bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Film The Door into Summer (2021)

Setelah sukses berperan dalam serial drama Alice in Borderland (2020), Kento Yamazaki dipercaya kembali untuk memerankan karakter dalam film bergenre Sci-Fi  dengan judul The Door into Summer (2021) atau yang dalam bahasa Jepang dikenal dengan judul 夏への扉 ―キミのいる未来へ― (Natsu e no tobira – kimi no iru mirai e-).

Film ini merupakan adaptasi dari novel fiksi ilmiah karya Robert A. Heinlein yang dipublikasikan pada tahun 1957. Kemudian, diadaptasi ke dalam film live action yang disutradarai oleh Takahiro Miki.

Awalnya film ini direncanakan tayang pada 19 Februari 2021, namun karena masih dalam kondisi pandemi COVID-19 film ini ditunda dan baru tayang pada 25 Juni 2021.

Kira-kira seperti apakah jalan ceritanya? Berikut ini Bacaterus akan membahas sinopsis dan review film The Door into Summer (2021).

Sinopsis

Film ini memiliki latar cerita pada tahun 1995 yang kemudian mengalami perpindahan waktu ke tahun 2025. Adalah Takakura Soichiro (Kento Yamazaki) yang menganggap kalau ia ditakdirkan akan kehilangan orang-orang yang ia cintai, mulai dari ibunya hingga ayahnya.

sinopsis_

Setelah kematian kedua orang tuanya, Soichiro diadopsi oleh teman dekat ayahnya yang merupakan seorang ilmuwan terkenal. Pada tahun 1995, Soichiro menjadi seorang ilmuwan muda yang mengembangkan robot dan terus meneliti baterai plasma demi melanjutkan cita-cita ayah angkatnya, Matsushita Koichi (Jun Hashizume). 

Ketika tidak sedang bekerja, Soichiro mengalami hari-hari yang tenang bersama kucing kesayangannya, Peet. Sesekali Riko (Kaya Kiyohara) yang merupakan anak kandung dari ayah angkatnya datang ke tempat tinggal Soichiro.

Selama melakukan penelitian, Soichiro ditipu oleh pacarnya Rin Shiraishi (Natsuna) dan atasannya Kazuto Matsushita (Hidekazu Mashima). Kazuto adalah pamannya Riko yang mengurus Riko setelah ayahnya meninggal.

Shiraishi dan Kazuto ingin menguasai saham milik Soichiro dan merencanakan semua niat jahat untuk menjatuhkan Soichiro. Ketika mendengar percakapan tersebut, Riko bergegas pergi menemui Soichiro yang kemudian dikejar oleh Kazuto.

Sementara Soichiro mendatangi rumah Kazuto, tapi disana hanya ada Shiraishi. Soichiro lalu memberitahukan tentang rencananya yang akan membongkar semua kejahatan Shiraishi dan Kazuto ke reporter.

Shiraishi mengaku kalah dan akan menyerahkan kembali saham milik Soichiro. Namun, ketika Soichiro lengah, Shiraishi menusukkan obat milik Kazuto yang menyebabkan Soichiro pingsan.

Melihat surat perjanjian tentang ‘cold sleep’ yang akan dilakukan oleh Soichiro, Shiraishi membawa Soichiro ke perusahaan tempat ia dulu bekerja. Kemudian memasukkan Soichiro ke dalam mesin ‘cold sleep’ milik perusahaan lain.

Ketika terbangun, Soichiro sekarang ada di tahun 2025, namun surat wasiat yang telah ia tulis pada tahun 1995 tidak bisa digunakan karena dulu ia menggunakan mesin ‘cold sleep’ dari perusahaan lain. Selama masa penyembuhan, Soichiro ditemani robot humanoid bernama PEET(Naohito Fujiki).

Selama lima hari, PEET menemani Soichiro untuk menggali masa lalunya dan mencari kebenaran tentang insiden yang terjadi di masa lalu.

Lalu ia pergi ke perusahaan tempat dulu ia pernah bekerja, namun kepemilikan perusahaan itu telah berubah. Kini perusahaan tersebut dipegang oleh Gota Tsuboi yang sejak kecil selalu mengagumi Soichiro dan pernah bertemu dengannya di masa lalu.

Kemudian, Soichiro dan PEET pergi menemui Profesor Toi (Tomorowo Taguchi). Soichi ditemani oleh PEET kembali ke tahun 1995 untuk memperbaiki penyesalan dan kesalahan yang ia rasakan di masa depan. Soichiro hanya memiliki waktu selama lima hari untuk memperbaiki semua kesalahannya dan harus segera kembali ke masa depan.

Setelah kembali ke masa lalu, ia bertemu dengan Taro Sato, seorang pengacara. Soichiro menjelaskan semua rencananya kepada Sato yang kemudian disetujui olehnya. Akankah Soichiro bisa bertemu kembali dengan Riko dan memperbaiki kesalahannya di masa sebelumnya?

Soichiro dan Perjalanan Waktunya

perjalanan waktu_

Secara garis besar, film dengan durasi 118 menit ini fokus pada kisah seorang lelaki bernama Soichiro Takakura yang merupakan seorang ilmuwan muda. Ketika kehilangan orang-orang yang ia sayangi, ia merasa kalau ia ditakdirkan akan selalu  ditinggalkan oleh orang-orang tersayang.

Hidupnya mulai sedikit berubah ketika ia diadopsi oleh seorang ilmuwan yang merupakan sahabat ayahnya. Soichiro akrab dengan putri dari ayah angkatnya. Selain itu, Soichiro memiliki seekor kucing yang selalu terlihat senang ketika musim panas tiba dan merasa kalau hanya kucing itu yang selalu bisa menemani dirinya dalam keadaan apa pun.

Soichiro melakukan sebuah perjalanan waktu ke masa depan dengan cara masuk ke dalam mesin yang disebut dengan ‘cold sleep’. Karena metodenya memang terlihat seperti dibekukan dalam kurun waktu tertentu. Nah, Soichiro ini ada di dalam mesin ‘cold sleep’ selama 30 tahun, sehingga ketika tersadar ia sudah ada di tahun 2025.

Selain menggunakan mesin ‘cold sleep’ Soichiro juga menggunakan mesin time traveler yang diciptakan oleh Profesor Toi untuk kembali ke masa lalu, di mana ia merasa ada hal yang harus diperbaiki supaya ia tidak menyesali perbuatannya di masa depan.

Perubahan karakter Soichiro juga jelas terlihat ketika ia berada di tahun 1995 dengan Soichiro yang sudah ada di masa depan, tepatnya pada tahun 2025.

Film yang Minim Konflik

minim konflik_

Karena saya pribadi belum pernah membaca novel asli dari adaptasi film ini, saya berpikir kalau film ini akan memiliki konflik yang cukup rumit dengan cerita yang berat.

Tapi setelah menonton, bisa dibilang konfliknya tidak seberat yang dibayangkan. Prolog tentang masa lalu Soichiro pun hanya diceritakan sekilas yang membuat ia merasa ditakdirkan untuk kehilangan orang-orang tersayang. Bahkan, cerita pemeran antagonis dalam film ini pun kalau menurut saya kurang greget.

Untuk segi alur ceritanya juga ternyata cukup ringan dan mudah dipahami. Dengan genre Sci-Fi dan diberi sedikit bumbu romansa yang cukup, memberikan kesan menggemaskan.

Karena ketika karakter Soichiro mengingat tentang Riko, ia jadi semangat dan merasa memiliki sebuah harapan untuk mengubah masa lalunya supaya ia tidak menyesal.

Ketika melihat scene time travel di film ini, saya jadi teringat dengan serial anime Doraemon. Mirip  dengan kisah karakter Nobita dan Doraemon yang pergi ke masa lalu menggunakan mesin waktu untuk mengubah suatu hal atau untuk mencari tahu dalang dibalik semua insiden yang terjadi.

Sinematografi yang Menarik

sinematografi menarik_

Film ini adalah film yang mengusung tema time travel, dengan perbedaan latar waktu yang cukup jauh, yakni sekitar 30 tahun, antara tahun 1995 ke tahun 2025. Dari segi visual, terlihat jelas perbedaannya antara dua tahun itu ketika scene masa depan yang memperlihatkan kemajuan teknologi yang sangat berbeda dan canggih.

Meski pun kalau dari segi pakaian tidak ada yang terlalu berbeda, tapi kalau dari segi teknologi jelas sangat berbeda. Sementara untuk sinematografi yang paling saya sukai adalah ketika scene yang memperlihatkan keindahan pemandangan khas perkotaan Jepang dan pemandangan laut dengan sudut pengambilan gambar yang pas, sehingga bisa menghasilkan visual yang cantik.

Bagi yang sudah pernah membaca novel The Door into Summer karya Robert A. Heinlein, mungkin bisa membandingkan kekurangan atau kelebihan yang ada di film ini.

Sementara bagi saya yang belum pernah membaca novelnya sama sekali, film ini memiliki cerita yang cukup menarik apalagi alur ceritanya pun ringan dan mudah untuk diikuti.

Bagi kalian yang pernah membaca novelnya boleh dong cerita-cerita perbedaannya di kolom komentar, ya! Jika kalian memiliki kesempatan untuk kembali ke masa lalu, kira-kira apa yang akan kalian perbaiki? Nah, sekian ulasan mengenai film The Door into Summer (2021). Bagi yang penasaran dengan filmnya, bisa langsung nonton di Netflix.

The Door into Summer
Rating: 
1.8/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram