Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis & Review The First Purge, Kejahatan Menjadi Legal

Sinopsis & Review The First Purge, Kejahatan Menjadi Legal

Ditulis oleh - Diperbaharui 28 Oktober 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Film yang satu ini merupakan seri keempat sekaligus sebagai prekuel dalam franchise The Purge. Film pertamanya sendiri rilis di tahun 2013, lalu disusul dengan dua sekuelnya yang berjudul The Purge: Anarchy (2014), dan The Purge: Election Year (2016).

The First Purge mengisahkan asal muasal peristiwa “Purge” yang menggambarkan situasi kekacauan di satu malam dalam setahun, dan semua jenis kejahatan menjadi hal yang legal untuk dilakukan. Film ini juga menjadi seri paling laris diantara yang lainnya setelah meraup lebih dari 137 juta dollar di seluruh dunia.

Sinopsis

The First Purge

*https://www.nytimes.com/2018/07/03/movies/the-first-purge-review.html

 

  • Tahun rilis: 2018
  • Genre:  Dystopian action horror
  • Rumah produksi: Perfect World Pictures, Platinum Dunes, Blumhouse Productions
  • Sutradara: Gerard McMurray
  • Pemeran Utama: Y’lan Noel, Lex Scott Davis, Joivan Wade, dan Steve Harris

Diceritakan bahwa New Founding Fathers of America (NFFA) adalah sebuah partai politik paling kuat yang berada di Amerika Serikat. Sementara itu, Kepala staf NFFA, Arlo Sabian, dan seorang sosiolog, Dr. May Updale, sedang mempersiapkan eksperimen ekstrim bernama “Purge” yang akan dilakukan di Staten Island selama 12 jam.

Di dalam eksperimen tersebut, keduanya mengizinkan seluruh warga Staten Island untuk melepaskan semua rasa amarahnya dengan berbagai macam cara, termasuk mencuri dan membunuh sekalipun. NFFA nantinya akan memberikan uang sejumlah 5000 ribu dollar kepada mereka yang berhasil bertahan hidup saat melakukan Purge.

NFFA juga melengkapi para peserta dengan kamera lensa kontak sehingga aktivitas mereka dapat dipantau. Selain itu, NFFA memasang alat pelacak di dalam tubuh setiap peserta sehingga akan diketahui jika mereka melarikan diri dari Staten Island.

Sementara itu, seorang gembong narkoba di Staten Island, Dmitri Cimber, memberi tahu kepada anak buahnya untuk tidak ikut dalam eksperimen Purge, dan meminta mereka menjaga markas dari serangan brutal yang nantinya akan terjadi. Namun, salah seorang anak buahnya yang bernama Capital A tidak menurutinya, dan memilih ikut dalam Purge.

Hampir sebagian warga Staten Island ikut dalam aksi tersebut, termasuk juga seorang pemuda bernama Isaiah Charms yang bekerja sebagai dealer narkoba untuk Dmitri. Ia ikut Purge karena ingin balas dendam kepada seorang pecandu gila bernama Skeletor yang pernah menyerangnya.

Skeletor pun ternyata ikut dalam eksperimen tersebut, dan ia menjadi orang pertama yang berhasil melakukan pembunuhan dalam Purge. Isaiah lalu bertemu dengannya untuk membalas dendam, namun ia tidak bisa menembaknya, dan malah melarikan diri menemui kakaknya, Nya Charms, yang bersembunyi di gereja.

Di tempat yang berbeda, Capital A mengirimkan dua orang perempuan yang bernama Anna dan Elsa untuk membunuh Dmitri. Ia ingin menghabisi nyawa Dmitri agar bisa mengambil alih bisnis narkoba miliknya. Saat mereka hendak membunuhnya, Dmitri bergerak lebih cepat dan berhasil menembak Capital A tepat di kepala, dan ia lalu mengusir Anna serta Elsa dari Staten Island.

Di markas NFFA, Dr. May Updale mulai merasa janggal karena korban pembunuhan semakin banyak seiring hadirnya peserta bertopeng dalam eksperimen Purge. Ia lalu mengetahui jika mereka adalah tentara bayaran yang ditugaskan oleh Sabian untuk membunuh seluruh warga sipil yang ikut eksperimen itu.

Sabian lalu menjelaskan bahwa tentara bayaran dikirim untuk menyukseskan Purge, dan membantu menyeimbangkan ketidakseimbangan kekayaan antara si kaya dan si miskin. Dr. May Updale memprotes tindakan tersebut, dan menyadari jika NFFA hanya ingin memberantas orang miskin untuk menghemat biaya program sosial.

Mengetahui bahwa korupsinya telah terungkap, Sabian meminta pasukannya untuk membunuh Dr. May. Ia pun tetap mengawasi para peserta Purge dengan membiarkan para tentara bayaran bertopeng untuk melakukan tugasnya.

Rasa Dendam Berujung Tindakan Kejahatan

Rasa Dendam Berujung Tindakan Kejahatan

*https://lakwatseralovers.blogspot.com/2018/08/new-actor-ylan-noel-headlines-exciting.html

Dari sejak seri pertama hingga yang keempat ini, franchise The Purge selalu membawakan tema moral yang akan sangat menarik perhatian bagi yang menontonnya. Semua film The Purge berusaha menggoda kita untuk berpikir kritis tentang bagaimana jadinya jika hukum dan norma sudah tidak ada, serta tindakan kejahatan legal untuk dilakukan.

Dalam film The First Purge ini sendiri, kita mungkin akan bersimpati ketika melihat sebuah pulau bernama Staten Island dijadikan tempat eksperimen jahat oleh partai New Founding Fathers of America (NFFA). Parahnya lagi, mereka menjadikan sebagian warga di sana sebagai tikus percobaan agar projek eksperimen Purge berhasil terlaksana.

Akan tetapi, sebenarnya mereka bisa memilih untuk tidak ikutan dalam Purge, atau pergi meninggalkan tempat tinggalnya. Karena Staten Island diceritakan sebagai salah satu wilayah “miskin” di Amerika, maka para warganya pun sangat tamak ketika dijanjikan sejumlah uang yang besar.

NFFA akan membayar mereka jika tetap tinggal di rumah, bahkan dibayar lebih jika berpartisipasi dalam eksperimen Purge. Syaratnya pun menggiurkan bagi para peserta, mereka hanya diminta untuk melampiaskan semua rasa amarahnya, rasa dendam dan jengkelnya dengan bebas melakukan apa pun tanpa harus takut akan dihukum.

Dari situ kita akan melihat bahwa sisi jahat manusia dapat terlihat dengan mereka melakukan penjarahan, perampokan, hingga tindakan vandalisme. Kondisi seperti itu memperlihatkan bahwa kejahatan kini sangat mudah untuk dilakukan tanpa keraguan.

Tindakan kriminal tersebut lambat laun berubah semakin mengerikan ketika mereka malah membunuh satu sama lain. Eksperimen Purge lantas menjadi ajang balas dendam untuk saling bunuh-bunuhan orang yang dibenci. Ketika hal itu terjadi, maka misi NFFA setengahnya telah terlaksana, dan sisanya mereka mengirim para tentara bayaran untuk membunuh para peserta yang masih hidup.

The First Purge dari awal sebenarnya cukup mengerikan ketika membawa tema besar cerita seperti itu. Film ini memainkan kegetiran kita saat melihat para peserta harus membunuh satu sama lain atas dasar kebencian semata. Mereka tidak bisa menyelesaikan dendam secara baik, dan meluapkannya dengan tindakan kejahatan.

Terlepas dari hal itu, mereka pada akhirnya menyadari jika telah diperalat oleh NFFA untuk dibunuh satu persatu oleh tentara bayaran yang bertopeng. Rasa dendam yang diluapkan pada akhirnya berujung sia-sia dan tidak berguna ketika nyawa mereka sendiri pun dipertaruhkan secara tidak masuk akal.

Konsep Cerita Masih Sama dengan Film Terdahulunya

Konsep Cerita Masih Sama dengan Film Terdahulunya

*https://pics.alphacoders.com/pictures/view/200529

The First Purge nampaknya berusaha untuk menjawab rasa penasaran dari penontonnya soal asal muasal adanya eksperimen Purge di malam hari selama setahun. Walaupun bertajuk sebuah prekuel, film ini tidak terlalu menceritakan secara jelas tentang latar belakang Purge itu sendiri. The First Purge berjalan seperti ketiga film terdahulunya, dan tidak memberikan sudut pandang yang baru.

Film ini hanya menampilkan pemeran-pemeran yang lebih fresh saja. Namun, tema besarnya terlihat tidak berbeda dengan memperlihatkan sejumlah orang yang harus bertahan hidup dalam eksperimen Purge. Di sisi lain, unsur brutalnya pun masih dipertahankan meski kadar mencekamnya tidak terlalu berbahaya.

Elemen tersebut di sepanjang film ini bercampur aduk dengan aspek psikologis yang nampaknya tidak terasa secara kentara. The First Purge sepertinya ingin menggabungkan dua hal itu, namun yang terjadi malah menjadi kehebohan liar penuh adegan kekerasan.

Selain hal itu, di menit-menit pertama film ini sebenarnya kita bisa mengetahui penggagas awal dari eksperimen Purge, dan memperlihatkan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari kampanye politik partai NFFA. Tapi, sosok Arlo Sabian sebagai kepala dari parta NFFA tidak digali dengan baik, dan fokus konflik moral kurang tertuju kepadanya.

The First Purge terlalu asyik berfokus kepada Dmitri, Isaiah, dan pertempuran antar gangster di Staten Island selama Purge berlangsung. Sedangkan Arlo Sabian terlalu serius memonitori para peserta untuk menjalankan misinya agar mereka saling membunuh. Karakternya malah hilang begitu saja, dan terkesan menjadi sosok ‘mastermind’ yang kurang ditonjolkan dengan kuat.

Sementara itu, Y’lan Noel yang berperan sebagai Dmitri Cimber bermain cukup solid sepanjang film ini berjalan. Ia diperlihatkan sebagai sosok yang hanya mementingkan bisnis narkobanya saja agar tidak diganggu selama proses Purge Berlangsung. Namun, sikapnya berubah saling melindungi satu sama lain ketika ada tentara bayaran bertopeng yang berusaha membunuh para peserta.

Meski tidak menampilkan sesuatu yang baru, The First Purge sesungguhnya tetap menarik untuk ditonton dari menit awal hingga akhir. Film ini juga bisa menjembatani cerita dari ketiga film terdahulunya, dan sekaligus sekuel kelimanya The Forever Purge yang akan rilis di tahun 2021 mendatang.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *