bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review The Dig, Kisah Seorang Ahli Arkeologi

Ditulis oleh Dhany Wahyudi - Diperbaharui 17 September 2021

Seorang ahli arkeologi memulai penggalian yang penting bagi sejarah di Sutton Hoo pada tahun 1938. The Dig adalah original film Netflix produksi Inggris yang diperankan oleh Carey Mulligan, Ralph Fiennes dan Lily James yang disutradarai oleh Simon Stone berdasarkan novel karya John Preston yang terbit di tahun 2007. Film ini dirilis oleh Netflix pada 29 Januari 2021.

Sesuai judulnya, film ini akan memaparkan kisah tentang penemuan dan penggalian sebuah situs bersejarah yang terletak di tanah milik janda kaya yang ternyata adalah sisa kebudayaan dari zaman Anglo-Saxon yang disaat itu menjadi penemuan terbesar yang berpengaruh bagi sejarah dunia, khususnya sejarah Inggris.

Bagaimana proses penemuan dan penggalian ini berlangsung? Apakah hanya kisah itu saja yang ditampilkan di dalam film? Sebelum menontonnya, simak review kami tentang film yang mengambil lokasi syuting di daerah Surrey yang terletak tidak jauh dari situs bersejarah tersebut.

Sinopsis

Sinopsis the dig
  • Tahun: 2021
  • Genre: Biography, Drama, History
  • Produksi: Netflix, Magnolia Mae Films, Clerkenwell Films
  • Sutradara: Simon Stone
  • Pemeran: Carey Mulligan, Ralph Fiennes, Lily James

Pada tahun 1939, seorang janda kaya pemilik tanah di daerah Suffolk bernama Edith Pretty mempekerjakan Basil Brown, seorang penggali dan ahli arkeologis otodidak, untuk meneliti dan menggali beberapa gundukan yang ada di tanah lapang di belakang rumahnya. Setelah bernegosiasi tentang upah, Basil memulai penelitian dan penggalian dengan bantuan dua orang buruh milik Edith.

Pihak Museum Ipswich ingin menarik kembali Basil untuk meneruskan penggalian Vila Romawi, tetapi ditolak oleh Edith dan Basil tetap meneruskan bekerja untuknya. Setelah sempat tertimbun longsoran tanah galian, Basil dengan tekun dan giat meneruskan penggalian hingga akhirnya menemukan sebentuk fosil kapal dari zaman yang diyakini lebih tua dari kebudayaan Viking.

Berita penemuan ini pun tersebar dan tim arkeologis dari British Museum yang dipimpin oleh seorang profesor dari Cambridge, Charles Phillips, datang untuk mengambil alih penggalian dan melepaskan Basil dari pekerjaannya. Tetapi atas saran dan syarat perizinan penggalian dari Edith sebagai pemilik tanah, Basil tetap dipertahankan, meski namanya tidak akan dicantumkan di dalam tim arkeologis.

Phillips mendatangkan para ahli arkeologis lainnya untuk membantu penggalian. Peggy, salah satu dari tim ahli, menemukan sebuah artefak berbahan emas yang ternyata adalah peninggalan dari kebudayaan Anglo-Saxon, sebuah bangsa paling awal di tanah Inggris. Kemudian penggalian mereka terus berlanjut dengan menemukan semakin banyak artefak berharga di dalamnya.

Phillips ingin membawa semua artefak itu ke British Museum, tetapi Edith menggunakan haknya sebagai pemilik tanah dan penemu pertama untuk menyimpannya di dalam rumah terkait kemungkinan perang yang akan berkecamuk di London. Sementara itu, Peggy terlibat kisah asmara dengan Rory, sepupu Edith, yang juga membantu penggalian dan kemudian dipanggil negara untuk berperang.

Dalam sebuah acara yang digelar untuk memperkenalkan situs bersejarah itu, Edith menyebut nama Basil Brown sebagai penemunya dan tetap menyimpan artefak itu di dalam rumahnya. Dalam catatan akhir film, disebutkan jika artefak-artefak itu disimpan di bawah tanah kota London selama perang dan dipamerkan di tahun 1951, tepat setelah 9 tahun wafatnya Edith tanpa mencantumkan nama Basil.

Beda Kasta, Beda Usia, Gairah yang Sama

Beda Kasta, Beda Usia, Gairah yang Sama

Kekuatan utama film The Dig adalah dua pemeran utamanya yang merupakan para nominator Oscar, Carey Mulligan dan Ralph Fiennes. Akting keduanya tidak perlu diragukan lagi. Kita bisa melihat banyaknya rasa kecewa pada diri Edith Pretty dari raut wajah dan pandangan mata Carey Mulligan. Meski kisah masa lalunya hanya ditampilkan secara tersirat, tapi itu sudah cukup untuk mengetahui isi hati janda kaya ini.

Edith memiliki gairah di bidang sejarah pada masa mudanya, bahkan dia sempat kuliah di universitas. Tetapi karena keinginan ayahnya berbeda, dia harus membatalkan kuliahnya dan mengurus ayahnya yang sakit keras lalu menikah dengan bangsawan lalu memiliki seorang putra untuk kemudian menjadi janda di usia muda. Tetapi gairahnya kepada sejarah tetap ada dan firasatnya mengenai gundukan adalah benar.

Sementara itu, Ralph Fiennes membawakan sosok Basil Brown dengan sangat baik. Kita dibuat percaya bahwa Fiennes benar-benar memahami tentang sejarah dan arkeologis, dari gestur dan keyakinan di wajahnya. Kehidupannya yang bersahaja bersama istrinya yang sering ditinggal pergi, merupakan sisi kepribadian Basil yang tidak tergali cukup baik, meski potensi cerita dari sini sangat besar.

Dua sosok yang berbeda kasta secara sosial, Edith berasal dari keluarga kaya sedangkan Basil dari keluarga bersahaja, dan juga berbeda secara pendidikan, Edith sempat kuliah di universitas sedangkan Basil adalah anak yang putus sekolah dan mempelajari sejarah dan arkeologi secara otodidak dari ayah dan kakeknya, ternyata memiliki gairah yang sama, yaitu sejarah. Bidang inilah yang mengikat dan mengunci hati mereka.

Keindahan Sinematografi Menutupi Kelemahan Tensi

Keindahan Sinematografi Menutupi Kelemahan Tensi

Setengah film pertama cerita sangat terfokus dengan proses penelitian dan penggalian yang cukup detail, bahkan bisa dimengerti oleh kita yang kurang paham tentang dunia arkeologi sekalipun. Perasaan gembira yang membuncah ketika Basil menemukan sebentuk fosil kapal, seolah menutupi rasa sakitnya saat tertimbun longsoran tanah galian.

Tapi sayangnya, setelah memasuki setengah film, ketika tim arkeologis dari British Museum datang, tensi film sedikit menurun dan fokus cerita sedikit bergeser ke sosok Peggy. Hal ini sangat disayangkan dan terkesan dipaksakan hanya untuk menghadirkan kisah cinta terlarang di antara pasangan suami istri ini, dimana Stuart disinyalir seorang gay dan Peggy kemudian berselingkuh dengan Rory.

Sejak inilah sosok Basil sedikit terlupakan, hanya muncul sesekali sebagai penghibuar hati Robert, putra Edith, yang menemukan figur ayah pada diri Basil. Tapi, keindahan sinematografi hasil kerja Mike Eley yang tetap terjaga sepanjang film, mampu menutupi kelemahan film ini.

Dia mampu menghadirkan gambar-gambar yang indah dari luasnya tanah Suffolk sejauh mata memandang dengan penempatan kamera yang seolah menjadikan terik sinar matahari selembut sutra saat kita menyaksikannya. Bahkan beberapa kali, demi fokus pada keindahan panorama, para aktor harus rela ditempatkan di tepian layar. Juga pengambilan gambar dari udara pun membuat kita terpana.

Keindahan sinematografi ini sangat mendukung nuansa film yang bersahaja dan sunyi, dimana bahasa gambar yang disajikan mampu membuat kita merasakan pesan apa yang ingin disampaikan lewat narasi-narasi yang panjang di setiap perpindahan bagian dalam film ini.

Fakta Sejarah Sebenarnya

Fakta Sejarah Sebenarnya

Film sejarah tentunya harus memiliki fakta yang akurat tentangnya. Tetapi fim The Dig memiliki beberapa ketidakakuratan fakta yang dipaparkan oleh penulis novel dan pembuat film demi kepentingan cerita. Sosok Peggy yang diperankan oleh Lily James digambarkan sebagai ahli arkeologi pemula dan dipilih karena berat badannya, padahal di tahun 1939 tersebut, dia sudah diakui keahliannya dari berbagai universitas di Inggris.

Kemudian Stuart, suami Peggy, digambarkan berbeda usia terlalu jauh dengan dirinya. Padahal kenyataannya mereka hanya berbeda usia dua tahun saja dan bertemu semasa mereka kuliah bersama, bukan hubungan antara dosen dan mahasiswinya. Dan sosok Rory yang menjadi selingkuhannya? Karakter ini murni hanyalah fiktif belaka demi kepentingan cerita.

Jika dia diceritakan adalah orang yang mendokumentasikan proses penggalian, pada faktanya, semua foto diambil oleh dua orang guru wanita setempat dan seorang ahli arkeologi bernama O.G.S. Crawford. Sementara itu, sosok Edith Pretty yang seharusnya berusia sekitar 50 tahunan diperankan oleh Carey Mulligan di usia akhir 30 tahun dalam filmnya. Seharusnya sosok ini diperankan oleh Nicole Kidman.

Pada akhirnya, The Dig adalah film drama sejarah yang memiliki performa akting memikat dari Carey Mulligan dan Ralph Fiennes serta sinematografi yang indah dari panorama alam di pedalaman Inggris. Dari rating 7,2 yang diberikan IMDb dan Metascore sebesar 73 dengan cap certified fresh dari Rotten Tomatoes, tentu saja film ini menjadi rekomendasi kami yang wajib ditonton.

Apalagi film ini juga masuk daftar nominasi di beberapa kategori BAFTA yang rencananya akan dihelat pada 11 April 2021, diantaranya untuk Best Film, Best Director, Best Actor, Best Cinematography dan Best Adapted Screenplay. Kira-kira film ini akan memenangkan kategori yang mana? Sebaiknya nonton dulu filmnya sambal kita menunggu hasil BAFTA di bulan April nanti.

The Dig
Rating: 
3.5/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram