bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Film The Day After Tomorrow (2004)

Majunya pembangunan di berbagai belahan dunia nggak dibayar dengan gratis. Ada konsekuensi besar yang mengintai apabila pembangunan-pembangunan itu nggak dilakukan dengan memperhatikan dampaknya pada lingkungan.

Banjir, longsor serta abrasi merupakan beberapa contoh dari pembangunan yang lalai memperhatikan kelestarian lingkungan.

Salah satu isu lingkungan yang tengah mengemuka dalam satu dekade terakhir adalah tentang pemanasan global. Dampaknya sudah mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari dengan kacaunya kalkulasi musim panas dan hujan.

Di film The Day After Tomorrow, diperlihatkan dampak mengerikan dari pemanasan global. Seperti apa ceritanya? Mari simak dulu sinopsis dan review filmnya berikut ini.

Baca juga: Sinopsis & Review The Flight Crew, Melawan Gunung Berapi!

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun Rilis: 2004
  • Genre: Science Fiction, Disaster
  • Produksi: Centropolis Entertainment, Lions Gate Films, The Mark Gordon Company
  • Sutradara: Roland Emmerich
  • Pemain: Denis Quaid, Jake Gyllenhaal, Sela Ward, Emmy Rossum, Ian Holm

Jack Haal adalah seorang pakar iklim. Dia bersama rekannya, Frank dan Jason, melakukan pengeboran untuk meneliti kondisi es yang bisa menjadi indikasi perubahan iklim. Mereka menemukan hasil yang mengejutkan, es itu mengalami keretakan dengan cara yang nggak biasa.

Dalam konferensi PBB, Jack membeberkan hasil penelitiannya yaitu pemasanan global yang sedang terjadi dapat membuat dunia kembali ke masa zaman es.

Pemaparan tentang pemanasan global oleh Jack dianggap remeh oleh Wakil Presiden Amerika, Raymond Becker. Terry Rapson, seorang peneliti samudera asal Skotlandia, memiliki pendapat yang sama dengan Jack.

Terlebih dia menemukan bahwa bukti yang menunjukan adanya penurunan suhu dengan jumlah yang signifikan. Rapson menilai kalau itu menguatkan teori yang dikemukakan oleh Jack.

Jack dan Rapson membentuk tim untuk mengantisipasi kemungkinan buruk dari pemanasan global bersama ilmuwan dari NASA.

Jack memperkirakan bahwa dunia akan kembali ke zaman es lebih cepat dari perkiraannya yaitu ratusan tahun apabila nggak segera melakukan perubahan besar. Dia meminta Becker untuk mulai mengevakuasi warga Amerika di pesisir utara tapi Becker menolak.

Di belahan dunia utara, terjadi sebuah badai yang langsung menerjang Kanada, Skotlandia dan Siberia. Jepang dilanda hujan es, sedangkan India dilanda badai salju dan California diterjang oleh angin ribut.

Pemerintah Amerika mengambil langkah menutup penerbangan. Sam, anak Jack yang tengah berada di New York untuk mengikuti lomba, terpaksa harus menunda kepulangannya.

Jack bersama dengan dua temannya, Brian Parks dan Laura terpaksa berdiam diri di dalam ruangan. New York mulai diserang oleh badai besar.

Dalam waktu yang membuat frustasi itu, mereka berkenalan dengan JD. Badai mengakibatkan terjadinya banjir di New York. Sedangkan Manhattan diterjang oleh luapan air menyerupai tsunami.

Kesulitan mendapat sinyal ponsel, Sam menelpon ayah dan ibunya, Lucy dengan menggunakan telepon umum. Jack memerintahkan Sam untuk nggak keluar ruangan.

Dia juga meminta anaknya mengingatkan orang-orang agar nggak pergi ke arah utara, karena di wilayah itulah kerusakan yang lebih besar sedang terjadi. Sementara Lucy yang bekerja di rumah sakit, harus berjuang menyelamatkan pasiennya.

Presiden Amerika, Blake memerintahkan warga yang berada di wilayah utara untuk dievakuasi ke Meksiko. Warga juga diperingatkan untuk berhati-hati dengan mencari tempat yang lebih aman dan hangat sebagaimana suhu udara turun secara drastis.

Meksiko ternyata sudah menutup perbatasan. Blake membujuk pemerintah Meksiko untuk membuka perbatasan dengan imbalan menghapuskan utang negara-negara Amerika Latin.

Di New York, banjir yang melanda mulai berubah menjadi es. Warga yang berlindung di perpustakaan mulai bepergian ke wilayah utara. Sam sudah memperingatkan mereka, tapi peringatannya nggak didengar.

Mereka yang pergi ke utara harus tewas karena membeku. Sedangkan Sam harus terjebak di perpustakaan dan mencari cara agar selamat. Bisakah Sam beserta teman dan keluarganya selamat?

Selipan Politik dalam Isu Pemanasan Global

Selipan Politik dalam Isu Pemanasan Global

Pemanasan global dijadikan sumber dari bencana dalam film The Day After Tomorrow. Isu penting ini nggak ditangani dengan baik oleh pemerintah sehingga antisipasi terhadap bencana nggak dilakukan dengan baik.

Becker sebagai Wakil Presiden Amerika digambarkan sebagai salah satu orang yang nggak mempercayai analisa Jack sehingga mengabaikan tanda-tanda yang semakin muncul.

Karakter Becker menjadi cerminan dari pemimpin-pemimpin dunia yang lebih mementingkan kepentingan lain daripada pemanasan global. Ekonomi menjadi alasan Becker nggak mau bergegas melakukan perubahan.

Film ini secara berani menjadikan selipan politik sebagai salah satu bumbu ke dalam cerita. Terlebih keputusan seperti itu terasa sangat relevan saat ini.

Di balik keberaniannya menyelipkan sedikit unsur politik, film ini menyimpan beberapa kelemahan sebagai film science fiction.

Jack menganalisa berbagai bencana akan mencapai puncaknya dalam waktu ratusan tahun. Analisa itu ternyata meleset jauh dan bencana mulai terjadi dalam jangka waktu yang sangat dekat.

Formula Standard Film Bencana

Formula Standard Film Bencana

The Day After Tomorrow menggunakan formula yang biasa digunakan dalam film-film bertemakan bencana yaitu tentang upaya bertahan hidup.

Sam beserta teman-temannya berupaya menyelamatkan diri di New York yang dilanda banjir kemudian suhu berubah menjadi diselimuti salju. Sementara Jack, mencoba pergi dari Washington untuk menyelamatkan Sam.

Sebagaimana film bertemakan bencana, ada subplot romansa juga yang ditampilkan. Subplot itu nggak terlalu penting karena tujuannya hanya berfungsi untuk menguatkan cerita bahwa Sam harus menyelamatkan diri bersama Laura.

Hal itu membuat film terasa klise walau cerita Sam dan Laura merupakan sesama murid SMA yang sedang dalam fase mudah untuk jatuh cinta.

Dalam segi pendalaman karakter, film ini nggak memberi kesempatan yang cukup untuk membuat kita terhubung pada karakter-karakternya. Praktis hanya Jack yang diberi pendalaman yang solid. Sisanya hanya seperti pendukung.

Pendalaman karakter sejatinya memang bukan hal yang biasa didalami dalam film bertemakan bencana. Kekurangan itu menjadikan film ini hanya mengulang formula standard.

Visualisasi Mengerikan

Visualisasi Mengerikan

Secara sinematografi, The Day After Tomorrow berhasil membuat visualisasi mengerikan dengan penggunaan special effect yang rapi untuk ukuran film rilisan tahun 2004. Ada sebuah adegan yang menampilkan New York dipadati oleh kendaraan dan orang-orang di jalanan.

Ketika bencana terjadi, New York digenangi air kemudian berubah menjadi seperti kota mati. New York berubah menjadi jalanan yang sepi serta salju yang menyelimuti hampir seluruh kota.

Selain New York yang diselimuti salju, adegan-adegan di dalam ruangan pun cukup berhasil menguatkan atmosfer mengerikan ketika terjadi bencana.

Orang-orang berkumpul di perpustakaan, terpaksa harus menggunakan baju berlapis-lapis bahkan harus membakar buku untuk menjaga suhu tubuh tetap hangat.

Keunggulan itu dilengkapi dengan adegan yang menampilkan suasana di luar ruangan seperti kapal yang terdampar ke wilayah daratan.

The Day After Tomorrow menggunakan formula yang biasa dipakai dalam film-film bertemakan bencana. Narasi science fiction cukup berhasil menjadi landasan dari narasi yang dibangun.

Durasi cukup panjang yaitu 123 menit, sukses merangkum berbagai kengerian yang ditimbulkan dari pemanasan global lewat visualisasi yang tampak nyata. Ada rekomendasi film lain yang bertema bencana? Kasih tahu yang lain di kolom komentar, guys!

The Day After Tomorrow
Rating: 
3.2/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram