai buzzer di media sosial. Sama seperti Goebbels, ia mampu memanfaatkan media massa untuk menghasut orang-orang agar melakukan apa yang ia mau.

Cerita dalam film ini bisa dibilang menjadi salah satu representasi tentang bagaimana kebencian dan kejahatan bisa terjadi hanya lewat media sosial. Hal tersebut tentunya terjadi secara nyata di kehidupan yang sebenarnya, dan beragam konsekuensi seperti perpecahan hingga diskriminasi adalah realita yang menyedihkan karena penggunaan media sosial secara tidak bijak oleh sebagian masyarakat.

Lewat penyajian cerita yang cukup dalam, film ini rasanya bisa dinikmati sekaligus dapat dijadikan sebagai referensi untuk mengedukasi para pengguna media soaial. The Hater kini sudah tersedia di situs Netflix, dan kalian bisa menikmati film ini kapanpun juga. Selamat menonton!

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *