Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review The Godfather, Film Mafia Terbaik

Sinopsis dan Review The Godfather, Film Mafia Terbaik

Ditulis oleh - Diperbaharui 1 Oktober 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Pimpinan sebuah dinasti organisasi kriminal berdarah Italia yang sudah mulai menua, mewariskan kekuasaannya kepada putranya.

Merupakan film dengan pendapatan tertinggi di tahun 1972, kisah kriminal klasik ini berhasil meraih Oscar di kategori Best Picture, Best Adapted Screenplay, dan Best Actor untuk Marlon Brando yang, sayangnya, menolak Oscar itu baginya.

The Godfather adalah film kriminal yang diadaptasi dari novel best-seller karya Mario Puzo yang terbit di tahun 1969. Mario Puzo sendiri bertindak selaku penulis naskah bersama dengan sutradara Francis Ford Coppola.

Cerita tentang keluarga mafia dan para rivalnya ini mengambil seting di tahun 1945 – 1955 dengan deretan aktor yang saat ini sudah menjadi veteran semua.

Bagi yang belum pernah menonton film ini, dan berencana untuk menonton trilogy The Godfather secara marathon di Netflix, ada baiknya membaca ulasan kami yang akan membahas seluk-beluk salah satu film terbaik yang pernah diproduksi oleh Hollywood ini. Karena ini adalah (mengutip dari dialog di dalam filmnya), “an offer you can’t refuse.

Sinopsis

THE GODFATHER [1972],

  • Tahun: 1972
  • Genre: Crime / Drama
  • Produksi: Paramount Pictures, Alfran Productons
  • Sutradara: Francis Ford Coppola
  • Pemeran: Marlon Brando, Al Pacino, James Caan

Kota New York tahun 1945, Vito Corleone (Marlon Brando) menggelar pesta pernikahan putrinya secara besar-besaran. Sambil menerima tamu, dia mendengarkan beberapa permintaan tolong dari teman, rekan, dan orang-orang yang membutuhkan bantuannya.

Di sisinya selalu ada Tom Hagen (Robert Duvall), anak angkat yang berprofesi sebagai pengacara dan bertindak selaku penasehat keluarga. Kedua putranya, Sonny (James Caan) dan Michael (Al Pacino), ikut hadir bersama keluarga dan pasangan masing-masing.

Juga hadir Johnny Fontane (Al Martino), anak baptis Vito yang merupakan penyanyi terkenal dan berusaha untuk masuk ke industri film dengan bantuan keluarga mafianya. Tom diutus menghadap produser film untuk berunding agar Johnny bisa berakting di filmnya.

Tentu saja, setiap penyelesaian masalah yang diajukan kepada keluarga Corleone berujung kepada kekerasan. Seperti yang terjadi pada produser film, dimana dia terbangun dari tidur dalam keadaan bersimbah darah dari kepala kuda kesayangannya yang memiliki harga yang sangat mahal.

Masalah yang menimpa keluarga Corleone muncul ketika Solozzo, seorang bandar narkoba, menawarkan kerjasama dalam perlindungan dan bagi hasil bisnis narkobanya.

Tetapi Vito menolak karena bisnis baru ini dianggap berbahaya, tidak seperti judi dan organisasi buruh yang sudah dijalani oleh mereka selama ini. Vito curiga dengan sosok Solozzo dan mengirimkan anak buahnya untuk menyelidiki.

Luca Brasi, anak buah suruhan Vito, dibunuh oleh Solozzo dan keluarga Tattaglia. Tom juga diculik oleh mereka untuk membantu mereka bernegosiasi dengan Sonny.

Sementara itu, mereka juga menembak Vito di depan tokonya yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit dalam kondisi luka parah. Berita tentang penembakan Vito yang simpang siur terbaca oleh Michael di sebuah koran di pinggir jalan.

Michael kembali ke rumah keluarganya dan berusaha melindungi ayahnya, sementara Sonny sibuk menyusun rencana untuk balas dendam. Di rumah sakit, Michael menemukan hal mencurigakan karena tidak ada satu pun yang menjaga ayahnya, baik dari keluarganya ataupun dari kepolisian.

Beradu debat dengan seorang kapten polisi di depan rumah sakit, Michael menerima pukulan di wajahnya. Michael, yang merupakan seorang marinir yang baru saja pulang dari Perang Dunia II, sebenarnya tidak ingin terlibat dengan aktivitas keluarganya di dunia kriminal.

Tapi karena ini sudah menyangkut nyawa ayah yang sangat disayanginya, dia pun merencanakan sebuah siasat untuk membunuh para pelaku berbagai peristiwa yang menimpa keluarganya belakangan ini.

Michael mengadakan pertemuan dengan Solozzo dan Kapten McCluskey, polisi yang memukul wajahnya. Atas kecerdikan Peter Clemenza, anak buah Vito yang merupakan spesialis senjata api, yang menyimpan sebuah pistol di dalam toilet, Michael berhasil menembak mati kedua orang itu.

Setelahnya, Michael diterbangkan ke Italia dan Tom mengurus semua pemberitaan tentang peristiwa tersebut. Peperangan antara 5 keluarga mafia mulai merebak, dan Vito khawatir akan keselamatan anak-anaknya.

Di Italia, Michael menikah dengan gadis desa bernama Apollonia. Sementara itu, Sonny selalu berurusan dengan Carlo, suami Connie, yang melakukan penyiksaan hingga beberapa kali membuat Connie terluka. Suatu kali ketika Sonny pergi menuju rumah adiknya, dia tewas ditembak oleh kelompok bersenjata.

Kabar kematian Sonny sampai ke Italia dan membuat Michael terpaksa pindah dari desa tempat tinggalnya selama ini. Ketika hendak berangkat, Apollonia yang menghidupkan mobil yang akan dikendarai Michael, tewas seketika karena mobil tersebut meledak. Dibalut dendam, Michael kembali ke Amerika untuk bergabung kembali bersama keluarganya.

Vito menyadari jika keluarga Tattaglia bukanlah musuh mereka, melainkan keluarga Barzini. Michael kemudian diangkat menjadi pemimpin baru dan mulai menyusun strategi bisnis dan menanggulangi rivalitas dengan keluarga mafia lainnya. Dia berencana untuk mulai membangun casino di Las Vegas sebagai pondasi bisnis barunya.

Di tahun 1955, Vito wafat karena serangan jantung ketika bermain dengan cucunya di halaman rumah. Salah seorang anak buah Vito, menyarankan Michael untuk bertemu dengan Barzini.

Di hari pembaptisan keponakannya, anak buah Michael membunuh semua pimpinan lima keluarga mafia, anak buah Vito yang berkhianat, dan Carlo karena ketahuan telah terlibat dalam pembunuhan Sonny.

Kay Adams, yang sudah menjadi istri Michael, kaget dengan pernyataan Connie tentang keterlibatan Michael dalam semua pembunuhan tersebut. Tapi Michael menyangkalnya. Ketika Kay keluar dari ruangan, para anak buah Vito menciumi tangan Michael, menandakan bahwa dia diangkat menjadi “Don” baru menggantikan posisi ayahnya.

Keluarga Mafia dari Italia

Keluarga Mafia dari Italia

Keluarga imigran asal Italia di Amerika, terutama di New York, memang dikenal sebagai mafia. Kisah The Godfather pun terinspirasi dari mereka dan dianggap sangat mendekati realita oleh kalangan keluarga mafianya sendiri.

Oleh karena itu, Mario Puzo, selaku penulis novel dan naskah filmnya, meminta kepada pihak studio untuk memilihkan sutradara keturunan Italia agar bisa menjaga tradisi Italia dengan baik.

Setelah 12 sutradara menolak untuk mengarahkan film ini, Francis Ford Coppola menerimanya setelah sebelumnya juga ikut menolak. Tetapi dia menarik penolakannya dan menerima proyek ini atas saran dari keluarganya yang sedang terhimpit masalah ekonomi setelah film terakhir Coppola gagal di pasaran. Coppola memulai proyek ini dengan perdebatan tentang seting film dengan produsernya.

Coppola menginginkan seting tetap sesuai dengan isi novel tanpa ada perubahan menjadi lebih kontemporer, tetapi ini akan membuat bujet produksi akan membengkak. Meski begitu, pihak studio dan produser mengamini permintaan Coppola yang menyelesaikan proses syuting lebih cepat seminggu dari jadwal yang direncanakan di kota New York dan Sisilia, Italia.

Naskah yang ditulis oleh Puzo dan Coppola sempat ditentang oleh Joseph Colombo, pimpinan organisasi warga Italia-Amerika yang juga merupakan pimpinan mafia asli yang berkuasa di New York saat itu.

Dia meminta kata-kata “Mafia” dan “Cosa Nostra” dihilangkan dari naskah. Coppola pun mengganti dua kata “Mafia” di naskah dan kata “Cosa Nostra” tidak dipakai karena tidak ada istilah itu di dalam novelnya.

Film Mafia Terbaik Sepanjang Masa

Film Mafia Terbaik Sepanjang Masa

Rasanya akan sangat sulit untuk menandingi The Godfather sebagai film tentang mafia sepanjang masa. Kedetailan Coppola dalam mengarahkan filmnya memiliki kualitas tersendiri yang sepertinya tidak bisa ditampilkan dengan lebih baik lagi oleh sutradara lainnya. Bahkan film ini tetap menjadi tolok ukur bagi sineas lainnya ketika hendak membuat film dengan tema mafia.

Di ajang Academy Awards, The Godfather dinominasikan di 9 kategori dan berhasil memang di 3 kategori dengan berbagai insiden di sekitar penyelenggaraannya.

Setidaknya ada 3 kejadian, yaitu pencabutan nominasi di kategori Best Original Score karya Nino Rota yang ternyata terkendala orisinalitas karena memiliki kesamaan nada dengan karyanya sendiri dalam film Fortunella [1958].

Lalu, Marlon Brando yang berhasil dinobatkan sebagai Best Actor menolak menerima Oscar dengan alasan diskriminasi Hollywood terhadap suku Indian lewat penggambaran negatif di dalam film dan serial TV. Brando mengirimkan aktivis dari kalangan Indian untuk naik ke podium dan menyampaikan alasannya menolak Oscar tersebut.

Kemudian Al Pacino pun memboikot acara ini dengan alasan dia merasa dicerca oleh juri festival dengan menempatkannya di nominasi Best Supporting Actor.

Padahal Pacino merasa dirinya lebih banyak tampil dalam durasi film tersebut dibandingkan Marlon Brando yang masuk kategori Best Actor, dan dia merasa seharusnya dia yang mendapatkan Oscar sebagai Best Actor saat itu.

The Godfather, yang pada awalnya adalah proyek kecil Paramount Pictures, berbujet minim, sutradara yang masih relatif muda, para aktor muda dan seorang aktor tua yang saat itu bintangnya sedang redup, ternyata menjadi salah satu film terbaik yang pernah diproduksi oleh mereka.

Karir Al Pacino dan kawan-kawan langsung melejit, dan karir Marlon Brando yang sedang menurun terselamatkan karena film ini.

Dengan cerita yang mengikat dan realistis dengan pondasi cerita yang kuat, pengarahan yang detail dan ritme yang terjaga dari sang sutradara, akting memikat dari para pemerannya, berjaya di berbagai ajang penghargaan film dunia, dan penghasilan yang tinggi di tangga box-office, sudah cukup menempatkan The Godfather sebagai salah satu film yang wajib untuk ditonton.

Menjadi terasa istimewa ketika menyaksikan kembali The Godfather di layar Netflix, apalagi dilengkapi dengan dua film sequel-nya yang lengkap tersaji untuk kita tonton secara marathon.

Sudah pasti, mata kita tidak akan lepas menatap layar dan membuat kita tidak akan bergeming dari tempat duduk. Saksikan kembali kedahsyatan film yang dinilai sempurna oleh metacritic ini di Netflix sekarang juga!

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *