bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review The 100 S1, Pengembalian Para Remaja Ke Bumi

Ditulis oleh Suci Maharani R - Diperbaharui 10 September 2021

Bagi para pecinta film bergenre action dan sci-fiction, mungkin kalian bisa menonton drama series ini. Pasalnya drama series keluaran CW ini mungkin bisa menjadi tontonan yang adiktif. The 100 menceritakan petualangan anak-anak yang dikirim kembali ke bumi setelah 100 tahun perang nuklir. Ditugaskan melakukan penelitian dan percobaan hidup, mereka justru mendapati kenyataan lain.

The 100 musim pertama memang cukup mendapatkan perhatian tinggi dari pecinta drama di genre ini. The 100 musim pertama berhasil mendapatkan penilain 76% dari 76 kritikus dan 77% untuk score penonton di Rotten Tomatoes.

Kira-kira seperti apa sih rasanya di kirim kembali ke bumi setelah 100 tahun hidup dalam kapal luar angkasa? Kamu bisa mencari tahu informasi lebih lengkapnya di bawah ini.

Sinopsis

review the 100 s1_
  • Tanggal Penayangan: 19 Maret 2019 – 11 Juni 2019
  • Genre: Drama, Action, Sci-fi
  • Produksi: Alloy Entertainment, CBS Television Studios, Warner Bros. Television, Bonanza Productions
  • Sutradara: Bharat Nalluri
  • Pemain: Eliza Taylor, Paige Turco, Thomas McDonell, Eli Goree, Marie Avgeropoulos, Bob Morley, Christopher Larkin,
  • Jumlah Episode: 13 Episode

Hampir 100 tahun setelah terjadinya perang nuklir yang membuat bumi hancur, manusia bermigrasi ke angkasa. Mereka hidup dalam pesawat canggih yang diberi nama The Ark, dimana setiap orang wajib mengikuti aturan hidup yang sangat ketat. Tentu saja mereka tidak akan tinggal selamanya di luar angkasa, mereka berencana kembali ke bumi dengan membuat sebuah eksperimen.

The Ark sendiri memang cukup ketat dengan aturan, dimana setiap kesalahan pasti dibalas dengan ganjaran. Mereka bahkan tidak segan untuk memberikan hukuman mati pada siapapu yang membangkang. Tentu hukuman ini didasari atas perintah dari Kanselir yang ternyata sangat dibenci oleh penduduk The Ark.

Suatu hari, terjadi kegaduhan di The Ark dan mereka akhirnya harus melepaskan 100 tahanan remaja ke Bumi. Hal ini dilakukan otoritas The Ark sebagai jalan untuk mengurangi populasi manusia dan mencari tahu apakah bumi layak untuk ditempati kembali. 100 remaja ini dibawa ke Bumi dengan memakai pesawat ke gunung Weather dan dibekali persediaan untuk tiga tahun.

Hal menegangkan terjadi ketika pesawat jatuh dan mendarat di tempat yang cukup jauh dari yang direncanakan. Disinilah mulai terjadi kegelisahan dan ketidakpastian akan kehidupan dari 100 remaja ini, yang berakibat pada perselisihan. Mereka tahu bahwa mereka dilacak dan dipantau oleh orang-orang di The Ark.

Bellamy menghasut semua anak untuk melepaskan alat tersebut yang tidak disetujui oleh Clarke dan Wells. Bellamy dengan caranya yang licik menghasut semua orang untuk tidak mendengarkan Clarke dan Wells karena dianggap antek The Ark. Sementara Clarke berusaha mencari cara untuk bisa berkomunikasi dengan The Ark dan memberitahu kondisi bumi sekarang.

Kejutan muncul ketika mereka justru bertemu dengan manusia lain di Bumi yang disebut Grounder. Manusia-manusia ini dengan bengis menyerang mereka bahkan menyatakan peperangan dengan mereka. Kenyataan lain muncul ketika mereka mengetahui siapa Bellamy dan apa yang telah ia perbuat selama ini di jalur yang salah.

Di sisi lain, Octavia yang diculik oleh salah satu Grounder justru mulai memahami siapa orang-orang tersebut. Octavia secara tidak sengaja mulai jatuh hati pada Lincoln, salah satu Grounder yang membuat sang kakak, Bellamy murka. Serangan Grounder makin tidak terkendali dan para 100 membalas mereka dengan sengaja membuat bom berkat informasi dari Lincoln.

Clarke yang berhasil menghubungi The Ark memberitahu kondisi bumi yang sebenarnya dan mereka mengatakan akan datang ke Bumi. Clarke dan Finn menghadapi musuh mereka sementara Bellamy, Raven, Octavia dan Jasper kembali berhadapan dengan Murphy. Peperangan pun terjadi antara mereka yang selamat dengan para Grounder.

Tidak Terlalu Sempurna

review the 100 s1_Bisa Disebut Sempurna Tapi Tidak Sempurna

Saat pertama kali saya menonton drama ini di Netflix, jujur saya langsung jatuh cinta dan tertarik untuk menontonnya. The 100 adalah drama bergenre action dan sci-fi yang memang menjadi kegemaran saya. Setiap unsur di dalam drama ini membuat saya sangat menikmatinya.

Ketika berbicara mengenai ceritanya, saya suka bagaimana drama ini dapat menyentuh setiap aspek. Mulai dari action, drama, romance, melodrama hingga misteri di dalamnya yang membuat saya tidak mudah merasa bosan saat menonton. Saya bisa merasakan perasaan tenang dan bingung dari 100 remaja yang terpaksa hidup di bumi yang sudah lama ditinggalkan.

Ketika mereka datang kebumi, mereka dikejutkan dengan kenyataan bahwa ada manusia lain disana. Mereka dikejutkan dengan adanya manusia underworld, elum lagi plot twist dari pemimpin The Ark.  Saya sendiri puas dengan ide cerita dari The 100 di musim pertama ini, karena memang terasa baru dan fresh.

Meski keseluruhannya terlihat baik dan bisa menarik perhatian penonton, saya agak menyangkan screenwriter-nya. Karena saya merasa ada kekurangan mengenai penggambaran dari karakter dan jalan ceritanya. Saya merasa penggambaran karakter setiap pemeran utamanya terlalu terburu-buru.

Memang drama ini kaya akan konflik, mulai dari persaingan Clarke dan Bellamy hingga cinta segitiga dan segi lainnya. Saya tidak berbicara soal moral, karena kalau dilihat-lihat mereka semua hampir sama.

Tapi karakter utama, Clarke, benar-benar menyebalkan sejak awal sementara Bellamy terkesan licik. Mungkin demi kekuasaan. Tapi Saya akan mengerti ketika mereka bertemu Grounder, bukan untuk dalam tubuh sendiri.

Mereka akan saling membunuh untuk mendapatkan wilayah kekuasaan dan jaminan hidup. Tapi persaingan dalam kelompok sendiri dengan penyebab yang “wow” sangat nothing. Selain itu, saya juga sempat berpikir mungkinkan The 100 termasuk dalam drama dengan biaya produksi yang low budget. Pasalnya untuk efek CGI di musim pertamanya terlihat sangat sederhana.

Tidak ada efek CGI yang membuat saya terkesan dan menempel dalam ingatan. Semuanya hanya efek-efek sederhana yang memang ditempatkan sebagai pelengkap saja. 

Pengembangan Karakter yang Terkesan Memaksa

review the 100 s1_Pengembangan Karakternya yang Agak Memaksa

Seperti yang sudah saya singgung di poin sebelumnya, saya sangat memperhatikan mengenai pengembangan karakternya. Dimana saya sangat merasa terganggu dengan karakter Clarke yang tiba-tiba saja berubah menjadi pemimpin dari seluruh anak. Disisi lain Bellamy Blake juga menjadi kuat dengan memprovokasi anak-anak lainnya.

Dua orang ini memang memenuhi musim pertama The 100 dengan persaingan kekuasaan versi mereka sendiri. Jika saya berpikir mungkin penulis skenario ingin menunjukkan emosi anak-anak remaja yang harus berjuang sendiri di bumi dan jauh dari orang tua. Jika saya memaklumi sifat anak-anak ini sebagai remaja yang urakan versi The Ark, sharusnya juga tidak se barbar ini.

Octavia Blake juga mulai menunjukkan karakternya sendiri di akhir musim pertama berakhir. Sementara karakter yang saya kira akan bertahan lama dan menjadi dark horse Abigail Griffin, justru mati sia-sia. Setidaknya ada Finn Collins yang membuat saya sedikit merasa tenang dan tidak terpengaruh dengan pertengkaran dua leader di kelompok The 100 ini.

Entah ingin menunjukkan bahwa anak-anak ini sedang mencari jati diri mereka selama hidup di Bumi, tapi kecerdasan dan kemampuan mereka tidak terasa seperti anak-anak yang hidup di luar angkasa dengan kehidupan monoton. Atau mungkin ini adalah kegilaan dari anak-anak yang hidup dibawah tekanan dan aturan yang ketat, entah lah.

Meski tidak terlalu mengganggu, karena mungkin ada beberapa orang yang mengatakan bahwa semua karakternya terlihat baik. Namun ada beberapa karakter yang memang menurut saya kurang di eksplore dengan cara yang lebih baik lagi. Saya sempat kaget ketika Bellamy tiba-tiba menunjukkan sisi agresifnya bersama dengan Johny Murphy, ini terlalu cepat.

Season Pertama Terasa Adiktif

review the 100 s1_Season Pertamanya Memberikan Kesan Adiktif

Meski saya agak kecewa dengan pengembangan karakternya, setidaknya ide cerita dan tujuan dari drama ini cukup membuat saya jatuh hati. Pasalnya saya langsung tertarik menonton drama ini, bahkan sejak episode pertamanya. Saya cukup menikmati menonton drama ini, karena seakan memberikan angin segar dari film Netflix yang penuh romance.

Jujur saja meski setiap karakternya memang saling berusaha menunjukkan kekuatan mereka, tapi hal ini masih bisa dinikmati.

Jadi jika saya mengesampingkan aspek The 100 musim pertama adalah sekumpulan anak-anak yang dikirim ke bumi sebagai bahan percobaan. Saya bisa menikmati mulai dari alur, karakter, efek hingga tujuan dari cerita The 100 musim pertama ini. Jujur saja saya sangat menikmati menonton drama ini, ada rasa adiktif ketika saya tahu drama ini terdiri dari beberapa musim.

Saya menikmati kisah The 100 yang tergolong masih cukup ringan. Saya bisa menikmati menonton drama ini ketika saya ingin mendapatkan drama yang membawa saya pada rasa semangat. The 100 juga mengingatkan saya pada series Netflix lainnya yaitu Society, drama yang saya tonton terlebih dahulu.

Tapi vibes dan gaya dari The 100 memang lebih menyenangkan, menarik dan menjual untuk anak muda. Jadi jika hanya sekedar ingin menonton film action, The 100 bisa menjadi salah satu tontonan terbaik.

Fakta-Fakta Menarik yang Jarang Disadari

review the 100 s1_Fakta-Fakta Menarik yang Jarang Disadari

Kesuksesan dari The 100 musim pertama tentu berkat kerjasama para pemain dengan seluruh kru. Namun dibalik itu, ternyata ada banyak kisah-kisah yang menarik selama penayangan drama ini. Dikutip dari Screenrant, terdapat beberapa fakta menarik dari The 100 musim pertama yang jarang diketahui. Hal pertama yang akan saya bahas adalah perbedaan antara novel dan hal yang difilmkan.

Jika kalian belum tahu, The 100 adalah series yang di angkat dari novel dengan judul yang sama karya Kass Morgan. Banyak orang yang sudah menonton dan membaca novelnya, mereka setuju bahwa terdapat banyak perbedaan kecuali premisnya. Hal ini terbukti ketika dalam buku, Wells Jaha adalah karakter utamanya, sedangkan di drama Wells mati di tangan Charlotte.

Selanjutnya ada fakta bahwa pembuatan drama The 100 ini sudah dibuat bahkan sebelum novelnya rilis. Dimana The 100 memang terbit pada tahun 2014, sedangkan versi novelnya terbit pada tahun 2013. Tentu ini merupakan waktu yang sangat singkat untuk mengadaptasi buku menjadi sebuah film. Tapi baik novel maupun versi dramanya, tidak terpengaruh satu sama lainnya, mereka berjalan sendiri.

Overall, saya sangat menikmati untuk menonton The 100 sebagai salah satu tontonan yang menarik. Saya bisa mengatakan bahwa drama ini akan sangat cocok untuk kalian yang ingin mencari keseruan di akhir pekan.

The 100 Season 1
Rating: 
4/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram