bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Film The Grand Budapest Hotel (2014)

Hotel merupakan tempat menginap yang menyediakan fasilitas dan layanan sesuai dengan kelas yang dipilih. Semakin mahal harga yang ditawarkan semakin mewah pula fasilitas serta layanan yang lebih diberikan.

Apalagi kalau hotel itu berlokasi di tempat yang strategis atau menawarkan pemandangan yang indah, tentu akan lebih mahal harganya.

Di film The Grand Budapest Hotel, ada sebuah hotel mewah yang berada di sebuah negara fiksi bernama Zubrowka. Hotel tersebut ternyata menyimpan sejumlah teka-teki rumit yang melibatkan harta warisan, misteri sampai percobaan pembunuhan. Bagaimana lengkapnya? Simak sinopsis dan review filmnya berikut ini.

Sinopsis

the-grand-budapest-hotel-2_
  • Tahun Rilis: 2014
  • Genre: Comedy, Drama
  • Produksi: Fox Searchlight Pictures, TSG Entertainment, Indian Paintbrush, Studio Babelsberg
  • Sutradara: Wes Anderson
  • Pemain: Ralph Fiennes, Adrien Brody, Willem Dafoe, Tilda Swinton, Tony Revolori, Saorise Ronan

Seorang anak perempuan mendatangi makam seseorang bernamakan Author. Dia membawa serta karya Author berupa buku berjudul The Grand Budapest Hotel.

Buku itu ditulis pada tahun 1985 dan menceritakan tentang kejadian di tahun 1968. Hotel itu terletak di sebuah pegunungan yang diselimuti oleh salju. Untuk sampai ke sana, pengunjung perlu menggunakan kereta gantung.

Narator pergi ke The Grand Budapest Hotel yang kondisinya kini sudah nggak terawat. Dia menemui Zero Moustafa yang merupakan pemilik hotel.

Status sebagai pemilik nggak membuat Zero tinggal di kamar mewah, dia memilih tidur di kamar pegawai dengan luas seadanya. Ketika makan malam, Zero menceritakan pengalamannya di The Grand Budapest Hotel.

Zero mulai bekerja di The Grand Budapest Hotel sebagai bellboy pada tahun 1932. Dia memiliki atasan yang juga bertugas sebagai concierge yaitu Monsieur Gustave H. Gustave kerap menggoda para tamu hotel yang berasal dari kalangan orang kaya.

Salah satunya adalah Madame D. yang sudah berusia 84 tahun dan sudah berhubungan dengan Gustave selama 20 tahun.

Madame D menginap di The Grand Budapest Hotel. Dia menceritakan bahwa dia khawatir akan tertimpa nasib buruk. Kekhawatiran Madame D terbukti karena itu menjadi kesempatan terakhirnya menjadi tamu hotel. Sebulan setelah bertemu Gustave, Madame D ditemukan tewas secara misterius di rumahnya.

Gustave dan Zero mengunjungi rumah mendinag Madame D. Di sana ternyata sudah dipenuhi oleh keluarga dan kerabat Madame D yang tengah menunggu surat wasiat dibacakan oleh pengacara, Vilmos Kovacs.

Kovacs membacakan wasiat yang di dalamnya menyatakan bahwa lukisan era Renaissance berjudul Boy with Apple diwariskan kepada Gustave.

Anak Madame D, Dmitri marah besar karena lukisan berharga itu nggak diwariskan padanya. Dmitri menuduh bahwa Gustave dan Zero merupakan dua orang yang terlibat dalam pembunuhan ibunya. Dia meminta kedua tamunya itu agar segera ditangkap. Gustave dan Zero melarikan diri bersama dengan lukisan.

Dmitri meminta Kovacs membatalkan surat wasiat tapi Kovacs menolak. Dmitri akhirnya menyewa seorang pembunuh bayaran bernama J.G. Gopling untuk membunuh Kovacs serta mengejar Gustave dan Zero guna mendapatkan lukisan. Gustave ditangkap oleh Inspector Henckles karena dicurigai melakukan pembunuhan.

Di penjara, Gustave memiliki sekelompok teman narapidana. Mereka berencana membuat strategi untuk melarikan diri dari penjara. Agatha, tunangan Zero yang bekerja sebagai tukang kue menyelundupkan alat-alat untuk menggali di dalam kue yang dikirim ke penjara. Gustave dan teman-temannya berhasil kabur.

Gustave meminta bantuan kelompok concierge bernama The Society of the Crossed Keys untuk membuktikan bahwa dirinya nggak bersalah. Gustave harus melarikan diri dengan bantuan concierge satu dan lainnya dari kejaran Jopling.

Dia dan Zero mengetahui bahwa Madame D mempunyai surat warisan yang lain apabila dia tewas dibunuh. Kovacs berhasil dibunuh oleh Jopling. Pelayan Madame D, Serge X dan saudara perempuannya ikut memburu Gustave. Akankah Gustave selamat? Apa isi surat wasiat lain Madame D?

Pengemasan Cerita yang Unik

the-grand-budapest-hotel-3_

The Grand Budapest Hotel dibuat oleh sutradara Wes Anderson yang juga merangkap sebagai penulis skenario bersama Hugo Guinness. Keduanya terinspirasi dari literatur yang ditulis penulis novel asal Austria bernama Stefan Zweig.

Inspirasi itu muncul setelah Anderson dan Guinness banyak melakukan tur di Eropa. Hasil kinerja Anderson dan Guinness adalah cerita yang unik.

Kita akan dibawa oleh seorang perempuan yang membawa buku favoritnya. Kemudian bergerak pada narator yang menemui Zero sebagai pemilik Grand Budapest Hotel.

Selanjutnya, Zero menceritakan apa yang pernah terjadi di hotel tersebut. Gaya penceritaan yang terkesan berbelit-belit itu dikemas secara menyenangkan dengan tempo cepat khas film-film buatan Anderson.

Anderson menyertakan unsur komedi bahkan ketika cerita mulai bergerak ke arah yang lebih serius yaitu misteri pembunuhan. Komedi dan pembunuhan terasa nggak masuk akal untuk dibuat ringan dan menyenangkan tapi film ini berhasil mewujudkannya.

Nama-nama yang aneh, adegan kejar-kejaran sampai dry humor yang disertakan efektif untuk membuat kita tertarik untuk menonton walau sekilas terasa absurd.

Pemilihan lokasi fiktif bernama Zubrowka sedari awal sudah memperlihatkan bahwa film ini alih-alih mencoba realistis malah membuatnya menjadi seimajinatif mungkin.

Tapi hal itu bukanlah sebuah masalah karena plot serta subplot yang disajikan konsisten dengan narasi imajinatif yang dibangun. Hasilnya adalah sebuah tontonan yang ajaib tapi tetap berjalan seru.

Jajaran Cast

the-grand-budapest-hotel-4_

The Grand Budapest Hotel berisikan jajaran cast yang mewah. Ada Ralph Fiennes, Adrien Brody, Jeff Goldblum, Willem Dafoe, Jude Law, Edward Norton, Tilda Swinton, Saoirse Ronan sampai Owen Wilson. Nama-nama besar dalam daftar panjang menjadi penggerak plot dalam film ini dengan beberapa hanya tampil sebagai cameo.

Gustave dan Zero menjadi dua karakter dengan pendalaman solid. Interaksi keduanya dalam menghadirkan komedi benar-benar dimanfaatkan dengan maksimal. Karakter-karakter lain diberi pendalaman seadanya tapi tetap berfungsi dalam mempertahankan plot agar konsisten.

Salah satu yang karakter yang paling ajaib adalah Madame D yang diperankan Tilda Swinton. Swinton harus mengubah penampilannya menjadi seorang nenek-nenek sehingga sulit untuk dikenali.

Visualisasi Megah dan Berwarna

the-grand-budapest-hotel-5_

The Grand Budapest Hotel secara sinematografi banyak mengandalkan wide shot. Hal itu bukannya tanpa alasan melainkan untuk menangkap kesan betapa mewahnya hotel yang menjadi tempat cerita berjalan. Uniknya teknik itu dibuat dengan para aktor yang selalu berada di tengah-tengah sehingga membuat adegan menjadi simetris.

Film ini sebagian besar menjalankan plot yang berlatar tahun 30-an. Secara visual, dekade tersebut dibuat benar-benar megah. Hotel digambarkan banyak bernuansa warna emas dan merah.

Di luar itu, adegan-adegan lain pun banyak menggunakan warna-warni. Uniknya warna-warna itu bukan hanya dijadikan hiasan belaka, melainkan juga menguatkan narasi dalam plot.

The Grand Budapest Hotel seperti menjadi pernyataan dari ciri khas film-film Wes Anderson. Imajinatif, liar, menyisipkan tragedy sekaligus komedi yang konyol dijadikan cara untuk bercerita lewat filmnya.

Durasi selama 100 menit rasanya terlalu sebentar untuk hiburan yang menyenangkan dari segi cerita sekaligus visual ini. Pernah nonton film lain yang sama uniknya? Kasih tahu judulnya yuk di kolom komentar!

The grand Budapest Hotel
Rating: 
4/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram