bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Film Korea The Admiral: Roaring Current

Di lapangan Gwanghwamun, pusat kota Seoul, terdapat dua buah patung sebagai landmark kota Seoul. Patung dengan pose duduk adalah Raja Sejong yang Agung, sedangkan patung dengan pose berdiri dimana salah satu tangannya memegang pedang adalah patung Laksamana Yi Sun Shin, tokoh militer dan pahlawan nasional Korea yang berjasa membela Korea dari penjajahan Jepang.

Perang tujuh tahun yang disebut Perang Imjin, dicatat dalam sejarah sebagai salah satu perang terbesar yang dihadapi oleh Laksamana yang diberi gelar Chungmu Gong itu (Pahlawan Kesetiaan dan Pengabdian). Kontribusi besarnya dalam sejarah menginspirasi sutradara Kim Han Min untuk membuat film yang mengangkat perjalanan heroik sang laksamana. The Admiral: Roaring Current inilah filmnya.

Sinopsis

The-admiral-roaring-current-1_

Film ini dibuka dengan kisah di sekitar tahun 1957. Yi Sun Shin (Choi Min Sik) ditahan karena sikapnya yang dianggap membangkang perintah raja. Sebagai konsekuensinya, tokoh militer itu dihukum dan disiksa. Empat tahun berlalu, ia kembali dipanggil oleh Raja.

Keadaan Korea yang terdesak membuat Raja Joseon saat itu tidak punya pilihan selain mengembalikan posisi Yi Sun Shin di Angkatan Laut Korea dan mencegah invasi Jepang yang kedua itu agar wilayahnya tidak jatuh.

Jepang di bawah komando Kurushima Michifusa (Ryu Seung Ryong) dan Wakizaka Yasuharu (Cho Jin Woong) berniat melancarkan invasi dengan menduduki Korea terlebih dahulu yang saat itu dikuasai oleh Kerajaan Joseon.

Kekalahan Korea pada Pertempuran Chilchonryang sebenarnya berdampak besar pada Angkatan laut Korea yang sebelumnya dipegang oleh Won Gyu. Dari kekalahan memalukan itu, hanya tersisa 12 armada saja. Armada itulah yang kini dimiliki oleh Yi Sun Shin.

Polemik yang dihadapi Yi Sun Shin tidak hanya terletak pada jumlah pasukan yang minim, tapi juga kapal kura-kura (Gobukseon) yang dibangun dengan susah payah dibakar oleh pasukannya yang membelot. Dengan segera, keputusasaan pun menyelimuti jiwa seluruh pasukan yang tersisa.

Yi Sun Shin tahu bahwa pihaknya terdesak dan pasukannya tidak mungkin menghadapi Jepang dengan kekuatan yang besar. Strategi jitu kemudian dipilihnya. Pasukan Yi Sun Shin bergerak ke Selat Myeongnyang, daerah dengan arus bawah laut paling kuat di Semenanjung Korea.

Di selat sempit itulah selusin kapal pasukan di bawah komando Laksamana Yi Sun Shin berhasil mempecundangi pihak Jepang.

Dua belas kapal Yi Sun Shin dan 330 lebih pasukan Jepang bertarung dan berusaha saling mengalahkan. Pertarungan berdarah di atas kapal tidak bisa terelakan lagi. Yi Sun Shin sebisa mungkin harus menahan serangan pasukan Jepang sampai ‘tameng alam’ arus deras bawah laut muncul.

Waktu yang diperkirakan pun datang. Arus itu muncul di saat kapal induk yang ditumpangi Yi Sun Shin terdesak dan hampir dihantam oleh kapal Jepang. Dalam waktu singkat kapal Jepang terseret arus deras selat dan karam. Sementara kapal Yi Sun Shin berhasil lolos dari jeratan arus.

Kemenangan ada di pihak pasukan Korea. Pertarungan berdarah yang tidak seimbang menurut hitungan matematika itu disambut dengan gegap gempita oleh pasukan dan awal kapal Yi Sun Shin. Korea pun berhasil mempertahankan wilayahnya.

Alur Cerita Dibagi ke Dalam Dua Fase

The-admiral-roaring-current-2_

Secara garis besar, The Admiral: Roaring Current terbagi menjadi dua fase, yakni latar belakang dan pertempuran. Fase pengenalan yang tersaji di awal film menyuguhkan keadaan Korea yang guncang dan pasukan Yi Sun Shin yang harus berjuang sendiri karena raja menolak memberikan bantuan.

Secara mental, pasukan Yi Sun Shin juga sedang tertekan. Banyaknya desertir dan dorongan untuk kembali ke darat mempengaruhi mental para pasukan. Keputusasaan menggerogoti jiwa mereka. Puncaknya adalah terbakarnya kapal kura-kura, satu-satunya armada paling kuat yang dipunyainya.

Fase kedua adalah gambaran naval battle yang sekaligus menjadi klimaks dari film ini. Pertempuran Myeongnyang disuguhkan dengan sangat baik. Strategi perang yang melibatkan pemanah, tembakan Meriam, dan peperangan jarak dekat berhasil menghadirkan kegetiran yang nyata.

Ada momen di mana pasukan didera ketakutan sehingga mereka tidak bisa berpikir jernih dan menyebabkan pasokan mesiu di kapal induk Yi Sun Shin meledak. Kim Han Min berhasil menggambarkan rasa putus asa pasukan yang takut dikejar malaikat maut berwujud pasukan Jepang di bawah Kurushima dengan baik.

Untuk aspek visual dan premis cerita serta penyampaian kisahnya, rasanya film ini tidak pantas disebut jelek. Bahkan jika ada rating untuk aspek ini, film ini pantas mendapat skor 4,5.

Sutradara Kim Han Min menggarap film ini dengan luar biasa. Ia menghadirkan film dengan efek CGI yang ciamik. Aspek yang satu ini tidak boleh dilewatkan. Pertarungan laut yang mengerikan dan penuh darah tersaji dengan baik. Penonton seolah jadi saksi pertempuran bersejarah bagi Korea ini.

Menggambarkan Kisah Heroik Laksamana Yi Sun Shin

The-admiral-roaring-current-3_

Membaca beberapa ulasan mengenai film ini, banyak yang menyayangkan bahwa The Admiral Roaring Current kurang mengeksplorasi sang musuh utama, Kurushima (Kurushima Michifusa), bajak laut musuh bebuyutan Yi Sun Shin. Tidak ada penggambaran detail mengenai latar belakangnya.

Namun, bukankah film ini mengangkat kisah heroik sang laksamana? Jadi, wajar jika sutradara Kim Han Min tidak mengeksplorasi karakter yang digambarkan bengis dan khatam seluk beluk laut Korea itu dengan detail.

Kurushima dihadirkan sebagai bala bantuan yang dikirim kanselir Jepang untuk misi invasi ini. Kebetulan ia punya dendam lantaran berkali-kali kalah di pertempuran laut dengan Yi Sun Shin.

Kesempatan ini tidak ia sia-siakan. Kurushima dengan ratusan kapalnya mengejar Yi Sun Shin ke selat Myeongnyang yang justru menjadi kuburan baginya (Kurushima tewas di tangan Yi Sun Shin). Kepalanya dipenggal dan diperlihatkan kepada pihak Jepang. Melihat itu, Jepang pun mundur.

Taktik Cerdik Yi Sun Shin yang Membakar Semangat Pasukan

The-admiral-roaring-current-4_

Dibalut dengan visual yang luar biasa, The Admiral: Roaring Current menghadirkan satu film perang dengan tokoh yang sangat besar. Dari berbagai kisah literatur mengisahkan bahwa Laksamana Yi Sun Shin adalah seorang pembaharu yang menginspirasi sekaligus ahli strategi yang handal.

Hal ini dapat kita lihat dari penggambaran film ini. Dua belas kapal dengan pasukan yang dilanda putus asa melawan 330 kapal dengan pasukan segar bugar yang diliputi dendam dan semangat merebut tanah Korea, menurutmu siapa yang akan menang? Mungkin terpikir musuh yang jadi pemenangnya.

Tapi dalam pertempuran Myeongnyang, hitungan matematis itu tidak berlaku. Yi Sun Shin berhasil menjawab keraguan semua pihak yang bahkan mendesaknya untuk menyerah dan cari aman di darat. Tapi ia bukanlah tokoh militer yang lembek. Baginya mati di laut lebih terhormat.

Itulah kenapa ia menggunakan taktik yang beresiko membuatnya terancam mati dalam pertempuran. Ketika mendengar jumlah desertir semakin banyak, petinggi militer yang ikut bersamanya bahkan menyarankan untuk mundur, tapi Yi Sun Shin tetap teguh untuk bertahan.

Ia membakar rumah tinggal para pasukan dan semua persediaan. Selain itu, ia juga membunuh pasukan yang kedapatan kabur. Hal itu seolah menekankan kepada pasukannya bahwa tidak ada jalan lain selain bertarung. Taktik ini berhasil membalikan rasa putus asa menjadi keberanian.

Masalah lainnya adalah dalam strategi pertempuran. Yi Sun Shin tahu bahwa ia kalah jumlah. Maka dari itu, ia memanfaatkan medan dan perubahan alam untuk memenangkan pertempuran.

Selat Myeongnyang dikenal sebagai selat berarus kuat. Suara derasnya arus terdengar seperti raungan manusia yang membikin bulu kuduk bergidik. Banyak pelaut yang tidak berani melintas di area ini lantaran situasi cuaca, perairan dan kuatnya pusaran air yang muncul di waktu-waktu tertentu.

Dalam pertarungan laut ini, kapal Yi Sun Shin akan maju duluan menahan serangan Jepang yang dikomandoi Kurushima. Kapal induk ini banyak terkena tembakan meriam, bahkan lambung kapal porak poranda. Namun, apapun yang terjadi, kapal induk harus bertahan.

Ini adalah strategi yang digunakan untuk mengulur waktu sampai arus deras bawah laut Selat Myeongnyang muncul dan menyeret setiap kapal yang melintas di atasnya. Benar saja, ketika waktu yang dinanti tiba, tepat sebelum kapal Jepang menghantam kapal induk Yi Sun Shin, arus pun muncul.

Semua kapal lepas kendali dan terseret pusaran air. Armada Jepang di bawah Kurushima kalah, sementara Wakizaka dan pasukannya mundur. Kejeniusan dan kecakapan Yi Sun shin terlihat dalam pertempuran yang panjang ini.

Memecahkan Rekor Film Terlaris Sepanjang Masa

The-admiral-roaring-current-5_

Film bertema perang yang satu ini tidak pernah bosan untuk dibahas. Mahakarya sineas Negeri Ginseng ini punya banyak bahan yang bisa diangkat sebagai bahan diskusi, baik itu dari segi sinematografi, sejarah, budaya bahkan dari sisi kehidupan.

The Admiral: Roaring Current adalah film dengan packaging nyaris sempurna yang menghadirkan satu tontonan menarik. Yang lebih menariknya adalah kesuksesan film ini ditandai dengan keberhasilannya membukukan rekor baru pendapatan terbesar secara global, yakni senilai 140 juta dollar.

Meskipun bukan film Hollywood, namun kualitasnya sudah mampu menyamai karya-karya dari negara barat. Film ini bahkan mengalahkan The Avenger: Endgame dan Avatar besutan sutradara James Cameron yang sebelumnya nangkring di peringkat Film Terlaris Sepanjang Masa.

Para Pemain dengan Akting Luar Biasa

The-admiral-roaring-current-6_

Dari segi pemain, film ini sudah mampu menyedot perhatian. Nama-nama besar  sepertiChoi Min Sik, Ryu Seung Ryong, dan aktor-aktor pendukung lainnya menjadi daya tarik yang membuat penonton mau menyisihkan waktunya menyaksikan kisah pahlawan Korea selama 127 menit.

Lewat film ini, aktor veteran Choi Min Sik saja berhasil meraih memboyong penghargaan untuk kategori Best Actor dari Korean Korean Association of Film Critic Awards dan Daejong Film Awards.

Ia tampil apik membawakan peran sebagai laksamana Yi Sun Shin. Kharismanya sebagai tokoh militer yang besar terpancar lewat gesturnya. Ia dapat memperlihatkan kemarahan dalam ketenangan sikapnya. Pastinya hanya aktor berbakat yang mampu membawakan peran se-emosional ini.

Dua aktor pendukung kita, Jin Goo dan Park Bo Gum adalah scene stealer yang menarik perhatian. Park Bo Gum berperan sebagai anak dari Kapten Bae Hong Suk (Kim Guk Tae) yang ingin balas dendam atas kematian ayahnya dengan cara bergabung dengan pasukan Yi Sun Shin.

Sementara Jin Goo membawakan lakon sebagai Im Jun Young, utusan yang dikirim Yin Sun Shin untuk memata-matai Jepang. Melihat akting keduanya yang semakin solid, rasanya Korea tidak perlu takut kehabisan stok aktor.

The Admiral: Roaring Current memang bukan film baru. Namun, film yang mengangkat satu tokoh besar ini akan selalu relevan dengan waktu-waktu ke depan. Tidak hanya mengandung nilai kehidupan yang penting, visual efek komputer yang disajikannya tampak selaras dan mulus. Film ini berhasil memadukan adegan pertempuran yang megah dan fantastis dengan dinamika emosi.

Kim Han Min berhasil menyajikan rekam jejak sang tokoh besar dalam bentuk film yang menarik. Rasanya tidak ragu memberikan rating yang tinggi untuk film ini.

The Admiral: Roaring Current
Rating: 
4.5/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram