bacaterus web banner retina

Review dan Sinopsis Film Drama The Assistant (2019)

Ditulis oleh Dhany Wahyudi - Diperbaharui 19 September 2021

Sebuah situasi tidak mengenakkan terjadi dalam rutinitas kerja harian seorang asisten produser film yang mulai merasa khawatir akan posisinya di perusahaan sekaligus menimbulkan tekanan yang berat bagi psikologisnya. Film indie produksi Amerika ini ditulis, disutradarai, diedit dan diproduseri oleh Kitty Green yang mampu memompa talenta akting Julia Garner sebagai pemeran utamanya.

The Assistant adalah sebuah film drama dengan seting waktu yang singkat, hanya dari pagi hingga malam, tapi memiliki kisah yang padat makna. Pertama kali ditayangkan di Telluride Film Festival pada 30 Agustus 2019, film ini kemudian dirilis oleh Bleecker Street secara terbatas di Amerika Utara pada 31 Januari 2020 dan menuai respon positif dari para kritikus.

Kisah film ini terinspirasi dari kejadian nyata yang pernah terjadi di industri perfilman Hollywood yang juga mengusung pergerakan yang menjadi viral setelahnya. Semakin penasaran dengan film ini kan? Simak review kami kali ini sebelum menonton filmnya.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun: 2019
  • Genre: Drama
  • Produksi: 3311 Productions, Bellmer Pictures, Cinereach
  • Sutradara: Kitty Green
  • Pemeran: Julia Garner, Owen Holland, Jon Orsini

Di pagi hari sebelum semua karyawan datang, Jane (Julia Garner) sudah hadir di kantor dan melakukan berbagai tugasnya, antara lain menyiapkan bahan kerja bagi para karyawan. Jam kerjanya yang panjang membuat dia merasa lelah dan stress terutama karena tekanan pekerjaan. Karena kesibukannya itu, dia sampai lupa dengan ulang tahun ayahnya.

Jane menyadari jika bosnya melakukan hubungan seksual dengan beberapa wanita muda, terutama calon aktris yang akan berperan di dalam sebuah film produksi perusahaan. Jane mulai khawatir dengan kebiasaan bossnya ini yang mungkin saja mengancam dirinya suatu saat nanti. Meski lebih banyak diam, tapi pikirannya terus merasakan kekhawatiran.

Hari itu, seorang wanita muda datang dan diperkenalkan sebagai asisten baru bagi bosnya. Sebelumnya, sudah ada tiga asisten termasuk dirinya. Kemudian dia diminta untuk mengantar Sienna, nama wanita muda itu, ke sebuah hotel untuk menginap disana. Setelahnya, Jane mengunjungi kantor HRD untuk menceritakan kekhawatirannya, tetapi respon yang didapat tidak sesuai harapannya.

Setelah dia kembali ke kantor, Jane mendapati jika bossnya pergi ke hotel tempat Sienna menginap, sehingga dia harus membuat alibi atas sejumlah telpon yang masuk, terutama dari istri bos yang selalu marah. Setiap pergerakannya di kantor, mulai dari telpon yang diterima hingga aduannya ke HRD, semua diketahui dan membuat bosnya marah, sehingga membuat Jane harus berulang kali meminta maaf.

Jane berada di kantor hingga larut malam karena menunggu bos yang masih di dalam ruangannya. Setelah hampir semua karyawan pulang, Jane menghangatkan makan malamnya sambil menunggu perintah dari bosnya. Tidak berapa lama dia diminta pulang oleh bosnya. Jane tidak langsung pulang, tapi dia mampir ke kafe untuk membeli kue dan menelpon ayahnya.

Atmosfir yang Mencekam

Atmosfir yang Mencekam

Meski bergenre drama, The Assistant menampilkan atmosfir yang mencekam. Kok bisa? Atmosfir ini tercipta karena sosok bos yang tidak pernah terlihat secara jelas sosoknya. Bahkan namanya tidak disebutkan dari awal hingga akhir film dan hanya disebut dengan kata ganti “dia”. Dengan begitu, sosok bos ini sangat terlihat kekuasaannya yang menimbulkan tekanan besar bagi para karyawannya.

Mendengar suaranya dari balik dinding dan telepon singkat, sudah cukup membuat Jane dan karyawan lainnya bergidik tegang, meski mereka harus terlihat dan berpikir dengan tenang. Sosok bos ini, dikabarkan merupakan representasi oknum produser di dunia film yang menarik kisahnya dari kasus yang dialami oleh Harvey Weinstein, produser besar pemilik The Weinstein Company pada 2017 silam.

Gerakan #MeToo yang viral

Gerakan #MeToo yang viral

The Assistant terinspirasi dari munculnya kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh produser Harvey Weintein pada 2017 silam yang kemudian membuat viral gerakan #MeToo yang juga diramaikan oleh banyak aktris Hollywood di dalamnya, antara lain Alyssa Milano, Gwyneth Paltrow, Ashley Judd, Jennifer Lawrence, dan Uma Thurman.

Gerakan ini padahal sudah dimulai sejak tahun 2006 oleh aktivis Tarana Burke yang ramai di Myspace. Sejak kasus di Hollywood ini mengemuka, gerakan #MeToo menjadi ramai kembali dan membuka kebobrokan moral yang terjadi di industri perfilman terbesar di dunia itu. Karena ini, kemudian muncul gerakan lain bernama Time’s Up pada Januari 2018 yang menggalang donasi bagi korban pelecehan.

Claustrophobia ala Julia Garner

Claustrophobia ala Julia Garner

Julia Garner yang dipercaya memerankan karakter Jane mampu menampilkan akting yang luar biasa. Meski lebih banyak diam dan hanya mengeluarkan kata-kata seperlunya, tetapi dia mampu menarasikan apa yang dialaminya hari itu, bahkan dalam 5 minggu masa kerjanya, yang penuh tekanan dari berbagai sudut. Perlu diingat, film ini hanya mengambil perspektif dari sisi Jane saja.

Jadi tentu saja sosok Jane menjadi poros kisah dimana kita harus bisa mengira dan merasakan apa yang dialaminya lewat apa yang diperlihatkannya lewat wajah dan gesturnya. Tentunya tidak mudah bagi kita yang mungkin lebih terbiasa dengan film-film yang menceritakan sebuah kisah secara gamblang, apalagi jika dibandingkan dengan sinetron yang memperdengarkan dengan keras “suara hati” para pemerannya.

Kita akan dibuat menebak-nebak apa yang menjadi keresahan dan kekhawatiran Jane disini. Apakah karena dia merasa tidak mampu dalam tugasnya? Apakah karena tekanan dari istri bosnya yang mengetahui perselingkuhan suaminya? Apakah dia khawatir dengan kebiasaan bosnya yang mungkin mempengaruhi budaya perusahaan? Apakah dia takut jadi korban bosnya? Dan banyak “apakah” lainnya.

Semua rentetan pertanyaan tadi sedikit banyaknya akan merumitkan pikiran dan perasaan kita yang bisa menimbulkan claustrophobia karena kita seolah-olah berada di ruangan yang sempit dan sulit bernapas karena begitu ketatnya tekanan yang kita rasakan karena pikiran Jane. Akhirnya, semua hipotesis pertanyaan tadi terjawab di ruangan HRD dengan dialog yang padat dan menjadi adegan terbaik film ini.

Saat Jane hendak menceritakan semua kekhawatirannya kepada kepala HRD, dia tidak mudah untuk merangkai kata dan menyampaikan isi pikirannya. Datang tanpa bukti yang kuat, keresahannya ditepis dengan mudah oleh kepala HRD yang malah menjadikan dirinya di posisi yang salah. Saat hendak keluar ruangan, kepala HRD berucap, “Tenang saja, kamu bukan tipe dia!”

Rasa Frustrasi yang Brilian

Rasa Frustrasi yang Brilian

The Assistant menawarkan sebuah kisah dengan rasa frustrasi dengan cara yang brilian. Mungkin inilah yang dialami oleh seorang fresh graduate yang baru bekerja dan langsung berada di sebuah perusahaan besar di sebuah kota besar pula. Tentunya atmosfir kerja yang keras membuat kita harus siap secara mental agar tetap bisa berada di atas permukaan dari banjir rasa sakit dan perih yang dalam.

Tentunya performa akting Julia Garner yang menawan sudah seharusnya dianugerahi penghargaan, atau paling tidak bisa berada di posisi nominator dalam ajang penghargaan film dalam skala internasional. Sayangnya, dia hanya berhasil dinominasikan di ajang penghargaan film berskala regional saja, seperti Boston Society of Film Critics Awards dan Indiana Film Journalists Association.

Intinya, menonton The Assistant tidak akan mengecewakan, terutama bagi penikmat film drama yang akan terkesan dengan baiknya naskah dan pengarahan dari Kitty Green yang melakukan riset selama setahun untuk kedalaman cerita film ini. Saksikan segera film ini, ya!

The Assistant
Rating: 
3.5/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram