Review dan Sinopsis Film Drama The Assistant (2019)

Ditulis oleh Dhany Wahyudi
The Assistant
3.5
/5
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Sebuah situasi tidak mengenakkan terjadi dalam rutinitas kerja harian seorang asisten produser film yang mulai merasa khawatir akan posisinya di perusahaan sekaligus menimbulkan tekanan yang berat bagi psikologisnya.

Film indie produksi Amerika ini ditulis, disutradarai, diedit dan diproduseri oleh Kitty Green yang mampu memompa talenta akting Julia Garner sebagai pemeran utamanya.

The Assistant adalah sebuah film drama dengan seting waktu yang singkat, hanya dari pagi hingga malam, tapi memiliki kisah yang padat makna.

Pertama kali ditayangkan di Telluride Film Festival pada 30 Agustus 2019, film ini kemudian dirilis oleh Bleecker Street secara terbatas di Amerika Utara pada 31 Januari 2020 dan menuai respon positif dari para kritikus.

Kisah film ini terinspirasi dari kejadian nyata yang pernah terjadi di industri perfilman Hollywood yang juga mengusung pergerakan yang menjadi viral setelahnya. Semakin penasaran dengan film ini kan? Simak review kami kali ini sebelum menonton filmnya.

Baca juga: 20 Film Paling Populer yang Diangkat dari Kisah Nyata

Sinopsis

Sinopsis
Tahun Rilis 2022
Genre
Sutradara
Pemeran Iedil Dzuhrie Alaudin Hairul Azreen Kin Wah Chew

Di pagi hari sebelum semua karyawan datang, Jane (Julia Garner) sudah hadir di kantor dan melakukan berbagai tugasnya, antara lain menyiapkan bahan kerja bagi para karyawan.

Jam kerjanya yang panjang membuat dia merasa lelah dan stress terutama karena tekanan pekerjaan. Karena kesibukannya itu, dia sampai lupa dengan ulang tahun ayahnya.

Jane menyadari jika bosnya melakukan hubungan seksual dengan beberapa wanita muda, terutama calon aktris yang akan berperan di dalam sebuah film produksi perusahaan.

Jane mulai khawatir dengan kebiasaan bossnya ini yang mungkin saja mengancam dirinya suatu saat nanti. Meski lebih banyak diam, tapi pikirannya terus merasakan kekhawatiran.

Hari itu, seorang wanita muda datang dan diperkenalkan sebagai asisten baru bagi bosnya. Sebelumnya, sudah ada tiga asisten termasuk dirinya. Kemudian dia diminta untuk mengantar Sienna, nama wanita muda itu, ke sebuah hotel untuk menginap disana.

Setelahnya, Jane mengunjungi kantor HRD untuk menceritakan kekhawatirannya, tetapi respon yang didapat tidak sesuai harapannya.

Setelah dia kembali ke kantor, Jane mendapati jika bossnya pergi ke hotel tempat Sienna menginap, sehingga dia harus membuat alibi atas sejumlah telpon yang masuk, terutama dari istri bos yang selalu marah.

Setiap pergerakannya di kantor, mulai dari telpon yang diterima hingga aduannya ke HRD, semua diketahui dan membuat bosnya marah, sehingga membuat Jane harus berulang kali meminta maaf.

Jane berada di kantor hingga larut malam karena menunggu bos yang masih di dalam ruangannya. Setelah hampir semua karyawan pulang, Jane menghangatkan makan malamnya sambil menunggu perintah dari bosnya.

Tidak berapa lama dia diminta pulang oleh bosnya. Jane tidak langsung pulang, tapi dia mampir ke kafe untuk membeli kue dan menelpon ayahnya.

Atmosfir yang Mencekam

Atmosfir yang Mencekam

Meski bergenre drama, The Assistant menampilkan atmosfir yang mencekam. Kok bisa? Atmosfir ini tercipta karena sosok bos yang tidak pernah terlihat secara jelas sosoknya.

Bahkan namanya tidak disebutkan dari awal hingga akhir film dan hanya disebut dengan kata ganti “dia”. Dengan begitu, sosok bos ini sangat terlihat kekuasaannya yang menimbulkan tekanan besar bagi para karyawannya.

Mendengar suaranya dari balik dinding dan telepon singkat, sudah cukup membuat Jane dan karyawan lainnya bergidik tegang, meski mereka harus terlihat dan berpikir dengan tenang.

Sosok bos ini, dikabarkan merupakan representasi oknum produser di dunia film yang menarik kisahnya dari kasus yang dialami oleh Harvey Weinstein, produser besar pemilik The Weinstein Company pada 2017 silam.

Gerakan #MeToo yang viral

Gerakan #MeToo yang viral

The Assistant terinspirasi dari munculnya kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh produser Harvey Weintein pada 2017 silam yang kemudian membuat viral gerakan #MeToo yang juga diramaikan oleh banyak aktris Hollywood di dalamnya, antara lain Alyssa Milano, Gwyneth Paltrow, Ashley Judd, Jennifer Lawrence, dan Uma Thurman.

Gerakan ini padahal sudah dimulai sejak tahun 2006 oleh aktivis Tarana Burke yang ramai di Myspace. Sejak kasus di Hollywood ini mengemuka, gerakan #MeToo menjadi ramai kembali dan membuka kebobrokan moral yang terjadi di industri perfilman terbesar di dunia itu.

Karena ini, kemudian muncul gerakan lain bernama Time’s Up pada Januari 2018 yang menggalang donasi bagi korban pelecehan.

Claustrophobia ala Julia Garner

Claustrophobia ala Julia Garner

Julia Garner yang dipercaya memerankan karakter Jane mampu menampilkan akting yang luar biasa. Meski lebih banyak diam dan hanya mengeluarkan kata-kata seperlunya, tetapi dia mampu menarasikan apa yang dialaminya hari itu, bahkan dalam 5 minggu masa kerjanya, yang penuh tekanan dari berbagai sudut.

Perlu diingat, film ini hanya mengambil perspektif dari sisi Jane saja. Jadi tentu saja sosok Jane menjadi poros kisah dimana kita harus bisa mengira dan merasakan apa yang dialaminya lewat apa yang diperlihatkannya lewat wajah dan gesturnya.

Tentunya tidak mudah bagi kita yang mungkin lebih terbiasa dengan film-film yang menceritakan sebuah kisah secara gamblang, apalagi jika dibandingkan dengan sinetron yang memperdengarkan dengan keras “suara hati” para pemerannya.

1 2»
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram