Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review Drama Televisi Stateless dari Australia

Sinopsis dan Review Drama Televisi Stateless dari Australia

Ditulis oleh - Diperbaharui 1 Oktober 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Stateless merupakan serial drama televisi milik Netflix yang ceritanya berdasarkan ide dari aktris Cate Blanchett. Selain itu, separuh cerita dari serial ini ternyata terinspirasi oleh peristiwa nyata dari seorang perempuan bernama Cornelia Rau.

Ia adalah warga Jerman dan penduduk tetap Australia, dirinya ditahan secara tidak sah selama 10 bulan karena disangka sebagai imigran ilegal oleh Pemerintah Australia.

Kisah nyata tersebut kemudian digambarkan secara tidak langsung oleh aktris Yvonne Strahovski yang berperan sebagai Sofie Werner. Stateless sendiri memulai pemutaran perdananya dalam ajang Festival Film Internasional Berlin ke- 70.

Sinopsis

Stateless

*

  • Tahun rilis: 2020
  • Genre: Drama
  • Rumah produksi: Matchbox Pictures dan Dirty Films
  • Sutradara: Emma Freeman dan Jocelyn Moorhouse
  • Pemeran Utama: Yvonne Strahovski, Asher Keddie, Fayssal Bazzi, dan Jai Courtney
  • Jumlah Episode: 6

Stateless berkisah tentang empat orang dengan latar belakang berbeda yang dipertemukan di dalam pusat penahanan imigrasi Barton di Australia.

Keempat orang tersebut terdiri dari seorang mantan pramugari bernama, Sofie Werner, guru dari Afghanistan, Ameer, penjaga keamanan Barton, Cam Sandford, dan seorang birokrat yang bertugas mengawasi Barton, Claire Kowitz.

Sofie Werner sendiri setelah melepaskan pekerjaan sebagai pramugari, ia lalu mengikuti sebuah sekte tari yang bernama GOPA. Ia kemudian mengalami krisis kesehatan mental dan dilanda rasa frustasi. Sofie melarikan diri dari rumah sakit, dan mencuri identitas dari seorang backpacker asal Jerman Eva Hoffman.

Sofie lalu disangka sebagai imigran gelap, dan ia pun ditahan di rumah detensi imigrasi Barton. Dirinya terancam kehilangan status kewarganegaraan karena menolak mengungkapkan identitas aslinya. Selama di dalam Barton, Sofie selalu menggunakan nama Eva Hoffman sebagai identitasnya yang baru.

Di lain sisi, Adik Sofie yang bernama Margot, berusaha menemukan keberadaan dari adiknya itu. Margot akhirnya menemukan petunjuk bahwa Sofie ternyata ditahan sebagai seorang imigran ilegal di Barton.

Sementara itu, Ameer beserta anak dan istrinya melakukan perjalanan ke Indonesia untuk mencari jalan masuk ke Australia secara ilegal.

Mereka ingin mencari hak suaka di Australia karena negara tempat tinggalnya sedang berada dalam konflik peperangan. Saat hendak pergi ke negara tersebut, Ameer lalu tertipu oleh sekelompok penyelundup manusia, dan ia mesti terpisah dengan keluarganya.

Istri dan anaknya yang paling kecil dikabarkan tewas bersama imigran lainnya ketika menaiki kapal dari Indonesia menuju Australia. Ameer yang berhasil tiba di Australia lalu ditahan di Barton. Di sana, ia pun bertemu dengan putri pertamanya yang masih selamat bernama Mina.

Ameer berusaha mati-matian agar bisa mendapatkan visa untuknya beserta anaknya. Namun, dirinya terancam kehilangan status kewarganegaraan karena terbukti pernah melakukan tindakan kriminal. Selama berada di Barton, Ameer, Sofie dan para imigran lainnya diperlakukan kurang manusiawi oleh para penjaga keamanan.

Di sisi yang lain, Cam Sandford adalah seorang ayah yang menerima tawaran pekerjaan sebagai penjaga keamanan di Barton. Oleh rekan-rekan kerjanya, Cam dijuluki sebagai “pria yang lembut” karena tidak berani bertindak kasar kepada para imigran.

Ia cenderung bersikap ramah kepada mereka, dan Cam terlibat konflik batin karena merasa dilema dengan situasi yang terjadi di tempatnya bekerja.

Cam bekerja di bawah arahan Claire yang bertindak sebagai supervisor. Selain berurusan dengan para imigran, Claire juga mesti berhadapan dengan para jurnalis dan demonstran yang sering berkunjung ke Barton. Ia kemudian harus menyelesaikan sebuah skandal besar di balik kehidupan para imigran gelap yang berada di rumah detensi imigrasi Barton.

Cam Samford Terlihat Masih Sedikit “Manusiawi”

Cam Samford Terlihat Masih Sedikit “Manusiawi”

*

Selama berada di Barton, Cam telah berjuang untuk melakukan pekerjaannya dengan baik. Cam sendiri sebenarnya terpaksa menerima pekerjaan itu karena harus menghidupi anaknya yang masih bayi dan juga istrinya.

Namun, apa yang ia pikirkan di Barton ternyata jauh dalam ekspektasinya, dan ia mesti melihat hal-hal yang tidak manusiawi, dan cenderung melecehkan para imigran.

Terlalu lama berada di Barton membuat dirinya dilemma dan dilanda frustasi. Akibatnya, ia mengalami masa yang paling buruk diusir oleh istrinya karena sikapnya telah berubah menjadi kasar. Sikapnya itu kemudian dibawa ke dalam pekerjaannya, ia pun telah kehilangan kesabaran dan mulai terlihat emosi kepada para pengungsi.

Konflik batin yang dialaminya selama berada di Barton malah membuat dirinya naik jabatan sebagai kordinator para penjaga keamanan. Dengan jabatannya itu, Cam kini berubah menjadi seorang pria yang realistis dan bertindak tidak seperti biasanya.

Meski begitu, ia sadar bahwa semakin terlalu lama bekerja di Barton, dirinya akan menjadi seorang pria yang tidak manusiawi. Di menuju akhir episode Stateless, kita akan melihat keputusan yang tepat dari Cam dengan keluar dari pekerjaannya sesaat sebelum Komisi HAM PBB tiba di Barton.

Claire yang Begitu Dominan

Claire yang Begitu Dominan

*

Sama seperti apa yang dialami oleh Cam, lingkungan pekerjaan yang tidak manusiawi mempengaruhi kondisi batin dari Claire. Meski begitu, Claire tetap teguh pada pendiriannya dan masih memperlakukan para imigran sesuai peraturan yang berlaku.

Di satu sisi juga, ia ditekan oleh atasannya untuk mengeluarkan pers rilis kepada jurnalis bahwa Ameer adalah seorang penyelundup manusia berdasarkan bukti-bukti selama penyidikan. Namun, Claire sebenarnya mengetahui bahwa Ameer bukanlah seperti yang dituduhkan, dan dia juga tahu jika Ameer menyembunyikan sesuatu darinya.

Claire mulai terlibat dengan kasus Ameer saat mengetahui jika Mina hampir bunuh diri di Barton karena trauma atas kehilangan ibu dan adiknya.

Karena jika ada seseorang warga imigran yang meninggal di Barton, maka hal tersebut dapat merusak citranya sekaligus Pemerintah Australia. Oleh karenanya, ia mulai memperhatikan kasus yang dialami oleh Ameer beserta anaknya, Mina.

Pada akhirnya, Claire bisa mendapatkan visa untuk Mina yang berarti dia bisa tinggal di Australia di bawah pengawasan keluarga angkat. Meski ia berhasil “memanusiakan” seorang warga imigran di Australia, hal tersebut masih belum cukup untuk menenangkan gejolak emosional yang dihadapinya selama berada di Barton.

Sofie Werner Tidak Ingin Diselamatkan

Sofie Werner Tidak Ingin Diselamatkan

*

Menuju episode terakhir, kesehatan mental dari Sofie terlihat sangat memburuk karena ia mengalami penganiayaan yang dilakukan oleh penjaga Barton. Kondisinya malah semakin parah ketika dia mulai mengingat-ngingat saat dilecehkan secara seksual oleh pemimpin sekte GOPA yang bernama Gordon.

Menjelang kunjungan Komisi Hak Asasi Manusia PBB, Sofie mulai kehilangan kesadaran diri dan menari-nari di halaman tengah Barton. Dalam pikirannya, dia membayangkan kilas balik dirinya sedang menari pada kompetisi dansa sekte GOPA yang membuatnya gagal meraih Trofi Transformasi.

Namun, dalam imajinasinya sekarang, Sofie merasa melakukan segalanya dengan benar, dan khayalannya pun berakhir dengan dia memenangkan trofi tersebut. Bagi sofie, memenangkan trofi itu adalah hal yang penting karena merupakan simbol pengakuan yang tidak pernah dia rasakan dari keluarganya.

Sebelum kunjungan Komisi HAM, Claire mengetahui bahwa Eva Hoffman sebenarnya adalah warga negara Australia bernama Sofie Werner. Saat mau dibebaskan, Sofie menolak dengan keras karena menganggap warga kamp Barton sebagai keluarganya.

Dia dibius, dan ketika sadar, dirinya berada di rumah sakit jiwa. Raut wajah sofie terlihat kosong dan memperlihatkan kehampaan yang mendalam mendera hidupnya.

Cerita Tentang Ameer dan Mina yang Mengharukan

Cerita Tentang Ameer dan Mina yang Mengharukan

*

Stateless ditutup dengan cara menyedihkan lewat kisah yang disajikan diantara Ameer dan Mina. Ketika Ameer ditipu oleh sekelompok penyelundup manusia, ia bersama temannya berusaha mengambil uang miliknya tersebut. Namun, kejadian tak terduga terjadi ketika temannya itu menikam salah seorang penyelundup hingga tewas.

Saat berada di Barton dan diwawancarai oleh Claire, Ameer terpaksa harus berbohong tentang bagaimana dirinya bisa sampai ke Australia. Ameer sadar jika mengatakan yang sebenarnya kepada Claire, maka ia bersama anaknya tidak akan mendapatkan hak suaka untuk tinggal di Australia.

Kejadian memilukan pun terjadi, ia terpaksa berbohong lagi agar anaknya bisa bebas dari Barton dan dirawat oleh keluarga asuh yang ada di Australia. Ameer memberi tahu Claire bahwa istrinya dan Mina bukanlah anggota keluarganya. Ia mengatakan bahwa hanya memanfaatkan mereka agar peluang untuk mendapatkan suaka lebih besar.

Claire tahu dia berbohong, ia pun tidak bisa berbuat apa-apa dan bersedih. Kebohongannya itu membuat Mina mendapatkan visa karena diklasifikasikan sebagai anak di bawah umur tanpa keluarga. Ameer tetap ditahan tanpa batas waktu, dan setelah kehilangan seluruh keluarganya, ia kemungkinan besar akan dideportasi kembali ke Afghanistan.

Dalam penyajian episode terakhir tersebut, Stateless benar-benar memberikan tontonan yang klimaks lewat sudut pandang dari Sofie, Ameer, Claire, dan Cam.

Serial ini sungguh memberikan kisah yang mengharukan tentang kehidupan para imigran yang dikurung di Barton, Australia. Oleh karenanya, Stateles menjadi serial yang sangat layak untuk ditonton dan dapat dinikmati di setiap episodenya.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *